Tentang baliho dan pemimpin yang hanya omdo

30 Mei 2018 | Kabar Baik

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya (Markus 10:43-44)

Yesus memang revolusioner!
Saat banyak oknum kaum Farisi dan ahli Hukum Taurat berlomba-lomba memanfaatkan posisinya yang terpandang di mata umat untuk meraih kenyamanan hidup, Ia memberikan satu definisi baru tentang bagaimana seharusnya jadi seorang pemimpin, melayani dan menghamba!

Selain revolusioner, Yesus juga membuktikan bahwa diriNya bukanlah pemimpin yang ?omdo? alias omong doang! Melalui pengorbananNya di kayu salib, Ia memperkaya definisi pemimpin, tak hanya melayani dan menghamba tapi juga tak omdo. Ya, pemimpin perlu kerja nyata dan pembuktian!

Tapi itu kan dulu!
Bagaimana dengan sekarang? Akankah apa yang dikritik Yesus itu masih menjadi cerminan keadaan kepemimpinan masa kini?

Sayangnya masih!
Manusia, sulit untuk bisa benar-benar berhasil dalam belajar. Dua ribu tahun sesudahNya, masih banyak pemimpin yang tak melayani, tak menghamba dan banyak omdo-nya ketimbang kerja nyata!

Tak banyak dari para pemimpin itu, mereka tampil begitu mengesankan saat kampanye, tapi begitu terpilih, janji-janji dan impresi/pencitraan yang ditebar selama kampanye menjadi masa lalu yang sia-sia belaka!

Suatu waktu, kawan mengirim foto baliho seorang ?calon wakil presiden? kepadaku via WA. Baliho itu terpampang di sebuah jalan protokol di ibukota. Mohon kalian memaklumiku karena tak tinggal di Indonesia, pemandangan seperti itu tentu amat langka maka takjublah hati hamba ini!

?Wow! Ongkos bikin dan bayar balihonya kira-kira berapa ya?? tanyaku iseng. ?Muahal, Don!? jawab temanku singkat.

Aku tak tahu berapa ukuran ?muahal? seperti yang dikatakan temanku tadi. Tapi semakin banyak menerima foto-foto baliho seperti itu, semakin aku berpikir, apa mereka yang memasang baliho itu adalah yang benar-benar ingin jadi pemimpin?

Aku tak mau menuduh, tapi kalau mereka memang benar-benar ingin melayani dan jadi hamba bagi orang yang dipimpinnya, betapa mulia dan baik budi orang itu karena rela mengeluarkan ongkos untuk bikin baliho dan ongkos-ongkos lain yang pasti lebih mahal untuk keperluan kampanyenya. Tapi kalau mereka hanya ingin menjadi pemimpin demi kekuasaan dan jabatan, betapa busuk dan menjijikkan karena rela menggunakan jabatan yang ilahiah itu demi syahwat-syahwat duniawi yang menyesatkan!

Lantas, bagaimana dan seperti apa sih pemimpin yang melayani itu?

Apakah pemimpin yang melayani itu yang blusukan? Apakah pemimpin yang melayani itu yang sama sekali tak ingin dan tak menerima pelayanan? Apakah pemimpin yang melayani itu adalah yang hidup dalam kekurangan?

Pemimpin yang blusukan belum tentu melayani meski bagaimana mungkin seorang mau melayani kalau tak tahu seperti apa kondisi lapangan orang-orang yang dilayani?

Pemimpin yang melayani belum tentu yang tak ingin dilayani sama sekali karena kalau itu standardnya, kita akan mudah kecewa misalnya suatu waktu melihat pemimpin yang kita bangga-banggakan dilayani saat makan, atau saat naik transportasi ditempatkan di VIP class dan lain sebagainya.

Pemimpin yang melayani menurutku juga tak boleh hidup dalam kekurangan. Kalau kekurangan bagaimana mungkin ia bisa tahu standard ketercukupan orang-orang yang dipimpinnya?

Jadi? Pengendalian ego adalah kunci seorang pemimpin mau melayani dan menghamba. Memimpin adalah pertama-tama memimpin dirinya dan egonya untuk tak diletakkan sebagai yang pertama untuk dipuaskan.

Itu saja dulu?

Sydney, 30 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.