Tong kosong nyaring bunyinya

17 Apr 2018 | Kabar Baik

Orang-orang Yahudi bertanya kepada Yesus tentang tanda apa yang bisa diberikan supaya mereka percaya kepadaNya Mereka menggunakan roti manna sebagai pembanding, ?Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.” (Yohanes 6:31).

Roti Manna adalah roti yang dilukiskan Musa dalam kitab keluaran sebagai roti yang putihnya seperti ketumbar dan memiliki rasa seperti kue madu. (Keluaran 16:31). Roti itu diturunkan Tuhan dari langit untuk memberi makan para leluhur Yahudi yang kelaparan di padang pasir setelah dibebaskan dari Mesir.

Yesus dengan cerdik mengingatkan dari mana Manna berasal? Manna berasal dari Allah yang sama dengan diriNya bermuasal. Menggunakan landasan itu, Ia menyatakan bahwa diriNya pun roti, roti hidup.

Roti bagi orang Yahudi adalah padi bagi bangsa kita. Makan tanpa nasi bukankah seperti nyetir mobil tanpa kemudi? Menempatkan diri sebagai roti hidup bagi Yesus tak hanya memperhatikan manusia tapi lebih daripada itu memberikan diri seutuhNya kepada kita, hal yang lantas benar-benar dilakukanNya melalui penyaliban, kematian serta kebangkitanNya.

Memaknai bagaimana menjadi roti hidup dalam konteks pengikut Kristus seperti kita adalah bagaimana mau berbagi dengan lingkungan serta sesama. Kenapa? Karena kitapun telah dikenyangkan oleh Roti Hidup itu sendiri. Waktu, tenaga, pikiran dan materi adalah hal-hal yang bisa kita bagikan.

Beberapa hari lalu aku merasa ?ditegur? terkait hal ini.

Di sebuah perempatan tak jauh dari kantor, duduk seorang gelandangan (homeless) yang hari-hari ini jumlahnya kian membanyak di Sydney.

Wajahnya kumal dan seperti gelandangan pada umumnya, sebuah kasur tipis/sleeping bag, tas berisi persediaan pakaian serta plastik-plastik sisa kontainer makanan ada berserakan di dekatnya.

Ketika sedang menunggu lampu lalu lintas bagi pejalan menyala hijau, tiba-tiba di depanku, seorang ibu setengah baya berpakaian anggun menunduk lalu mengangsurkan uang $10 ke gelandangan itu.

Dari sudut mata, aku melihat si gelandangan itupun terkejut lalu mengucapkan terima kasih.

Aku tergelitik mencibir apa yang dilakukan si ibu tadi, ?Cih! Cuman $10! Kalau bantu yang niat dong!? Sepuluh dollar bukanlah duit besar di sini. Untuk makan siang saja nggak cukup. Tapi bagi si gelandangan, dengan pola hidup yang tentu jauh lebih sederhana, uang segitu bisa dipakai untuk makan barangkali dua tiga kali banyaknya.

Aku tak tahu apakah si ibu tadi beragama atau tidak, aku tak ngerti apakah ia kristiani atau apapun bahkan mungkin atheist tapi yang pasti apa yang dilakukannya adalah apa yang dijabarkan Yesus hari ini, menjadi ?roti? bagi sesama. Kebaikan yang dilakukannya bukanlah kebaikan yang muncul dari dirinya sendiri, kebaikan itu datang dan turun dari Allah.

Di mataku (dan barangkali di mata orang-orang lain di sekitarku) ia tak memberikan banyak dari miliknya. Tapi ia memberikan hal yang begitu penting serta bernilai bagi yang menerima. Kalau memberi yang tak banyak seperti dia saja aku tak mampu, bagaimana mungkin aku sudi dan mau memberikan hidup dan nyawaku?

Aku ?jatuh? gelondangan?
Tiba-tiba lagu lawas Slank terngiang di telinga, ?Tong kosong nyaring bunyinya?? menyudutkanku, menertawakanku?

Sydney, 17 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.