Tentang Jogja (24): Latihan Musik di Columbia

24 Sep 2021 | Cetusan

Tahun baru 1994, tapi semangatku untuk kembali ke Jogja dan melanjutkan studi di De Britto nggak baru-baru amat. Usai liburan Natal di Kebumen yang menyenangkan, main bareng teman-teman dan berkumpul dengan Papa, Mama serta Chitra, waktunya kini kembali ke Jogja.

Mama membantuku mengemas barang termasuk menyelipkan beberapa bungkus klanting, makanan khas Kebumen yang amat digemari Heribertus, kawan sekamarku di Asrama. Dia rupanya melihat gelagatku yang tak begitu bersemangat. “Kowe kok ora semangat ngono to, Le?” tanya Mama dengan senyum tersungging.

Aku diam saja.

“Kan kowe dhewe ndisik sing nyuwun sekolah Jogja. Tiwas dibayari larang kok saiki nglokro?” sambungnya lagi.

“Hmmm, apa aku pindah Kebumen wae yo, Ma? Aku ra krasan tenan ki…” balasku.

Mama diam saja dan aku mensyukuri sikap diamnya itu. Kalau saja ia menganggukkan kepala, barangkali jalan hidupku mungkin tak seperti sekarang.

Tepat pukul lima sore, travel Kebumen – Jogja sudah sampai di depan halaman rumah. Aku bergegas naik ke travel, Mama mengantar sampai ke gerbang. 

“Ati-ati, Le… !” ujarnya.

Di dalam travel ada SS (silakan klik di sini untuk tahu cerita tentang SS hehehe). 

“Tante, pergi dulu ya…” sapa SS ramah ke Mama. 

“Iya, Sil… Donny diajak ngobrol ya biar semangat hehehe…” aku sempat menggerutu dalam hati; aku ini sudah SMA tapi masih diatur seperti anak TK saja!

Sesudahnya, hidup berjalan seperti biasa. 

Pagi berangkat ke sekolah, siang pulang. Kalau tiba-tiba mood hilang untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan asrama atau rasa insecure kambuh tinggal cabut ke rumah eyang di Klaten.

Tapi secara tak sadar, lingkar pertemanan mulai tercipta dan semua berawal dari… musik.

Awalnya adalah Catur a.k.a Brindil, kawan kelas 1. Dia sekelas dengan Yudith di kelas 1-2 dan ikut ekstra kurikuler bersamaku dan Yudith, Shorinji Kempo. Suatu waktu, Catur yang asli Jogja dan berambut ikal itu melihatku memainkan jari-jemari seolah aku bermain gitar. Ini adalah kebiasaan sejak kecil yang bahkan bertahan hingga sekarang!

“Weh, Mit, kowe iso main gitar, to?” Kermit adalah satu dari banyak panggilanku di De Britto, sesuatu yang bikin aku gak kerasan sebenarnya.

Aku tersenyum, “Sithik…” jawabku.

“Ayo latihan! Aku juga main gitar. Gelem ra?” jawabnya.

Aku sempat diam lama lalu menjawab, “Eh, tapi aku main bass, dudu gitar!” 

Lalu dia menjawab, “Wah, kebeneran kuwi! Aku butuh bassist!”

Sebenarnya aku bukan bassist bahkan memegang gitar bass pun belum pernah waktu itu. Sejak SD hingga SMP aku justru getol bernyanyi, ikut lomba sana dan sini. Bahkan kalau kalian ingat ceritaku di sini, saat tes wawancara masuk De Britto pun aku diminta untuk bernyanyi karena di formulir pendaftaran aku melampirkan sertifikat bahwa aku pernah juara lomba nyanyi.

Tapi kenapa aku tak bilang ke Catur bahwa aku juga bisa nyanyi selain main gitar?

Atau kenapa aku tak bilang bahwa aku main gitar dan bukannya bass?

Semua karena rasa insecure-ku yang sangat akut!

Ketika ditawari Catur untuk main bareng, apapun bentuknya, pikiranku otomatis terbelenggu dalam perasaan tak nyaman dan penuh dengan ‘jangan-jangan’.

Jangan-jangan, kalau aku mengaku bisa bernyanyi, dia akan mengataiku karena suaraku kayak cewek dan cuma cocok nyanyiin lagu-lagunya Tito Sumarsono… atau malah Ismi Aziz ?!?

Jangan-jangan, kalau aku mengaku bisa main gitar trus nanti permainanku dibilang jelek?

Ah! Kenapa nggak ngaku jadi bassist? Karena menurutku posisi seorang bassist selalu di belakang gitaris apalagi vokalis. Senarnya lebih sedikit, permainannya tidak dominan dan kalaupun salah dikit nggak kelihatan hahaha!

Lalu di suatu siang, aku melihat Catur datang ke kelasku. Dia memanggil dan bicara di depan pintu dengan Wiryo, kawan sekelasku yang ternyata teman dekatnya. Catur melambaikan tangan ke arahku dan mereka tampaknya sedang membicarakanku.

“Duh, ada apalagi nih?!” batinku. Hubunganku dengan banyak anak di kelas tidaklah terlalu baik waktu itu. Lagi-lagi karena aku sangat insecure, mudah tersinggung dan selalu menarik diri ketika mereka sedang kumpul. 

Dugaanku tepat!
Setelah Catur pergi, Wiryo mendatangiku.

“Mit, kowe iso ngebass to? Kok ora omong ket wingi?!” ujar Wiryo dan kali pertama bagiku melihatnya tersenyum kepadaku.

OK, aku akan sedikit bercerita tentang Wiryo.

Wiryo bernama asli Pierna Haris Sasongko. Dia asli Minomartani, sebuah kawasan di sisi timur Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Wiryo termasuk salah sedikit dari anak kelas satu yang menurutku rambutnya cepat sekali panjang. Seingatku waktu itu, selain mereka yang tinggal kelas, hanya ada Stephanus Adjie (kini vokalis grup metal Indonesia, Down For Life), FX Laksana Agung Saputra a.k.a Timbul (kini wartawan senior di Harian Kompas) dan Pittor Saragih (adik kandung alm. Kristupa Saragih) yang rambutnya cepat sekali panjang.

Kami lantas janjian untuk berlatih musik di studio. 

Suatu sore Wiryo menjemputku di Asrama menggunakan sepeda motor sipitung warna merah. 

“Latihane neng endi iki, Wir?” tanyaku agak canggung.

“Columbia. Neng cerak Selokan Mataram….”

Aku tak tahu dimana letak Selokan Mataram itu, “Yo wes manut…”

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Hanya sesekali Wiryo bertanya untuk mengisi kekosongan. “Kowe biasa main lagu opo neng Kebumen?” jawabnya. 

Aku asal menjawab, “GnR!”

“Woh, wangun!” jawab Wiryo. 

“Lagu opo? Mesti Sweet Child O Mine ya?” 

Aku mengiyakan padahal aku belum tahu lagu itu seperti apa.  Yang kutahu dari GnR waktu itu hanyalah Civil War dan Don’t Cry dari album Use Your Illusion. You Could Be Mine dari mini album Terminator 2 aku juga tahu sih tapi nggak tahu cara main bass-nya hehe. 

Sesudah sore itu aku lantas pontang-panting pinjam gitar dan pinjam kaset Appetite for Destruction untuk mencari tahu seperti apa lagu Sweet Child O Mine itu dan alamaak, aku mengarang cerita yang salah karena ternyata bassline Duff McKagan waktu itu sulit sangat!

Lalu sampailah kami di Columbia yang terletak di seberang Selokan Mataram.  Selokan Mataram waktu itu masih begitu sepi tidak seperti sekarang. Sisi utara masih penuh sawah sementara sisi selatan baru beberapa lahan yang berubah jadi rumah dan studio Columbia termasuk salah satu diantaranya. Pemilik Columbia seorang engkoh-engkoh dan aku begitu kagum masuk ke dalam studionya karena begitu mewah dan beda banget dengan studio musik yang pernah kumasuki di Kebumen. 

Di dalam ruangan studio sudah ada Catur yang memegang gitar, lalu seorang yang tak terlalu tinggi dan bertubuh agak gempal dengan rambut ikal dan janggut yang maju ke depan. “Mit! Iki kenalke Armi! Vokalis!” Aku menyalaminya. Dari balik set drum, seorang lain berdiri dan mengulurkan tangan, “Aku Havid!”

Armi dan Havid, keduanya bukan murid SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Mereka dari SMA 4, sepantaran dan teman ngeband Wiryo. Belakangan, mereka bertiga membentuk Cross Bottom bersama Ajie (gitar) dan Pagon (bass). Cross Bottom dikenal sebagai band Jogja terkenal tahun 90an bahkan pernah rekaman di major label Jakarta meski Havid dan Wiryo tak lagi di sana.

Akupun mengambil bass guitar dan sok yakin bisa aja.

“Biasa nganggo pick opo fingering kowe, Mit?” tanya Catur dan aku lagi-lagi bingung. Kalau pick pasti mirip Duff McKagan kalau pakai fingering pasti mirip Flea-nya Red Hot Chilli Peppers? “Fingering!” jawabku.

“Wangun!” Armi nyeletuk.

Lalu Everything About You (Ugly Kid Joe), Zombie (The Cranberries), Come Out and Play (Off Springs) dan When I Come Arround (GreenDay) kami mainkan. Tak ada satupun yang pernah kumainkan sebelumnya tapi aku merasa lega karena mengaku sebagai bassist jadi tugasku hanya mengikuti permainan Wiryo dan Catur saja waktu itu.

Sejam berlalu, setelah urunan 500 rupiah per orang untuk mengongkosi studio kami nongkrong di pos ronda yang terletak di seberang studio sambil menunggu matahari terbenam. Sore itu, bisa dibilang adalah kali pertama aku punya teman asli Jogja dan bisa bercanda lepas bersama mereka tanpa merasa takut apalagi canggung. Pertama kali juga aku merasa luweh dipanggil Kermit atau Bathuk atau apapun dan semua itu terjadi karena… musik.

Lama tak mendengar kabar tentang Catur, beberapa tahun lalu dari grup WA kawan-kawan De Britto angkatan 1996, aku mendapatkan informasi bahwa ia meninggal dunia karena sakit. 

Aku langsung mencari konfirmasi dari Wiryo yang waktu itu tinggal di New Zealand dan aku sudah bermigrasi ke Australia. Kini Wiryo tinggal di Switzerland.

R.I.P Catur!

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Aku lagi reti mas nek mas Adjie DFL ki alumni JB wkwkwkwk

    Balas
    • Iya, kanca seangkatan dan pernah seasrama karo aku hahaha…

      Balas
      • Ngono2 jebul yo cah ampel wkwkwkwkwk

        Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.