Tentang pekerjaan-pekerjaan yang besar

3 Mei 2018 | Kabar Baik

Pesan Tuhan amat kuat dan lugas dalam Kabar Baik hari ini.

Jika kita mengaku percaya kepadaNya, kita diwajibkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulu dilakukanNya bahkan pekerjaan yang lebih besar daripada itu. (Yohanes 14:12)

Apakah pekerjaan-pekerjaanNya?

Pekerjaan Yesus terbagi tiga dalam penggambaran diriNya sebagai imam, sebagai nabi dan sebagai raja. Betapa bersyukur kita sebagai Katolik karena Katekismus Gereja Katolik menjelaskan tugas pekerjaan kita dalam tiga aras itu secara detail.

Silakan baca dokumennya di sini?tentang bagaimana kita sebagai awam kristiani pun bisa menjalankan pekerjaan-pekerjaan Kristus sebagai imam, sebagai nabi dan sebagai raja.

Yang menarik adalah ketika Yesus mengatakan bahwa kita bisa saja mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang dulu Ia kerjakan.

Takaran besar-kecil bisa menjadi isu yang tak kecil meski tak perlu membesar.

Kenapa?

Kecenderungan kita adalah bingung dengan patokan sebesar apa dan sekecil apa. Kebingungan ini lantas biasanya menghilangkan fokus kita terhadap apa yang kita kerjakan karena belum-belum sudah memikirkan hal ini akan sebesar atau sekecil apa.

Contoh paling mudah. Suatu waktu aku pernah berpikir untuk membuat sebuah gerakan mengumpulkan dana yang akan kupakai untuk menyumbang sebuah panti asuhan di Indonesia.

Konsep kupikirkan dan kudiskusikan dengan beberapa kawan yang kuanggap memiliki kompetensi untuk membantuku melahirkan gerakan. Tapi alih-alih lahir, gerakan itu ?gugur? justru karena aku terlampau lama berpikir akan sebesar apa gerakan ini?

Sebaliknya, ketika aku menuliskan renungan Kabar Baik yang kulakukan sejak tiga tahun silam di blog ini, kadang aku bahkan tak berpikir apakah renunganku ini baik atau tidak baik. Yang kulakukan hanyalah terus-menerus menulis terlepas dari baik-buruknya dia meski hal yang selalu kuusahakan adalah membuat segalanya sedekat mungkin berada pada ?kebenaran?.

Seharusnya kita tak perlu bingung dengan skala besar-kecil karena pihak yang berhak untuk menilai pekerjaan yang kita lakukan ya Sang Pemberi Kerja yaitu Allah sendiri. Penilaiannya pun nanti setelah kita mati, bukan sekarang!

Kita perlu menerjemahkan konteks besar-kecil itu dalam pandangan ?terbaik-belum yang terbaik?.

Mengerjakan yang besar adalah mengerjakan yang terbaik. Yang kecil akan membesar ketika kita terus berusaha mengubah yang belum baik menjadi baik lalu terbaik.

Skala terbaik adalah skala yang menunjukkan seberapa banyak yang BISA kita berikan dari adanya diri kita.

Seorang janda miskin dikatakan memberikan yang terbaik karena ia memberikan dari kekurangannya, dari uang yang ia punyai. Kalau seorang konglomerat kaya hanya memberikan uang sebanyak yang diberikan janda miskin tentu ia tidak memberikan yang terbaik karena yang terbaik telah diberikan Allah kepadanya, kan?

Contoh lain tentang bagaimana memberi yang terbaik adalah tentang Si Telaga yang kuceritakan tempo hari.

Telaga bukanlah contoh yang terbaik karena ia tak memberikan yang BISA ia berikan tapi ia memberikan lebih dari kebisaannya untuk istri almarhum suaminya. Akibatnya? Keluarganya bubar, istri menceraikannya dan akhirnya ia menikahi istri almarhum suaminya tadi. Yang belum atau hendak membaca ulang kisah Si Telaga bisa klik di sini.

Wah, kalau begitu samar sekali batasan terbaik-tak terbaik, Don?

Kalau patokan kita adalah dunia, tentu samar karena dunia menakar berdasarkan hawa nafsu yang subyektif, yang tak tetap dan maunya selalu lebih dan lebih.

Kalau patokan kita adalah Allah, semuanya jelas karena takaran kita adalah takaran terbaik yang sudah, sedang dan akan pernah ada, Yesus Kristus, anak Pak Yusuf dan Bu Maria, orang Nazareth!

Sydney, 3 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.