Topi ?Emyu?

13 Apr 2018 | Diek

Pa, apakabar?

Aku sebenarnya tak pernah berpikir untuk mempersiapkan barang satu kata pun dalam mengenang kematianmu tujuh tahun lalu yang jatuh tujuh april kemarin.

Bagiku, di dalam Kristus penyelamat kita, kematian menjadi hal usang yang tak perlu dirayakan terlalu lama dan kamu toh sudah berjalan begitu jauh dari titik matimu dan menoreh bahagia bersama Mama di sana.

Tapi semuanya berubah siang kemarin.
Saat aku sedang ikut perayaan ekaristi harian di St Mary?s Cathedral, Sydney, tepat di hadapanku duduk seorang pria tua.

Umurnya kutaksir 5 – 10 tahun di atasmu, tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Pandanganku awalnya jatuh pada kesederhanaan dan kesendiriannya. Tapi ketika lebih dalam, perhatianku tak bisa berpaling dari topi hitam merk ?New Era?? dengan design logo klub sepakbola liga Inggris, Manchester United. Topi itu diletakkan di atas lipatan jaket parasit kumalnya.

Topi itu terlihat sangat terawat bahkan sticker labelnya pun tak dilepasnya. Aku membayangkan topi itu didapat dari anaknya seperti aku dulu pernah membelikanmu seragam Emyu, begitu kamu menyebut MU, saat aku pergi berlibur ke Bandung, Jawa Barat, beberapa bulan sebelum aku pindah kemari.

Memandangnya seolah kamu ada di situ, Pa!

Aku jadi teringat kegilaanmu terhadap Emyu. Setiap sabtu malam, tv kau monopoli kalau ada pertandingan Emyu melawan siapapun.

Teriakanmu saat mereka menggolkan ke gawang lawan maupun ?ke-gol?an? adalah hal yang khas yang tadi seolah menyeruak hadir dari balik gendang telinga minta didengarkan lagi, berkali-kali, bertubi-tubi.

Aku juga jadi teringat pada dinihari dimana engkau berpulang. Waktu itu aku sedang transit semalam di hotel di Bali dan beberapa waktu setelah Emyu menang melawan Chelsea yang kusaksikan di televisi tiba-tiba Joyce, istriku, menelponku dan mengabarkan bahwa engkau telah pergi, benar-benar pergi.

Dalam sedihku yang tak terkira waktu itu, setelah berkemas dan mematikan tivi untuk cepat-cepat ke bandara, aku bergumam sendiri, ?Pa! Emyu menang??

Pa, begitulah hal ini kusampaikan dan harus kutuliskan karena kuanggap ini adalah pesan. Mengenangmu kini tak lagi menghadirkan kepedihan akan kematianmu. Mengenangmu adalah merindukanmu?

Sungkem, Donny

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.