Tentang Jogja (8): Barokah – Gelael – Gunung Agung – Kapel Sanata Dharma Mrican

10 Jun 2020 | Cetusan

Hari itu minggu, 18 Juli 1993.?
Hari kedua aku resmi menyandang gelar sebagai anak rantau, satu hari menjelang aku resmi jadi ?anak De Britto.?

Sejak kira-kira jam 6 pagi, kebisingan terjadi di depan kamar. Antrian orang hendak mandi, suara kecebang-kecebung air, teriakan di sana-sini bahkan suara kentut menjelang berak pun terdengar jernih! Membuatku akhirnya berpikir, pantas kalau harga kamar ini adalah yang paling murah.

Sejak semalam, aku dan Heri sepakat bahwa hari itu kami akan pergi berbelanja keperluan kamar yang akan kami pakai bersama-sama: tempat sampah, sapu, keset, cermin, parfum ruangan dan jam weker.

(Beberapa hari lalu ketika bercakap dengan Heri melalui WhatsApp, ia mengejutkanku dengan kenyataan bahwa hingga kini, dua puluh tujuh tahun sesudahnya, ia masih menyimpan dua barang yang kami beli waktu itu: kaca cermin dan jam weker! Aku lantas memintanya untuk memotret untuk kupajang di postingan ini. Maka jika kalian melihat gambar di bawah, itulah cermin yang kami beli hari itu).

Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael
Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael. Foto diambil dua puluh tujuh tahun sesudah kami membelinya dan Heri masih menyimpan dengan rapi cermin itu!

Warung Makan Barokah

Segera setelah mandi, kami keluar dari wisma dan tujuan kami adalah isi perut terlebih dulu. Waktu saat itu menunjuk sekitar pukul 10 pagi.

?Makan di mana, Her?? tanyaku.

?Wah, mbuh ya? coba aja jalan terus?? jawab Heri dalam Bahasa Jawa berdialek Lampung.

Dari Jl Ampel kami berjalan ke arah timur. Hingga di perempatan Jl Ampel – Jl Petung – Jl Ori kami sempat bingung. 

?Lurus aja yuk?? ajak Heri. Akupun turut.

Jl Ori, lebar jalannya lebih kecil dari Jl Ampel. Beberapa rumah modern sudah berdiri waktu itu tapi kebanyakan masih didominasi rumah-rumah kampung dengan pekarangan yang cukup luas di belakang. (Kini, konon pekarangan-pekarangan dan rumah kampung itu sudah lenyap tergantikan rumah baru yang berhimpit-himpitan).

Sekitar lima puluh meter dari bibir Jl Ori, ada sebuah warung makan mungil bernama Barokah. Awalnya kami tak yakin hendak makan di situ karena warungnya sepi. Tapi kami toh memutuskan untuk masuk saja.

Pagi itu aku memesan nasi putih, sup (dengan sedikit) ayam dan tahu tempe goreng. Saat membayar, si pemilik warung menyebut angka yang sangat fantastis dan selalu kami kenang hingga kini, Rp 175,-.

Iya! Cuma seratus tujuh puluh lima rupiah!

Karena begitu murah, aku lantas memutuskan untuk menambah sepotong ayam goreng serta tak lupa sambel!

Puas makan, kami keluar.

Waktu itu aku sudah merokok dan Heri, setahuku, hingga saat ini pun tak pernah menghisap rokok. Di sebelah Barokah ada penjual rokok dan akupun membeli setengah bungkus Gudang Garam Filter.

Toko Swalayan Gelael

Kami berjalan ke arah Toko Swalayan Gelael yang dulu letaknya ada di lantai dasar rumah makan saji cepat Kentucky Fried Chicken di depan IAIN Sunan Kalijaga.

Dari arah Jl Ori, kami menyusuri Jl Petung melewati INSTIPER lalu menyeberang lewat sisi samping Gelael yang didominasi tong sampah berukuran besar dan berbau busuk.

Di Gelael kami segera mencari barang-barang yang sudah kami daftar di atas. Sebagai orang yang baru pindah ke kota besar seperti Jogja, aku takjub dengan konsep swalayan dimana kita bebas mengambil segala sesuatunya sebelum akhirnya membayar di kasir. Aku begitu menikmati sensasi itu.

Toko Buku Gunung Agung

Dari sana kami tak langsung pulang. Kami pergi ke Toko Buku Gunung Agung yang letaknya dengan Gelael hanya dibatasi kompleks Kantor DPU dan berbatasan langsung dengan kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta. (Saat tulisan ini kupublikasikan, gedung sudah dipakai untuk perkantoran lain)

Toko Buku Gunung Agung dulu kalau tidak salah ada di lantai tiga. Lantai underground ditempati toko swalayan GA (yang kupikir juga adalah singkatan dari Gunung Agung tapi sepertinya bukan!). Lantai satu dan dua dipakai oleh Toko pakaian RIMO yang menjual brand-brand mahal yang selama ini hanya kulihat di iklan-iklan majalah remaja seperti Levi?s, Dr Martens, Kenzo dan Calvin Klein.

Di Gunung Agung aku membeli beberapa perkakas sekolah. Tas, buku tulis, pena, pensil dan penghapus serta penggaris.

Bersosialisasi

Hari menjelang sore, kamipun kembali ke Wisma Ampel 2.

Setibanya di Ampel 2, kawan-kawan sedang nongkrong di depan kamar 29 dan 30 yang letaknya tepat di tusuk sate Jl Ampel. Kamar 29 kalau tak salah ditempati oleh seorang kakak kelas bernama Denny sementara kamar 30 ditempati Pandhu Astanu, orang yang beberapa tahun kemudian lantas jadi kawan baik dan bersamanya aku punya banyak cerita yang tentu saja akan kuceritakan di sini, nanti.

Ada juga yang nongkrong di kafe yang letaknya di depan.

Segera sesudah menaruh barang di kamar, aku dan Heri pun bersosialisasi ke depan. Sebelah kamarku, Kamar 33 ternyata ada seorang yang berasal dari Bali, Leonardus Ignasius namanya. Sama-sama kelas 1. Di sebelahnya lagi, Kamar 32, tinggal Didit (kelas 2) dan Petrus (kelas 3). Didit berasal dari Lampung, se-daerah dengan Heribertus dan Petrus asli Purworejo.

DI kamar 31 ada Thomas (kelas 1) juga berasal dari Lampung dan Rurie (kelas 2) aku lupa ia berasal dari mana.

Karena hari itu hari minggu, akupun bertanya pada kawan-kawan tentang jadwal misa dan gereja terdekat karena aku perlu ikut perayaan.

Tadinya kupikir Heri beragama Katolik karena dari namanya saja Heribertus tapi ternyata ia adalah seorang muslim. Maka aku bertanya pada kawan lain dan akhirnya sore itu aku memutuskan untuk pergi ke Kapel Sanata Dharma di daerah Mrican Jogjakarta.

Kapel Sanata Dharma Mrican

Aku lupa sore itu pergi bersama siapa tapi yang pasti aku tidak sendirian karena jarak yang cukup jauh dan aku perlu kendaraan.

Kapel Sanata Dharma dari dulu hingga sekarang tampak asri dengan begitu banyak pepohonan tumbuh di halaman. Ruangnya cukup kecil tapi arsitekur bangunan sangat menarik didominasi warna krem dan hijau tua. Adem ketika ada di dalamnya.

Keluar dari kapel hari sudah menggelap kami langsung pulang karena hendak makan di kantin wisma sambil ngobrol dengan kawan-kawan se-wisma.

Kantin di Wisma Ampel 2 adalah kantin yang menyenangkan.

Selain karena tak perlu pergi keluar, kami juga boleh bayar belakangan (nge-bon). Makanan yang dijual juga cukup enak untuk disantap. Beberapa lauk-pauk saji bisa kita pilih, kalaupun kita ingin memesan makanan yang langsung dimasak seperti nasi goreng, mie goreng juga bisa dilayani.

Sayangnya hanya setahun aku bisa merasakan adanya kantin karena pada tahun kedua aku tinggal di Ampel 2, kantin ditutup, ruangan dibagi dua untuk dijadikan kamar dan disewakan!

Aku lupa malam itu menyantap apa dan bersama siapa tapi yang pasti ada banyak kawan sesama kelas 1 yang terkaget-kaget mengetahui bahwa aku sudah merokok di usia se-belia itu.

Awal mula di-bully

Malam itu, jam belajar yang menurut aturan antara jam 7-9 ditiadakan karena sekolah baru mulai keesokan harinya.

Menjelang pukul setengah delapan aku kembali ke kamar.

Ketika sampai di gerbang parkir menuju kamar, betapa kagetnya aku pintu kamar terbuka lebar, jendela ikut terbuka dan ada banyak anak berada di sana.

?Nah? yang punya kamar datang nih kayaknya!? seru salah satu dari mereka. Berkepala gundul, bertubuh gempal dan bermata membelalak ketika bicara.

?Sini? sini? kenalan dulu, sini!?

Aku bingung. Kaget. Takut.

Aku belum kenal mereka. Tapi dilihat dari perawakan, tampang dan panjang rambutnya, mereka adalah kakak-kakak kelas. Lalu apa tujuan mereka datang ke kamarku ya? 

Belum sempat aku mengunyah hal-hal itu dalam pikiran, mereka memanggilku lebih kuat lagi,

?Woy? kemari, woy! Kan kita mau kenalan sama adik kelas? ini kamar loe, kan?? Si Botak itu kembali memanggilku kuat-kuat.

Aku mengendap mendatangi mereka dan mengenalkan diri, ?Namaku Donny, asli Kebumen??

?Nah! Gitu dong?.Selamat datang, Donny!? Aku diajak ?tos? sangat keras membuat telapak tanganku pedas. Kawan-kawan di belakangnya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi tersebut.

Sayangnya aku tak menikmati proses perkenalan yang seperti itu. Mungkin karena ke-kuper-anku, mungkin karena pengalaman dibully di masa lalu membuatku merasa was-was dengan semua itu.

Aku hanya tersenyum lalu menjauh, melipir masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan jendela lalu mengurung diri. Sementara suara mereka semakin tinggi di luar, tertawa-tertawa, memukul-mukul jok motor dan berteriak-teriak sebelum akhirnya aku dengar suara Ibu Sur dari kejauhan, ?Eh, ana apa iki? bubar! Bubar! Wes meh jam sanga? kembali ke kamar masing-masing besok sekolah!?

Mereka bubar ditingkahi suara cekikikan yang seolah menertawakan suara Ibu Sur tadi.

Keadaan senyap lalu tak lama kemudian Heri masuk ke kamar, ?Loh, kowe kok ora melu ngumpul-ngumpul, Don??

Aku menggeleng? wajahku tegang.

Kejadian malam itu menjadi awal yang tak mudah bagiku dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan di Wisma. Aku sempat jadi bulan-bulanan karena di mata sebagian kakak kelas sikap menjauhku, sikap penolakanku terhadap mereka justru membuat rasa penasaran dan meletakkanku di posisi dimana aku adalah sosok ?layak bully?.

Sydney, 10 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. 1. Soal cermin itu menarik. Kok masih utuh tersimpan? Hebat.

    2. Makan habis berapa tadi, Rp 175, juga ajaib untuk tahun segitu

    3. Kurang percaya kalo anak bernama Donny takut. Badan gede, pede, mosok mengerut sama kakak kelas di kos? ?

    Balas
    • 1. Aku juga heran ;) Tapi kawanku yang satu itu memang luar biasa. Bahkan kaos yang dipakai itu adalah kaos yang dibeli tahun itu juga sebagai merchandise resmi Lustrum 8 De Britto
      2. Iya, hal itu benar2 bikin suprise kami berdua hingga kini hahaha.
      3. Aku dulu kecil kurus, Paman :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.