Tentang Telaga yang terlambat ‘bangun dan pergi dari sini’

1 Mei 2018 | Kabar Baik

Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”
(Yohanes 14:31)

Membaca ?rhema? Kabar Baik seperti kukutip di atas, aku merasa tercerahkan.

Kita tidak boleh melayani di satu tempat, di satu obyek, apapun dan siapapun dia terlalu lama karena kita harus bangun dan beralih ke tempat lain, ke obyek lain yang memerlukan kita dan Tuhan mau kita ada di sana supaya namaNya kian dipermuliakan!

Apa batasan ?terlalu lama?? Ketika sesuatu telah terkerjakan. Ketika sesuatu telah menawarkan kenyamanan.

Contohlah Yesus sendiri. Ia tak pernah mau tinggal berlama-lama di satu daerah karena seperti tertuang dalam Lukas 4:43, Ia berkata, ?Kabar Baik tentang bagaimana Allah memerintah harus Aku beritakan juga di kota-kota lain, sebab untuk itulah Allah mengutus Aku ke dunia.?

Aku tertarik mengemukakan sebuah cerita imajiner dalam renungan ini. Tentang seseorang yang terlambat bangun untuk pergi dari sini.

Anggaplah Telaga, namanya.
Ia sudah beranak-istri.
Suatu saat, kawan dekatnya meninggal dunia dan atas nama perkawanan, Telaga menyatakan sanggup untuk menghibur dan mendampingi keluarga yang ditinggalkan: istri dan anak-anak kawannya.

Telaga kerap menyertakan istri dan anak-anak kawannya tadi berjalan-jalan entah itu makan maupun berlibur bersama keluarganya.

Bulan demi bulan berlalu, si istri mulai merasa tidak nyaman. Perhatian Telaga terbagi dua. Ia pun menyarankan sang suami untuk menuntasi pelayanannya itu.

Telaga menolak. Ia merasa tak ada yang salah toh niatnya melayani sesama? Istrinya mengalah.

Hubungan Telaga kian dalam dengan istri serta anak-anak kawannya tadi. Dari yang semula menghibur di masa perkabungan, justru pada akhirnya ia yang terhibur karena terlalu lama menghibur. Ia merasa membutuhkan rasa bahwa dirinya dibutuhkan. Ia nyaman.

Secara tak sadar, ia jatuh hati pada istri kawannya. Gayung bersambut, istri kawannya pun tak bisa melepaskan diri dari penghiburan yang diberikan Telaga.

Persoalan memuncak ketika Telaga akhirnya harus memilih mempertahankan keluarganya atau berpihak pada istri dan anak-anak kawannya tadi.

? dan Telaga memilih yang kedua. Ia bercerai dengan istrinya yang lantas membawa pergi anak-anaknya. Telaga hidup nyaman dengan mantan istri kawannya yang lantas menjadi istri barunya itu.

Dunia tak mempersalahkan cerita di atas. Karena bagi dunia, alasan ?cinta boleh memilih? adalah kerangka yang pas untuk ?melindungi? kebenaran cerita itu.

Tapi meski tinggal di dunia, tujuan peziarahan kita datang dari Atas dan dalam konteks ?rhema? hari ini yang kutulis di bagian paling atas, Telaga terlambat bangun untuk ?pergi dari sini?.

Telaga merasa nyaman dengan ?pelayanannya? di ?sini? tak mau beranjak padahal pelayanan yang lainnya yang justru harus diutamakan tak bisa diakhiri selama maut belum memisahkan, pernikahannya sendiri.

Tapi kalau kamu jadi Telaga barangkali kamu akan pusing juga, DV!

Benar!
Aku manusia punya perasaan dan gampang baper! Tapi itulah salib! Tak ada yang ringan. Berat? Sangat!

Untuk itulah di akhir renungan yang agak sedikit lebih panjang dari biasanya ini, aku mengajak kita semua untuk merenungi salib Yesus sendiri.

Pandanglah Yesus yang tergantung di sana. Andai Yesus mau, Ia bisa saja menolak salib. Andai Yesus ingin, Ia bisa saja memilih hidup lebih lama di dunia menjadi manusia, menjadi Raja Yahudi.

Tapi hidupNya bukan soal ?mau? dan ?ingin?. HidupNya dan hidup kita adalah soal berkeputusan serta fokus pada kemuliaan namaNya yang harus dijunjung tinggi baik di sana maupun di sini hingga akhir nanti.

Sydney, 1 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.