Tentang Tunggonono, GudegNet dan Spirit. Ya.. Spirit!

2 Apr 2008 | Digital, Tunggonono

GudegNet
Terbilang lebih dari seminggu tak bersua dengan Tunggonono, semalam ia menyambangi saya, “Sekedar untuk melepas kangen dengan si Bos!” katanya.
Ia datang lewat pintu depan ruangan saya dengan mengendap-endap, mungkin rencananya mau mengageti saya, tapi tak mempan!

Perawakannya pun masih seperti sebelum-sebelumnya, cuma kali ini ia hampir memelontoskan rambutnya hingga semangkin kelihatan sangar dan hmmm sedikit menjauh dari peradaban. Belum lagi otot-otot di lengannya yang tampak semangkin mengeras dan legam hitamnya… hmm… ya, ya.. Preman ndeso!

“Hehehe… pripun Bos kabarnya?”

“Wah baik, Nggon! Sini Nggon mangsuk ruangan sini!”
Lalu Tunggonono pun masuk ke dalam ruangan saya yang baru dan masih berbau aroma cat serta pelitur pada furnitur-furniturnya itu. Tangannya ditempel-tempelkan di tembok seperti meraba sementara wajahnya didongakkan ke atas menatap langit-langit bangunan.

“Wah, langkung sae, ini Bos! Lebih terang, padhang njingglang ya!”

“Halah! Lambemu, Nggon.. Nggon! Ruanganmu kan juga kuliat makin luas tho. Sekarang bolehnya kamu jaga malam bisa sambil ngeliat ke jalan. Jadi kalau ada mbak-mbak yang lewat kamu bisa ngeliat dan kamu tetap tak terlihat mereka..”

“Lah kok bisa?” Seperti biasa, Tunggonono mulai tampak bodohnya.

“Wohhh… jadi orang kok ndak pinter-pinter! Mbok mundhak sithik gitu lho. Ruanganmu itu kan dipasangi kaca film yang redup dan temaram. Jadi kamu bisa melihat mereka, tapi mereka tak bisa melihat kamu karena gelap!”

“Oh iya ding! Hehehehe…”
Kami terdiam sejenak. Tunggonono tampak pringas-pringas sambil manggut-manggut mengamati ruangan saya itu. Sebentar kemudian ia bergeser ke jendela yang ada di sisi kiri saya, mengamati sekitaran.. dan manggut-manggut lagi.

“Kantor baru itu enak ya Bos.”

“Lha ya iya! Sembarange nek baru itu ya menarik. Mobil nek baru ya masih wuss…wuss..wuss…”

“Hehehe.. istri nek baru ya masih mak nyus.. nyus.. nyus tho Bos!”

“Husss! Wooo luambemu ki ra tau amor sekolah!”
Ah! Meski baru seminggu, rinduku terasa kental olehnya karena hal-hal yang khas “Tunggonono” seperti ini!

“Eh tapi yang baru bukan cuma kantor aja lho Bos!”

“Lha iyo! Eh.. Eh… Halah! Hayo! Kamu mau bilang kalau istriku juga baru. Gitu tho?”

“Heehehehe enggak, beneran enggak kali ini, sumprit! Nganu, sore tadi KangMas Tompel yang mbaurekso dunia per-php-an itu ngabari saya kalau GudegNet yang baru dan diredesign sudah dinaikkan.”

“Halah Nggon, Nggon. Tau apa kamu kok nyebut php, redesign dan naik-naikan segala?”

“Weeeeh.. lha ya kemajuan tho Bos! Masa saya cuma didaulat jadi orang bodoh terus, kan nggak adil!”
Kali ini saya pun terkena “tampar” Tunggonono yang walaupun lembut tapi menusuk itu.

“Lhoo… Lha yo boleh tho! Eh, tapi opo tadi Si Tompel ngasi tahu kamu tentang GudegNet?”

“Iya Bos! Malah dikasih tunjuk sama KangMas Tompel. Wah jadi langkung sae Bos!”

“Hehehe… lha yo iyo.. perbaikan itu ya menuju baik, bukan menuju yang buruk tho, Nggon!”

“Lha iya! Tapi kok baru sekarang tho Bos redesignnya? Trus apa ya yang dulu sudah buruk jadi harus diganti, Bos?”

“Hihihihi.. yo ora gitu.. Spirit, Nggon! Ini soal spirit.”

“Spirit omben-omben itu?”

“Spirit itu bukan merk minuman itu! Spirit itu semangat! Jadi gimana caranya supaya GudegNet itu punya spirit yang baru! Spirit yang lebih peka terhadap perkembangan jaman yang semangkin menjadi-jadi di ranah dunia internet ini!”

“Wooo.. gitu. Njuk?”

“Lha iya! Jadi, redesign GudegNet yang baru ini mengacu pada perkembangan yang ada tapi tetap tak meninggalkan konsep dasarnya Nggon. Jadi biar ndak terkesan melu-melu dan latah! Dan di satu sisi juga update!”

“Weh… latah. Memang web bisa latah, Bos?”

“Lha yo bisa banget! Web itu ya bisa latah terlebih nek dalam kita menerima arus teknologi itu tidak selektif. Nek orang itu dikatakan latah soalnya dia ngikuti apa yang diomongin orang tanpa dipikir dulu tho?”

“Nggih!”

“Nah! Nek web latah itu menurutku yo web yang ngikuti perkembangan terkini tapi nggak punya konsep eksistensi yang jelas! Apa yang baru keluar langsung dipakai, apa yang kelihatan ngetrend langsung diamini. Perkara efektif mengko sikik!”

“Wah! Nggak mudheng aku, Bos!”

“Sudah kutebak! Kamu pasti ndak mudheng huahuahuahua! Ya gini lho… konsep eksistensi dirimu kuwi opo? Kan menjadi orang yang mumpuni dalam berbagai gelombang kehidupan koyoto dalam pekerjaan serta berumah tangga nanti tho?”

“Nggih. Njuk?”

“Nah! Nek kamu itu malah jadi orang yang kebanyakan ngurus misalnya tren berpakaian, ngurus penampilan, istilahnya kowe malah sibuk merias dirimu dengan hal-hal seperti itu, pada akhirnya ya malah mengko njuk jadi bias!”

“Hmmmmm.. bias itu nopo tho Bos?”

“Bias itu… melenceng. Jadi nek tujuan eksistensimu tadinya jadi orang mumpuni dalam kerja, tapi karena malah kowe terlalu banyak ngurus penampilan, malah bisa jadi kerjaanku keteteran dan uangmu habis terkuras karena mengurus penampilanmu itu tadi!”

Tunggonono manggut-manggut.
“Kowe ki manggut-manggut kuwi apa sudah tahu yang kuomongkan?”

“Hehehehe… ya belum dan sepertinya susah tahu lha wong saya ini cuma lulusan SMP trus melanjutkan sekolah jadi preman di jalanan. Diajak omong soal web-weban gitu ya ndak mudheng!”

“Lha iya aku yo ngerti, tapi aku tadi ngomong panjang lebar begitu cuma pengen memberikan penjelasan yang semoga kamu menarik kesimpulan dari situ, jhe. Bukan untuk mengerti secara mendetail teknisnya karena jangankan kamu, Nggon, aku aja kadang ketok bodo juga kalau melihat detail teknis yang update-update nya kuencenge puolll itu.”

“Wah lha itu apalagi! Lha wong sudah nggak mudheng kok disuruh nyimpulin. Bos ini lucu! Lha menurut si Bos apa jhe kesimpulannya?”

Uppsss! Kena saya!
Saya sekarang yang gantian diam… dan resah karena ternyata saya malah ndak bisa menyimpulkan apa yang saya sejak tadi saya omongkan.
Sementara di benak, tiba-tiba berkeliaran kenangan tentang susah payah membangun GudegNet sejak delapan tahun yang lampau.
Terbayang wajah pegawai-pegawai pertama GudegNet seperti David, Anto, Irwan, Helmi, Giras dan lainnya…
Ah kenangan jaman bebas merdeka, jaman belum terlalu ngetopnya CSS, tableless, SEO dan sebagainya yang penting konten, konten dan konten!

Indahnya!

Sebarluaskan!

4 Komentar

  1. kantor baru ga ada undangan selametan potong kambingnya nih don….?

    Balas
  2. berarti dobel dong..
    makan makan selamatan nikah
    makan makan selamatan kantor baru

    ah

    menunggumu…
    menunggumu…..

    Balas
  3. Untuk Donny nggak pake potong kambing, tapi potong dividen! ;))

    Balas
  4. hihii…
    Aku ki nembe nemu iki tunggonono ngrembug gudeg je Masss….

    Nuwun critane ya Mas, inspiratip je….

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.