Ga bisa ngantri? You’re not alone!

24 Agu 2017 | Cetusan

Berita tentang ricuhnya bazaar diskon murah sepatu Nike yang diadakan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta beberapa waktu lalu tidak mengagetkan tapi menggelitik.

Ratusan bahkan mungkin ribuan orang tumpah ruah saling berebut mendapatkan sepatu brand Amerika Serikat itu. Kapan lagi mendapatkan ‘Nike’ yang harganya biasanya jutaan jadi ratusan ribu kalau tidak kemarin? Akibatnya, orang berjejal-jejalan, rebutan dan berantakan jadinya seperti yang tampak dalam video di bawah ini.

Tapi respon warganet di social media terhadap peristiwa itu sebenarnya nggak rapi-rapi amat, dan sama aja berantakannya! Mulai dari yang menyayangkan kenapa sampai terjadi, ada pula yang melabeli ‘Mental kere!’ atau ‘Dasar miskin!’ hingga ada pula yang bernada setengah berkelakar, “Itulah kita!”

Awalnya aku setuju dan memaklumkan pendapat-pendapat itu. Tapi tadi malam di atas kereta yang mengantarku pulang ke rumah, aku berpikir, andai aku ada di Jakarta, karena aku juga suka mengkoleksi sepatu, akankah aku jadi bagian dari kericuhan antrian di bazaar itu?

Jelas iya!
Peduli setan mau dikata ‘Mental kere!’, ‘Dasar Miskin’ atau apapun yang penting sepatu Nike ada dalam genggaman!

Lagipula, mari kita jujur dan terbuka, hal-hal seperti itu tak hanya terjadi di Indonesia kok! Yang nggak bisa antri dan nggak bisa nahan diri untuk rebutan barang bagus tapi murah-meriah itu bukan cuma bangsa kita tapi juga bangsa-bangsa lain. Menurutku ini adalah sifat dasar manusia yang hidup dengan ego dan sadar bahwa hidup ini terkadang adalah sebuah kompetisi yang harus dimenangkan.

Nggak percaya kalau hal ini terjadi juga di negara-negara lain bahkan yang katanya maju sekalipun?
Coba cari video klip di youtube dengan keyword “black friday chaos” atau “boxing day chaos” dan jangan terkesima dengan hasil pencarianmu.

Black Friday adalah tradisi dimulainya christmas shopping, sehari sesudah Thanksgiving day di Amerika Serikat sana. Di hari itu, di bulan November, banyak retail store menjual barang ekstra murah dan hasilnya… banyak yang chaos!

Boxing Day adalah hari diskon besar-besaran sehari sesudah Natal, 26 Desember. Di negara-negara maju yang memiliki tradisi Natal kuat seperti Inggris dan Australia, boxing day selalu dijejali dengan calon pembeli yang mengantri sejak subuh di pintu masuk shopping center. Begitu pintu dibuka, arus manusia seperti air yang dibukakan pintu dam bendungan… banyak yang chaos juga!

Jadi kalau kata Michael Jackson, “You’re not alone“, Mas Bro dan Mbak Sis! Janganlah suka merendahkan diri dan bangsa sendiri di mata dunia. Janganlah! Negara kita itu negara yang makin hari makin banyak dapat sorotan positif karena kemajuannya lho! Kalau kalian ada dana, cobalah untuk tinggal agak sedikit lebih lama di luar negeri karena dari situ kalian bisa lihat bagaimana cara mereka memandang kita, bagaimana mereka menghormati kita dan bagaimana mereka juga sebenarnya nggak lebih buruk dari kita!

Kembali ke soal bazaar barang murah, menurutku ini justru saatnya untuk mengubah sistem. Penyelenggara perlu menempuh cara untuk menghindari supaya hal ini tak terjadi lagi. Salah satu caranya adalah menggunakan pola online dan ini bahkan menurutku lebih menguntungkan kedua belah pihak.

Dari sisi produsen, tak perlu takut memperhitungkan sisi keamanan kalau chaos kayak kemarin. Tak perlu juga membayar sumber daya yang membebankan seperti misalnya, sewa tempat, sewa jasa tenaga keamanan, sewa jasa pelayan dan lain sebagainya sehingga harga barang yang didiskon bisa lebih murah lagi.

Dari sisi konsumen, kita juga diuntungkan karena nggak perlu antri, nggak perlu datang, nggak perlu adu otot. Yang penting login ke toko online lalu cepet-cepetan dapetin barang, bayar dan tinggal menunggu barang dikirimkan beberapa hari kemudian.

Tapi, Don! Kalau gitu nanti ada aja yang ngakalin pakai login palsu atau dihack misalnya?

Ya nggak papa, itu jadi tanggung jawab sekaligus pembelajaran bagi produsen supaya membuat sistem lebih baik lagi di masa yang akan datang. Lagi-lagi yang perlu diperhitungkan itu soal resiko. Pilih mana, barang habis tapi bisa jadi malah terseret kasus karena dimintai pertanggungjawaban atas chaos baik oleh pihak yang ketempatan acara bazaar maupun pihak kepolisian, atau barang habis, biaya pengembangan sistem awalnya mungkin mahal tapi lama-lama murah karena sistem semakin sempurna tanpa ada kejadian seperti kemarin?

Nih kuberi contoh beberapa chaos yang terjadi di negara-negara maju terkait Black Friday dan Boxing Day:

 

https://www.youtube.com/watch?v=CzaTlaC5sPI

https://www.youtube.com/watch?v=toEdPhBdfaU

https://www.youtube.com/watch?v=623Oga9NPvE

Simak berita tentang ricuhnya bazaar ‘Nike’ di sini. Simak juga tulisanku tentang Boxing Day, di sini.

Credit foto utama: TribunNews.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Nafsu mendapatkan barang mahal dengan harga murah mengalahkan akal sehat.

    Saya tidak tertarik mendapatkan barang branded dengan cara yang bikin chaos seperti itu. Dan selama ini belum pernah saya ikut antri untuk mendapatkan barang murah.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.