Terang lampu teplok dan keselamatan kita

15 Mei 2019 | Kabar Baik

Sebagai insan yang lahir di sebuah kampung di Klaten, Jawa Tengah pada sepertiga akhir dekade 70an, aku merasakan ?gegap gempita? bagaimana rasanya mengalami kejadian mati listrik di malam hari.

Bagai pencuri

Mati listrik itu datangnya bagai pencuri. Mengagetkan!

Sedang asyik-asyiknya nonton tv tiba-tiba gelap menyergap dan tak lama kemudian suara koor dari tetangga menggema, ?Woooo? listrik mati?. Giliran?? dan berbagai nada kekecewaan lainnya yang saling berkelindan satu sama lain.

Mama biasanya paling sebel kalau listrik mati saat ia sedang menyetrika. Karena waktu itu kami sudah menggunakan setrika listrik (banyak tetangga masih menggunakan setrika arang), mati lsitrik berarti ada sekian lembar baju dan celana yang belum halus dikerjakan.

Papa juga benci kalau listrik mati saat ia sedang nonton televisi. Pulang kerja capek, inginnya leyeh-leyeh sambil nonton tv. ?Rasane nglangut dadi kelingan jaman rung duwe tivi? (Rasanya sepi jadi ingat waktu belum punya televisi –jw)?

Lampu teplok

Tapi beda denganku?
Kalau Mama dan Papa menyambut dengan kecewa, mati listrik justru membahagiakanku! Aku jadi punya alasan untuk tidak perlu belajar!

Padahal Mama dan Papa adalah orang yang sangat memperhatikan waktu belajar. Mereka rela untuk meletakkan lampu teplok ke dekat meja belajarku supaya aku bisa belajar. 

?Mama dan Papa nggak kebagian teplok nggak papa yang penting kamu belajar, Le!?

Tapi berbagai alasan biasanya kusematkan. ?Aku nggak mau belajar! Nanti mataku rusak karena nyalanya nggak seterang lampu dan harus pakai kacamata, Ma! Tunggu listrik hidup lagi aja??


?Tapi kalau kamu nggak belajar besok gimana? Kamu kan ada jadwal ulangan to, Le??

Terang Tuhan

Hari ini Yesus bicara tentang terang.

Ia datang sebagai terang supaya orang yang percaya tidak tinggal dalam kegelapan. Pada kedatanganNya yang pertama dua ribu tahun silam, Ia datang tidak untuk menghakimi. Namun firman-firmanNya yang sudah Ia ajarkan lah yang akan jadi hakim pada akhir jaman nanti. Saat itu, Ia akan datang sebagai Hakim Agung yang mengadili kita atas segala hal yang sudah kita lakukan sepanjang hidup.

Membaca Kabar Baik tersebut, aku teringat dengan kisah mati lampu di atas.

Menghindari terang

Dunia yang gelap bagai kampungku dulu saat mati listrik. Sinar lampu teplok/senthir libarat terang yang dibawa Yesus. Ia dinyalakan supaya aku bisa belajar sama halnya dengan terangNya datang supaya orang melakukan hal-hal kebaikan dan terhindar dari gelap. 

Tapi yang terjadi, ketika Mama dan Papa menawariku lampu teplok aku malah menghindar dengan berbagai macam alasan!

Ulangan di sekolah yang diadakan pada pagi harinya bagaikan akhir jaman. Pada saat itu kita akan diadili apakah selama hidup kita mendekat pada terang dan berbuat kebaikan atau tidak. Jika tidak kita dibuang ke neraka, sebaliknya, jika kita selalu mendekat kepada terang, surga adalah tempat kita untuk selama-lamanya.

Sama dengan ulangan di sekolah. Di situ aku diadili apakah aku bisa mengerjakan soal-soal atau tidak. Jika iya, aku mujur. Jika tidak, itu karena semalam aku memilih tak belajar, tak mendekat pada terang lampu senthir dan belajar. Aku lebih memilih untuk terlelap dalam gelap.

Seberapa jauh kamu dari terangNya? Semoga tidak lebih jauh dari maut yang mengintaimu! Tinggalkan kegelapan mari menuju pada terang!

Sydney, 15 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.