Terang Tuhan: Membahagiakan atau memusingkan?

7 Mei 2020 | Kabar Baik

Salah satu penggambaran Yesus yang paling menarik bagiku adalah Ia sebagai terang yang diutus Bapa untuk dunia. ?Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.? (lih. Yoh 12:46)

Terang Tuhan: membahagiakan?

Terang dalam kegelapan tentu membahagiakan. Demikian? Tak selamanya. Coba simak ceritaku dulu di bawah ini.

Waktu kecil dulu, peristiwa padamnya aliran listrik adalah hal biasa.

Listrik padam datangnya bisa mendadak.?Malam-malam, hujan deras dan angin besar lalu tiba-tiba listrik pun padam. Sekonyong-konyong, alunan suara ?Waaaaah?? penuh kecewa menggema lamat-lamat di seantero kampung yang tenang.

Kalau sudah begitu, Papa (alm) biasanya pergi ke dapur mencari lilin di lemari lalu menyalakannya beberapa batang dan membawa kembali ke ruang keluarga.

Gelap menyusut tergantikan terang. 

Kami biasa duduk di meja makan di depan lilin sambil ngemil kudapan atau cerita tentang apa saja ditemani suara katak yang berdendang riang di tengah rintik hujan. Semua berakhir ketika listrik kembali menyala atau ketika kami semua sudah lelah bicara lalu mematikan lilin dan tidur, malam terselesaikan lebih cepat dari biasanya!

Tapi dalam beberapa kali kesempatan, aku tak selalu ikut mengumpul di meja makan bersama Papa (alm), Mama (alm) dan adikku, Chitra. Aku mojok di sudut ruangan yang temaram, pura-pura tidur di sofa membelakangi meja dan cahaya untuk melakukan satu hobiku dulu (dan sekarang): ngupil!

Pernah suatu saat Papa bertanya kok aku nggak ikut kumpul di tengah, aku. pura-pura diam tertidur lalu Mama yang nyahut, ?Sssttt! Donny tidur! Jangan dipanggil dia capek banget hari ini!? Aku meringis tertawa dan tak lama kemudian melanjutkan.. ngupil.

Kegelapan: saat yang ditunggu-tunggu?

Tapi suatu kali nahas pun tiba!
Ketika sedang asik-asiknya ngupil di sofa dan Mama sedang duduk di depan tak jauh dari tempatku berada, tiba-tiba listrik menyala dan lampu berpijar seterang-terangnya! Mama membelalak ketika tahu aku ngupil dengan asyiknya. ?Wooo.. ternyata selama ini kalau kamu gak ikut ngobrol di tengah meja itu karena kamu ndhelik (ngumpet -jw) untuk ngupil ya?!?

Mamaku paling benci dengan orang yang ngupil di muka publik. Ngupil boleh tapi di kamar mandi dan segera cuci tangan lalu keluar, begitu aturannya. Marahnya pun muncul malam itu. Aku disuruh cepat-cepat ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Tak berhenti di situ, aku disuruh mengambil kain lap, membasahainya lalu membersihkan upil yang selalu kutempelkan di bawah sofa sekian lama :)))

Sebagai seorang pengupil, kesempatan mati lampu adalah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Ini membuktikan bahwa tak semua orang suka pada terang. Karena terang itu merepotkan dan membuatnya harus buru-buru menyembunyikan hal yang biasa dilakukan di tempat gelap.

Terang Tuhan: tidak menghakimi

Tuhan hadir sebagai cahaya dunia adalah Tuhan yang menawarkan terang tapi sekaligus Tuhan yang menantang kita untuk berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa dan biasa kita lakukan dalam kegelapan.

Tuhan dengan terang yang dibawanya tidak menghakimi kelakuan buruk kita tapi membawa paradigma bahwa sudah saatnya kita meninggalkan yang buruk karena era baru telah tiba.

Kalau mau ngumpet-ngumpet kayak aku dan ngupilku ya bisa saja tapi kalau tiba-tiba listrik menyala, waktu habis dan kita masih asyik dengan hal-hal buruk kita ya sudah terima hukuman saja di tungku api abadi yang katanya penuh tangis sesal dan kertak gigi. Di sana kamu gak akan bisa ngupil lagi :)

Sydney, 7 Mei 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.