Kali ini menyoal nama.
Aku sering mendapatkan pertanyaan “Kenapa ya sekarang banyak anak Indonesia yang namanya berbau kebarat-baratan?”
Di lain waktu pernah pula begini, “Kok mereka menggunakan nama ke-arab-arab-an untuk anak-anak mereka ya?”
Dan semalam, ketika aku berpikir ulang tentang pertanyaan-pertanyaan mereka, aku mengembalikan pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan dalam hati, “Memangnya ada nama yang benar-benar khas Indonesia?”
menurutku, hingga detik ini tidak ada satu namapun yang asli Indonesia kecuali nama-nama yang diambil dari unsur kebudayaan barat, arab, asia timur, hingga suku-suku bangsa seperti Jawa, Batak, Bugis dan lain sebagainya. Bahkan nama Indonesia” sendiri, seingatku justru berasal dari bahasa latin dan yunani. Indo, Indu, bahasa Latin berarti India; dan Nesia, asal katanya adalah Nesos, bahasa Yunani, yang berarti kepulauan.
Bicara soal penamaan, Indonesia pernah booming dengan nama Soekarno.
Bahkan temanku pernah bilang, “Carilah nama Soekarno di setiap makam Jawa, setidaknya satu pasti ada!”
Aku sendiri belum pernah membuktikan omongan itu, tapi sepertinya memang demikian kenyataannya.
Lumrah kenapa seperti itu, karena Soekarno adalah nama proklamator dan layak kalau banyak orang memilih nama itu untuk anaknya, siapa tahu masa depannya kelak bisa gemilang seperti Bung Karno.
Nama-nama keagamaan seperti misalnya dalam Kristen, juga awam ditempelkan pada nama anak sebagai nama baptis.
Petrus (dari Peter), Yohanes (dari John/Iohannes) ataupun Maria adalah nama-nama yang sudah sangat awam dipakai sebagai nama depan.
Terkadang tetap ditampilkan, ada pula yang menjadikannya cukup sebagai inisial atau bahkan tidak didaftarkan sama sekali.
Nenekku misalnya, nama aslinya sebelum menjadi seorang Katolik adalah Sukarti karena ia Jawa.
Tapi setelah menikah dengan Yoseph Gampang Pranyoto, ia dibaptis dan menjadi Maria Sukarti.
Sebuah perpaduan yang sangat unik sebenarnya, karena selain Yoseph – Maria, nama nenek dan almarhum kakekku adalah perpaduan nama dari Gampang dan Sukar(ti) :)
Ada pula orang menamai anaknya karena pengaruh buku-buku bacaannya.
Adhit Omphonk, sahabat lamaku menamai anak pertamanya Marvell. Konon ia mendapatkan ide itu karena sangat menggemari komik-komik produksi Marvell. “Untung nggak kamu kasih nama Eni Arrow atau Nick Carter, Dab!” kataku dulu menggodanya karena kutahu betul, ia lebih dulu menggemari stensilan seperti Eni Arrow dan Nick Carter ketimbang Superman, Batman maupun serial komik X-Men :)
Yang lebih unik lagi adalah seorang kawanku lainnya. Astho namanya. Ia seorang web programmer yang salah satu produk perusahaannya adalah hosting tempat website ini kutitipkan. Beberapa tahun lalu, ia memberi nama anak pertamanya Callula Stella Savaira. Sekilas tak ada yang berbeda tapi coba amati abjad depan tiap kata yang membentuk singkatan, CSS. Entah sengaja atau tidak, tapi bisa jadi nama itu terinspirasi dari teknologi CSS, Cascade Style Sheet, tata aturan tampilan halaman web yang memang mutlak harus dikuasai seorang web programmer sepertinya.
Aku sendiri diberi nama Donny karena Papaku dulu adalah penggemar Donny Osmond, gitaris sekaligus soloist pria yang kesohor waktu itu. Entah apa yang ada di benaknya, tapi kalau yang diharapkannya adalah supaya aku jadi seperti Donny Osmond, o well, sedikit banyak meski seminggu sekali, menyanyi dan bermain gitar adalah ritualku meski baru di taraf gereja :)
Demikian juga soal ketenaran, siapa yang tak mengenalku? *halah*
Atau setidaknya, tenang saja cepat atau lambat aku akan senantiasa menaiki tangga ketenaran.
Yang pasti, apapun nama anak, itu adalah kreasi yang menjadi hak veto bagi orang tua. Tak ada istilah bagus ataupun buruk baginya.
Mau apapun suku bangsa, warna kulit ataupun jenis rambut si anak, nama adalah sesuatu yang melewati batasan-batasan fisik itu sendiri. Mau bernama Ngadimin tapi berambut pirang, Lim Ban Pit tapi berambut ombak dan berkulit legam, ataupun si Shane, misalnya, yang kalau ngomong Jakarta saja bisa jadi Jhakartha saking medhok Jawanya, ya biarkan saja, ndak papa.
Asal tak terlalu berlebihan seperti kisah semalam ketika menjelang tidur, Joyce tiba-tiba berkomentar begini,
“Hon, coba kamu ke sini deh, baca nih, nama anak temanku kok susah bener ya diucapinnya?”
Ia lantas menyodorkan handphonenya yang kebetulan sedang membuka aplikasi Facebook.
Dan memang benar, setelah kuhitung jumlah abjad nama depannya ada 7 tapi hanya mengandung dua abjad vokal dan sisanya konsonan.
“Hmmm, mirip nama Rusia! Itu temanmu nikah dengan orang Rusia?”
“Nggg… nggak.. Dia anak Jakarta, suaminya orang Pekalongan..” jawabnya mantap.
Tinggalkan Balasan