Talenta dan kesanggupan

2 Sep 2017 | Kabar Baik

Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
(Matius 25:15)

Kabar Baik hari ini bicara tentang tiga orang yang masing-masing kepadanya diberikan talenta berdasarkan kemampuannya.

Ada yang lima, dua dan satu saja.

Yang menerima lima, menjalankan talenta itu sehingga beroleh laba lima talenta lainnya. Demikian juga yang dua talenta, ber-laba dua.

Sementara yang menerima satu, karena ketakutan, ia memendam talenta itu dengan harapan ketika Sang Tuan kembali, ia mengembalikan lagi talenta itu tanpa laba meski utuh seperti sedia kala! Tak dinyana, justru dialah yang dihukum, sedangkan yang lainnya menyukakan hati Tuan.

Pada intinya talenta itu harus digunakan untuk menghasilkan laba. Laba dari talenta adalah bagaimana ia bisa digunakan untuk kebaikan bagi Tuhan dan sesama.

Lalu talentamu apa?
Ada sebagian dari kita merasakan tak memiliki barang satupun.

“Kamu enak ya Don, bisa nulis, pinter IT, bisa nyanyi dan main musik… talentamu banyak! Beda denganku!” tanya kawanku yang tak merasa memiliki talenta itu.

Kasihan orang seperti itu karenanya harus ditolong sebab bisa saja ia merasa bingung membaca ayat di atas bahwa Tuhan memberikan talenta berdasarkan kesanggupannya, kemampuannya.

Merangkai relasi antara talenta dan kesanggupan itu seakan mencari jawab atas sebuah pertanyaan lawas, “Mana yang lebih dulu, telor atau ayam?” Mana yang lebih dulu, talenta atau kesanggupan? Karena kita memiliki talenta maka kita sanggup atau sebaliknya, karena kita sanggup maka kita diberi talenta?

Kawanku yang lain pernah bercerita bahwa dulu di persekutuan doa yang dipimpinnya, ada seorang perempuan yang pede banget pengen jadi penyanyi pada acara-acara persekutuan. Padahal, katanya, suara si perempuan itu tak hanya fales tapi cempreng seperti kaleng rombeng!

Perempuan itu tetap berteguh. Ia tak menyerah meski harus belajar keras bagaimana bernyanyi yang baik dan tidak cempreng.

Pada akhirnya, perempuan itu terus bernyanyi. Kata kawanku sih suaranya jadi lumayan meski tetap tak bisa bagus-bagus amat. Tapi itu jadi tak penting lagi karena justru dari semangat pantang kendor dan mau dibentuk, orang-orang belajar banyak darinya. Ia jadi contoh baik bagi umat bahwa bukan mereka yang merasa mampu yang akan dipakai Tuhan melainkan mereka yang mau.

Jadi, apakah perempuan itu memiliki talenta setelah berusaha karena suaranya kok katanya cuma lumayan? Aku tak tahu. Tapi yang pasti ia telah berproses dan berbuah serta menjadi berkat bagi sesama. Mana ada buah dan berkat tercipta tanpa ada tunas serta pohonnya?

Jadi, hey kamu! Ya, kamu! Kamu yang merasa bertalenta dan berbakat tapi justru memilih untuk mendiamkan talenta serta bakat lebih baik singsingkan lengan dan kembangkan yang telah diberikan atau berikanlah talenta itu pada yang memerlukan daripada dianggurkan!

Sydney, 2 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.