Titik terjauh dari Tuhan, adakah?

3 Mar 2018 | Kabar Baik

Di hadapan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang selalu merasa yang paling benar, Yesus bercerita.?CeritaNya kali ini tentang dua anak seorang yang kaya, Sulung dan Bungsu.?Si Bungsu tak tahu malu. Ia meminta bagian warisan saat Sang Ayah masih hidup. Uang warisan diberikan lalu dipakainya untuk berfoya-foya di kota. Uang habis, Si Bungsu jatuh miskin. Ia menyesal lalu memutuskan kembali ke rumah ayahnya untuk mohon ampun.

Sang Ayah menerima dengan baik bahkan menggelar pesta atas kembalinya Si Bungsu meski hal itu membuat Si Sulung sakit hati karena baginya Sang Ayah tak adil! Ia yang selalu berusaha baik malah tak pernah dipestakan.

Hari ini mari kita nggak usah dengerin apa kata Si Sulung karena ada yang menggelitik nan menarik dari perkataan Yesus seperti ditulis Lukas di bagian akhir perikop, ?Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali? (Lukas 15:32).

?Mati? atau ?kematian? menurut Yesus bukan hanya mati secara fisik tapi juga mati ?rohani? seperti si bungsu yang memiliih jalan salah dengan menghamburkan uang untuk berfota-foya. Kata ?hidup? pun bukan hanya hidup secara fisik tapi juga hidup ?rohani?, satu titik yang dilukiskan pada saat Si Bungsu memilih kembali ke rumah ayahnya untuk meminta tobat.

Pertobatan memang menjadi tema besar kehadiranNya di muka bumi dua ribu tahun silam. Yesus seolah ingin menyatakan kepada manusia bahwa pintu rekonsiliasi Allah terhadap manusia itu tak pernah tertutup apalagi terkunci. Hal itu terlihat bagaimana interaksiNya dengan manusia-manusia yang ditemui, Yesus menyuarakan pertobatan termasuk saat Ia mengampuni perempuan yang berzinah, pemungut cukai yang bertobat dan masih banyak lagi.

Paus Fransiskus suatu saat pernah bilang bahwa sebesar apapun dosa kita, sejauh apapun kita telah meninggalkan Tuhan dan Gereja, berbalik arahlah karena jalan kembali itu selalu ada. Banyak orang tak lagi mau ke Gereja bukan karena malas atau tak mau, tapi lebih pada perasaan ?Apakah aku akan diampuni dan diterima??

Hari ini mari belajar dari Si Bungsu. Ia memilih untuk bangkit. (Lukas 15:18)

Melalui renungan ini, aku mengajak kalian yang mungkin merasa tak layak dan tak pantas ke Gereja karena besarnya dosa yang kalian perbuat untuk kembali, untuk berbalik arah. Bangkit bertobat dan percaya kepada Injil, kepada Kabar Baik.

Jangan pernah ragu dan merasa sia-sia karena ketika kita menuju pada sesuatu yang benar, bukankah semua itu nanti akan diperhitungkan?

Bagi Tuhan tak ada istilah ?tempat terjauh? meski mungkin kalian selalu berpikir ?Aku sudah terlalu jauh dariNya!? Bagi Tuhan tak ada relung yang tak bisa direngkuh, tak ada dataran landai yang tak bisa dicapai, tak ada dataran tinggi yang tak bisa didaki!

Justru titik terjauh sejatinya ada pada pikiranmu sendiri! Kamu terlalu mengukur Tuhan dengan ukuranmu seolah kemampuanNya dalam mengampuni tak lebih bagus dari caramu yang tak kunjung bisa mengampuni mantan pacar yang dulu pernah menyelingkuhimu. Eh?

Sydney, 3 Maret 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.