Tentang Jogja (12) : Titik balik

22 Jun 2020 | Cetusan

Satu hal penting dalam hidup dan kupercaya sebagai sesuatu yang benar adalah, ketika kita mengharapkan perubahan, kitalah yang harus memperjuangkan dan mengusahakan perubahan itu.  Dua puluh tujuh tahun silam aku belajar tentang hal ini melalui ?jalur keras.?

SLK

Seperti yang kutulis sebelumnya, strategi untuk membagi waktu antara Klaten dan Jogja tidak lantas membuatku berhenti dibully. Faktor pengurangannya berbanding lurus dengan faktor penambahanku untuk tinggal di Klaten. Artinya makin sering tinggal di Klaten, makin berkurang dibully. Makin sering tinggal di Wisma? Ya makin kerap dibully!

Suatu sore, saat sedang minum teh dan ngerokok di kantin Wisma, seorang kakak kelas beda setahun, anggap saja bernama SLK, datang menghampiri.

SLK berasal dari Jakarta.?
Orangnya berkulit gelap, berambut panjang dan berpawakan kurus tapi berotot. Ia gape main gitar dan kerap kulihatnya bermain dikelilingi anak-anak lain sambil bernyanyi-nyanyi menghabiskan waktu baik itu petang ataupun malam setelah jam belajar. Ia kadang ikut menelanjangiku tapi tak sesering kawan-kawan lainnya.

?Don?? sapanya.
Aku kaget tak menyangka akan disapa. ?Oh? halo?.? jawabku kaku.

?Bole pinjem kaset loe nggak?? SLK duduk di depanku.

?Bo?boleh? Kaset yang mana?? tanyaku.

Use Your Illusion

Rupanya, saat aku sedang ke Klaten, SLK datang ke kamar, ngobrol dengan Heribertus dan di sela-sela ngobrolnya itu, SLK melihat koleksi kasetku yang meski tak seberapa banyak tapi membuatnya tertarik untuk meminjam.

?Yang Guns N Roses dong. Gw punya yang orange tapi gak punya yang biru?? Guns N Roses, band rock Amerika kenamaan waktu itu sedang hot-hotnya setelah mengeluarkan album ganda Use Your Illusions. Kaset dengan cover art dominan warna orange adalah Use Your Illusion I dan yang warna biru adalah Use Your Illusion II.

Tak lama sesudahnya aku segera mengambil kaset yang dimaksud lalu mengantarnya ke kamar SLK.

?Thanks, Don. Seminggu gue balikin ya!? jawabnya. Aku mengangguk mengiyakan.

Tak lama berselang, ketika sedang sendirian tiba-tiba aku punya pikiran yang aneh. ?Eh, gimana kalau ternyata setelah seminggu kasetku nggak dikembalikan ya? Gimana kalau lantas kaset itu dijadikan hak miliknya??

Malam harinya, setelah jam belajar aku pergi ke kamar SLK. Tak kutemui ia di sana, aku naik ke lantai atas ke kamar kawan dekatnya.

Dengan wajah datar, aku mendatangi SLK yang sedang duduk-duduk dan main gitar. ?Boleh kuminta lagi kasetku?? 

Wajah SLK tampak seperti agak kebingungan, ?Oh? Boleh dong? Ada di kamar?. Tapi boleh nggak kupinjam seminggu? Baru gue puter sekali nih..? Ia mencoba tersenyum.

Aku seperti tak memberi ruang baginya, tekadku sudah bulat, ?Sekarang, please??

SLK berdiri. Ketika hendak keluar dari kamar untuk mengambil kaset, aku mengimbuhi, ?Sorry tapi aku gak mau kasetku hilang? Aku nggak mau nanti ada yang mengaku-aku sebagai seolah-olah yang punya kaset!?

Bogem mentah

SLK naik pitam. Matanya melotot ke arahku.

Aku didorong keluar dari kamar kawannya. Leherku dicengkeram dengan tangan kiri sementara tangan kanan terkepal diarahkan ke pipiku, ?Emang loe pikir gw maling? Anjing!? Suaranya keras menggema membuat seisi asrama terdiam lantas menyisakan wajah-wajah yang menatapku dengan hampa.

Aku minta ampun saat itu dan dia pun melepaskan cengkeramannya. Aku terhindar dari bogem mentahnya. Segera ia berlari ke kamarnya mengambil kaset dan melemparkannya kepadaku. ?Makan tuh kaset loe!?

Dengan gemetar aku kembali ke kamar dan malam itu aku menangis hampir semalam-malaman.

Tangisku bukan karena ketakutan tapi karena aku sadar itu semua terjadi karena salahku! Aku membayangkan kalau aku adalah Si SLK, barangkali aku sudah akan meluncurkan bogem mentah itu, tak hanya sekali bahkan berulang kali.  Siapa yang suka dituduh maling? Dan kenapa aku menuduhnya demikian?

Perubahan

Hari-hari berikutnya begitu mencekam bagiku.

Ada perubahan besar yang terjadi dari sikap dan perilaku kakak-kakak kelasku terhadapku.

Mereka tak lagi datang untuk menelanjangiku seperti malam-malam sebelumnya, tapi di sisi lain mereka juga berhenti menyapaku sama sekali. Padahal sebelumnya, meski kerap ditelanjangi tapi sejatinya mereka selalu menyapaku dengan hangat. 

Mereka tak menegur, tak mengajakku untuk bergabung dalam obrolan. Tatapan mereka dingin saat melihatku. Saat berpapasan, mereka menjauh. Ada yang melotot ke arahku, ada pula yang berbisik-bisik dengan kawannya yang kuyakin sedang membicarakanku.

Aku lantas melakukan intorspeksi diri.

Ngobrol dengan banyak kawan termasuk Joedith dan kawan-kawan lain yang kuanggap dekat. Dari situ aku akhirnya tahu bahwa cara bergaulku lah yang kurang benar!

Selama itu aku terlalu menarik diri untuk mau bergaul dan mengenal kawan-kawan dengan baik dan dekat.  Padahal sebagai anak baru, akulah yang harus memperkenalkan diri dan membaur untuk lebih mengenal mereka supaya mereka pun mengenalku. Tapi yang ada, ketika yang kutemui adalah sesuatu yang tak kusukai, tanpa kompromi aku lantas balik badan dan memunggungi. 

Ketika yang kutemui adalah sesuatu yang tak kusukai, aku lantas lari dan tak mau lagi mendekat.  Hal ini membuat mereka penasaran dan melakukan segala cara termasuk menelanjangi dan mengolok-olok supaya aku bisa akhirnya mau bergabung dengan mereka. Ketika aku merasa diserang atau sedang tak aman, aku memasang tembok pertahanan tinggi-tinggi supaya mereka tak mampu menyerang dan menjatuhkanku. Ketika aku berhasil membangun lantas melongok dari balik tembok, kusadari mereka menghilang karena tak ada yang mau berkawan denganku.

Sejak saat itu, sedikit demi sedikit aku mulai berubah.

Tak mudah karena aku kerap disindir tentang apa yang terjadi malam itu dengan SLK. Sering juga aku mengalami diolok-olok dan ditelanjangi tapi aku akhirnya malah mensyukuri hal itu sebagai tanda bahwa mereka mulai kembali menerimaku.

Aku mulai mau diajak jalan-jalan bareng, makan diluar bareng bahkan bolos jam belajar bareng-bareng. Tak jarang sepulang sekolah hingga menjelang petang aku dan kawan-kawan berkumpul sambil main gitar dan bernyanyi. Mereka akhirnya tahu aku cukup lumayan main gitar dan bernyanyi dengan wawasan musik yang lumayan luas untuk ukuran anak seusiaku.

Dari situ aku belajar, seperti yang kutulis di paragraf awal, bahwa ketika menghendaki sesuatu berubah, kitalah yang harus ikut andil dalam perubahan itu dan tak hanya diam menunggu!

Hingga SLK lulus dua tahun sesudahnya, aku tak pernah bisa berhubungan baik lagi dengannya. Aku berusaha menawarkan maaf kepadanya tapi hanya dibalas dengan senyum yang kaku. Aku bisa mengerti betul perasaannya itu.?

Sudah lebih dari 25 tahun aku tak lagi bertemu dengan SLK. Jika Tuhan memberikan kesempatan untuk kami bertemu, sudah barang tentu aku akan kembali menyodorkan tanganku serendah-rendahnya di hadapannya untuk meminta maaf atas kelancangan yang pernah kubuat di masa itu. Sorry, Jep!

Sydney, 22 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Semoga SLK membaca “TENTANG JOGJA (12) : TITIK BALIK”

    Memang benar kesimpulan bruh Donny. Kotoran, sampah, dan semacamnya memang mesti “diolah” agar menemukan “suluh” di dalamnya.

    #membalik.titik.balik

    Balas
    • Nuwunnn…masku…

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.