The power of ?emak-emak?

8 Sep 2018 | Cetusan

Kenapa pasangan Prabowo-Sandi seolah-olah berusaha mendekatkan diri pada emak-emak? Menurutku ini memang bagian dari strategi mereka. Penalaahanku adalah sebagai berikut:

#1 Memainkan isu agama udah nggak menarik lagi!

Semenjak Jokowi menggaet Prof Dr. KH Maruf Amin yang adalah Ketua (Non-aktif) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam NU menjadi cawapres, peluang untuk memainkan sentimen agama dari pihak manapun akan semakin sulit. Tentu saja ini kabar baik! Siapa sih yang ingin goreng-menggoreng isu agama seperti yang terjadi dalam Pilkada Jakarta 2017 terulang lagi tahun depan?

#2 Emak-emak adalah jantung keluarga

Emak-emak adalah jantung keluarga. Bapak boleh berkuasa dengan uang tapi seperti sudah jadi hukum alam bahwa apa yang dikatakan ibu lebih didengar oleh anak-anak dan si bapak sendiri. Jadi, merebut hati emak-emak dalam hitungan matematis adalah berarti merebut hati keluarga!

#3 Emak-emak, dapur dan harga telur

Kenapa ?emak-emak? dan bukan ?ibu-ibu? bukan pula ?wanita?? Karena ?emak-emak? identik dengan dapur sementara ?ibu-ibu? apalagi ?wanita? tidak.?

Apa pentingnya ?dapur??
Dapur terkait makanan, nadi hidup manusia. Makanan terkait dengan harga pokok dan serangan yang paling masif dan menyeluruh karena menyentuh rakyat menengah ke bawah adalah serangan yang menyasar pada tingginya harga pangan dan bahan pokok. Walaupun harga pangan dan bahan pokoknya sebenarnya tak tinggi, strategi kampanye toh bisa ?dikulik? dengan bahasa, ?Memang tak tinggi tapi kalau kami memimpin negeri, harga telur bisa lebih rendah lagi?.

Satu hal yang mereka lupa, bagaimana nasib ?emak-emak? para penjual telur kalau harga telur ditekan serendah mungkin? :)

#4 Emak-emak, paras dan impresi

Ini jelinya tim Prabowo-Sandi!
Emak-emak yang sekarang rata-rata berusia 35-50 tahunan dengan kata lain masa kecil dan masa remaja mereka ada pada era 80-90an.

Ada apa dengan era itu?
Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto adalah pria-pria yang menurutku berparas rupawan. Sandiaga Uno jadi model dan cover majalah HAI pada 1989. Siapa yang lupa juga pada paras Prabowo di era 90an? Perwira dengan karir progresif, menantu penguasa dan berparas rupawan?

Sandiaga Uno sebagai cover Majalah Hai, 1989
Prabowo Subianto saat jadi Danjen Kopasus, medio 90an

Mendekati emak-emak adalah mendekati nostalgia terhadap ketampanan mereka.

Maka dari itu wahai para Kecebong, jangan kaget dengan manuver-manuver yang dilakukan seperti misalnya uang 100 ribu yang katanya hanya bisa untuk beli bawang dan cabai, atau yang terbaru adalah manuver tempe yang katanya cuma setipis kartu ATM.?Sasarannya tak lain dan tak bukan adalah emak-emak.

Kesannya barangkali remeh, tapi hati-hatilah karena strategi The Power of Emak-emak ini bisa jadi lebih masif ketimbang isu agama.

Kenapa?
Tak semua orang itu beragama dan tak semua orang yang beragama peduli lagi pada agamanya. Tapi, adakah orang yang tak beribu? Adakah orang beribu yang tak mempedulikan suara ibunya, suara ’emak’-nya?

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Saya kagum emak emak yang berjuang habis-habisan untuk pendidikan anaknya. Emak saya salah satunya.

    Balas
  2. Sandi itu jadi Wagub tidak selesai tidak becus kok mau Jadi Wapres ini Negara pasti Hancur

    Balas
    • Jokowi juga gak selesai bertugas jadi gubernur DKI lho waktu itu…

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.