Tak dikabulkan? Jangan-jangan kita memang tak pernah meminta

12 Mar 2018 | Kabar Baik

Kepada Yesus yang dipercaya, pegawai istana itu memohon supaya Tuhan datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” (Yohanes 4:48). Seperti yang kita tahu, permintaan itu dikabulkanNya. Anak disembuhkan.

Aku tertarik untuk membuat diagram alur logika cerita dalam Kabar Baik yang ditulis Yohanes hari ini.

Ada tiga tahap.

Pertama, tanda dan mukjizat terjadi. Pegawai istana itu melihat tanda saat Yesus mengubah air menjadi anggur dalam peristiwa Kana.

Kedua, pegawai istana itu melihat tanda dan mukjizat tersebut dan karenanya ia percaya.

Ketiga, ia lalu meminta dan permintaan itu dikabulkanNya.

Tanda

Pada saat meminta sesuatu, sebagai orang beriman kita tentu tak bisa bilang bahwa tanda dan mukjizat itu tak terjadi. Iman menyatakan Tuhan ada dan Ia tak pernah berhenti berkarya. Kecuali untuk orang yang tak percaya kepadaNya, mereka tentu tak percaya bahwa tanda dan mukjizat yang ada adalah berasal daripadaNya.

Melihat, percaya

Tapi bisa jadi kita tak melihat tanda dan mukjizat itu. Melihat bukan mata jasmani saja tapi juga mata batin kita. Melihat adalah memaklumkan bahwa yang terjadi adalah anugerah dariNya.

Hal sepele yang bisa dijadikan contoh adalah dalam hal bernafas. Bagi sebagian kalangan, bernafas adalah peristiwa alamiah yang sederhana; kita menghirup oksigen dan oksigen dihasilkan tumbuhan.

Tapi bagi kaum beriman, kita tahu bahwa persoalannya tak semudah itu. Oksigen yang kita hirup tak hanya berhenti dari titik asalnya yaitu tumbuhan. Iman menyatakan bahwa bagaimana tumbuhan bisa memproduksi oksigen, bagaimana kita bisa menghirupnya, semua terjadi atas ijinNya dan ini adalah tanda kebesaran Tuhan.

Meminta

Setelah kita percaya dan melihat, ketika kita tak dikabulkan permintaan jangan-jangan karena kita tak pernah memintanya. Kenapa tak meminta? Barangkali karena kita lelah atau trauma pernah meminta satu hal tapi tak dikabulkan?

Ada seorang yang hendak menikah tapi batal karena pasangan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Ia trauma, ia tak berani lagi meminta lalu mengartikan pasrah sebagai ?Tuhan tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita meminta??

Mari bayangkan sebagai pegawai istana, jika ia tak meminta, barangkali anaknya tak sembuh. Kita percaya Tuhan tahu apa yang kita butuhkan tapi kita juga paham bahwa Tuhan memiliki rasa belas kasihan terhadap kita dan permintaan-permintaan kita.

Tak dikabulkan juga?

Sudah melihat, sudah percaya, sudah meminta pula.. tapi kok tetap tak dikabulkan sih??Sabar? barangkali waktuNya belum tiba. Bisa jadi nanti, tak sekarang.

Tapi bisa jadi tak dikabulkan, Don?!

Bisa saja kenapa tidak? Bagaimanapun juga, pada akhirnya Ia adalah Tuhan yang menciptakan kita dan menciptakan hal-hal terbaik yang diberikan kepada kita sebagai alat untuk memuliakan namaNya.

Sydney, 12 Maret 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.