Tentang jogja (2): Liman – Sate Samirono – Gardena

1 Jun 2020 | Cetusan

Tahun 1990, Papa akhirnya bisa membeli rumah sendiri. Rumah tersebut beralamatkan di Jl Kaswari 24, Kebumen.

Untuk ukuran waktu itu, rumah Papa tergolong modern. Papa memang tak asal bangun. Ia banyak bereksplorasi dengan design rumah dari majalah-majalah real estate yang dibelinya. Untuk memastikan mendapat apa yang dimaui, jasa arsitek pun dipakai Papa! Barangkali karena itu pula maka anggaran pembangunan jadi membengkak dari yang diperkirakan. Untuk menyesuaikan, lantas ada beberapa hal yang harus dibatalkan atau ?dibangun dan ditambahkan belakangan.? Salah satunya adalah lantai.

Dari yang semula akan menggunakan tegel keramik, akhirnya harus ganti rencana. Yang di-keramik hanya ruang tamu saja. Selebihnya menggunakan tegel abu-abu standard yang lantas ditutup karpet. Dan untuk alasan pembelian karpet, lagi-lagi Papa berpikir bahwa membeli karpet di Jogja adalah pilihan terbaik.

Toko Liman

Di satu hari minggu, Papa, Mama, aku dan Chitra yang waktu itu masih berumur lima tahun, pergi ke Jogja. Kami masih belum punya mobil dan untuk menggunakan jasa travel tentu tidak tepat karena karpet yang akan kami beli cukup banyak dan makan tempat.

Papa lalu menyewa mobil, dua sekaligus. 

Satu mobil boks untuk mengangkut karpet dan satu lagi untuk kami gunakan sekeluarga. Tujuan kami adalah Toko Liman yang letaknya di Jl Malioboro. 

Sekitar jam 10 pagi kami sampai di Jogja. Perut keroncongan dituntasi dengan makan pagi di Soto Kadipiro yang letaknya tak jauh dari perempatan WIrobrajan, pintu gerbang Jogja dari arah barat kota.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku makan di situ. Meski tempatnya tak kecil-kecil amat tapi pagi itu orang berjibun untuk makan. Seporsi soto daging plus sate jeroan serta kerupuk dihidangkan di antara riuh orang bercerita dan kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba Papa berceletuk, ?Jarang? jarang banget lho aku mampir ke sini. Paling-paling kalau habis rapat bareng orang-orang audit di Jogja lalu pulangnya mampir ke sini. Kalau sendirian mana bisa? Mana sempat? Kan selalu naik bis atau travel?? 

Dari situ kami menyusuri Jl HOS Cokroaminoto ke arah utara lalu belok kanan ke Jl Kyai Mojo sambung Jl Diponegoro. Dari Tugu, kami berbelok ke Jl Mangkubumi turun ke Kretek Kewek (Papa menyebut sebagai Kretek ?Wewek? yang selalu disambut Mama dengan celetukan, ?Huss! Ra saru-saru lho, Pa??) naik kembali ke Jl Haji Abu Bakar Ali sebelum akhirnya sampai ke Malioboro.

Dengan bersusah payah menembus kemacetan Malioboro, akhirnya kami bisa memarkir kendaraan di dekat Hotel Mutiara yang letaknya hampir berhadap-hadapan dengan Toko Liman. Kali itu aku tak sempat bermain-main dengan pintu otomatis Hotel karena ketika hendak menjalankan niatku itu Papa menghardik, ?Le, ra sah neka-neka! Ra sah mampir! Iki wes meh jam sewelas lho! Mengko selak luwe meneh!?

Masuk ke Toko Liman, aku terpana dengan begitu besar dan luasnya toko itu.

Toko Liman tak hanya jualan karpet tapi juga matras plastik, perkakas plastik hingga kasur busa yang waktu itu mulai jamak dipakai, bertumpuk-tumpuk dipamerkan seadanya tanpa etalase. Mama rupanya sudah menyiapkan ukuran yang dibutuhkan serta warna karpet yang hendak dibeli. Hal itu meringkas waktu cukup banyak. Ia tinggal tunjuk, check harga lalu bayar di kasir. Gulungan-gulungan karpet yang dibeli pun dibawa ke mobil boks. Setelah semua beres, mobil boks jalan duluan kembali ke Kebumen sementara kami berempat tak langsung pulang.

?Ke mana, Pa?? tanyaku.

?Jalan-jalan, Le! Nostalgia? Yo po ra, Yas?? seloroh Papaku girang sambil menengok ke Mama yang duduk di sebelahnya. ?Yas? adalah panggilan mesra Papa untuk Mama yang bernama asli ?Tyas?.

Sate Samirono

Papa dan Mama dulu bertemu jodoh di Jogja.

Papa datang dari Blitar ke Jogja sebagai mahasiswa UPN Veteran jurusan Ekonomi sedangkan Mama adalah mahasiswi IKIP Karang Malang (sekarang UNY) jurusan Tataboga, berasal dari Klaten. Mereka kost berdekatan di daerah Mrican/Samirono Yogyakarta. Maka siang itu, dari Malioboro, kami berencana makan siang di Sate Samirono yang letaknya tak jauh dari ?dapur magma? cinta mereka berdua.

Dari arah Malioboro kami jalan ke selatan, belok ke kiri ke arah Shopping (sekarang Taman Pintar). Di perempatan kami mengarah ke utara melewati Jl Brigjen Katamso dan Jl Mataram yang nggremet lajunya hingga turun kembali ke Kretek ?Wewek? dan naik di sekitaran Kotabaru.

Mentok di Stadion Kridosono kami ke utara melewati Padmanaba lalu Jl Cik Di Tiro. Sampai di Bunderan UGM yang jembar itu kami belok ke kanan melewati Panti Rapih hingga akhirnya sampai di Sate Samirono.

Kami menyantap sate yang disajikan dengan irisan bawang merah dan cabe serta kecap manis. Kami makan kenyang sementara Papa kuperkirakan dua kali lebih kenyang karena selain sate ia juga kenyang menyantap kenangan yang tak kunjung usai diceritakan kepada Mama yang tersipu-sipu di hadapannya.

Dari situ kami ke Mrican ke arah selatan. Hingga habis ke ujung Jalan Gejayan kami belok kiri ke arah timur. Sesampainya di depan Gedung Wanita tiba-tiba mobil berhenti. Semua bertanya-tanya kenapa Papa menghentikan kendaraan di situ. 

?Kan nostalgia hehehe!? begitu katanya.

?Apa yang di-nostalgia-kan di sini, Pa?? tanya Mama.

?Halah? kowe kok wes lali to?

Dulu kan waktu jaman kuliah kalau pulang ke Klaten, kamu selalu minta diantar sampai sini lalu kamu naik kol ke Klaten dan aku balik ke kost ngepit?? Papa menerawang masa sementara kami terdiam.

Lalu tiba-tiba Mama memasukkanku dalam arus pembicaraan. ?Le, kamu tahu itu apa?? ujarnya berbinar sambil menunjuk sebuah bangunan tepat di depan Gedung Wanita.

?Apa itu, Ma??

?Itu sekolah SMA. De Britto namanya. Sekolah Katolik, Isine wong pinter-pinter, antik-antik, mbois-mbois lan gondrong-gondrong!? jelasnya. Aku hanya manggut-manggut antara tak mengerti dan tak tertarik untuk mengerti.

?Sekolah isine lanang kabeh, Le. Suk nek kowe arep sekolah neng Jogja, aluwung sekolah negri wae, Teladan utawa 3B!? Papa menimpali. 

?Halah? nanti dulu! Donny masih kelas satu SMP dan uang kita baru habis-habisan untuk mbangun rumah?. Sekolah Kebumen wae Le, ngancani Mama. Mengko nek kuliah lagi mrene?? balas Mama.

Toko Gardena

Setelah memutar balik, kami menuju ke Toko Gardena di Jalan Solo.?

Tentang penamaan Jalan Solo ini aku sempat bertanya kepada Papa kenapa meski kotanya Jogja tapi kok jalannya adalah jalan solo? ?Ya karena dari sini kalau kamu jalan lurus ke timur, kamu akan sampai ke Solo, Le!? jelas Papa.

Tak lama kami sampai di Gardena.

Untuk ukuran waktu itu, Toko Gardena adalah toko besar yang bandingannya adalah Toko Ramai di Malioboro dan Toko Progo di area Pasar Beringharjo. Di depan toko ada begitu banyak kendaraan roda dua terparkir berebut lahan dengan para penjaja makanan, loper koran dan pedagang kaki lima yang berjualan apa saja. Seingatku waktu itu, Toko Gardena terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk kosmetik dan peralatan rumah tangga. Lantai dua untuk pakaian dan sepatu. Lantai tiga aku lupa tapi sepertinya menjual alat-alat pelajaran sekolah.

Mama siang itu memborong beberapa perkakas rumah tangga untuk rumah baru. Piring-piring nan besar dan leper dibeli menggantikan piring-piring mungil cekung nan arkaik. Sendok dan garpu berukuran lebih besar dan berornamen dibeli untuk meringkus sendok dan garpu standard yang kami pakai selama ini. Beberapa ember, gayung, meja setrika hingga mesin obat nyamuk elektrik pun dibeli seolah apa yang dibeli dan didapat di Jogja adalah yang terbaik adanya.

Barang-barang lantas dimasukkan ke kardus besar lalu ditaruh di bagasi mobil. Menjelang pukul empat sore kami sepakat mengakhiri kunjungan ke Jogja hari itu. Di perempatan Sagan yang tak jauh dari Gardena, sambil menunggu lampu hijau Papa bertanya, ?Le, seneng sing endi kowe? Malioboro opo Gardena lan Jl Solo iki??

Aku menjawab, ?Nek saka gedene ketoke luwih gede kene yo Pa! Tapi kok rasaku luwih seneng Malioboro? luwih urip!?

Dari kaca mobil, kulihat Papa manggut-manggut sambil mengembangkan senyum. Lampu hijau menyala, mobil kembali berjalan kali ini lebih pelan karena ada kemacetan di depan. Di sisi kiri tampak bangunan memanjang. Wujudnya seperti rumah sakit tapi kok kelewatan besar dan panjangnya? Aku bertanya pada Papa, ?Pa? Iki gedung opo??

Papa menjawab, ?Oh kuwi Bethesda, Le. Rumah sakit kristen??

?Gede banget ya??

?Gede? gede banget.? Jawab Papa?.

Pandanganku menyapu ke gedung-gedung dalam kompleks RS Bethesda itu. Tempat di mana dua puluh satu tahun kemudian jadi tempat Papa untuk menghembuskan nafas terakhir kalinya?

Sydney, 1 Juni 2020

*Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

6 Komentar

  1. Kenangan memang tak pernah hangus sebab ia hadir bagai “dapur magma asmara” untuk dikenang atau (sengaja) dilupakan.

    Donny sang superblogger Indonesia buat pilihan yang tepat. Kita pun diajak untuk tersenyum, mungkin pula meneteskan air mata. Namun yang pasti, DV mengajak kita untuk memaknai sejarah kecil yang penuh dengan aroma cinta keluarga.

    So, jo lali karo wong tuamu. Mereka yang dampingi kamu untuk menyusun pazle cinta dalam sejarah hidupmu. Sembah nuwun Gusti. Nuwun bro Donny. Tulisan masih renyah dan seger kayak soto samirono. Salam wewek.

    Balas
  2. Liman? Saya beli karpet plastik di situ. Lemari plastik yang bisa doyong di situ, tapi antar teman.
    Sate Samirono dan Gardena? Tentu. Rumah saya di Kepuh, belakang Toko Elok, Gejayan. Ke warung sate dan Gardena jalan kaki kalo gak ada motor. Kami anak-anak menempati rumah Yogya, ortu di Salatiga.

    Balas
    • Kadang aku mikir kalau Liman itu muncul di Swedia barangkali kita tidak pernah kenal IKEA ya :)
      Walah.. Kepuh! Papa dan Mama dulu kost di situ, Paman! Waaaa….

      Balas
  3. Koreksi sedikit Mas DV, dari shoping center / taman pintas ketimur sampai perempatan terus ke utara, nama jalanya bukan jl. Brigjen Katamso tapi jl. Mayor Suryotomo.
    BD

    Balas
    • maturnuwun koreksinya, Mas :)

      Balas
  4. Cerita tentang Kebumen Ra ana Don

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.