Talenta, keberanian dan false humility

22 Nov 2017 | Kabar Baik

Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
(Lukas 19:13)

Untuk ketiga kalinya dalam bulan November, hari ini, bacaan tentang mina dan talenta dipakai Gereja Katolik se-dunia sebagai bacaan harian.

Setelah sebelumnya aku membahas talenta dari jenis (klik di sini menuju tulisan) dan kesanggupan kita untuk melaksanakan(klik di sini menuju tulisan), hari ini mari kita merenung tentang keberanian.

Ya! Menjalankan talenta dalam hidup itu tak hanya butuh sanggup tapi juga butuh nyali. Kamu berani atau tidak?

Kamu punya banyak talenta tapi tak berani menggunakannya apalah gunanya?

Banyak orang takut mengembangkan talenta karena tak percaya diri.

?Malu ah! Banyak yang lebih jago daripadaku!?

Bagiku, merendahkan diri itu cukup di hadapan Tuhan. Di depan sesama kita hanya perlu untuk tidak sombong. Kalau di depan manusia aja kita malu dengan talenta yang kita punya, itu namanya malu-maluin!

Talenta adalah pemberian Tuhan, bukan hasil nyolong jadi kenapa harus malu-malu? atau jangan-jangan kamu malu untuk mengakui pemberianNya di hadapan sesama?

?Tapi kalau hasilnya tak bagus, mereka malah akan mengejek!?

Lagi-lagi hal ini menunjukkan kita sebagai penakut. Kita takut dianggap memiliki karya yang buruk. Meski talenta itu berasal dari Tuhan tapi kita ini manusia yang tak berdosa untuk memiliki karya yang buruk. Toh dengan terus-menerus belajar kita akan memperbaiki karya hingga akhirnya jadi sesuatu yang baik dan bisa semakin dibanggakan.

Takut untuk membuat karya yang buruk menurutku adalah mengingkari kemanusiaan kita sendiri. Tuhan saja mengakui kelemahan manusia, kenapa kita tidak? Yang penting terus bertumbuh dan berkarya untuk jadi makin baik!

?Ah kalau aku lebih baik diam! Merendah diri tapi mutu kita ditinggikan, Don!?

Wah kalau yang begini ini, takutnya kamu menderita ?penyakit? false humility! St Jose maria Escriva, pendiri Opus Dei yang kesohor itu, dalam sebuah tulisannya berkata bahwa bahwa sok merendahkan diri atau yang biasa disebut sebagai?false humility?justru pertanda seseorang yang tinggi hati. Nah!

Tentang false humility, kalian bisa membaca tulisanku di sini.

Sydney, 22 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.