Tentang Jogja (11): Solusi Klaten – Jogja

16 Jun 2020 | Cetusan

Sore itu, seperti yang kurencanakan, setelah pulang dari mengikuti perayaan ekaristi, aku pergi ke warung telekomunikasi (wartel). Jalan kaki dari Wisma Ampel 2 ke Hotel Puri Artha di Jl Cendrawasih, Demangan Baru tempat wartel berada. 

Sebenarnya ada sih yang lebih dekat jaraknya dari Wisma, tapi sore itu aku sengaja memilih yang jauh karena aku memang sedang benar-benar tidak ingin berada di Wisma. Sengaja pula aku membolos jam belajar dengan menulis pesan di buku pamit bahwa aku harus bertemu dengan wali orang tuaku yang rumahnya ada di bilangan Prawirodirjan. (Alasan ini kupakai berulang-ulang kali ketika aku hendak membolos jam belajar. Nyatanya hingga akhirnya aku pindah ke Australia dan hingga sekarang, tak sekalipun aku pernah bertemu dengan waliku itu?).

Bertahan, Le

?Ma?? sapaku kepada Mama.

?Ya, Le? Piye kabarmu? Wingi inisiasi-ne piye? Adimu kangen mergo kowe wingi ora bali ki?? ujarnya di ujung telepon. Aku tahu sebenarnya yang kangen adalah Mama bukan Chitra :)

?Apik, Ma?tapi?.?

Aku lantas bercerita dari awal tentang apa yang terjadi dan apa yang kualami dalam beberapa hari terakhir. Hingga di simpul ujung pembicaraan aku berkata, ?Ma, aku pindah sekolah Kebumen wae piye??

Mama bisa mengerti perasaanku. Ia tak marah tapi dari nada suaranya terasa betul kesedihannya. Ia menguatkan, ?Le? nek kowe sekolah neng Kebumen ki arep sekolah neng endi? SMA 1 wes kebak, wes ora ana kursi kosong!?

Aku sempat menyebut sebuah sekolah swasta di Kebumen tapi Mama tak menyetujuinya. ?Bertahan, Le? Moso kowe kalah? Ora iso ngadepi? Bertahan!?

Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar telepon, membayar di kasir lalu berjalan ke Jalan Solo dari arah Jl Demangan Baru. Aku sempat kecewa malam itu karena Mama yang kujadikan sebagai satu-satunya harapan untukku kembali pun tak membuka tangannya. 

Malam itu aku menghabiskan waktu di Toko Buku Gunung Agung untuk membaca beberapa buku. Menjelang jam 9, aku keluar dari toko lalu makan malam di warung lesehan di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum. Setelah menghabiskan nasi sayur dan telor dadar dengan ayam goreng ditingkahi teh panas dan beberapa batang rokok, aku berjalan kembali ke Wisma.

Joedith

Sampai di depan Wisma sekitar jam setengah sepuluh malam. Tiba-tiba dari arah kantin yang sudah hampir tutup, kudengar seseorang memanggilku, ?Don, saka ngendi ko? Lemes temen rasane??

Semula aku tak bisa mengenali wajahnya karena terhalang tanaman hias, tapi dari nada bicara dan pilihan kata, sudah barang tentu dia adalah anggota dari Gang Ngapak!

?Eh, kowe Dith?? ternyata Joedith-lah dia.

Ia tersenyum.

?Saka telpon Mamaku, Dit..? ujarku.

?Ayuhhh dolan kamarku, ngobrol?? Semula aku tak ingin menerima tawarannya. Kamar Joedith ada di area ?neraka? dikitari kamar-kamar kakak kelas yang kuingat dan kutahu betul adalah anggota rombongan yang kerap menelanjangiku.

Tapi aku memberanikan diri. Toh, ada Joedith yang berjalan bareng dan rasanya karena Joedith ini orangnya cukup pendiam, kakak-kakak kelasku akan sungkan untuk menelanjangiku di dalam kamarnya.

Ketika sedang asyik ngobrol dengan Joedith, tiba-tiba kamarnya dibuka dan muncul sosok seorang berambut ombak, berpawakan pendek yang kerap menelanjangiku. ?Wah, Donny main ke atas? Nah gitu dong! Sekali-kali main ke atas. Kene, njaluk udud-e!??

Aku ketakutan.

Aku mengeluarkan bungkus rokok dan memberinya sebatang. ?Ayo ngrokok neng njaba?? ajaknya. Aku menolak. Sakit hati dan traumaku masih kental. Gila aja kalau aku mengikuti ajakannya! Gimana kalau aku nanti ditelanjangi di depan publik?! Lantas celanaku disita? Bagaimana pula aku harus jalan pulang ke kamar nantinya?

Sejak malam itu, hubunganku dengan Joedith makin dekat. Tak hanya karena kami sama-sama ngapak tapi karena Joedith meski umurnya hanya selisih satu bulan lebih tua dariku tapi pembawaannya yang kalem, pola pikirnya yang cerdas dan tak sungkan untuk menegur ketika aku berbuat salah membuatku kadang menganggapnya seperti kakak bagiku.

Kami juga punya hobi yang sama, martial arts dan saat kelas tiga, menjelang lulus, aku dan Joedith punya pacar pertama dalam waktu yang nyaris bersamaan. Pacar-pacar kami pun berasal dari sekolah yang sama pula! 

Setelah lulus, Joedith melanjutkan ke Bandung dan tinggal di sana hingga sekarang. Sehari sebelum tulisan ini kurawi dan publikasikan, aku sempat hendak janjian telepon dengannya meski di awal kuberi aba-aba, ?Aku udah nggak bisa ngapak-ngapak lagi. Jadi kalau aku nanti telepon pakai basa Jawa khas jogja atau malah berbahasa Indonesia, maafkan!?

Klaten – Jogja

Sementara waktu berlalu, sesuai anjuran Mama, aku mencoba bertahan. Sekitar bulan Agustus 1993, Mama menawarkan satu solusi yang kemudian kuikuti dan amat kusyukuri kuambil waktu itu! Mama mengusulkan untukku membagi waktu dalam satu minggu antara Klaten dan Jogja. Dua hari tinggal di rumah Klaten dan tiga hari sisanya di Jogja lalu akhir pekan pulang ke Kebumen seperti biasa.

Rumah Klaten sejak aku dan Mama pindah ke Kebumen pada 1984 ditinggali oleh Simbah Buyut Putri (Mbah Padmodiharjo) Eyang Putri (Ibu Pranyoto, aku memanggilnya Ibu), Mbak Yo (Tante Yohana Widiyatmi) dan Mas Kokok (Om Yohanes Widyatmoko). Tapi setelah Mbak Yo dan Mas Kokok lulus SMA (1988), keduanya meninggalkan rumah. Mas Kokok kuliah di Purwokerto dan Mbak Yo kuliah di Jogja.

Tahun 1991, Simbah Buyut Putri seda (meninggal dunia) menyisakan Ibu yang lantas ditemani Mak Ndhuk (tetangga rumah yang digaji untuk menemani Ibu) setiap malamnya. Ide Mama tadi disambut baik oleh Ibu karena selain tambah satu orang yang menemaninya, sejak kecil aku sebagai cucu pertama memang sangat dekat dengan Ibu.

Maka rutinku berubah.

Setiap Senin dan Selasa aku selalu pulang ke Klaten. Kenapa aku memilih kedua hari itu?

Yang pertama karena setelah hari Minggu pulang dari Kebumen, jadwal pulang ke Klaten hari Senin adalah semacam rangsangan untuk membahagiakan hati di minggu malam yang sepi! Yang kedua, karena di De Britto waktu itu aku wajib mengenakan seragam putih-abu-abu di Senin, Selasa dan Sabtu, pulang pergi Klaten – Jogja di hari itu dengan mengenakan seragam akan mengirit ongkos tarip bis hampir 50% karena aku dikenai tarif siswa!

Sepulang sekolah, aku tak mampir ke Wisma tapi langsung nyegat bis kota Jalur 7 dari rumah di dekat Museum Affandi, turun di pertigaan Janti. Dari situ aku nyegat bis Jogja – Solo lalu selama kurang lebih 45 menit kemudian sampai di Stasiun Klaten. Aku turun di sana lantas disambung naik becak hingga ke rumah Ibu.

Apa yang kulakukan selama di Klaten?

Aku biasanya sampai di rumah sekitar jam 2 siang, Ibu sudah menyiapkan makan. (Ibu tak begitu pandai memasak maka ia selalu membelikan lawuh dari luar untukku). Setelah makan aku buru-buru keluar ke rumah kawan dekatku waktu kecil, Agus ?Cilik? namanya. Di sana kami ngobrol, kadang main gitar kadang janjian main basket di lapangan basket almamaterku, TK Maria Assumpta Klaten hingga menjelang maghrib.

Aku lantas pulang untuk mandi, sesudahnya aku pamit keluar untuk cari makan malam. Hampir bisa dipastikan aku memilih makan malam di warung tahu kupat Kromo Lempok. Waktu itu, letak warungnya ada di emperan Toko Gita Busana di samping Masjid Raya Klaten. Setelah Klaten Plasa didirikan, warung tersebut pindah di samping parkiran sepeda Pasar Klaten hingga sekarang. Terakhir kali aku ke sana adalah Desember 2018 saat aku pulang untuk merayakan ulang tahun Ibu ke-88!

Pulang dari sana aku tak langsung kembali ke rumah. Aku main lagi ke rumah Agus ?Cilik? untuk merokok beberapa batang sambil ngobrol ngalor-ngidul atau bermain gitar. Oh ya, Ibu tak tahu kalau aku sudah merokok dan karena ia sangat benci pada asap rokok, aku tak pernah merokok di rumah :)

Menjelang jam 9:30 aku pulang, cuci kaki lalu siap-siap nonton TV dan pura-pura belajar, membuka-buka buku di depan Ibu. Sekitar jam 22:30 biasanya Ibu pamit untuk tidur sambil mendengarkan siaran radio wayang semalam-malaman. Aku sendiri biasanya baru tidur menjelang tengah malam.

Bangun pagi jam 5 aku lantas bersiap mandi lalu pamit Ibu untuk mengejar bus jam 5:45 dari Stasiun Klaten. Sesampainya di Jogja, sekitar jam 6:15, turun di Janti lalu disambung naik bus kota jalur 7 hingga ke Gedung Wanitatama tepat di depan kampus De Britto.

Klaten – Jogja, bukan solusi terbaik tapi kusyukuri…

Bolak-balik Klaten -Jogja terus berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya. Meski demikian frekuensinya naik-turun karena di tahun kedua aku mulai punya banyak teman dan di tahun ketiga aku punya pacar :)

Kalau menilik ke belakang mengenang saat-saat itu, betapa aku mensyukurinya saat ini! Aku mensyukuri untuk mengiyakan solusi yang diberikan Mama karena selain memberikan kelonggaran tekanan dari bully aku jadi punya waktu untuk bicara hati-ke-hati dengan Ibu, dengan Mak Ndhuk dan dengan banyak kawan masa kecilku yang tinggal di kampung!

Tapi apakah hal itu lantas membuat bully berakhir?

Tidak! Tidak sama sekali! Setiap kali mereka tahu aku bermalam di Wisma, ya di-wudani?.

Tapi setidaknya frekuensi menjarang dan setiap kali diwudani aku sudah bisa pasrah dan berpikir, ?Jika ini adalah cara untuk membahagiakan kalian, lakukanlah!?

Sydney, 16 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. ?Bertahan, Le? Moso kowe kalah? Ora iso ngadepi? Bertahan!?

    Melahirkan rasa syukur yang melahirkan sikap menerima.

    ?Jika ini adalah cara untuk membahagiakan kalian, lakukanlah!?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.