Tiga motivasi meminjamkan uang. Mana yang paling buruk?

19 Jun 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 19 Juni 2017

Matius 5:38 – 42
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Renungan

Kabar Baik hari ini lebih banyak dikenal pada penggalan ayat “…siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” tapi hari ini mari kita merenungkan penggalan ayat lainnya, “…dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Jadi, kita tak boleh menolak orang yang meminjam?

Benar! Tapi mari kita samakan persepsi terlebih dahulu, apakah hakikat ‘meminjamkan’ sesuatu katakanlah uang?

Bagiku, meminjamkan uang adalah memberikan apa yang kita punya tapi suatu waktu kita punya hak untuk meminta uang kembali.

Meminjamkan uang atau bantuan lain menurutku bisa dibagi tiga macam hal terkait motivasi mengapa kita meminjamkan.

#1 Meminjamkan untuk menolong

Sudah barang tentu, inilah yang terbaik. Kita meminjamkan uang kepada kawan karena kita tahu dengan pinjaman itu kawan akan tertolong karena siapa tahu ia sedang tak ada uang untuk membayar SPP anaknya padahal batas waktu pembayaran sudah amat mepet? Ya sudah, kita pinjamkan saja toh nanti dikembalikan!

#2 Meminjamkan untuk pamrih

Lintah darat adalah contohnya. Kamu meminjam uang, datang ke lintah darat adalah pilihan yang tak tepat karena mereka meski tampak begitu penolong, yang diharapkan adalah bunga dari uang yang kamu pinjam.

Motivasi yang buruk? Tentu saja!

#3 Meminjamkan untuk menghilangkan

Motivasi ketiga bisa jadi amat buruk namun kadang kita tak sadar melakukannya.

Niatnya baik, minjemin uang tapi ketika uang tak dikembalikan kita diam saja bahkan ada beberapa orang yang memilih untuk tak pernah menagihnya, “Ah, relakan saja!”

Kalau memang benar-benar ikhlas dan rela, tak jadi soal. Tapi kalau lantas di belakang mengeluh kenapa Si Dia nggak pernah mengembalikan uang lalu menceritakannya kesana-kemari, bukankah ini jadi gosip? Paus Fransiskus pernah suatu waktu berkata bahwa gosip itu adalah sebuah tindak terorisme. Gosip adalah pembunuhan karakter terlepas apa yang terjadi itu benar atau salah, bukan?

Apa salahnya menagih pinjaman?
Apa takut dan dosanya selama kita melakukan sesuai kesepakatan dan tak menekan apalagi merampas? Bukankah hal itu juga ikut melatih kedisiplinan, konsekuensi dan komitmen orang yang kita pinjami?

Tapi bagaimana kalau ia nggak mengembalikan lalu tiba-tiba pinjam lagi? Haruskah kita tolak?

Jangan! Kita tetap harus meminjaminya uang karena itulah perintah Tuhan. Asal, dengan satu syarat, kita minta ia mengembalikan dulu apa yang pernah ia pinjam.

Wah kalau begitu berarti kamu menolak karena mengajukan syarat, Don?

Kenapa kamu tak berpikir sebaliknya? Aku tak menolak, aku meminjamkan tapi dengan syarat dan hey…apa yang salah dari syarat karena bukankah tak ada hal yang tak bersyarat dari dunia ini? Bahkan hidup surgawi pun mensyaratkan kita untuk hidup seturut kehendakNya?

Jadi?
Jangan menolak orang yang meminjam (uang) darimu, tapi juga jangan membiarkan begitu saja pinjaman yang kau berikan tak dikembalikan supaya di lain waktu kalian sama-sama enaknya; ia bisa meminjam lagi darimu, dan kamu juga bisa lebih tenang dan tentram dalam meminjamkan uang.

Ayo tagih piutangmu tapi juga jangan lupa bayar pinjamanmu!

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. baru aja tadi siang mbahas soal ini sama mama and temen, soal nomer #3 Meminjamkan untuk menghilangkan. karena ini yang diajarkan papa kepadaku; kalau kamu siap meminjamkan (uang/barang) kamu juga harus siap untuk kehilangan. karena tidak semua orang bisa menjaga janji untuk mengembalikan atau menjaga barang. kalo ga siap .. just say no. kalo siap. then go ahead, ga usah ngresulo dibelakang karena sudah resiko :)

    Balas
  2. wah kaget aku kamu tulis tentang ini karena kebetulan lagi heboh di kalangan orang Indonesia di sini . :D

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.