Tentang Diskusi Sastra Enny Arrow dan rasa takut yang berlebihan terhadap kegaduhan

24 Jul 2017 | Cetusan

Pandangan orang tentang Enny Arrow ternyata belum banyak berubah dibanding dengan cara kita memandangnya tiga puluh tahun silam!

Dulu, awal 90an, kalau pergi ke lapak koran di terminal bus dan tanya “Ada Enny Arrow terbaru?”, si penjual langsung menggelengkan kepala. Kenapa? Kalau mengangguk bisa-bisa ditangkap petugas karena menjual stensilan yang berisi cerita erotis itu!

Besok (25/7), di Kopium Kafe, Jl Tusam Raya, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah sedianya akan diadakan diskusi menarik terkait stensilan Enny Arrow bertajuk ‘Diskusi Sastra Erotika Membaca Enny Arrow’.

Menurut poster yang kuterima di atas, hadir bicara adalah dosen Undip Semarang, Khatibul Umam dan Purwo Nugroho Adi dari Openmind Community.

Namun, pihak kepolisian belum memberikan ijin. Menurut Kapolsek Banyumanik, Kompol Retno Yuli Setiasih, seperti dirilis Merdeka.com, mereka tak melarang melainkan mengimbau untuk tidak menggelar acara di situ dengan alasan semua kegiatan berbau pornografi seyogyanya tak diadakan di wilayahnya supaya tak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Yang dijadikan alasan oleh Bu Retno tentu masuk akal. Kalau tetap diadakan, nanti biasanya ada ormas agamis yang membubarkan diskusi lalu jadi ramai dan berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Tapi yang harusnya jadi pertimbangan lebih oleh beliau adalah, mana yang lebih penting dan lebih layak untuk dijadikan kebiasaan, melarang orang berdiskusi atau melarang orang untuk mendatangi dan membubarkan paksa sebuah diskusi?

Melarang orang berdiskusi tentu membahayakan cara orang menyampaikan pendapat sementara melarang orang membubarkan paksa sebuah diskusi adalah cara pihak aparat untuk menegakkan hukum!

Hal ini terus terang amat memprihatinkan di tengah iklim demokrasi kita yang katanya kian terbuka.

Bahwa konten Enny Arrow itu erotis, tak ada yang menyangkal. Tapi ketika panitia menjanjikan untuk tak mendiskusikan hal-hal yang erotis, harusnya pihak aparat memberikan kesempatan untuk membuktikan, bukannya asal main tak memberikan ijin.

Kalau demikian lantas kapan masyarakat bisa belajar lepas dari keterikatan pada persepsi dan simbol?

Lagipula, kalau memang ternyata dianggap bicara tentang pornografi dan erotisme toh ada undang-undang yang bisa digunakan untuk menjeratnya, bukannya menunda pengeluaran ijin atau membiarkan ormas untuk membubarkannya.

Takutnya, masyarakat nanti malah berpikir bahwa jangan-jangan pihak aparat takut pada ormas, atau aparat bersekongkol dengan ormas untuk menjaga stabilitas dan ketidakgaduhan suasana?

Tapi yang lebih ditakutkan lagi, ormas akan berpikir mendapat angin bahwa cara pikir mereka mendapatkan restu pihak penguasa.

Semoga kasus ini jadi pelajaran bagi semua termasuk panitia.

Agar panitia memindahkan tempat acara ke kampus misalnya sehingga kesan akademis lebih tampak meski aku tak tahu apakah ada kampus yang berani menerima ide kalian atau jangan-jangan mereka juga ketakutan pada ancaman kegaduhan?

Atau belajarlah juga untuk mengemas judul supaya lebih smart dan tak terang-terangan menyebut branding. Untuk hal ini bisa belajar dariku tentang bagaimana dulu akhirnya bisa selalu update koleksi Enny Arrow.

Waktu itu, seperti kutulis di awal, karena setiap menyebut ‘Enny Arrow’ si pemilik lapak koran selalu menggeleng, aku pakai istilah lain, “EA” atau “Buku Gituan” dan biasanya mereka mengangguk lalu memasukkan buku Enny Arrow ke dalam lipatan koran dan diserahtangankan sambil berkata, “Dua ribu!”

So, lain kali pake judul ‘Diskusi Sastra Membaca EA!’ atau ‘Diskusi Sastra Membaca Gituan’ barangkali lebih aman.

Simak berita tentang hal ini dari Merdeka.com di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.