Tersesat dalam beriman? Mari lebih artikulatif nan kreatif di dalamNya!

21 Jan 2019 | Kabar Baik

Ada sekelompok orang yang mendatangi Yesus dan bertanya, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”?(Markus?2:18)

Lalu Yesus menjawab, ?Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.??(Markus?2:19)

Aku tak tahu bagaimana tanggapan orang-orang itu mendengar jawaban Yesus. Barangkali mereka menerima, tapi besar kemungkinan mereka tak mengerti sama sekali apa yang diucapkanNya dan lantas menganggap Yesus sesat karena dinilai tak menuruti aturan puasa yang sudah dilakukan sejak lama bahkan oleh para murid sepupuNya sendiri, Yohanes Pembaptis.

Padahal Yesus  hanya menggenapi. Ia tidak menghapuskan tapi menaruh satu sudut pandang baru terhadap makna puasa.

Mempelajari hal tersebut, apakah itu berarti kita juga diberi hak yang sama untuk menyempurnakan hal-hal yang menurut kita kurang sempurna dalam hal iman?

Menurutku tidak. Kita bukan Tuhan, bukan pula nabi. Hal yang lebih tepat menurutku adalah bagaimana mengartikulasikan iman dalam hidup melalui tindakan yang lebih baik dan berada dalam terang Tuhan.

Misalnya kembali ke soal puasa.

Sebagai umat Katolik yang baik, berpantang selama Pra-Paskah adalah tidak mengkonsumsi hal-hal/makanan/minuman yang biasa menjadi kegemaran kita. Untuk itu, hal yang berlaku paling umum biasanya adalah pantang makan daging dan pantang mengkonsumsi garam.

Tapi bagaimana dengan seorang yang hidup sebagai vegetarian dan karena mengidap tekanan darah tinggi maka ia membatasi konsumsi garam? Akankah berpantang daging dan garam masuk dalam ?konteks? tidak mengkonsumsi hal-hal yang menjadi kegemaran?


Tentu tidak!

Di sinilah kemampuan kita untuk mengartikulasikan iman ditantang! Kenapa tak mencoba pantang social media atau membatasi intensitas menggunakan aplikasi WhatsApp misalnya?

Inti dari mengartikulasikan iman menurutku ada pada seberani apa kita kreatif dan mendobrak batas-batas kenyamanan dalam beragama. Aku percaya betul bahwa selama kita hidup di dunia, nafsu dan keduniawian itu selalu bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Beriman harus menghadirkan kegelisahan atas ketidaknyamanan yang lantas diaplikasikan secara kreatif dalam wujud tindakan positif dan mengacu pada dua tugas besar kita, mengasihi Tuhan dan sesama. Dalam konteks pantang tadi, kegelisahan justru terjadi saat kita berani mempertanyakan, ?Kok pantang-ku gampang amat?! Jangan-jangan salah? Jangan-jangan kurang!??

Tapi apa kamu tak takut tersesat dalam beriman, Don?

Tentu aku takut! Aku ini manusia lemah yang bisa saja melenceng dan murtad. Tapi aku lebih takut lagi kalau tahu ternyata ketidakberanianku untuk melangkah lebih kreatif dan mendobrak batas-batas ketidaknyamanan itu justru menjadi tanda bahwa aku sejatinya sudah tersesat?

Jangan-jangan kita yang mencoba main aman sejatinya adalah kita yang sudah sekian lama tersesat? Nah lho!

Sydney, 21 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.