Terang

11 Apr 2018 | Kabar Baik

Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
(Yohanes 3:19 – 21)

Hari ini, seperti ditulis Yohanes, Yesus bicara ?Terang? kepada Nikodemus. Pikiranku pun menerawang, apakah ?Terang? itu?

Agama?
Gereja?
Tuhan?

?Terang? adalah Tuhan dan Gereja Katolik adalah teropong kokoh yang memungkinkan kita untuk tak hanya meraba dan merasa tapi juga melihat Terang itu.

Sekuat itu keyakinanku namun demikian, tak jarang aku gugup ketika ada kawan yang mempertanyakan tentang banyaknya oknum imam yang tersandung kasus mulai dari penggelapan uang hingga pelecehan seksual. Terlebih saat ada kawan menggunakan alasan itu untuk berpindah agama, tak lagi mau hadir dalam perayaan-perayaan atau yang paling parah hingga tak lagi percaya adanya ?Terang?, adanya Tuhan?

Mereka kecewa. Dalam pandangan mereka, Gereja seolah-olah kalah karena tingkah laku oknum yang salah.

Adilkah?
Aku tak kuasa menjawab karena aku hanyalah umat. Tapi bagiku, justru dengan tersingkapnya begitu banyak kasus yang terjadi, barangkali itu adalah penanda baik yang semakin menguatkan imanku bahwa Gereja Katolik memang teropong terbaik untuk menikmati TerangNya. Kenapa? Bukankah di tempat terang, orang-orang yang berbuat jahat akan ketahuan pada akhirnya?

Justru yang memprihatinkan adalah mereka yang memilih mundur karena kelakuan para oknum tadi.

Kepedihan dan kekecewaan itu wajar tapi ketika terlalu dalam, takutnya hal itu membuat kita justru mendekati tempat-tempat gelap tempat roh-roh jahat siap menarik untuk melakukan kejahatan dan sulit untuk ketahuan dan tak terselamatkan lagi.

Jadi, sekali lagi, bagiku ?Terang? adalah Tuhan sementara Gereja Katolik adalah teropong kokoh yang memungkinkan kita untuk tak hanya meraba dan merasa tapi juga melihat Terang itu.

Persoalannya kemudian, semuanya tidak berhenti di situ. Apalah gunanya kita punya hak untuk menggunakan teropong melihat Terang kalau hal itu hanya kita rasakan dan nikmati sendiri. Kapan mau jadi terang bagi sekelilingmu? Jadi penghangat dalam gulita bagi lingkungan yang dipercayakan kepadamu?

Sydney, 11 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.