Tentang Jogja (10): Wudani? wudani?

15 Jun 2020 | Cetusan

Kira-kira seminggu setelah masuk sekolah, pada suatu pagi, saat hendak bersiap-siap antri di kamar mandi, pintu kamarku diketuk, ?Don, bukain dong?? Aku tak tahu siapa dan kupikir waktu itu tak perlu kutanya siapa. Ketika pintu kubuka kagetlah aku karena bukan seseorang tapi serombongan orang. Mereka mendorong pintu yang baru terbuka sebagian lalu berteriak, ?Wudani?. wudani?.??

Aku dijatuhkan di atas kasur dan diwudani, ditelanjangi?

Setelah berhasil membuatku telanjang, mereka bergelak-gelak dalam tawa bagaikan menang perang, mengangkat celana dan celana dalamku tinggi-tinggi lalu beramai-ramai keluar.

Aku bingung.?
Aku takut? dan aku merasa sangat sedih.

Kenapa aku harus dibegitukan??
Adakah aku berbuat salah terhadap mereka?? Adakah menelanjangiku membuat syahwat mereka tertuntaskan? Tapi kenapa harus aku?

Ketika lantas aku keluar dari kamar untuk mandi, seorang kakak kelas yang tak ikut dalam rombongan tadi mendekatiku. ?Di sini biasa, anak baru sering di-wudani? Sing sabar, Don?? Ia menghiburku. Tapi aku tetap tak habis pikir?

Pagi itu menjadi begitu sangat tidak mengesankan bagiku.

Kermit The Frog

Sementara itu di sekolah, aku bukannya tidak mengalami masalah.

Baru seminggu tuntas, sudah mulai ada yang memanggil bukan nama asli tapi ?Bathuk.? ?Bathuk? adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti jidat. Aku semula berpikir bahwa dengan pindah ke Jogja, kota besar, kota pelajar panggilan-panggilan seperti itu tidak akan pernah ada. Tapi nyatanya tetap saja ada. Bahkan panggilan yang kuterima tak hanya yang terkait dengan lebarnya jidat dan besarnya lingkar kepalaku. Ada juga yang memanggilku ?Kermit?.

Semula aku bingung, kenapa kermit?

Bagi yang tidak tahu, Kermit The Frog adalah karakter yang muncul dalam serial The Muppet Show yang dulu disiarkan TVRI. Kermit tidak berjidat lebar tapi kenapa aku disapa kermit?

Karena penasaran, aku bertanya pada salah satu dari mereka kenapa aku dipanggil Kermit?

?Deloken lambemu! Lambe kok amba banget kaya Kermit hahahaha!? jawab mereka sambil tertawa terbahak-bahak di depanku dan kawan-kawanku.

Aku benar-benar tertekan.?
Untuk melawan tekanan itu, setiap jam istirahat aku memilih menyendiri ke lapangan sepakbola atau ke perpustakaan pura-pura asyik membaca. Ketika lapar, aku memilih pergi ke kantin di sela-sela jam pelajaran dengan alasan pamit ke toilet. Hal ini kulakukan untuk menghindari keramaian di kantin saat jam istirahat karena dalam keramaian seperti itu aku takut dipanggil dengan panggilan-panggilan yang tak membuatku bahagia itu.

Inisiasi

Pada paruh akhir minggu kedua, De Britto mengadakan inisiasi bagi siswa baru. Kegiatan diadakan pada sore hingga malam hari karena pagi harinya tetap harus mengikuti kegiatan belajar di kelas.

Konsepnya adalah pengenalan kampus, pengenalan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler tapi pada prakteknya acara tersebut juga berisi pemberian tugas-tugas yang menurutku tidak masuk akal dan sangat sulit dilakukan.  Misalnya kami disuruh mencari korek api dari kayu yang memiliki dimensi ukuran tertentu. Membeli gayung warna-warna yang nyaris tak masuk akal untuk dicari dalam waktu yang sempit! Ketika gawal mengumpulkan tugas, hukuman mulai dari bentakan hingga push-up siap menanti.

Beruntung kakak pendamping grup-ku adalah orang yang begitu kalem, tidak banyak bicara dan tidak pernah membentak apalagi menghukum. Kakak pendamping grupku ada dua, yang pertama adalah Tony (dia juga tingga di asrama) dan Anton Ismael, orang yang kini banyak dikenal sebagai fotografer ternama di Indonesia dan pernah kutulis di sini.

Aku dan Anton Ismael dalam reuni tahun 2018 silam di Yogyakarta

(Pengalaman mengikuti inisiasi ini membuatku lantas tak mau ikut kegiatan bertajuk yang sama saat masuk kuliah tiga tahun kemudian. Waktu itu aku menolak ikut dengan alasan tak mau dijadikan badut dan aku bukan orang yang bisa diinjak-injak serta diremehkan dan diperintah hanya karena aku lebih muda dari mereka! Pertentanganku waktu itu sempat dipermasalahkan pihak kampus mengingat kegiatan tersebut adalah kewajiban. Ancaman tidak bisa lulus pun kudengar tapi aku tetap tak bergeming. Lebih baik baiku untuk tak diluluskan dari perkuliahan daripada harus merendahkan kepala di bawah kaki kakak angkatan! Bagaimana kisah lengkapnya? Nanti kuceritakan juga di sini.)

Acara inisiasi di De Britto diakhiri pada akhir pekan. Waktu itu kami diminta tidur di ruang kelas beralaskan koran sejak hari sabtu hingga minggu pagi.

Wudani… wudani…

Pulang ke Wisma, dalam keadaan letih dan ngantuk aku hanya bisa tidur beberapa jam. Sekitar jam 12 siang, aku mencari makan bersama Heri ke warung Gayeng Niki yang letaknya tak jauh dari Warung Makan Barokah di Jl Ori. Setelah makan kami langsung pulang karena aku pikir hendak melanjutkan tidur siang untuk sore harinya ke Gereja.

Saat melewati kantin, ada sekelompok kakak kelas. Akupun menyapa mereka. Kulihat sebagian dari mereka adalah orang-orang yang menelanjangiku beberapa pagi sebelumnya. Beberapa dari mereka membalas sapaan tapi yang lain tampak sedang merencanakan sesuatu dengan berbisik-bisik dan terus memandangku. Aku menangkap gelagat itu dari sudut mata saat aku melaluinya hendak jalan ke kamar.

Dan benar saja!

Tak lama setelah aku masuk kamar, segerombolan kakak kelas menyerbu masuk dan berteriak, ?Wudaniiii? Wudaniiii??

Kejadian itu berulang lagi.?
Aku ditelanjangi!

Setelah berhasil membuatku telanjang, mereka bergelak-gelak dalam tawa bagaikan menang perang, mengangkat celana dan celana dalamku tinggi-tinggi lalu beramai-ramai keluar.

Mentalku begitu rapuh waktu itu?
Aku menangis dan tak bisa kusembunyikan sedih perihku di hadapan Heri, kawan sekamarku.

Aku merasa hadir dalam kubangan yang salah. Kiubangan yang semula tampak begitu indah tapi ternyata seperti itu keadaannya.

Sore itu keputusan kuambil dan bulat. 

Nanti sepulang dari ikut misa di Gereja, aku hendak telpon Mama dan meminta maaf atas keputusanku pindah ke Jogja. Aku akan mengakui bahwa keputusan itu salah dan akan kumohon kepadanya supaya ia menarikku pulang ke Kebumen. 

Lebih baik melanjutkan studi di kota kecil tapi dibesarkan dalam lingkungan penuh cinta?

Sydney, 15 Juni 2020

*Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Lebih baik melanjutkan studi di kota kecil tapi dibesarkan dalam lingkungan penuh cinta? << ini niiih yang bikin aku demen.

    Taaapi, bisa jadi tradisi pekok wudani juga wujud cinta lho bruh Donny. Maksudnya, cara orang pekok memaknai cinta..hahahahaa.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.