TENTANG JOGJA (14): Iwak Asu

12 Agu 2020 | Cetusan

Setelah akhirnya mulai bisa bergaul dengan kawan-kawan di Wisma, ada banyak hal yang kupelajari dari mereka sebagai pengalaman baru. Salah satunya adalah tentang makan daging anjing. Seumur hidup aku belum pernah menyantapnya hingga akhirnya suatu malam selepas jam belajar seorang kakak kelas mendatangi kamarku, sebutlah AR, namanya.

Ia mengetuk pintu dan bilang, ?Hey Don, mau ikut urunan beli makan gak??

Karena aku sudah makin ingin masuk dalam pergaulan demi menghindari/mengurangi bully, aku pun meng-iya-kan saja.

?Berapa?? tanyaku.

B1

?Dua ribu lima ratus udah termasuk nasi dan es teh!? Untuk harga segitu pada tahun 1993 sudah cukup mahal! Sebagai perbandingan, kalau kalian ingat tulisanku di sini, harga makanan rumahan bahkan bisa kudapat seharga di bawah lima ratus perak. Harga seporsi pecel lele plus nasi dan teh panas waktu itu sekitar 1100 perak, makan nasi plus sayur plus telur dadar plus ayam goreng di warung lesehan depan kantor DPU sekitar 800 perak. Makanan apa seharga 2500??

Tapi aku toh nurut saja sambil mengangsurkan sejumlah uang yang diminta.

Sekitar 45 menit kemudian, menjelang jam 10 malam, AR datang kembali ke kamarku. ?Makanannya udah datang, ayo ngumpul makan bareng di kamar Rico!? Yericho adalah kakak kelasku yang lainnya. Waktu datang ke kamar Rico, ada banyak kawan berkumpul di sana termasuk SLK yang hampir memukulku waktu itu, tentu kami bersikap saling dingin satu sama lain.

Bungkusan kubuka dan kulihat ada daging dipotong dadu bersalut bumbu. Dari penampakannya tampak sangat pedas. Aku tak sempat bertanya melainkan langsung melahap. 

Duh! Jangan tanya rasanya! Wow! Menggelegar pedasnya, bumbu yang kaya rasa dan daging yang berserat menyatu dengan nasi panas yang kulahap. Saking pedasnya keringat pun mengucur deras. Setelah makan aku lantas bertanya pada AR, ?Ini daging apa kok enak sekali??

Dia tertawa, ?Kamu belum pernah nyoba ya? Itu namanya Saksang B1!?

?Saksang? B1??

?Saksang itu masakan Batak.?

?B1??

?B1 itu anjing.?

?Heh??

?Iya, daging anjing! Enak, kan? Hahahha??

Iwak Asu

Sejak saat itu, sejak malam itu kecintaanku makan daging anjing dimulai.

Pada malam-malam berikutnya, meski tentu tak setiap malam, kami menyantap tak hanya saksang B1 tapi terkadang juga rica-rica B1 ala Manado/Kawanua hingga olahan daging anjing ala Jawa alias sengsu.

Saksang B1 bisa kami dapatkan di Rumah Makan Tapian Nauli Condongcatur milik Bang Ucok (alm) yang ketika malam hari juga membuka lesehan di Malioboro. Masakan rica-rica Manado bisa kami dapatkan di Rumah Makan Kawanua, Jl Flamboyan Yogyakarta. Sedangkan untuk sajian tongseng aku mendapatkannya di warung emperan depan Perdana Billiard seberang Bioskop Mataram Yogyakarta.

Setelah punya kendaraan sepeda motor saat duduk di kelas tiga, aku bersama kawan-kawan bereksplorasi ke tempat-tempat lain mulai dari warung saksang pinggir jalan di muka RS Bethesda, depan hotel Phoenix Jl A Yani Yogyakarta dan sajian yang menurutku cukup istimewa karena hadir dalam olahan goreng tepung (kami menyebutnya sebagai SGT, Snoopy Goreng Tepung) di sekitar Pasar Pathuk Yogyakarta.

Hobi makan daging anjing tak berhenti di Jogja. Meski tak berhasil menemukan warung serupa di Kebumen, tapi di Klaten dulu ada setidaknya dua tempat yang menjajakan masakan daging anjing dalam olahan tongseng yaitu di seberang Toko Roti Harum dan di dekat perempatan pasar – Jl Garuda yang dekat dari rumah dan penjualnya pun aku kenal baik karena kami akrab sejak kecil!

Saking seringnya makan daging anjing, Eyang Putri, aku memanggilnya Ibuk, pernah menegurku begini, ?Don, kowe ki kok mangan asu terus.. mengko emosimu dadi tinggi koyo asu lho!? Aku hanya tersenyum saja sambil lalu. Pernah juga salah satu mantan pacarku dulu juga bilang, ?Kamu sering banget makan daging anjing? jangan sering-sering lah!? Tapi karena statusnya ?cuma? pacar, ya kubalas saja, ?Ya hidup sendiri kadang udah asu-asunan makanya perlu asu banyak-banyak hahaha!?

Hobi makan daging anjing sempat menjarang ketika aku berpacaran dengan mantan yang memang benar-benar tidak suka aku makan daging anjing entah karena alasan agamanya tidak mengijinkan (beberapa kali aku sempat pacaran beda agama) atau karena alasan lainnya. Tapi itupun biasanya hanya di awal-awal saja karena sesudahnya aku diam-diam makan daging anjing juga!

Pluto

Hingga ada satu kejadian yang pada akhirnya membuatku berhenti total makan daging anjing.? Di tahun 2002, Chitra, adikku yang waktu itu duduk di bangku kelas 2 SMA, diberi anak anjing untuk dipelihara oleh teman dekatnya. Anakan teckel dengan campuran yang antah-berantah. Kami memberinya nama Pluto.

Adapun keluargaku dulunya sama sekali asing dengan memelihara anjing tapi sejak Pluto datang, kami jatuh cinta kepadanya. Mama dan Papa serta Chitra sering berebut untuk memangku dan memanjakan serta bermain-main dengan Pluto. Aku yang biasanya hanya pulang setiap akhir pekan pernah di satu masa karena saking inginnya main bersama Pluto lantas beberapa kali pulang di tengah minggu.

Pengalaman mencintai dan dicintai oleh Pluto membuatku lantas memutuskan untuk tidak lagi makan daging anjing. Aku tak tega kalau harus makan daging hewan yang amat kucintai. Alasan ini sempat disanggah beberapa kawan yang biasa kerap kuajak makan daging anjing. Menurut mereka, aku sangat tak adil dan subyektif karena bagaimana dengan ayam yang dipelihara orang? Bukankah mereka juga masih makan ayam goreng kremes? Bagaimana dengan pemelihara kambing, bukankah mereka juga masih doyan sate kambing? Atau seseorang yang memelihara ikan toh bukan berarti lantas tak doyan disuguhi ikan bakar?

Tapi aku teguh melangkah, tak lagi mau menyantap daging anjing! Dalam tahun-tahun berikutnya kecintaanku pada anjing (bukan daging anjing) makin tinggi hingga kini. 

Ada sedikit? sangat sedikit hal yang kusesali dalam hidup dan makan daging anjing adalah satu dari antaranya. Menuliskan hal ini dan mengakui penyesalanku kepada kalian adalah caraku untuk mengurangi beban penyesalan itu sendiri?

Sydney, 12 Agustus 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.