Tiga jurus menahan syahwat di social media. Apa saja?

10 Mar 2017 | Digital

Ernest Prakasa menjadi sorotan beberapa hari lalu.
Gara-gara cuitannya yang mengkaitkan Zakir Naik, seorang ulama India, dengan ISIS, ia harus meminta maaf berulang-ulang, di banyak kanal social media.

Salah satu yang kuikuti karena menarik adalah permintaan maaf yang dilayangkan melalui akun Instagramnya seperti di bawah ini.

Teman2, izinkan saya mengungkapkan sesuatu. Tadi malam, dengan mengacu ke beberapa artikel di media asing, saya men-twit soal keterkaitan antara Zakir Naik & ISIS. Pada saat itu saya berpikir, karena medianya media terkenal maka beritanya valid. Tapi setelah banyak protes, saya jadi merenungkan bahwa apa jadinya seandainya yg mereka beritakan tidak benar. Maka saya sudah menyebarkan fitnah. Untuk itu, saya mohon maaf pada teman2 yg sudah tersakiti hatinya. Dengan tulus tanpa tekanan dari pihak mana pun saya ingin minta maaf, semoga ini jadi pelajaran bagi saya untuk lebih hati2 dalam menerima informasi di media. Bagi teman2 yg sudah terlanjur melabeli saya “anti Islam” dan sebagainya, saya pasrah :) Saya lahir hingga remaja di lingkungan Betawi Muslim & mereka tidak pernah mempermasalahkan agama saya. Saya sering dibully krn Cina, tp tidak pernah dibully krn Kristen. Jadi apa dasar saya untuk membenci Islam? Sekali lagi, saya mohon maaf, dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Dimaafkan atau tidak, saya serahkan pada teman2 sendiri. “Enak banget tinggal minta maaf!”. Iya sih bener juga, tapi namanya orang salah, bisa apalagi selain minta maaf? Sekian dari saya, terimakasih udah ngebaca postingan ini. ??

A post shared by Ernest Prakasa (@ernestprakasa) on Mar 6, 2017 at 12:41am PST

Perhatianku tiba-tiba terpaku pada penggalan pesan di atas sebagai berikut:

…Pada saat itu saya berpikir, karena medianya media terkenal maka beritanya valid…

Aku tak mau menyebut nama medianya meski aku tahu dan mungkin kalian juga sudah tahu karena yang lebih menarik daripada sekedar memberitahukan nama media itu adalah pertanyaan yang muncul,

Benarkah media terkenal menyebarkan berita tak valid? Atau jangan-jangan media tersebut menyebarkan berita yang valid tapi lantas dianggap tak benar oleh khalayak?

Hal ini mengingatkanku pada pengalaman bertemu seorang kawan lama di masa silam.

Pernah aku berjumpa kawan lama di Jogja dulu. Setelah beberapa kali gonta-ganti profesi, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan yang waktu itu aku belum pernah mendengar namanya.

“Perusahaan di bidang apa itu?”
“Media positioning!” jawabnya.

Opo kuwi? Tambah ora mudheng!” demikian balasku karena aku memang benar-benar tak tahu nama perusahaan apalagi bidangnya! Asing! Baru!

Lalu ia menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah menerima permintaan dari klien (kebanyakan produsen barang retail) untuk dibuatkan berita yang lantas diterbitkan oleh media.

“Wah, berarti seperti tulisan pesanan?” Ia mengangguk.

“Bodreks dong?” Ia tersenyum, “Nggak juga lah!” Bodreks adalah istilah wartawan yang dibayar/menerima bingkisan dari pihak tertentu untuk menuliskan tulisan sesuai pesanan.

Jadi sehari-hari tugasnya adalah berhubungan dengan media dan meminta mereka untuk menurunkan tulisan tentang produk dari produsen yang membayarnya. Kadang-kadang tulisan juga diarahkan pada pengungkapan ketidakbaikan produk para pesaing.

Dari situ aku baru sadar bahwa tak selamanya media-media itu menyampaikan berita yang benar; atau setidaknya, ketika muncul pesanan, sebuah berita bisa saja jadi tak berimbang karena condong pada salah satu kekuatan yang membayar/mengongkosi untuk mengalahkan pesaingnya!

Kembali ke persoalan yang dihadapi Ernest dengan mengaitkan pengalaman berbincang kawan lama yang kutulis barusan, aku jadi berpikir bahwa di jaman yang laju informasinya lebih kencang daripada air kencing ini, persoalannya bukan lagi pada benar-salahnya sebuah informasi, tapi pada bagaimana kita mampu mengendalikan syahwat untuk menyebarkan informasi yang kita terima terlepas dari validitasnya.

Ada tiga hal yang menurutku bisa kita pakai untuk pengendalian itu.

social media

Pertama, perlukah informasi itu dibaca?

Ketika sebuah informasi kamu terima, hal pertama yang harus dipikirkan adalah, perlukah dibaca? Kalau perlu, untuk apa? Adakah pengaruhnya kalau kita baca maupun tidak kita baca terhadap kehidupan pribadi kita? Keluarga kita? Pekerjaan kita dan orang-orang terdekat kita?

Berapa lama waktu diperlukan untuk membaca informasi tersebut dan adakah pengorbanan waktu itu seimbang dengan apa yang kita dapat dari situ?

Kedua, perlukah dipercaya?

OK, kalian akhirnya memutuskan untuk membaca. Tapi membaca tidak identik dengan otomatis percaya! Apa perlunya untuk percaya? Kenapa jadi percaya? Apa yang membuatmu percaya? Apakah karena berita itu menjelek-jelekkan calon gubernur lawan, misalnya, maka kita jadi percaya? Bagaimana dengan berita yang menjelek-jelekkan calon yang kita bela, kenapa kita dengan cepat bilang tak percaya dan menganggap itu adalah hoax semata?

Ketiga, perlukah disebarkan?

Kuhormati kalau kalian akhirnya percaya dengan berita yang kalian baca. Tapi perlukah lantas kita menyebarkan berita yang kita percaya itu kepada orang lain? Untuk apa? Supaya sama-sama jadi percaya? Apa gunanya dengan membuat orang lain jadi sekepercayaan dengan kita? Apakah hal itu lantas membuat mereka juga sama-sama akan sudi dipenjara ketika kita tersandung kasus hukum oleh karena penyebaran informasi tersebut?

Gunakanlah ketiga hal itu sebagai penyaring, sebagai filter sebelum akhirnya kita menekan link judul untuk membaca berita seluruhnya, memaksa batin dan pikiran kita untuk percaya hingga meminta ujung jempol kita menyebarkan berita yang kalian baca dan percaya itu kepada khalayak di bumi social media.

Eh btw, bumi social media itu bumi yang bulat atau datar ya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.