Tak afdolkah bicara tanpa mencampur-campurkan kata beda bahasa?

31 Agu 2017 | Cetusan

Ada banyak orang mencampuradukkan kata beda bahasa dalam percakapannya dan dalam tulisan atau pesannya.

Dosakah? Nggak juga…terserah!
Tapi mari berpikir secara esensi, berbahasa itu berkomunikasi, ketika lawan komunikasi tak tahu apa yang kita utarakan hanya karena alasan teknis, yaitu kata dan bahasa, bukankah miris karena komunikasi jadi kehilangan arti?

Biar keren

Dulu waktu masih di Indonesia dan mulai ikut kursus Bahasa Inggris sebagai persiapan pindah ke Australia, aku sering mencampur-adukkan bahasa. “Wah too many tasks nih! Harusnya shopping trus malemnya sembahyangan lingkungan tapi kok ya rasanya hari ini too short ya!”

Kesannya biar keren karena kursus Bahasa Inggris tak murah sementara untuk pamer langsung dan bilang “Eh aku kursus Bahasa Inggris dan mahal lho!” kok malu-maluin juga. Cara yang elegan? Menurutku ya mencampur-adukkan bahasa.

Tanda tak percaya diri

Dan ternyata cara itu sebenarnya tak elegan.
Di depan orang-orang yang tak mengerti, mungkin demikian, tapi di tengah orang-orang yang ‘tahu’, alih-alih dapat tepuk tangan, yang terjadi malah diberi stigma sebagai orang yang tak percaya diri.

Keunggulan itu terpancar dari diri. Kalau kita pintar, kepintaran terpancar dari karya dan perbuatan bukan dari cara ‘lenjeh’ kita dalam berbahasa yang mencampur-adukkan semuanya.

Unjuk kepongahan

Mencampur-adukkan bahasa, kalau tidak menguasai benar justru akan jadi unjuk kepongahan.

Misalnya, “Aku akan datang even hari hujan” Yang dimaksud adalah “Aku akan datang meskipun hari hujan” tapi karena ‘even’ itu setara dengan ‘bahkan’ maka sebagian membaca sebagai ‘Aku akan datang bahkan hari hujan!’ Nah, jadi salah kaprah, kan?

“Harusnya ‘even though’ bukannya ‘even’!”, demikian kata istriku dulu mengkritik karena awal-awalnya akupun juga nggak tahu.

Masih soal even, ada juga yang mengucapkannya sama persis dengan cara mengucapkan ‘event’! Padahal? Even diucapkan /?i?v(?)n/ dan ‘event’ diucapkan sebagai /??v?nt/. Sehingga ketika misalnya orang berkata “Nanti kita akan tetap mengadakan event even mendekati akhir tahun.” dengan pengucapan event sama dengan even, betapa bingung orang yang mendengarnya? Kenapa tak dipermudah saja menjadi “Nanti kita akan tetap mengadakan acara meskipun mendekati akhir tahun.”

Lebih enak dan tidak malu-maluin kan?

Ketidakmampuan menyusun tata bahasa

Ketika melihat ada orang asing bicara dalam bahasa Indonesia dan mereka mencampur-adukkan bahasa, itu barangkali karena mereka belum bisa merangkai kalimat secara lengkap dalam bahasa Indonesia.

Namun sebaliknya, ketika melihat ada orang kita sendiri berbicara dalam bahasa Indonesia tapi dicampuradukkan dengan tak hanya bahasa Inggris, barangkali Bahasa Arab, cina atau bahkan Perancis dan Spanyol di depan audiens bangsa sendiri, apakah ada terpikir bahwa orang itu tidak bisa merangkai kalimat secara lengkap dalam bahasa Indonesia yang adalah bahasa sendiri? Tentu tidak! Yang terpikirkan justru, “Kalau ngaku jago, kenapa nggak ngomong dalam bahasa Inggris sekalian, nggak usah dicampur-campur!” Lalu bisik-bisik di belakang, “Mana bisa? Dia nyampur-nyampur gitu justru karena belum bisa!”

Ketika sedang menyusun tulisan ini, entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan Vicky. Yuk kita simak sekali lagi clip tentang mantan pacar Zaskia Gotik itu. Semoga terhibur!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.