Tentang Jogja (17): Ikut Ilmu Beladiri Shorinji Kempo

27 Apr 2021 | Cetusan

Sebulan setelah luka khitanku kering, pada minggu yang sama saat Irak menyerang Kuwait sebagai penanda awal Perang Teluk 1991, Papa menyarankanku ikut kegiatan seni beladiri. Menurutnya, sebagai cowok, aku terlalu penakut. Ikut beladiri adalah cara instan untuk membuatku jadi pemberani. 

Berhasil?
Sayangnya tidak!
Aku tetap saja jadi seorang penakut yang berlindung di balik seragam beladiri yang kukenakan.

Ilmu beladiri
Ilmu Beladiri (ilustrasi)

Beladiri Shorinji Kempo

Karena Papa sangat mengagumi Advent Bangun, bintang film laga yang juga seorang karateka, akupun dimintanya ikut Karate. Tapi karena aku lebih mengagumi Barry Prima yang juga adalah atlet Taekwondo, sudah barang tentu aku pengennya ikut Taekwondo.

Ketidaksepakatan itu membuat kami mengambil jalan tengah.

Bukan Karate bukan Taekwondo.
Shorinji Kempo!

Aku cukup serius dalam mengikuti Shorinji Kempo. Sebagai seorang kenshi (murid) aku berlatih dua kali dalam seminggu di Dojo ‘Bhayangkara’ yang terletak di aula asrama polisi di Jl Sarbini, Kebumen. Selalu rajin ikut ujian naik tingkat setidaknya 6-12 bulan sekali, alhasil dalam waktu kurang lebih dua tahun setengah aku sudah memegang sabuk biru, Kyu II.

Oh ya, saking seriusnya menjadi kenshi, aku juga pernah hampir dikirim ke Pekan Olahraga Daerah (Porda) Tingkat Propinsi Jawa Tengah dalam nomer embu beregu kelompok umur. Sayang di menit-menit akhir aku mengundurkan diri karena di saat yang sama, Guru Kesenianku di SMP, Ibu HS. Marnani, memintaku untuk ikut lomba nyanyi tingkat propinsi juga. Aku lupa apa yang kupikirkan hingga aku berkeputusan demikian, mungkin karena bosan dengan bayangan menjadi sosok Barry Prima aku lantas memilih jadi Broery Pesoelima saja!

Kempo di De Britto

Pindah ke Jogja, aku tak pernah menyangka bahwa di SMA Kolese De Britto ternyata ada juga kegiatan ekstrakurikuler Shorinji Kempo! Kenyataan ini membuat mood-ku berstudi di sekolah itu, yang semula hancur lebur, jadi naik pelan-pelan.

Di hari pertama kegiatan ekstra kurikuler Shorinji Kempo diadakan, aku berangkat bersama Yudith, kawan dekatku satu asrama yang ternyata juga sama-sama kenshi. Dia satu tingkat di bawahku, memegang sabuk hijau alias Kyu III.

Kami sebenarnya tidak langsung diminta membawa seragam / dogi, tapi karena aku dan Yudith memang sudah membawa sejak pindah ke Jogja ya kami bawa saja.

Pelatih Kempo di Dojo De Britto waktu itu adalah seorang pemegang sabuk hitam I DAN yang sayangnya aku lupa namanya. Pawakannya tidak terlalu tinggi, berotot sedang dan dari logatnya sepertinya ia adalah seorang mahasiswa dari Sumatera. 

Kegiatan ekstra kurikuler Shorinji Kempo Dojo De Britto diadakan di ruang koran.

Hari Pertama

Aku dan Yudith awalnya sama seperti anggota yang lain diminta duduk di lantai menunggu nama didaftar satu per satu. Tapi tak mau lama menunggu, aku dan Yudith kemudian berdiri mendekat dan memberi hormat pada Sempai.

Si Sempai agak kaget rupanya karena aku memberi hormat khas Kempo. Dia pun  bertanya, “Kalian sudah ikut Kempo sebelumnya?”

“Ossh! Sudah, Sempai!” Kami menjawab.

Sabuk apa?
Kyu II. 
Judith menjawab, Kyu III.

Lagi-lagi, Si Sempai agak kaget sepertinya.
Kalian bawa dogi?

“Ossh! Bawa, Sempai!”

“OK! Kalau gitu dipakai sekarang saja…”

Aku dan Yudith lantas berlari kecil menuju kamar kecil untuk berganti baju dan kembali ke ruang koran dengan mengenakan dogi. Mata para calon anggota ekstra kurikuler Kempo, juga mata siswa-siswa lain yang bersliweran sore itu tertuju kepada kami. Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka tapi barangkali mereka kaget juga ada dua anak ingusan kelas 1 kok sudah sabuk berwarna, hijau dan biru pula!

Sebelum acara latihan dimulai, di depan para anggota lain, Si Sempai meminta kami untuk mempraktekkan sebuah jurus berpasangan. Sepertinya ia ingin menguji keabsahan sabuk yang kami pegang, benar atau bohong belaka.

“Coba kalian praktekkan Tenchiken Dai Ikkei!”

Aku dan Yudith segera melakukan gamae, lalu mempraktekkannya. Ketika tuntas, tertuntasilah juga ketidakyakinan Si Sempai terhadap kami.

Sejak saat itu, aku dan Yudith begitu aktif di Kempo De Britto. Kami akrab dipanggil Sempai Donny dan Sempai Yudith meski sesekali waktu saat Sempai ‘utama’ tidak ada di situ, mereka tetap aja cuek memanggilku Donny

Entah, mungkin supaya lebih akrab karena toh kami adalah kawan satu sekolah atau karena sejatinya mereka tahu bahwa aku adalah seorang penakut yang hanya tampak gahar dibalik baju seragam dan sabuk yang kukenakan.

*Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Salam persaudaraan sempai

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.