Tentang Pak Sukris yang selamanya tetap akan menjadi guruku…

12 Jun 2024 | Cetusan

Dari Facebook, aku tahu Pak Theodorus Sukristiyono memasuki masa purna tugasnya dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta, almamaterku.

Pak Sukris, begitu kami memanggilnya, adalah mantan kepala sekolah namun selamanya, ia tetap akan jadi guru yang patut digugu lan ditiru!

Bersama Pak Mantri (Diduk), Pak Sukris adalah pewawancara yang kutemui saat aku mendaftarkan diri di De Britto, Juni 1993. Aku menuliskan pengalamannya secara lengkap di sini.

Sementara Pak Mantri membolak-balikkan berkas buku rapor SMP, Pak Sukris kemudian memintaku bernyanyi. Kok bisa?

Karena ketika ditanya Pak Mantri yang takjub kenapa nilai-nilai raporku memburuk di kelas 2 dan 3 SMP, aku menggunakan alasan karena aku lebih fokus mengikuti lomba bernyanyi untuk mewakili pihak sekolah daripada belajar. Beberapa piagam yang kudapat dari lomba itu kusisipkan dalam berkas yang kuserahkan kepada mereka. Tapi sejatinya alasan itu terlalu kacangan dan mengada-ada hahaha… Nilai-nilaiku turun karena waktu itu aku semakin malas belajar dan sibuk bermain bersama kawan-kawan SMP 1 Kebumen.

Tapi entah karena mereka berdua terpukau pada suaraku atau percaya pada alasanku (atau barangkali mereka tak percaya tapi suka dengan caraku membuat alasan yang seolah-olah masuk akal)  maka mereka menerimaku menjadi murid di De Britto…

Setelah itu intensi hubunganku dengannya bisa dibilang tidak besar. Pak Sukris mengajar matematika sementara aku benci matematika. Sudah cukup menjelaskan, bukan? Skip!

Masuk kelas 3, hubungan kami jadi penuh! Aku tetap benci matematika meski aku masuk kelas Fisika. Tapi dibandingkan (alm) Pak Tri yang juga mengajar matematika, Pak Sukris lebih kusukai karena kadang selama mengajar dia sering membicarakan hal-hal lain di luar matematika hahaha…

Sebab lainnya adalah karena Pak Sukris itu wali kelasku, ternyata kami sama-sama dari Klaten dan… Pak Sukris adalah kawan SMA salah satu tanteku.

Pak Sukris sangat jarang menampilkan wajah murung atau marah. Di balik kacamata tebalnya, wajah Pak Sukris adalah wajah tenang tapi kadang bisa meledak tawanya di muka kelas karena satu hal yang menurutnya lucu. Tapi percayalah, kita tak bisa membaca apa makna dan kelanjutan dari tawa itu.

Aku membuktikan hal itu dalam interaksi yang kemudian jadi titik penting yang akan selalu kami ingat.

Waktu SMA (sejak SMP lalu kuliah dan hingga kini sebenernya hehehe) aku dikenal sebagai orang yang jago ngomong jorok alias misuh.

Sudah semacam latah bahwa setiap beberapa menit sekali pasti ada omongan entah itu dari kebun binatang maupun rupa-rupa alat kelamin primer dan sekunder manusia. Sialnya, aku kadang tak bisa mengerem kebiasaan itu bahkan ketika sedang ada di dalam kelas. Selalu ada saja kesempatan untukku mengumpat.

Beberapa kali Pak Sukris (dan guru lain) sudah mengingatkan. “Don, cangkemmu dijaga!” 

Kubalas, “Iyo, Pak… asuiii” Tentu bagian “asuiii” kuucapkan sangat pelan :)

Nah, suatu waktu sepertinya limit yang diberikan Pak Sukris sudah terlewati. Pak Sukris membawa selembar kertas manila ukuran besar kepadaku.

“Don, karena kamu gak bisa berhenti misuh, kamu kuberi tugas untuk menuliskan semua omongan kotormu itu di atas kertas ini. Kumpulkan kepadaku waktu selesai jam pelajaran ya!”

Ia menyorongkan beberapa spidol.
“Asyik!!!” Aku menanggapinya dengan penuh sukacita. Begitu pengertiannya guruku ini. Gumamku.

Semua… semua kata jorok kutuliskan di situ. Melihat masih ada ruang kosong, tak hanya kata, khususnya untuk yang terkait alat kelamin, kuberi gambar sekalian harapanku supaya Pak Sukris berbahagia.

Begitu selesai, aku maju ke depan menyerahkan kertas itu. Pak Sukris membentangkan kertas di depan wajahnya, mendadak ia tertawa, seperti biasa, seperti yang kutulis di atas baru saja.

“Sudah, Pak?” tanyaku sumringah.

“Sudah. Tapi… ada tugas selanjutnya, Don!” Dengan suara datar ia melanjutkan, “Kamu harus membawa kertas ini ke semua guru wanita dan mempresentasikannya lalu minta tanda tangan mereka satu per satu! Kalau kamu nggak berhasil mengumpulkan sampai besok pagi, kamu nggak boleh masuk kelas saat jam pelajaranku!” Wajahnya tenang, tidak marah, tanpa senyum dan berlalu dariku.

Lututku melemas. 
Bukan! Bukan karena ancaman tak boleh masuk ke kelasnya tapi membayangkan aku mengedarkan kertas itu ke para guru wanita dan menanti tanggapan dari mereka adalah hal yang membuatku tak berkutik! Jumlah guru wanita di De Britto sangat terbatas tapi hal itu tidak membatasi kemurkaannya melihat hal-hal konyol yang dilakukan muridnya seperti yang kulakukan.

Satu per satu guru wanita kudatangi dan kepada mereka kupamerkan hasil karyaku itu. Pujian? Ya kalau nggak push-up atau cubitan kecil yang membuatku meringis. Tapi tak ada yang lebih menggetarkan ketika seorang Bu Wina (sekarang sudah jadi suster) dengan matanya yang teduh dan tutur nan lembut menatapku, “Donny, kenapa kamu lakukan semua ini?” Aku membayangkan diri ini laksana penjaga Si Hanas, Sang Imam Besar, yang ditanyai Yesus di Jumat dinihari menjelang penyaliban (bdk. Yoh 18:23)!

Setelah lulus, aku mendengar kabar Pak Sukris diangkat jadi kepala sekolah.

Empat tahun setelah kelulusan, aku bertemu lagi dengannya di sekolah bukan hanya sebagai murid tapi mitra. Ya, aku dan perusahaan yang kubentuk bersama kawan-kawan alumni De Britto menjadi mitra kerjasama penyedia jasa pembuat situs web sekolah. 

Ketika memutuskan pindah ke Australia, Pak Sukris adalah salah satu guru yang kudatangi rumahnya untuk minta restu dan wejangan. Aku ingat betul waktu itu, Pak Sukris bilang, “Jangan ragu untuk melangkah. Tinggalkan saja semuanya demi keluarga dan masa depanmu, Don!”

Sepuluh tahun kemudian, Oktober 2018, ketikadiundang untuk mensharingkan pengalaman hidupku di depan adik-adik kelas di SMA Kolese De Britto, akhirnya aku bertemu dengan Pak Sukris.  Dalam waktu yang tak lama itu aku terlibat pembicaraan intens dengannya. Menceritakan hidup, mengeluhkan kesah dan mendengarkannya memberi wejangan yang patut kugugu lan kutiru. Ketika pamit pulang, aku mencium punggung tangannya.

Pak Sukris!
Ini catatanku tentangmu!  Barangkali kalau catatan ini kutulis di kertas manila seperti yang kulakukan waktu itu panjang dan lebarnya kurang lebih akan sama.

Kalau kamu minta, aku dengan bangga akan membagikannya ke para guru wanita yang dulu juga kupameri tulisan omongan jorokku itu.

Bukan sebagai ajang pamer bahwa aku bisa menyatakan penghargaanku atasmu semanis ini. Tapi sebaliknya, aku ingin mereka tahu bahwa dalam interaksi unik kita, kamu berhasil memberiku kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik karena bukankah itu sejatinya tugas mulia seorang guru sepertimu membentuk tanah liat menjadi bejana yang lebih baik?

Selamat memasuki kehidupan purna tugas, Pak! Melakukan hal-hal yang selama ini mungkin terbengkalai bersama orang-orang yang kamu cintai di sekelilingmu di sekujur usiamu.

Jika Tuhan berkehendak, kita akan kembali bersua untukku bercerita dan aku mendengarkan ceritamu. Sesederhana itu.

Berkah Dalem!

Keterangan foto:
Pertemuanku dengan Pak Sukris, Oktober 2018. Aku mengenakan topi, Pak Sukris berdiri paling kanan. Bu Endah (sebelah Pak Sukris) dan Bu Detty (sebelahku) adalah dua orang guru wanita yang waktu itu kutunjukkan “hasil karya pisuhanku” hahaha…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.