Tentang Kegemukan, Kehamilan Kontroversial dan Tatanan Moral

3 Feb 2008 | Cetusan

Siang tadi, sewaktu sedang berganti pakaian setelah mandi, tiba-tiba secara tak sadar aku mendekati Sang Ide.
Sang Ide? Bukan Tuhan, mungkin sosok yang berada beberapa level di bawahNya. Aku menyebutnya demikian karena dialah sumber inspirasi tulisan.

Pada awal perjumpaan itu, Sang Ide mengungkapkan tentang kegemukan.
Setelah beberapa bulan bisa menguruskan badan pada akhirnya aku harus mengakui bahwa mempertahankan itu adalah hal yang tidak mudah.
Dan semua itu semangkin terasa ketika aku mengganti pakaian tadi. Semua tampak sedikit lebih sesak, tarikan kain-kain yang membentuk pakaian itu tak lagi dengan mudah bisa melorot ke bawah,
ia harus melewati dinding-dinding lemak yang menebal di sekeliling pinggang dan perut bagian bawahku.
Aku sebenarnya tak memandang sia-sia apa yang telah pernah kuraih dengan kekurusanku kemarin itu, toh aku bisa dengan bangga membuktikan bahwa program dietku berhasil dengan mulus.
Tapi lebih dari itu yang cukup menyesakkan dada adalah bahwa kalau kegemukan ini semakin melanda, aku tak tahu lagi bagaimana harus menyesal karena telah pernah membeli begitu banyak
celana-celana ber-merk dan beberapa potong polo shirt kesukaanku dengan ukuran body fit tepat sama dengan ukuran ketika kurus dulu.
Dan sekarang, bahkan untuk mengenakannya ke badanku saja butuh perjuangan tersendiri…

Lalu tiba-tiba Sang Ide mengumandangkan kepadaku tentang hamil.. kehamilan!
Lha kok soal kehamilan, apa hubungannya dengan sesaknya pakaian ke badan?
Iya, aku jadi terbayang-bayang bagaimana susahnya orang hamil mengenakan pakaian seperti yang kualami siang tadi.
Pasti potongannya akan sangat buruk sekali, dan mau tak mau harus memarkir sementara baju-baju ketat di badan dan menggantikannya dengan pakaian-pakaian wanita hamil hingga sembilan bulan
kemudian. Ah, tapi itupun kalau setelah hamil tidak menjadi gemuk dan bisa langsing seperti sedia kala, bukan?
Mendadak Sang Ide menggeleng. Tampaknya Ia tak ingin aku mengembangkan ide tersebut dengan demikian.
Ia malah berujar dengan halus tentang satu istilah baru, Kehamilan Kontroversial.

A-ha!
Kenapa kontroversial?
Ya, kenapa tidak?!

Lihat saja, mereka yang menyandang kehamilan kontroversial itu tidak lagi berpikir bahwa setidaknya minimal sembilan bulan sepuluh hari sesudah menikah itu tidak akan langsung bisa punya
anak kecuali “nabung duluan” sebelum menikah.
Soal pengelakan diri dengan berkata “Lahir prematur!” alaaaaah itu sudah basi! Memang ada beberapa yang prematur beneran, tapi bukankah kalau prematur anaknya tidak akan segede bayi biasa
yang lahir “tepat waktu”?
Atau berujar “Ah kami kan sudah lama menikah sebenarnya tapi diam-diam, tak pakai acara pesta!” Hueeeeekkk! Mangnya ada yang percaya, gitu?
Apalagi kalau “Ah kami mensyukuri karunia Tuhan… dan nggak mau ngomong soal itu (kemungkinan nabung duluan)”..
Anjrit! Tuhan lagi, Tuhan lagi… Mau sampai kapan kita menyalibkanNya untuk setiap kesalahan-kesalahan kita ? Mau sampai kapan?
Kenapa kita tidak mau jujur mengakui bahwa “Ya, memang saya terlampau bodoh untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi!”
Mudah kan, meski sama-sama kontroversialnya ?

Belum selesai geleng-geleng karena celotehan Sang Ide menyoal Kehamilan Kontroversial tiba-tiba aku merasa putus asa dengan perjuanganku mengepas-paskan pakaian ke badanku.
Aku semakin berkeringat membayangkan betapa aku telah merugi sekian rupiah untuk belanja pakaian namun ternyata hanya bisa dipakai sesaat saja.
Dan ketika semakin gugup juga putus asa, Sang Ide berteriak: Longgarkan Pakaian atau Kuruskan Badan! (Ah untung dia tidak berteriak “Beli lagi!”)

Lalu batinku melenting menuju ke ranah persoalan tata nilai moral ….
Aku seperti ditunjukkan mengenai sesaknya tatanan nilai moral yang sedari dulu dikenakan masyarakat kita. Padahal dulu belum pernah terasa sesesak ini, ya?
Lihatlah sekarang masyarakat itu seperti semakin tambun dalam berpenyakit amoral sementara tatanan nilai moral sepertinya tidak pernah diketatkan.
Membangun warung remang-remang secara tidak remang-remang di areal perumahan. Membumihanguskan tempat tinggal dan rumah ibadah mereka yang dinilai menyesatkan.
Menggagahi anak kandung sendiri atau ibu kandung. Meracuni teman sebangsa dan seperjuangan hingga tewas.
Mencekik batang leher orok merah yang baru saja dilahirkannya hanya karena tidak tahu siapa ayah atau bagaimana membayar tagihan rumah sakit maupun bidan.
Mereka dan kita benar-benar telah berusaha merangsek keluar dari tatanan. Menghajar ajaran-ajaran agama dengan polah-tingkah yang tidak “timur” dan malah terkadang mengatasnamakan agama
untuk landasannya. Menantang terang-terang kultur bangsa yang terkenal taat dan bersahaja sehingga bisa hidup tentram serta kerta raharja ini.
Sekali lagi, kita telah sedemikian tambunnya sementara tatatan moral ya tetap dijahit dengan pola dan ukuran yang sama seperti ketika kita masih kurus dulu.

Lalu bagaimana sekarang?
Mau melonggarkan tata aturan dengan cara menerima keberadaan mereka lengkap dengan nilai-nilai kontroversial yang mereka usung itu,
atau merampingkan kelakuan buruk mereka secara tegas dan brutal dengan membawa panji-panji agama dan mengagung-agungkan nilai-nilai tatanan moral seperti yang
akhir-akhir ini sering kita lihat di televisi?

“Lalu bagaimana sekarang?
Mau melonggarkan pakaian di penjahit yang jelas tak akan bisa maksimal atau kembali menguruskan badan seperti kemarin-kemarin dengan mengatur pola makan , pola istirahat serta
memperbanyak latihan kardio di atas ban berjalan itu?”
Tanya Sang Ide sembari pergi menyudahi perjumpaan siang tadi.

Ah, aku memilih untuk kembali ke gym dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Mending aku belanja baju baru lagi tak peduli ukuran tubuhku mau jadi tambun ataupun kurus, pokoknya beli lagi!
Titik!

Sebarluaskan!

6 Komentar

  1. nah dari sekian banyak huruf yang tertuang di atas ini, maka saya akan mengulang kata – kata Gus Dur “Gitu aja kok repot …”

    sekian.

    Balas
  2. Olahraga, jhe, olahoraga…

    Balas
  3. sing aku gumun ki urusan mandeg merokok, kok isoh tah? mbok dibagi tipsnya, padahal jarene “good content comes from the smoking section”.. yuk? ngrokok meneh yuk?

    Balas
  4. gendut ? iih….bukan selera gw banget…

    Balas
  5. @angga: tips berhenti merokok? berhentilah jadi homo! hahahahaha :)

    Balas
  6. Hahaha…. Seperti biasa, tulisan ringanmu yg penuh sindiran ini bikin aku kekeh-kekeh.
    Yeah, aku juga sekarang menggemuk lg, duh padahal sdh susah payah menguruskan badan. Dan sudah beli baju kecilan pula.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.