Tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, tahan diadli olehNya?

4 Des 2018 | Kabar Baik

Tahan berdiri di hadapan Anak Manusia seperti yang tertulis dalam Kabar Baik hari ini, Lukas 21:34-36? Kenapa? Pernah aku bertanya kepada kawanku, kita tidak akan kuat berdiri karena kuasaNya yang luar biasa?

?AuraNya sangat kuat mengalahkan gempa terkuat sekalipun! Jadi kita pasti akan jatuh!?

Benarkah? Aku tak tahu! Seperti halnya dengan kalian dan semua manusia termasuk kawanku tadi, kita sama-sama belum pernah mengalaminya :)

Tapi aku punya permenungan sendiri.

Kita tidak kuat berdiri di hadapanNya kelak ketika Ia datang adalah karena tanggungan dosa yang begitu besar yang pernah kita perbuat selama hidup. Yesus, ketika datang nanti akan jadi hakim, jadi pengadil atas diri kita untuk menentukan apakah kita akan masuk surga atau neraka berdasarkan bagaimana kita menjalani hidup.

Kabar Baik hari ini mengingatkan kita untuk bertobat dan hal ini selaras dengan Masa Adven menjelang Natal. Dengan bertobat kita mengakui salah dan berjanji hidup lebih baik. Kehidupan yang baik semoga membuat kita nanti sanggup berdiri dan ?siap diadili? olehNya.

Ah aku tiba-tiba ingat akan kisah lama saat SMP dulu.

Meski tak terbilang sebagai yang paling nakal di sekolah tapi aku tergolong murid badung dulu. Ada banyak kesalahan-kesalahan ?kecil? nan ?usil? yang membuatku dipanggil beberapa kali ke ruang BP untuk disidang.

Misalnya suatu waktu aku pernah ketahuan mencatat hasil ulangan mata pelajaran Bahasa Inggris dari kelas sebelah yang dilakukan kemarin. Aku yakin soal yang sama akan ditanyakan dalam ulangan mata pelajaran yang sama di kelasku hari ini.

(Sebenarnya kalau mau diperpanjang, aku tak terlalu salah ya karena kalau sampai soalnya sama kan berarti gurunya tak kreatif membikin soal yang berbeda kan?!? Hahaha!)

Guru itu lantas melaporkanku ke Guru BP dan aku diminta menghadap saat jam istirahat kedua.

Perutku mulas betul menjelang saat-saat itu dan ketika bel tanda istirahat kedua berbunyi, dengan langkah gontai aku masuk ke ruang BP.

Di sana, dua guru sudah menanti. Mereka hapal betul ?tindak kesalahan? yang kulakukan hari ke hari.

?Sini mendekat ke Ibu? tuturnya sopan tapi nadanya kuat.

Aku mendekat lalu duduk di kursi depan Si Ibu.

?Eh! Siapa suruh kamu duduk?? aku kaget dan dengan berat hati akupun berdiri. Lutut gemetaran, perut makin mulas dan daripada terus berkepanjangan aku langsung mengaku dan meminta maaf.

Dalam kenangan masa SMP-ku, aku bisa memperkirakan akan semulas apa perutku, segemetar apa lututku nanti ketika berdiri di hadapan Anak Manusia!

Aku tahu permenunganku ini juga belum tentu sama dengan yang akan terjadi saat Ia datang nanti. Sekali lagi, belum ada yang tahu akan seperti apa termasuk aku dan kamu serta kalian semua?

Sydney, 4 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.