TENTANG JOGJA (13): MUDIK (JOGJA – KEBUMEN)

8 Jul 2020 | Cetusan

Sejak pindah ke Jogja pada 1993 hingga keluar tahun 2008, hampir setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku. Sebelum 1998, aku pulang ke Kebumen karena kedua orang tua dan adikku tinggal di sana. Setelahnya, aku pulang ke Klaten karena sejak 1998, Papa, Mama dan Chitra pindah ke kota kelahiranku tersebut.

Namun demikian pada rentang tahun 1996-1998 dan 1999-2000, bisa dibilang aku hanya pulang sebulan bahkan dua bulan sekali. Pada rentang-rentang itu aku punya pacar yang tinggal satu kota sehingga akhir pekan kumanfaatkan untuk pacaran. Rentang waktu selain itu? Aku pacaran tapi luar kota bahkan luar negeri, jadi kalau malam minggu nggak pulang justru akan menimbulkan pertanyaan mbak pacar, ?Kamu malam minggu kok nggak pulang? Ngapain di Jogja?!? Nah, repot kan? Hahaha!

Di awal-awal sekolah, bagaimana perjalanan bolak-balik Jogja – Kebumen – Jogja adalah seperti yang kuceritakan di bawah ini.

TIDAK MENGGUNAKAN TRAVEL

Sejak awal, aku tak lagi menggunakan jasa travel ketika pulang dari Jogja ke Kebumen. Alasan terkuatnya adalah karena untuk sore hari, jadwal travel Jogja – Kebumen adalah jam 3:30 sore. Kalau lalu lintas lancar, sampai di rumah jam 5:30. Aku rugi waktu untuk bersama keluarga, kan?

BUS KOTA JALUR 7

photo:KITLV

Jadi aku memutuskan untuk naik bus antar kota antar propinsi yang bisa kutumpangi kapan saja dari Terminal Bus Umbulharjo Yogyakarta. Waktu itu, di SMA Kolese De Britto, kegiatan belajar-mengajar di hari sabtu diakhiri pada sekitar jam 11:30 WIB. Biasanya aku tak pulang dulu ke Wisma. Dari sekolah, masih berseragam, aku naik bus kota jalur 7 dari depan sebuah rumah di sebelah barat Museum Affandi yang dijadikan halte.

Bus jalur 7 melaju ke arah timur, belok ke selatan di pertigaan Janti. Melewati Blok-O, belok ke arah barat ke Gedong Kuning lurus ke selatan hingga Jl Kusumanegara melewati Kebun Binatang Gembira Loka belok ke arah selatan di Jl Veteran mentok hingga ke Warung Boto, Gambiran lalu memutar masuk ke Terminal Umbulharjo, Yogyakarta.

Perjalanan itu biasanya kutempuh dalam waktu 45 menit. Turun di terminal bus kota yang letaknya bersebelahan dengan terminal bus antar kota antar propinsi, ada hal yang selalu tak pernah lupa untuk kulakukan, mengenakan jaket.

JAKET, STENSILAN, PENGAMEN DAN HARGA TIKET

Kenapa?

Mengenakan seragam SMA itu menurutku berbahaya karena beberapa kali aku kerap kena todong penjual buku stensilan yang memaksaku untuk membeli dagangannya. Bukannya aku sok suci sehingga menolak membaca stensilan, tapi aku sejak awal memang tak suka dipaksa. Lagipula mereka biasa memaksa untuk membeli dengan harga tinggi, Rp 4.500,00 sementara di luaran aku bisa mendapatkannya dengan harga Rp 1.500,00? saja! (Loh, aku kok hapal sih hahaha)

Nah, mengenakan jaket membuat peluang untuk ditodong jadi kecil karena raut wajahku cukup boros jadi mereka barangkali tak mengira aku adalah anak SMA hahaha!

Aku biasa naik bus jurusan Purwokerto ataupun Cilacap untuk perjalanan menuju Kebumen. Waktu itu belum begitu banyak bus patas. Kalaupun ada, mereka tak mau menurunkan penumpang di Kebumen karena mereka tak lewat Terminal Kebumen melainkan belok ke arah ringroad selatan yang jaraknya beberapa kilometer sebelum terminal.

Bus yang kutumpangi mengikuti rute Jl Kol. Sugiyono menuju ke Jl MT Haryono lalu belok ke arah utara ke Jl Bugisan dan setelah mencapai perempatan WIrobrajan lalu belok ke arah barat ke Jl Yogya – Wates hingga sampai di Kebumen.

Selama dari terminal hingga lepas perempatan Wirobrajan, jaket selalu kukenakan. Todong-menodong penjual buku stensilan hanya terjadi di dalam terminal saja. Namun demikian, sepanjang jalan di dalam kota tersebut, para pengamen bergiliran masuk untuk bernyanyi dan meminta uang. Kalau aku tak mengenakan jaket, ketika menolak untuk memberi uang, biasanya mereka akan sedikit memaksa karena lagi-lagi tahu aku anak SMA. Tapi kalau pakai jaket, mereka akan berlalu begitu saja.

Selepas Wirobrajan, jaket buru-buru kulepas karena saat itu biasanya pak kondektur akan mulai menarik tarip dari para penumpang. Dengan mengenakan kemeja seragam SMA, aku cukup membayar ongkos 1800 saja (kadang-kadang 1600 perak!) padahal harga tiket Jogja – Kebumen waktu itu sekitar 2200!

Rute paling membosankan bagiku adalah dari Jogja ke Kulon Progo. Jalannya sempit dan bus melaju tidak terlalu kencang. Aku biasanya memilih tidur.

Aku terbangun di sektiar perbatasan DIY – Jawa Tengah dan mood-ku biasanya terbangun luar biasa indahnya karena melewati perbatasan seperti meninggalkan Jogja dengan segala aksi bully yang kudapat di Wisma, menuju ke Jawa Tengah, tempat dimana orang tua dan adikku berada :) (Hal ini berlaku sebaliknya saat aku akhirnya punya pacar satu kota. Meninggalkan Jogja membuatku ingin cepat-cepat kembali ke sana hahaha?)

MEGA

Sampai Kebumen, biasanya waktu sudah menunjuk pukul 15:00 WIB. Turun di terminal bus Kebumen, aku tak langsung pulang. Menyeberang ke warung Mie Ayam Manshur yang letaknya tepat di depan terminal. Warung Mie Ayam Manshur adalah langgananku sejak awal masuk SMP. Setelah habis semangkok dan merokok barang sebatang atau dua, aku lantas pulang jalan kaki dari arah Terminal yang letaknya di Jl A. Yani Kebumen ke rumahku di Jl Kaswari No. 24 Kebumen.

Sesampainya di rumah, Mama biasanya sedang tidur siang bareng Chitra sementara Papa masih ngantor.

Aku langsung masuk ke kamar, menyerahkan cucian ke pembantu rumah tangga lalu nonton siaran parabola di layar televisi.

Papa pulang kantor jam 3:30 atau kadang jam 4 sore dan di minggu-minggu tertentu, Mas Kokok (Om Y. Widyatmaka, adik bungsu Mama) yang waktu itu kuliah di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, datang untuk menginap pula semalam.

Kalau sudah begitu biasanya suasana jadi seru. Hilang sudah bayangan dibully selama di Jogja tergantikan dengan begitu banyak cerita yang kami tukar satu-sama lain ditingkahi penganan, teh panas manis serta kepulan asap rokok (Waktu itu hanya Chitra dan pembantu rumah tangga yang tidak merokok karena aku, Papa, Mama dan Mas Kokok semua adalah perokok berat).

Menjelang jam enam sore, jika tidak malas, biasanya aku pergi ke Gereja bersama Mama, Chitra dan Mas Kokok. Papa tinggal di rumah karena waktu itu beliau belum masuk Katolik.

Sepulang dari Gereja, kami biasanya beli makanan di luar entah itu nasi goreng babat semarang depan toko ABC, Jl Pemuda Kebumen atau Mie goreng Ratman Muda yang letaknya juga ada di Jl Pemuda. Tapi kadang kami beli sate ayam madura atau soto sulung.

Sampai di rumah, biasanya kawan-kawan Papa berdatangan. Mereka adalah teman yang dikenal dari dunia radio amatir. (Papa, Mama dan aku dulu sangat aktif dalam dunia radio amatir atau yang dulu dikenal dengan istilah ?nge-break?)

Mereka bisa datang berempat tapi makin malam jadi berdelapan atau bahkan 12! Roti bakar bandung dan kacang kulit garing atau rebus menjadi kudapan beradu bersama berbotol-botol bir. Kongkow-kongkow sambil berkaraoke atau nonton pertandingan sepakbola di televisi pokoknya seru-seruan hingga menjelang tengah malam. Beberapa dari mereka yang masih kuingat nama-namanya hingga sekarang adalah Pak Leo (seorang polisi, aku sering bertanya-tanya tentang pistol darinya.), Mas Boni, Hengky, Billy, Mbak Mia?

Biasanya aku hanya ikut ngobrol pada 1-2 jam pertama. Sekitar jam 9 malam aku mengendap masuk kamar dan? telpon gebetan! :)) Aku tak perlu bercerita apa yang kami bicarakan, bukan? 

Telepon biasanya kami sudahi sekitar jam 10 malam karena mbak gebetan terkena jam malam oleh orang tuanya :) Selebihnya aku mendengarkan radio sambil membaca majalah hingga larut. Sesekali aku keluar kamar kalau aku ingin ikut mengudap makanan atau mengambil sebotol bir dan kehabisan rokok. Dari jam 11 hingga jam 1 malam di radio Bimasakti 774 AM Kebumen (anjrittt gue masih hapal!) diadakan acara untuk kirim-kiriman lagu dan biasanya aku berpartisipasi dalam acara tersebut. Banyak penyiar radio Bimasakti yang kukenal waktu itu dan dari kata ?Halo? yang kuucapkan, biasanya mereka sudah langsung mengenal, ?Halo, Mega!?

Hah? Mega? :)
Ya! Mega adalah nama ?udara? ku saat nge-break dulu! Aku menggunakan kata Mega karena menurut banyak orang, suaraku waktu itu lebih mirip cewek daripada cowok :)?

MINGGU PAGI YANG MALAS

Aku tidur jam 1 malam lalu bangun pagi sekitar jam 9 pagi.

Ketika keluar kamar biasanya ruang tengah sudah bersih dari acara seru-seruan malam sebelumnya. Papa, Mama dan Mas Kokok biasanya masih tidur sementara Chitra sedang sarapan disuapin pembantu rumah tangga.

Menjelang jam 10 aku segera telpon ke travel untuk memesan tempat menuju ke Jogja pada sore harinya.

Untuk pulang ke Jogja pada minggu sore aku tak menggunakan Bumen Jaya karena jadwal paling sore mereka untuk trayek tujuan Kebumen – Jogja adalah jam 14:30! Bagiku itu terlalu pagi karena aku ingin lebih lama di Kebumen!

Maka sejak pertama, untuk pulang ke Jogja, aku menggunakan Travel Rajawali karena trayek terakhir mereka ke Jogja adalah jam 4:30 sore. Kantornya berada di dekat bioskop Star yang letaknya bersebelahan dengan Terminal Kebumen di Jl. A. Yani. Kebetulan anak pemilik Travel Rajawali adalah kawan se-SMAku, Andre.

Setelah memesan travel aku biasanya nonton tv bersama Mama, Papa, Mas Kokok yang baru saja bangun dan Chitra, adikku. Mama turun ke dapur untuk menyiapkan makan siang lalu setelah menyantap bersama, Mas Kokok biasanya lebih dulu pulang ke Purwokerto sekitar jam 1 naik bus dari Terminal.

Mood-ku di saat itu biasanya sudah hancur berantakan. Mas Kokok pulang, rumah jadi lebih sepi dan? tak lama lagi aku juga harus kembali ke Jogja! Tak jarang aku biasanya ngelendot ke Mama dan menyatakan kembali berulang-ulang betapa aku malas sekali kembali ke Jogja.

Mama tahu betul perasaanku. Ia biasanya mengusap-usap rambutku dan membesarkan hatiku.

PULANG KE JOGJA

Menjelang jam 4 sore biasanya aku sudah siap-siap mandi lalu menunggu travel datang. Papa dan Mama tak henti-hentinya membesarkan hatiku dan salah satu hal yang Mama pakai untuk membesarkan hatiku adalah karena di dalam travel nanti biasanya aku bertemu dengan SS, seorang perempuan, kawan dari TK dan SD yang entah kenapa Mama suka betul kepadanya.

Menurutku, Mama dulu berharap betul aku ?jadian? dengan SS padahal aku tak ada hati sama sekali dengannya hahaha. SS sebetulnya adalah pribadi yang menarik! Sama sepertiku, olah orangtuanya, SS dikirim untuk bersekolah di Jogja. SS sekolah di Stella Duce 1, sekolah khusus cewek yang kerap jadi pasangan untuk SMA Kolese De Britto yang cowok semua.?

Tapi harus kuakui, meski aku tak pernah menaruh hati kepadanya, peran SS yang tak pernah berhenti mengajak bicara sepanjang perjalanan Kebumen – Jogja cukup membantu membalut mood-ku yang sedang hancur-hancurnya, ngobrol dengannya adalah hal yang menyenangkan. Kami banyak bercerita tentang pengalaman selama di sekolah masing-masing dan banyak hal. SS orang yang sangat lembut kepribadiaannya, ceria dan secara fisik menarik. Ia tak hanya jago bicara dan menjaga tema untuk tetap hangat dibicarakan tapi juga seorang pendengar yang baik.

Ia dulu kost di belakang Duta Foto Yogyakarta dan biasanya travel mengantarnya lebih dulu sebelumku. Kadang dia menawariku untuk mampir tapi aku selalu menolak dengan alasan harus ikut jam belajar (tapi boong!).

Tak lama setelah lulus SMA, SS menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat yang dikenalnya melalui program sahabat pena. Beberapa kali SS sering menceritakan tentang program tersebut di atas travel. Kini SS tinggal di Amerika Serikat bersama keluarganya.

Setelah SS turun, penumpang berikut yang diantar adalah aku.

Meski Mama selalu berpesan kepada pak sopir untukku diturunkan di depan asrama, tapi terkadang aku minta sopir untuk turun di warung lesehan depan Kantor Pekerjaan Umum untuk makan sambil menunggu selesai jam belajar.

Di sana aku nongkrong hingga larut. Dari yang semula untuk menunggu jam belajar usai tapi karena membayangkan suasana wisma yang ramai dan rawan untukku ditelanjangi, biasanya aku tetap ada di situ hingga menjelang jam 10 malam saat pintu gerbang Wisma ditutup menandai berlakunya jam istirahat malam. 

Aku jalan kaki menuju ke Wisma, masuk mengendap lewat pintu gerbang lalu langsung menuju ke kamar. Tak lama kemudian tidur. Mood booster-ku untuk minggu malam yang rapuh adalah karena keesokan harinya aku akan pergi ke rumah eyang di Klaten dan bermalam di sana dua-tingga hari lamanya! Begitu terus-menerus caraku untuk membunuh waktu di masa awal-awal tinggal di Jogja?

Sydney, 8 Juli 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. OOT:
    Dari para “breaker” pula muncul istilah kopi (coou) darat alias kopdar. Lalu pada awal 2000-an para aktivis milis dan bloggers pakai kata itu ?

    Balas
    • Hahahah iya… waktu pertama dengar istilah kopdar itu mengingatkanku pada dunia break-breakan :) Dulu saking seringnya ngebreak, pernah lho aku beli roti di toko trus bilang, “Mau beli roti pisang dua belas tolong diplastikin, ganti” wakakaka.. ngakak dewe aku

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.