Ada baiknya, mereka yang sedang hobi-hobinya melarang konten pornografi/pornoaksi itu memikirkan kenapa mereka tidak juga melarang tayangan kisah liburan seru artis bareng kekasih di luar negeri maupun di tempat-tempat tujuan wisata domestik?
Mungkin kalian akan bertanya, “Dimana letak pornografi/pornoaksinya?”
Nah, justru itu!
Pastinya ada sesuatu yang menarik, karena kalau tidak, hari ini kalian tak membacanya di sini.
Meski tak menawarkan tayangan frontal ‘esek-esek’ khas bokep yang memanjakan visual, tapi tayangan-tayangan seperti itu sebenarnya justru membawa pesan lebih ‘dalam’.
Kenapa?
Aku berangkat dari pemikiran bahwa hal yang paling membahayakan (kalau harus dikatakan demikian) dari konten pornografi/pornoaksi adalah kalau sampai ia ditonton oleh orang yang tak siap mental menghadapinya.
“…hal yang paling membahayakan (kalau harus dikatakan demikian) dari konten pornografi/pornoaksi adalah kalau sampai ia ditonton oleh orang yang tak siap mental menghadapinya.”
Pada landasan otak orang-orang yang demikian tadi, tayangan tersebut bisa menjadi pemicu. Pemicu untuk entah itu tak bisa melepaskan diri dan selalu mengasosiasikan segala sesuatu dengan pikiran yang jorok-jorok atau bertindak brutal untuk memuaskan syahwatnya yang telah terpicu oleh tayangan tadi lalu akibatnya merugikan orang lain di sekitarnya.
Nah, tayangan kisah liburan bareng tadi secara implisit membuka kesempatan bagi para orang yang tak siap mental itu tadi untuk membayangkan, “Wah! Liburan ke luar negeri? Bareng pacar? Tidurnya barengan? Asik dong!”
Apalagi artis? Magnetnya begitu luar biasa untuk membuat ikut-ikut atau setidaknya berkomentar, “Keren!” Meski kadang absurd juga karena tak semua artis itu bego! :)
Nah, jadi jangan heran dan kaget kalau di facebook atau bahkan secara langsung kalian melihat begitu banyak anak-anak ABG metropolitan berlibur bersama pacar entah itu ke Bali atau Singapore, Hongkong maupun Maccau.
Kalau sudah demikian, jangan lagi pura-pura bego, “Lha kalian liburan bareng? Tidurnya terpisah?”
Meski tak semuanya seburuk yang kita sangka, tapi siapa sih yang tahan tidur sendirian ketika tak ada penghalang yang membuat mereka harus tidur berbarengan?
Nah, kalau sudah demikian, bagaimana?
Sudah benarkah langkah yang dilakukan para penguasa memblokir konten-konten pornografi/ pornoaksi atau, berkaca pada kasus di atas, mereka justru salah sama sekali?

Tinggalkan Balasan