Tidak Ada Yang Sempurna Di Kertas Suara

12 Feb 2024 | Cetusan

Suatu waktu ketika masih tinggal di Indonesia, seorang kawan kerja mengundangku untuk hadir ke pesta pernikahannya.

Tempatnya. di rumah mempelai wanita di sebuah pelosok pedesaan di sisi tenggara Klaten sana. Aku datang dari Jogja berboncengan menggunakan sepeda motor bersama kawan kerjaku yang lain. 

Dan sungguh pun pesta itu, untuk ukuran pedesaan, lumayan besar! Tratag (atap non-permanen) dipasang sejak perempatan menjelang rumah mempelai berikut kursi yang tertata rapi dan speaker berukuran jumbo diletakkan di atas meja yang mendengungkan aneka ragam musik mulai klengenan Jawa hingga campursari tentunya!

Oleh among tamu, kami diantar ke tempat duduk yang sudah disediakan dan tak lama setelah mengamati kanan-kiri, aku berbisik pada kawanku tadi.

“Su! Aku gak nyangka lho!”

“Apa, Bos?” tanya kawanku, ia memang anak buahku makanya memanggilku dengan sebutan Bos.

“Kok ya ada desa yang penduduknya cantik-cantik kayak gini ya? Pantesan Joko (sebut saja begitu, nama temanku yang menikah) kesengsem hahaha!”

“Nganu, Bos…. jangan salah! Mereka itu dandan makanya  cantik! Coba kalau kamu kemari pas hari biasa!”

“Oh?”

“Iya! Aslinya ya gak gitu! Di hari biasa mereka juga pasti dasteran, muka berminyak jerawatan, jidat pakai salonpas, alis gak keruan dan bibir yang menghitam!!”

Aku cuma bisa mlongo diberitahu seperti itu…

***

Teman, tak ada calon presiden dan calon wakil presiden yang dibiarkan tampil seadanya saat kampanye. 

Pak Prabowo yang tegas dan keras pun bisa dibranding gemoy dan tukang joget! Pak Anies Baswedan yang seorang mantan pendidik pun rela  bernyanyi dangdut… dan seorang Ganjar Pranowo yang kurus bisa pakai jaket bomber ala pilot pesawat tempur.

Semua ditampilkan untuk mengamplifikasi kebaikan dan keunggulan baik fisik maupun pikiran (entah mental!) supaya yang buruk dan busuk ditutupi kalau bisa dilenyapkan! Tujuannya? Supaya para calon pemilih terpikat!

Maka kalau kamu cerdas, menilai yang akan dipilih itu bukan dari apa yang tampak pada saat kampanye. Memilih yang terbaik itu dari seperti apa rekam jejak masa lalunya. Masa lalu tentu tak bisa dijadikan patokan untuk masa depan tapi setidaknya itu adalah sarana yang paling masuk akal dibandingkan materi kampanye yang melenakan.

Kita harus mawas diri terhadap hal ini. Kita harus berani menelanjangi para pasangan calon itu dalam pikiran kita sendiri. Buka kedoknya dan amati…

Siapa yang pernah lancung membawa politik identitas sebagai materi kampanye pilkada yang lantas memecah belah di 2017?

Lihat pula siapa gubernur yang pernah gawal mengiring kasus pendirian pabrik semen meski kemudian semua orang tahu itu program nasional?

Dan… lihat siapa yang tangannya berdarah di peristiwa 98 dan sekarang sedang berusaha mengelap darah itu dengan menempelkannya di wajah beberapa cecunguk mantan aktivis yang menjual idealisme mereka demi jabatan, uang serta kuasa?

Tidak ada yang sempurna, Don!
Benar katamu! 
Kita memang sedang tidak mencari yang sempurna karena yang sempurna ada di langit bukan di kertas suara! Kita mencari yang paling baik dari yang terburuk. Kita mencari yang lumayan dari yang menyeramkan.

Bahkan jika perlu, kita harus mencari yang paling sedikit jelaga ketimbang yang paling legam karena kerak dosa sudah tidak bisa disembunyikan di wajah!

***

Sepulang dari kondangan yang kuceritakan di atas tadi, di tengah jalan aku bilang ke kawanku.

“Kamu bayangin gak sih, kalau pacaran dengan orang-orang tadi trus pas malam pertama, pas semua make up dilepas ternyata mukanya beda banget! Kamu gimana? Stress gak? Nyesel gak?””

Temanku itu menjawab, “Nah itu dia, Bos! Makanya sebelum nikah perlu diuji coba dulu supaya ketahuan ap…!”

Aku tak mengijinkan kawanku menyelesaikan omongannya di hadapan kalian wahai para pembaca budiman. Tanganku bersicepat menoyor helm yang dikenakannya, “Asu!” pekikku disambung derai tawa kami berdua sore itu…

Selamat memilih, Kawan!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.