Tentang RS, FH, dan kenapa orang memilih cybersex sebagai solusi pemuas nafsu sex alternatif?

31 Jan 2017 | Digital

Hari-hari ini, publik di Tanah Air dikagetkan dengan beredarnya transkrip pembicaraan via telepon dari seorang yang mirip FH, seorang yang akhir tahun silam terlilit kasus makar bersama beberapa tokoh lainnya.

Yang membuat heboh adalah materi percakapan yang membawa-bawa nama RS, pimpinan ormas kenamaan ?agama yang dalam beberapa bulan terakhir ini memang jadi sorotan.

Apa yang jadi materi percakapan tersebut sebenarnya hanyalah pengantar karena tiba-tiba muncul sebuah situs web yang memuat informasi yang lebih dalam antar FH dan RS, transkrip percakapan yang tak senonoh dan cenderung tabu melalui media WhatsApp lengkap dengan foto-foto syur seorang wanita yang konon mirip sosok FH tersebut.

Aku sengaja tak menampilkan nama terang dan tak juga mencantumkan alamat situs web tersebut bukan karena takut ancaman UU ITE saja tapi lebih pada kepentinganku untuk menempatkan diri sebagai orang yang lebih bermartabat. Karena bagiku, sebenci-bencinya aku terhadap sosok FH dan RS, alangkah tak patutnya jika kebencian itu justru jadi pemicu penurunan derajat dan martabatku.

“Kok turun derajat gimana tho, Bos?” Tunggonono tiba-tiba membalas begitu ketika semalam kami bercakap-cakap di WA terkait masalah di atas.

“Ya, turun derajat lah! Manusia macam apa kamu kalau mengumbar privasi orang lain ke publik? Hak kamu apa?” ketusku.

“Tapi ya si RS dan FH itu kurang kerjaan, Bos! Esek-esek kok ya lewat WA! Kenapa nggak langsung aja?! Dimana enaknya sih? Cuma ngebayangin?!” tanya Tunggonono lagi.

Cybersex itu nyata!

Hal itu mengingatkanku pada kejadian dulu. Sekitar akhir dekade 90an hingga awal tahun 2000, di Jogja, aku dipercaya oleh seseorang untuk mengelola sebuah warung internet (warnet). Dari laporan tukang bersih-bersih yang kutugaskan merapikan warnet setiap pagi, aku mendapat laporan bahwa pada beberapa tempat duduk, dan keyboard dan kadang-kadang hingga ke permukaan layar monitor, ditemukan tumpahan sperma!

Sperma? Ya! Sperma yang kubayangkan ada sebagai hasil onani penyewa warnet! Menjijikkan? Tapi itulah kenyataan! Apa mau dikata?!

Kegiatan onani/masturbasi menggunakan media perangsang foto/video porno memang sudah ‘awam’, tapi di warnet?

Hal yang lebih mengagetkan lagi, setelah iseng membuka beberapa log file percakapan via aplikasi mIRC yang terjaring, aku banyak mendapati rekaman pembicaraan yang berisi esek-esek, persis sama dengan isi percakapan orang yang diduga adalah FH dan RS tersebut di atas.

Dari situ akhirnya aku sadar bahwa cybersex itu ada dan nyata.

Stimulasi seksual

“Tapi kok cybersex itu bisa terjadi tho Bos? Aku tetap nggak mudheng dimana enaknya?” Tunggonono menghajarku dengan pertanyaan yang menusuk…

Menurut Katherine Hertlein Phd, seorang associate professor dari University of Nevada dalam sebuah jurnal kepada American Psychological Association mengemukakan bahwa cybersex itu terjadi karena percakapan dengan lawan jenis (atau dengan sejenis, tergantung ketertarikan seksual pelaku) dalam media apapun termasuk internet itu tak hanya melibatkan komunikasi saja, percakapan saja, tapi juga seksual dan emosional.

“Nah, karena sudah melibatkan seksual dan emosional, yang ada tinggal bagaimana menstimulasi hingga terangsang lalu mencapai klimaks, Nggon!” balasku pada Tunggonono.

Unsur-unsur atau cara untuk menstimulasi nafsu pun ternyata tak hanya berupa teks maupun suara saja tapi juga foto maupun film yang direkam menggunakan webcam. Jadi, sepasang pelaku cybersex, mereka tak hanya bisa saling bertukar teks dan suara, tapi juga mengirim foto dan bahkan men-share rekaman webcam mereka!

“Oh, pantas dulu di warnet sebelah rumahku, Bos, di Minomartani, Sleman sana… cari komputer yang ada webcamnya selalu penuh! Mungkin ya untuk esek-esek itu ya?” tanya Tunggonono lagi.

“Ya mungkin demikian! Jadi kamu mulai mudheng, Nggon?”

Imajinasi

Nah, hal lain yang juga menarik, dan ini adalah menjadi pangkal kenapa cybersex selalu memicu ketertarikan para pasangan adalah karena penggunaan imajinasi.

“Maksudnya, Bos?”

Adanya jarak yang membuat kita terpisah dengan partner cybersex tak melulu mendatangkan kerugian. Justru, kita dibebaskan untuk membayangkan atau mengimajinasikan sosok partner dengan pancingan konten baik teks, suara, foto dan video yang kusebut di atas tadi.

Tampak dalam transkrip orang mirip FH dan RS yang kubaca, masing-masing pihak berusaha memancing seolah mereka sedang berada di satu ruangan dan melakukan kegiatan yang sama: berhubungan seks!

“Oh, jadi mungkin dengan begitu si FH bisa membayangkan sosok RS itu seperti Rambo dan sebaliknya, RS bisa membayangkan FH itu mungkin mirip si….”

“Hush! Jangan sembrono, Nggon! Tapi pokoknya ya begitu!” sergahku.

AAA engine

Hal lain yang juga membuat orang suka melakukan cybersex adalah adanya faktor AAA engine yaitu Accessibility (kemudahan akses), affordability (keterjangkauan dalam hal biaya) dan anonymity (anonimus, tanpa identitas).

Bayangkan jika harus berkencan secara langsung?!
Kalau dalam kasus orang mirip FH dan RS dimana si RS sudah berkeluarga dan belum tentu diijinkan oleh istrinya/bidadari 1 untuk memperistri orang lain lagi, jika mereka memaksa untuk selalu bertemu dan melampiaskan nafsu seksual, di hotel misalnya, tentu biayanya akan mahal.

Mahalnya biaya juga tak melulu ter-referensi ke dalam jumlah uang, tapi juga resiko ketahuan secara si RS kan orang terkenal dan mudah dikenali. Bayangkan kalau ia tertangkap cctv yang dipasang di lobi atau di lift, kan lebih berabe lagi!

Belum lagi soal biaya.
Berapa yang harus dibayar untuk bill tagihan hotel? Makan? Deodorant dan parfum serta mint penyegar mulut supaya bau pete dan jengkol hilang tak berbekas? Mungkin juga biaya menebus obat penghilang bau di sekitar daerah kewanitaan? Alat kontrasepsi? Dan tetek bengek lainnya sementara di internet, praktis mereka hanya perlu koneksi internet yang bagus dan murah (yang pasti jauh lebih murah ketimbang sewa kamar hotel, kan?) dan bisa dilakukan dimanapun serta kapanpun!

“Maksudnya, Bos?”
Ya maksudnya, kalau mau cybersex di ruang tengah keluarga saat sedang bercengkerama dengan ‘bidarai 1’ pun juga bisa toh tinggal pakai handphone?

Atau mau di kamar mandi pun bukannya lebih mudah karena ketika harus ‘ekseskusi’ dengan jalan masturbasi ya bisa di tempat dan saat itu juga asal jangan sampai ketahuan satpam karena ada suara berisik nan aneh saja?

“Jadi, gimana Nggon? Udah jelas?”
“Udah, Bos! Tapi tetap nggak masuk akal… kok bisa terangsang dan bisa puas hanya sekadar membayangkan!”

“Masa kamu dulu saat jarak jauh dengan Cathy nggak pernah cybersex, Nggon?”
“Hahahaha.. Si Bos mancing…?”

Tiba-tiba batere handphoneku lemot dan aku tak bisa melanjutkan percakapanku dengan Tunggonono itu…

Simak jurnal Are Internet affairs different yang banyak kupakai quote-nya di tulisan ini, di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.