Ada satu hal yang menarik terkait dengan posting berjudul Sydney, Hitam Putih, minggu lalu.
Melalui fasilitas komentar, Imoe, rekan blogger yang cukup sering berkunjung dan berkomentar di sini itu bertanya demikian:
Pertanyaan ku mas..kenapa pengambilan foto mas yang bertemakan kuburan, gereja, atau yang berbau rohani, bagus bgt…apa siy yang mas rasakan ketika memotret objek tersebut ?
Ketika memotret, yang kurasakan hanyalah bahwa aku sedang memotret. Sama halnya dengan ketika menulis, ya menulis saja.
Kalaupun ada alasan filosofis yang mendasari, bolehlah kugunakan pepatah usang Do Your Best yang memang kuanut untuk kucoba meneerapkan dalam hidup, lain tidak.
Ngomong-ngomong soal foto gereja serta hal-hal bertema rohani lainnya, dari sekian banyak foto gereja yang kupunya, ada satu foto yang amat sangat kusuka yang belum pernah kutampilkan di sini sebelumnya.
Foto ini kuambil di Gereja Katedral St Patrick di Melbourne, akhir Februari 2008 yang lalu. Seorang bapak (barangkali berdarah latin) berlutut, berdoa di depan lukisan Bunda Maria setelah sebelumnya menancapkan lilin menyala di tempat yang telah disediakan.
Secara teknis, foto ini barangkali buruk karena kekurangan cahaya serta pilihan diafagma dan kecepatan yang tak memungkinkan gambar untuk tidak goyang (shake), tapi yang kusuka darinya adalah moodyang menurutku justru muncul karena buruknya hal teknis yang tak bisa kupenuhi itu tadi. Goyangnya gambar serta suasana yang tak sengaja jadi tampak temaram karena kekurangan cahaya membuat doa yang dipanjatkan pak tua itu terasa betul bagiku.
Entah, barangkali berbeda dengan Anda, simak fotonya di bawah ini.


Tinggalkan Balasan