Tentang Jogja (25): Akhirnya kerasan di Jogja

20 Jan 2022 | Cetusan

Musik adalah sebab-musabab pertama bagiku untuk akhirnya kerasan tinggal di Jogja setelah hampir setahun mendiaminya.

Setelah diajak berlatih musik bersama Wiryo, (alm) Catur, Army dan Havid (silakan baca tulisanku tentang ini di sini) di studio musik Columbia di awal 1994, hubunganku dengan teman-teman sekelas mulai berubah.

Dari yang semula dibenci dan dikuclikan karena terlalu pendiam, terlalu ngambekan… pelan-pelan mereka mulai memandangku tidak lagi dengan sebelah mata karena seorang Donny Verdian yang akrab disapa Kermit ataupun Bathuk ternyata gape main musik!

Suatu waktu ketika sedang nonton acara malam pentas seni di aula sekolah, Timboel a.k.a FX Laksana Agung Saputra (sekarang jurnais senior Kompas – Gramedia) menyebelahiku dan bilang, “Mit, ayo sesuk awake dewe main musik ben taon ngarep pentas neng kene…” Aku manggut-manggut aja…

Pada acara-acara Malam Keakraban dengan cewek-cewek Stella Duce 1 pun demikian. Aku yang sebelum-sebelumnya bukan siapa-siapa dan hanya duduk di sudut ruangan atau nongkrong di luar sambil merokok, sejak saat itu aku jadi kerap diminta main gitar mengiringi kawan bernyanyi. Satu yang kuingat hingga kini adalah ketika suatu waktu kelas kami mengadakan MK dengan sebuah kelas di SMA Stella Duce 1 di sebuah rumah di barat daya Jogja.

Di acara itu, aku dan Wiryo mengiringi Rio menyanyikan dua lagu, Patience-nya Guns n Roses dan Wherever I May Roam-nya Metallica. Patience-nya keren tapi Wherever I May Roam-nya ancur :)))

Sepulang acara, di asrama Ampel 2 aku diundang Dionisius Vianney Pontoan, kawan sekelas dan seasramaku yang gape main gitar lagu metal. “Kiye, nyong ajari carane main Wherever I May Roam. Kuncine rika tuli salah mau… rada ngaco.. hahaha” ujar Doni dalam bahasa dan dialek ngapak khas Cilacap-nya yang kental kepadaku!

Oh ya bicara soal asrama, hubunganku dengan kawan-kawan se-asrama pun menghangat karena aku mulai dikenal bukan sebagai orang yang layak jadi korban ditelanjangi tapi seorang yang meski nyebelin tapi bisa main musik!

Hampir setiap sore saat kawan-kawan antri mandi, aku diundang. “Don, dipanggil teman-teman disuruh main gitar…” ujar Leo, tetangga kamarku.

Atau ketika selesai jam belajar yang biasanya adalah jam-jam rawan untuk ditelanjangi, aku kerap diundang datang ke kamar Yerico Octavianus Liey , kakak kelas yang mukanya dulu mirip Ari Lasso. Yerico orang yang sangat murah senyum, nggak ikut menelanjangiku dan selalu suka kalau aku memainkan gitar di kamarnya.

Lain waktu aku diundang masuk ke kamar Tony, kakak kelas orang Papua yang pandai sepakbola dan sangat jago main gitar.

Pergaulan musikku itu nggak cuma membuatku jadi lebih kerasan di Jogja tapi juga mengenal beberapa genre musik yang selama ini aku tak tahu. Musik-musik seperti Color Me Badd, Mr Big hingga Queen dan Extreme pertama kali kukenal ya di sana.

Bahkan hingga sekarang, ketika aku gitaran lagu More Than Word-nya Extreme, aku selalu ingat pada malam-malam di Ampel 2 dulu gitaran lagu yang sama.

Untuk pertama kalinya aku juga nonton konser musik di Jogja. Aku ingat betul nonton KLa Project saat mereka tour dalam rangka promo album Ungu. Juga konser Gigi yang pertama. (14 tahun sesudahnya, Gigi menggelar konser di Jogja untuk mengenang konser mereka di tahun 1994. Tahun 2008 adalah tahun dimana aku meninggalkan jogja untuk pindah ke Sydney, Australia. Kalian bisa baca ulasan yang kubuat 14 tahun silam di sini).

Tapi meski demikian, hobi musikku ini secara tidak langsung mulai mempengaruhi semangat belajar dan nilai-nilaiku pun turun. Aku semakin merasa tak punya daya untuk belajar. Banyak ulangan yang kulewatkan begitu saja tanpa persiapan. Banyak tugas yang tak kukerjakan. Daripada belajar, aku lebih suka menyelinap ke kamar teman untuk pinjam gitar dan gitaran sambil menunggui mereka belajar. Aku juga lebih sreg ngulik lagu dengan cara muter kaset berulang-ulang daripada mengerjakan tugas sekolah yang lebih tidak njelimet.

Padahal, di sela-sela telepon malamnya, Papa dan Mama selalu mengingatkanku untuk belajar. “Ayo, Le! Taon ngarep kowe kudu mlebu kelas A1 lho! Aja mlebu A3 ngisin-ngisini…”

*Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.