Mumpung lagi diskon 50%, kemarin aku beli tumbler baru. Warnanya biru langit seperti yang tampak seperti di bawah ini.

Ketika hendak membayar ke kasir, Elle, anak keduaku yang berjalan di belakang tiba-tiba nyeletuk, “Papa, kenapa kamu maunya selalu pilih yang unik?”
Aku mengernyitkan dahi cukup lama. “Hang on? What do you mean?” tanyaku. Baginya, unik karena aku gak ambil yang warna biasa: hitam, abu-abu, putih, atau biru tua melainkan biru langit.
“I dont know. I like it!” jawabku singkat.
Anakku gak sendirian!
Ia bergabung dengan begitu banyak orang yang selama ini mengenalku. Unik! Antik! Nyeleneh! Aneh! Dan masih banyak lagi anggapan mereka terhadapku.
Tapi dari kecil, aku memang begini!
Berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Tak hanya dari penampilan tapi juga preferensi barang serta pemikiran.
Waktu TK, aku pernah ditunjuk ikut lomba menggambar. Alih-alih gunung, sungai, sawah, pesawat atau kebun binatang yang awam jadi tema gambar, aku melukis dua pocong sedang berdiri di tengah hamparan makam-makam!
Waktu SD, untuk beberapa lama, aku selalu bangun pagi mendahului matahari terbit lalu bersicepat membuka jendela yang ada di dinding timur rumah, menunggu beberapa menit untuk memastikan matahari terbit dari timur, bukan dari barat!
Masih waktu SD, aku pernah tiba-tiba merengek kepada Mama untuk mengeriting rambut lurusku. Mama heran tapi kemudian mengabulkan permintaanku.
Memilih sepeda warna putih bukan yang hitam atau ijo tentara yang kebanyakan teman-teman pakai, memakai sepatu boots ala rocker saat anak-anak lain di SMP dulu masih mengenakan kets dan pantofel. Dan masih banyak lagi…
Aku tahu banyak dari kalian mungkin berpikir “Ah, Donny ini sok nyeleneh supaya menarik perhatian orang!”
Jangan khawatir! Kalian tak sendirian!
Jangankan kalian! Akupun pernah curiga pada diriku sendiri, jangan-jangan aku seperti ini hanya untuk menarik perhatian orang?
Untuk membuktikan bahwa hal itu salah, aku pernah mengubah penampilan kembali seperti anak-anak normal lainnya untuk sekian lama. Tahu apa yang terjadi kemudian? Mereka justru bertanya, “Kok kamu gak seperti biasanya? Tiba-tiba jadi rapih?” Asu, kan?!
Supaya tulisan gak terlalu panjang, lompat ke era social media, kecurigaanku terhadap diri sendiri muncul lagi karena ada orang bilang keunikan yang kupunya itu hanyalah caraku untuk pansos alias panjat sosial!
Tapi kecurigaaan itu akhirnya patah sendiri karena mereka melihat jumlah pembaca dan followerku gak banyak-banyak amat! Artinya, kalau semua keunikan, keanehan, kenyelenehan serta cara pandang nan tak biasa yang kuhasilkan itu narasinya adalah untuk menambah follower atau pembaca, bukankah lebih baik aku gak unik sama sekali tapi tiba-tiba bikin konten bombastis misalnya pas jalan ke mall tiba-tiba pipis di eskalator atau pergi ke peternakan sapi lalu meremas toket sapi dengan penuh nafsu, gitu? Followerku pasti akan banyak!
Tapi bukan unik dan antik seperti itu yang ada dalam diriku! Dan makin ke sini, keunikan, kenyelenehan, keantikan atau apalah sesukamu menilaiku itu bukannya makin berkurang tapi terus menjadi-jadi!
Mulai soal tattoo, iket/udheng jawa tradisional yang kupakai untuk bekerja sehari-hari di sini hingga yang paling kentara tentu lubang (lobe) telinga!
Nah, untuk yang terakhir, baiklah kupakai sebagai penutup tulisan ini.
Waktu itu kalau nggak salah umurku sekira 32 tahun. Sudah menikah dan punya anak dan tinggal di Australia. Pada suatu siang aku tiba-tiba bilang ke Joyce, istriku, “Hon! Kayaknya aku pengen tindik telinga deh!”
Yang kubayangkan, akan melarang tapi dengan santainya ia bilang, “Ya nggak papa! Ayo kuantar ke tempat tindik! Kapan?” Maka tindiklah aku di saat orang-orang lain seusiaku sudah melupakan lubang tindiknya begitu saja.
Tak berhenti di situ, lubang tindikan yang biasanya cuma 1mm kuperlebar pelan-pelan. Ketika lebarnya sudah di angka 1.2 sentimeter, aku membeli aksesori plug (istilah untuk penyumpal lubang) terbuat dari kayu bergambar obyek tertentu. Ketika kutunjukkan ke Joyce, dia bilang, “Itu terlalu kecil lubangnya jadi gambarnya gak keliatan… padahal bagus..”
Maka kedua lubang di telinga kuperlebar lagi hingga sekarang sudah 2.6 sentimeter lebarnya. Jangan tanya apakah akan kuperlebar lagi atau enggak. Just wait and see!
Pada akhirnya aku harus berdamai dan menerima keadaan ini. Bahwa aku punya dorongan dari dalam untuk selalu memilih hal yang berbeda dari yang lainnya. Tak hanya penampilan, tak hanya barang-barang yang kusenangi tapi juga pemikiran yang kadang bikin orang yang kuceritain bilang, “Kok kamu bisa mikir seaneh itu sih?!” (Oh ya, kalau kamu pembaca setia blog dan merasa ada hal-hal aneh dalam tulisanku, percayalah itu baru seujung kuku dari apa yang ada di otak!)
Aku selalu punya keinginan untuk mengubah segala sesuatu yang sudah tampak bagus untuk menjadi sesuatu yang lain yang beda dari yang bagus-bagus yang lainnya. Yang kulihat buruk untuk kujadikan lebih norak lagi supaya… beda.
Bagiku asal aku gak mengubah keyakinanku kepada Tuhan serta cintaku terhadap istri dan anak-anak pun tidak melanggar hukum tidak pula merugikan orang lain? Ya gas lah!
Untuk itu aku bersyukur punya orang tua yang sejak kecil tahu aku berbeda dan mendukung keantikanku, dikirimnya aku ke sekolah yang mengajariku bahwa kebebasan itu datang dari Tuhan dan mengajariku untuk mengelolanya secara bijak di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Lalu Tuhan memberiku istri yang juga jaraaaangg banget melarang ide-ide anehku, bekerja di bidang desain yang sejalan dengan keunikanku serta hidup di negara yang society-nya tidak rese dan tidak pernah ambil pusing terhadap seperti apapun aku menampilkan diriku, Australia!
So, here i am!
Tinggalkan Balasan