Tentang Jogja (5): Wisma Ampel 2

4 Jun 2020 | Cetusan

Beberapa hari kemudian, aku dan Mama kembali ke Jogja untuk memenuhi undangan wawancara keuangan. Sebagaimana layaknya sekolah swasta waktu itu, SMA Kolese De Britto meminta sumbangan dari orang tua murid untuk keperluan kelanjutan pembangunan dan pengembangan. Aku sendiri tak tahu bagaimana proses assesment yang dilakukan untuk menentukan besar-kecilnya sumbangan waktu itu tapi yang kuingat adalah pesan dari Mas Momok ke Mama yang diceritakan kepadaku, begini?

Wawancara Keuangan

?Pokokmen, Mbak Tyas..?
mengko pas kowe mrana, aja nganggo klambi apik, rasah dandan, rasah bengesan. Pokokmen kesan sing kudu tampak adalah Donny ki datang dari keluarga sederhana. Supaya mengko lehmu mbayar duit sumbangan ora larang lan SPP bulanan-e Donny juga ora gede-gede banget!?

Tapi Mamaku tetaplah Mamaku.?
Dasarnya ia berparas ayu dan berkelas. Jadi meski berdandan seadanya dan tanpa make up, ia tetap bersinar! (Gara-gara paras ayu Mama suatu waktu aku pernah hampir terlibat perkelahian dengan seorang bakul rujak yang kerap nongkrong di depan asrama tempatku tinggal. Gara-garanya ia yang meski niatnya bercanda bilang begini, ?Eh, Mamahmu ayu, Don. Salam yo!? Aku tersinggung betul waktu itu!)

Naik travel Bumen Jaya, seperti biasa, kami diturunkan di depan gerbang De Britto. Mama diwawancarai di ruang perpustakaan selama lebih kurang 45 menit. Sementara sambil menunggu, aku duduk-duduk di pinggir lapangan bersama beberapa anak lain yang sayangnya aku sudah lupa siapa saja mereka itu.

Ketika wawancara selesai, Mama menghampiriku dan bilang, ?Wes, Le!?

?Uwis!? Piye hasil-e, Ma? Larang opo murah??

Ia tersenyum. ?Sak yuta sepraprat, Le! SPP-mu telung puluh ewu sesasi??

Aku tercekat, ?Duh? Larang ora kuwi, Ma??

Ia tersenyum. ?Ra popo mengko Mama sing matur karo Papa?. Pokokmen kowe sekolah sing bener neng kene??

Kami lantas keluar dari De Britto. PR selanjutnya yang perlu kami selesaikan saat itu adalah mencari tempat tinggal bagiku.

Sejak awal, salah satu keharusan bagi Mama (dan Papa) terkait kepindahanku ke Jogja adalah bahwa aku harus tinggal di tempat yang memiliki aturan ketat sehingga aku, meski jauh dari pengawasan mereka tapi tetap terjaga.

Dalam hati sebenarnya aku tertawa waktu itu karena bukannya aku mengecilkan arti ?pengawasan? mereka namun meski selama ini tinggal di Kebumen dan satu rumah, meski pengawasan mereka kadang berusaha ketat, aku tetaplah anak SMP yang punya banyak akal hahaha :)

Dari obrolan dengan beberapa guru di De Britto, Mama mendapatkan informasi tentang Wisma Ampel 2 yang terletak di Jl Ampel No. 2  Papringan, Yogyakarta.

?Mau ki calon gurumu crito nek akeh murid-e sekolah luar Jogja sing mlebu asrama kono? Dadi ayo mrono ben ora selak kebak, Le!?

Dari De Britto kami berjalan kaki melewati pertigaan IAIN Sunan Kalijaga lalu belok ke arah utara ke Jl Petung melewati INSTIPER lalu belok ke kiri lagi di Jl Ampel, Papringan.

Wisma Ampel 2

Wisma Ampel 2 sebenarnya bukan asrama.

Ia lebih seperti kost-kostan biasa yang terdiri dari beberapa puluh kamar serta dikelola sepasang pasutri Pak dan Bu Suryanto. Hanya saja karena aturan yang ada begitu ketat, orang-orang lantas menjulukinya sebagai asrama (dan sedikit? sedikit dari kami menyebut sebagai penjara).

Tak semua anak yang tinggal di Wisma Ampel 2 bersekolah di De Britto. Kebanyakan memang iya tapi ada juga segelintir yang sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta dan beberapa mahasiswa yang menempati blok khusus tentu dengan aturan yang tak ketat sama sekali.

Setelah memencet bel, kami dibukakan oleh Bu Suryanto yang menyambut aku dan Mama bak kawan lama.? ?Monggo Jeng, pinarak mlebet?, ujarnya ramah.

Kami pun masuk dan setelah berbasa-basi sejenak, Mama mengutarakan niatnya untuk mencarikan aku kamar di wisma tersebut.

Tak lama kemudian kami diajak bersafari mengelilingi asrama.

Sepanjang safari, Bu Sur menjelaskan beberapa aturan yang ada di Wisma Ampel 2. Mulai dari jam belajar antara 7-9 setiap hari. Jam istirahat yaitu jam 22:30 WIB (kalau weekend jam 23:00 WIB). Aturan tidak boleh menerima tamu di dalam kamar (kalau tidak ketahuan), aturan tidak boleh menyalakan kendaraan di dalam kompleks asrama (kalau tidak ketahuan) dan masih banyak lagi.

Setiap menerima penjelasan aturan demi aturan, paras Mama tampak berbinar sementara parasku kian nglentruk? Aku tak bisa membayangkan beratnya tinggal di asrama yang penuh aturan ini!

?Ini tinggal tersisa dua kamar untuk Donny, Jeng. Kamar 4 dan Kamar 34B,? ujar Bu Sur.

?Don, kowe milih sing endi? Matur Bu Sur saiki, Le,? ujar Mama menatapku.

Kamar 4 ada di depan.?
Kamarnya besar, 4×5 meter alias 20 meter persegi.?

Kamar 34B ada di pojok paling belakang, berhadap-hadapan dengan kamar mandi dan parkiran. Ukurannya mungil, 3×4 meter alias 12 meter persegi.

Secara mengejutkan aku memilih kamar 34B. Mama sempat terdiam dan bertanya, ?Tenan lho? Iki ra iso diubah meneh??

Mungkin Mama berpikir aku memilih kamar kecil itu karena harganya jauh lebih murah dan aku masih kaget dengan besarnya uang sumbangan sekolah dan SPP yang harus dibayar Papa dan Mama. Tapi sejatinya tidak! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memilih itu sampai saat ini!

Aku mengangguk.?
Mama memintaku untuk matur ke Bu Sur. Akupun berkata, ?Bu, saya mau yang kamar 34 B saja??

Setelah mengatur tenggat pembayaran, kami segera pamit lalu pergi ke Jl Perwakilan untuk naik travel ke Kebumen.

Di dalam becak yang mengantarkan, aku baru sadar bahwa pergi ke Jogja bareng Mama itu ?beda style? dengan Papa.

Papa, selama perjalanan, cenderung mengumbar nostalgianya di Jogja. Ia tak pernah berhenti menceritakan setiap sudut kota kepadaku seolah aku ini tak bisa menangkap cerita-cerita yang dimunculkan oleh Jogja itu sendiri atau seolah ceritaku tak kan lebih baik dari ceritanya tentang sudut yang sama!

Mama, pembicaraan cenderung dari arah sebaliknya. Mama tak pernah mendikte dengan nostalgia. Ialah yang bertanya, ?Gimana rasanya? Apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu rasakan tentang Jogja??

Tak ada yang lebih baik dan tak ada yang lebih buruk. Keduanya saling melengkapi dan menyatukan rasa bahwa bagaimanapun juga Jogja adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali dan diceritakan sepertiku menceritakan ini semua kepada kalian.

Sore itu aku lebih banyak diam di dalam travel.

Mama sibuk membaca majalah yang tadi dibeli di tukang loper koran tinggi-hitam-berkacamata lodhong di kantor travel Jl Perwakilan. Sementara aku melamun membayangkan beratnya berpisah dengan kawan-kawan SMP dan juga gebetanku yang nyaris saja jadian kalau saja aku tak pergi ke Jogja kala itu.

Tiba-tiba Mama memegang tanganku dan menasihati begitu banyak hal tentang apa yang boleh dan apa yang tak boleh kulakukan ketika tak lagi tinggal serumah dengan mereka.

?Pokokmen? Pokokmen kowe ki arep tekan ngendi wae, Le? sing mbok gowo ki jenenge Mama lan Papa? Ngerti ra?? Aku mengangguk, menatap wajahnya dalam-dalam.

 Ah, dua puluh tujuh tahun sesudahnya, saat tulisan ini kurawi dan kuhidangkan untuk kalian, hal itu masih benar-benar kucamkan. Aku selalu membawa nama mereka, kemanapun aku pergi, sampai nanti, sampai aku diperkenankan Tuhan untuk kembali bertemu dengan mereka dalam keabadian?

Sydney, 4 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

5 Komentar

  1. “Tapi sejatinya tidak! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memilih itu sampai saat ini.” Bukankah itu mmg sejatinya dirimu maskuuh.

    Masih asik menikmati kisahmu: mengalir dan bermakna.
    Nuwun.

    Balas
    • maturnuwun masku….:)

      Balas
  2. Kamar 4 x 5 m? Mewah bener. ?
    Waktu aku kuliah, dalam dua semester pertama menghuni kamar 2,25 x 1,5 m, bekas gudang paviliun, punya pintu masuk keluar sendiri. Di kamar sempit tapi cozy, dengan karpet plastik yang aku beli di toko yang kamu ceritakan (buat menutupi lantai semen lembap), cuma ada bed, rak buku bikin sendiri, dan meja belajar. Kamar aku cat sendiri. Atap ada genting kaca supaya lbh terang, melengkapi jendela nako.

    Itu bukan indekos tapi di rumah sendiri. Nah, lemari pakaian ada di rumah dalam, dalam kamar ukuran 3,5 x 3,5 m. Aku nggak di situ karena kamar-kamar rumah dalam buat kos cewek. Kamar hanya dipakai saat Bapak atau Ibu ke Yogya, krn keluarga kami di Salatiga.

    Balas
    • Hahahah sempit banget itu sesempit kuburan :)
      Aku gak pernah suka karpet plastik.. aku selalu suka karpet biasa….

      Balas
  3. sungguh beruntung saat itu karena masih mendapat opsi 2 kamar, kalau jaman sekarang harus pesan jauh jauh hari, kelihatannya mengikuti hukum pasar deman dan suplai.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.