Tentang Jogja (21): Shampoo pemanjang anu…

9 Jul 2021 | Cetusan

Hal yang ditunggu-tunggu oleh sebagian dari kami setelah diterima jadi siswa di SMA Kolese De Britto adalah memanjangkan rambut. Bagi kebanyakan sekolah lain, murid pria harus berambut pendek. Di De Britto, beda! Kami boleh menggondrongkan rambut! Bebas! Jadi, selain obrolan tentang musik, cewek, bokep dan argh… pelajaran, segala macam pernak-pernik rambut termasuk shampoo terbaik untuk memanjangkan rambut adalah tema biasa yang beredar di kalangan siswa sekolah homogen pria itu.

shampoo nganu

Shampoo Nganu

Nah, perkara terbaik ini, sepertinya nggak ada yang bisa mengalahkan pamor Shampoo Nganu… sebut aja begitu ya Sob karena aku takut menyebut nama trus yang punya nama nggak berkenan jadi berabe nanti :) 

Nah, Shampoo Nganu ini begitu populer dan aku yakin kepopulerannya pada awalnya terkait dengan namanya yang identik dengan jenis musik hingar-bingar dan… besi-besian. Gila, kan? Bukankah shampoo selama ini identik dengan kelembutan dan kesegaran? Kontras banget pokoknya!

Dijual di toko musik? Shampoo Nganu

Nan tak kalah uniknya, waktu itu shampoo ini tidak dijual di sembarang toko. Seingatku dulu Shampoo Nganu hanya bisa ditemukan di sebuah toko kaset terkemuka di Jl Maliboro. Toko kaset? Yup! Toko kaset, toko merchandise kaos band metal pula! Maka kehadiran Shampoo Nganu di Kota Mas seperti semakin mensegmentasi pasar karena bukankah musisi dan fans musik metal identik dengan rambut gondrong!? Strategi pemasaran yang mungkin waktu itu tak terpikirkan tapi tetap aja keren!

Selain nama, daya tarik Shampoo Nganu menurutku adalah karena klaim beberapa pengguna yang mengatakan bahwa shampoo ini bisa memanjangkan rambut sekian senti hanya dalam waktu 2 minggu! Luar biasa, bukan? Jadi kalian bayangin bagaimana mungkin anak-anak De Britto nggak mau berlomba-lomba membeli shampoo ini?

Padahal, harganya waktu itu sudah masuk dalam ukuran mahal. Waktu harga segelas es teh masih 150 rupiah dan seporsi pecel lele di pinggiran jalan Solo dijual di harga 750 perak, Shampoo Nganu sudah berani mematok harga 9900 rupiah!

Dana Cair!

Untuk membelinya, aku harus membujuk Mama supaya memberi uang ekstra. Mama sempat menolak karena uang segitu tidak kecil bagi kami dulu. Tapi aku janji hanya beli sekali karena pertimbangan ketika sampoo habis dalam waktu 1.5 bulan dan pada waktu itu rambutku akan sudah memanjang enam sentimeter dengan pertimbangan dua minggu tumbuh dua senti, kan?

Dana pun cair!

Sepulang ke Jogja, aku beli Shampoo Nganu.

Begitu sampai di asrama, aku menyembunyikan shampoo di lemari baju. Takut diminta? Enggak! Takut diketawain iya! Jangan sampai mereka menertawakan karena aku termakan hype yang belum tentu benar.

Menggunakan shampoo itu ternyata memang menghadirkan sensasi yang berbeda. Jika shampoo biasa ketika dipakai kesannya adem, Shampoo Nganu dipakai bikin panas kulit kepala. Waktu akhirnya aku bercerita dengan seorang kawan bahwa aku beli Shampoo Nganu, aku menceritakan efek ini. “Kerasa banget kok bahwa shampoo ini bekerja!” tegasku sok yakin.

“Kok bisa?” tanya temanku.

“Ya karena saat dipakai itu panas banget di kulit kepala… Mungkin saat itu kulit kepala bekerja keras supaya rambutnya jadi lebih panjang ya?” Aneh kan logikaku? Hahaha…

Nganu tak makin panjang? Kalap!

Tapi ya emang aneh karena ternyata setelah dua minggu, rambut kuukur, tapi gak tumbuh lebih dari satu senti?

Aku makin kalap!

Shampo yang harusnya dipakai dua hari sekali itu jadi lebih sering kugunakan lagi.

“Barangkali karena aku salah porsi pemakaian?”

“Barangkali karena aku kurang banyak memakainya?”

Dua minggu berikutnya, aku ukur lagi… dan ternyata tak banyak berubah. Sementara rambut teman-temanku seangkatan sudah semakin panjang dan bisa dikucir tapi rambutku hanya jatuh di bawah pipi, belah tepi seperti Yanto Stock On You kata anak 80an atau kalau jaman sekarang ya mirip Andhika waktu masih di Kangen Band dan belum jadi babang tamvan!

Aku mulai putus asa terlebih saat Gorgom suatu malam bertanya kepadaku,“Don, rambutmu kok samsoyo abang?”

Waktu pulang ke Kebumen, perhatian Mama pertama kali adalah ke rambutku. “Endi, Le? Kok ora tambah dawa malah tambah abang?”

Aku malu. Kukeluarkan sisa Shampo Nganu, kutunjukkan kepadanya dan Mama yang paham hal-hal beginian pun bilang, “Wooo… iki jenenge kowe ki ora cocok! Iki mengandung ginseng dadine neng sirah panas lan nggawe abang!”

Aku hanya manggut-manggut dan sesuai janjiku, tidak membeli lagi Shampoo Nganu.

Selanjutnya aku mulai cuek dengan rambutku. Hingga masuk kelas 2 SMA, rambutku sebenarnya sudah lumayan panjang hingga seleher. Tapi suatu waktu saat pulang ke Kebumen di minggu pagi aku bersepeda membeli kue lupis dan waktu Simbok yang jualan bertanya kepadaku, “Tumbas napa, Mbak?” aku tahu itu saatnya aku untuk memangkas rambutku. 

Aku jadi ilfil! Rambut gondrong gak bikin aku jadi keren dan gahar tapi malah dikira mbak-mbak. Emangnya aku apaan? Hih!

*Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Saya dulu beruntung, di SMA boleh gondrong, bahkan pada mulanya seragam hanya Senin.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.