Tidak ada perceraian dalam Gereja Katolik, kebanggaan atau suratan takdir?

1 Mar 2019 | Kabar Baik

Aku pernah bertanya pada beberapa orang, ?Hal apa saja yang membuatmu bangga menjadi umat Katolik??Jawaban salah satunya adalah karena dalam Katolik tidak dikenal istilah perceraian. Hal ini didasarkan pada apa yang ditulis Markus dalam Markus 10:9, ??apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Kebanggaan atau suratan takdir?

Tapi beberapa tahun lalu aku mendapat satu gambaran yang membuatku merenung, bukan mempertanyakan, adakah sejatinya hal itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan atau takdir yang harus dijalankan bagi kita umat Tuhan yang memutuskan menikah?

Di satu kota, hiduplah sebuah keluarga Katolik yang tenteram dan damai rumah tangganya. Mereka berdua berprofesi sebagai seniman. Si pria sebut saja Jaka, si wanita sebut saja Kenanga. 

Jaka – Kenanga – Aster

Karena mereka berdua itu orang baik, kebaikannya mengundang orang-orang lain untuk dekat masuk termasuk gadis muda bernama, sebut saja, Aster. Seperti halnya Jaka dan Kenanga, Aster yang usianya terpaut jauh lebih muda, adalah seniman juga.

Interaksi ketiganya, Aster, Jaka dan Kenanga terjadi begitu erat. Kenanga bahkan sampai menganggap Aster sebagai anak sendiri karena kebetulan ia dan Jaka belum dikaruniai keturunan.

Tapi sayangnya tak demikian dengan Jaka, suaminya. Jaka menganggap Aster bukan sebagai anak sendiri tapi sebagai wanita idaman lain. Yang lebih memperburuk keadaan adalah, gayung bersambut, Aster tertarik pada Jaka meski ia juga menghormati Kenanga sebagai ?ibu angkat?-nya.

Awalnya tak ketahuan hubungan gelap mereka itu hingga akhirnya Aster mengandung anak dari Jaka dan hal itu membuat goncang keluarga.

Karena ingin menjadi katolik yang taat, Kenanga tak mau mengajukan perceraian dan tak mau pula diceraikan. Ia, dengan segala kebesaran hatinya bertekad untuk memaafkan Aster bahkan menerima bayinya untuk diangkat sebagai anak.

Tapi lagi-lagi Jaka tak berpikir demikian. Ia ingin menikahi Aster dengan meninggalkan Kenanga, istrinya.

Awalnya Kenanga tetap menolak tapi akhirnya luluh hatinya, Jaka dibiarkannya pergi, surat perceraian pun ditandatangani.

Pendapat awam terbelah.
Banyak yang mendukung Kenanga untuk cerai karena Jaka memang keterlaluan. Ada pula yang menyayangkan karena dalam Katolik tidak dikenal istilah perceraian.

Menghakimi, menyayangkan atau mendukung?

Sebagai umat Katolik, bagaimana kalian berpendapat tentang kasus di atas?

Bagiku, perceraian adalah hal yang tidak diijinkan Allah. Tapi dalam kasus Jaka-Kenanga-Aster di atas, aku harus memaklumi apa yang ditempuh oleh Kenanga sekaligus menyayangkan atas keputusan Jaka yang tak kuat menahan goda.

Ketika satu kasus keretakan rumah tangga yang berujung perpisahan, tidak bisa tidak kita harus merasa prihatin. Terlebih ajaran Yesus tentang hal ini adalah sikap moral yang berlangsung untuk selamanya.

Tapi di sisi lain, kita juga diajak untuk tidak menghakimi mereka yang akhirnya harus menempuh jalan itu. Meski sulit tapi pilihan sikap untuk itu harus dilandaskan pada kenyataan bahwa Yesus selain mengajarkan orang untuk tidak bercerai, Ia juga amat membenci orang-orang yang menghakimi sesamanya karena dosa.

Kawan, ada kalanya kita dituntut untuk bersuara. Tapi dalam kasus-kasus seperti ini, aku memilih untuk diam. Diam mendoakan, diam merenungi dan mempelajari supaya hal-hal seperti itu tak terjadi lagi.

Kembali pada pertanyaan di atas, tidak adanya kamus perceraian dalam Gereja Katolik, adakah hal itu merupakan kebanggaan atau suratan takdir?

Mari semakin bangga pada takdir kita sebagai pemanggul salib hingga paripurna!

Sydney, 1 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.