
Banyak orang bilang, berbicara dalam bahasa apapun, medhok Jawaku adalah hal yang paling kentara dan menyisakan ciri yang begitu khas!
Awal-awalnya aku tak terlalu sadar mengenai hal ini.
Tapi pada akhirnya pernah ketika melihat tayangan ulang siaranku di televisi lokal Jogja, dan ternyata astaga… Bahasa Indonesiaku memang medhok sekali.
Dimana letak ke-medhok-an itu?
Hal yang paling menonjol dari ke-medhok-an itu adalah pada lagu bahasa.
Pada bagaimana aku memenggal-menggal kalimat yang kuucapkan.
Pada intonasi, penekanan suara dalam berbahasa, serta pengucapan konsonan maupun vokal terutama pada konsonan seperti misalnya b, diucapkan bhe, j diucapkan jhe, g diucapkan ghe.
Jadi, misalnya aku mengucapkan kalimat “Gajah itu binatang besar, belalainya panjang” akan menjadi “Gajhah itu bhinathang bhesar, bhelalainya panjhang”
Tentu merupakan tugas berat apabila misalnya aku harus mematok untuk mengubah ke-medhok-an itu setelah tiga puluh tahun hidup dalam atmosfir Jawa dan Bahasa Jawa.
Aku sendiri banyak mengamati teman-teman yang kurang lebih berlogat sama denganku, akan tetapi kebanyakan dari mereka berusaha “melarikan diri” dari
kodrat yang melekat untuk kemudian lari ke logat yang terkesan lebih trendi, apalagi kalau bukan betawi.
Salah satu teman, sebut saja Mr Eks, logat Jawanya medhok sekali.
Tapi sebagai salah satu upaya “memperbaiki diri”, ia pun banyak mencoba menggunakan logat betawi lengkap dengan kata ganti “loe-gue” nya.
Alih-alih menjadi pria metropolitan Jakarte, yang ada justru nggak karuan, bahasa betawi berlogat Jawa.
“Ghimana? Ghua ngghak nngerthi tho kalau beghini cara lhu jhalan!”
Pernah aku bilang,
“Wes lah! Kowe kuwi wong Jhowo, podo karo aku. Pakai bahasa Indonesia yang biasa saja! Nggak usah sok kejakarta-jakartaan ah!”
Tapi selalu dia menolak dan bilang,
“Lah, ghue bukannya pengen belajhar kok, tapi khan waktu tk ghue pernah tingghal di Jhakarta setaonan, Don!”
Dan akupun jadi merasa ingin muntah.
Jadi, supaya aku tak muntah berkelanjutan dengan misalnya usaha konyolku untuk “mengupgrade” menjadi orang berlogat Jakarta yang kental, akupun berpikir bahwa hal yang
paling maksimal yang dapat kulakukan hanyalah bagaimana caranya supaya aku tetap menarik dan menjadi point of interest di tengah lingkungan (dimanapun aku berada)
tanpa harus minder terhadap logat Jawaku.
Dalam padanan kata yang lebih singkat, peduli setan apa kata orang tentang ke-medhok-an ku, hal itu tak kan berpengaruh terhadap menarik/tidaknya eksistensi diriku.
Sekarang, semoga bukan kalian yang ingin muntah mendengar kalimat terakhirku di atas :)
Tinggalkan Balasan