Tentang Jogja (6): Kebumen – Jogja (1993), Jogja – Klaten (2008)

5 Jun 2020 | Cetusan

Malam itu tanggal 30 September 2008.?
Malam yang akan selalu kuingat sebagai malam terakhir dimana aku boleh menyandang status sebagai ?Orang Jogja!??

Sebagaimana lima belas tahun sebelumnya aku berkeputusan pindah dari Kebumen ke Jogja, malam itu aku sudah bulat berkeputusan pindah dari Jogja ke Klaten selama sebulan lantas pergi ke Sydney, Australia dan menetap di sini.?

Jogja – Klaten (2008)

Dari Jogja naik sepeda motor, sekitar jam 11 malam, aku mengetuk pintu dan Mama lah yang membukakan pintunya.

?Kok bengi men tho, Le?? tanyanya.

?He eh, Ma? Mama kok durung sare? Papa, Chitra karo Ibu (Eyang) wes bobo kabeh??

?Uwis? Ibu isih nyetel wayang kae? Mama mau yo wes meh merem sakjane. Piye? Wes rampung kabeh urusanmu neng Jogja?? Mama menyambung.

Aku mengangguk.

Segera setelah cuci muka, aku duduk di ruang keluarga depan tv.

?Pamit karo sopo wae kowe mau, Le?? tanyanya sambil menghidangkan teh panas dan pisang goreng yang ia siapkan untukku sejak sore hari.

?Mung karo Viktor. Lha liyane sibuk??

?Ora pamit karo cah-cah kantor??
Aku menggeleng.

Kami terdiam untuk beberapa saat, larut dalam lamunan. Suara detak jam dinding terasa begitu dominan. ?Hffff?.Akhire aku wes dudu wong Jogja meneh ya, Ma?? mataku nanar menerawang kosong, nafas kutarik begitu berat.?

Mama tersenyum mencoba melegakan, ?Yo ra popo? Satu proses hidup wes mbok lalui dengan sukses. Sediluk meneh kan kowe dadi Wong Sydney??

***

Malam itu tanggal 15 Juli 1993.
Menjelang lepas tengah malam, aku keluar dari kamar menuju ke ruang tengah untuk nonton TV bersama Mama dan Papa. ?Kowe sesuk mangkat jam piro, Yas?? tanya Papa yang sejak dulu memang sulit menghapal jadwal siapapun kecuali dirinya sendiri.

?Jam 9 saka kene?? jawab Mama sekenanya.

Papa manggut-manggut. Ia lantas memandangku.

?Don, sing ati-ati neng Jogja. Saben minggu kowe kudu mulih! Mama lan adimu mesti kangen banget karo kowe, Le!? ujar Papa kepadaku.

Aku hanya mengangguk.
Pikiranku tak ada di situ. Jika bisa keluar malam itu aku sudah akan pergi ke Jl Sarbini, mendatangi L, gebetanku untuk pamit. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan indah. Tapi hal itu tidak bisa kulakukan. L sudah benar-benar menutup pintu hati terhadapku. Jangankan kudatangi, dititipi salam lewat adikku yang adalah teman adiknya pun ditolak!

?Yo wes gek ndang bobo? ? sambung Papa.

Aku segera masuk kamar dan malam terakhir di Kebumen itu kulewati begitu saja?

Kebumen – Jogja (1993)

Pagi harinya,? Papa masuk ke kamar saat aku masih tertidur. Ia membangunkanku, ?Le? Le? Papa mangkat kantor sik. Sing ati-ati yo Le?? dan kujawab ?Yo?? sambil membalikkan badan melanjutkan tidur.

Chitra menyusul melakukan hal yang sama beberapa belas menit kemudian. Sebelum berangkat ke sekolah, ia mendatangi kamarku dan bilang, ?Mas sabtu pulang ya?? aku mengangguk saja sambil memunggunginya.

Satu jam berkemas, travel Bumen Jaya datang menjemput jam sembilan lewat lima. Pagi itu aku dihantar Mama berangkat ke Jogja membawa satu tas besar berisi baju dan beberapa barang esensial seperti sabun, pasta gigi dan handuk. ?Sisanya nanti kamu beli saja di Gardena.? jelas Mama malam sebelumnya supaya aku gak bawa terlalu banyak barang.?

Sesampainya di Jogja kami turun langsung di Wisma Ampel 2. Kepada Pak sopir travel yang sudah kami kenal, Mama menjelaskan bahwa mulai minggu depan aku tinggal di situ, ?Jadi nanti kalau ke Jogja Donny diturunkan di sini, Pak. Kalau Donny minta diturunkan di tempat lain jangan boleh ya?? Aku hanya tertawa?. :)

Sampai di Wisma Ampel 2, Mama menyerahkanku kepada Pak Sur dan Bu Sur yang lantas mengantarku ke kamar 34 B. ?Donny, nama teman sekamarmu adalah Heribertus. Sekolah di De Britto juga sama-sama baru masuk dan asli Lampung.? Sebuah kunci diberikan kepadaku lengkap dengan gantungan kayu bertuliskan, ?34B.?

Siang itu Heribertus ternyata tak ada di kamar. Ia sedang jalan-jalan dengan keluarganya yang juga datang mengantar ke Jogja. 

Kamar berukuran 3x4m itu aku tempati berdua dengan Heribertus selama setahun ke depan. Dua buah tempat tidur berukuran single bed ditata rapi membujur dan mepet di tembok. DI sebelahnya ditaruh dua set meja belajar dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu.

Segera setelah meletakkan barang, aku dan Mama pamit. ?Bu Sur, dalem ititp Donny nggih, Bu? ujar Mama dengan suara bergetar.

Bu Sur lantas memeluk Mama. Ia tentu tahu betul bagaimana perasaan Mama dan pelukan itu seolah mengangsurkan perasaan bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi aku tak berpisah dengan Mama di situ.

Aku ingin jalan-jalan dengan Mama terlebih dahulu. Sesudah berpamitan, aku dan Mama naik becak makan gudeg di dekat Ibu kota. Dari situ kami naik becak lagi ke Gardena. Mama rupanya perlu? membeli beberapa kebutuhan tambahan untuk rumah Kebumen. ?Kowe butuh apa, Le? Sisan po mengko golek dewe??

Aku menjawab, ?Mengko aku golek dewe wae, Ma ?.karo kanca-kancaku??

Dari Gardena kami naik becak lagi ke Malioboro.

?Aku arep tuku klambi dinggo Papa lan Chitra?? aku pun ikut jalan ke Toko Ramai.

Lagi-lagi Mama menawariku dan lagi-lagi pula aku menolaknya. ?Ora, Ma. Aku mengko mundhut kaos de britto wae, Ma???

Hari menjelang sore, matahari sudah semakin condong ke barat..

Kami tiba di restaurant kantor travel dan Mama sengaja memesan tiket travel pulang ke Kebumen paling sore hari itu, jam 5 supaya memiliki waktu cukup untuk bersama denganku.

Kami duduk di kursi tunggu.

?Le, pokokmen kowe sing ati-ati neng Jogja! Manut karo Pak Sur dan Bu Sur! Ora sah nakal! Mengko saben bengi Mama telpon?? aku menggenggam tangan Mama erat-erat. Kali itu aku merasa sangat ingin guliran waktu berhenti seketika.

?Le, wes kari 15 menit meneh? ayo nyegat bis!? Mama berdiri menggandengku, jantungku berdetak kencang dan kami berjalan menuju ke halte bus kota di pertigaan Jl Mataram.

Dari beberapa orang yang kami tanya di sana termasuk loper koran berpostur tubuh tinggi legam berkamcamata lodhong yang kuceritakan di sini, mereka memberitahu Mama bahwa untuk sampai di Papringan, aku harus naik bus kota jalur sekian (aku lupa), berhenti di IAIN Sunan Kalijaga lalu jalan kaki hingga ke Wisma Ampel 2.

Tak lama kemudian yang dinanti pun tiba. Bus berwarna oranye, berpawakan butut dan sore itu cukup lengang keadaannya.

Mama menggandeng tanganku hingga ke ujung trotoar. Aku lama menggandengnya bahkan saat Pak Kernet sudah menyuruhku masuk ke dalam bus cepat-cepat.

?Ma, aku pamit!? seruku.

?Ati-ati, Le?? paras Mama tampak begitu temaram sore itu melepasku.

Aku naik ke dalam bus dan dari kaca belakang, pandangan mata tak kulepaskan darinya.

Bus melaju pelan dan Mama tampak mengecil, makin kecil, menjadi titik lalu hilang lindap dalam remang sore yang hendak dituntasi malam.

***

Tyas
Mama dan Papa, 1979

Sejak saat itu, sejak sore itu aku sudah bukan orang rumahan lagi. Aku resmi menjadi pengelana. Membangun hidup dalam duniaku sendiri yang kutanam di kota Jogja selama lima belas tahun kemudian.?

Mama melepasku ke Jogja sore itu, 15 Juli 1993, Mama juga yang menerimaku kembali ketika aku menuntasi perjalananku di Jogja di malam tanggal 30 September 2008.

Sydney, 5 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Super Kecing (penakut) hehehe mnjadi Supebloger..super..super..super…ikut bngga padamu ..sahabat kecilku…

    Balas
  2. Nyimak

    Balas
  3. Renyah kisahnya, ning ada yang agak “nylilit”.

    Kuwi menurutku, nek kowe piye? :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.