Tag: clurit

  • Diputus klien? Let’em go!

    Diputus klien? Let’em go!

    Dua minggu terakhir aku diputus klien-klien freelance-ku dengan alasan yang kurang lebih sama, mereka tertarik untuk menggunakan resources yang sifatnya ?in house? ketimbang mempekerjakan remote developer sepertiku.

    Sedih? Tidak!
    Kecewa? Tidak juga…

    Mereka berdua menghubungiku melalui telepon dan dua-duanya tumben-tumbennya terdengar lebih manis dari biasanya. (Yup! Dua-duanya cewek?)

    Mereka sangat berhati-hati untuk memberi tahu bahwa perjanjian kerjaku akan dihentikan.?Ketika aku menyambutnya dengan biasa, mereka terdengar lega (dan tetap manis, malah tambah manis kadar suaranya..)

    ?Thanks so much, Donny! Aku sangat menghargai pengertianmu!?

    Aku mengerti kenapa mereka sangat hati-hati dan begitu lega mendengar aku legawa.?Kenapa? Banyak developer lain di luar sana yang kadang mempersulit ketika sebuah klien memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasanya.

    Mereka biasanya akan pasang termination fee lah, migration fee lah, pokoknya duit untuk mengobati rasa pundung karena ditinggal klien!

    Aku tak ingat kepada yang mana, tapi satu dari dua klien yang menghubungiku itu, aku menjelaskan, ?Kamu jangan takut, aku tidak akan mempersulit. Tidak akan ada migration fee selama kamu setuju dengan proses migrasi yang kususun. Prosesnya sangat mudah.?

    ?Really??
    ?Yup, aku bukan tipikal freelancer-freelancer murahan seperti mereka hahahahah?

    Apa saja sih yang perlu disadari dan dilakukan saat klien meminta diri untuk pergi?

    Rejeki tak?kan pernah ada ujung penghabisannya.

    Klien

    Aku percaya yang ada ujung penghabisan itu usia bukan rejeki.
    Jadi, selama kita hidup asal kita berdoa berusaha, pasti Tuhan memberinya.

    Penghentian hubungan kerja seperti itu harus kita baca sebagai cara Tuhan untuk memberikan kita gelontoran rejeki dari tempat lain dan barangkali ini yang paling sulit, tapi kita harus sadar bahwa dimanapun nanti gelontoran lain itu dimunculkan, itu pasti yang terbaik karena kita mendapatkannya dari Tuhan!

    Klien adalah klien!

    Klien

    Ini bukan perkara uang, Don!
    Ini perkara bahwa karyaku adalah anak idealisku.

    Halah! Nggak usah lebay!
    Ketahuilah bahwa secinta-cintanya kamu dengan hasil pekerjaanmu, kamu sejatinya tak berhak untuk mengimbuhkan rasa ?cinta? itu karena semua lunas ketika terbayar dan semua itu jadi milik mereka, milik klien!

    Tinggalkan kesan terbaik bagi mereka.

    Klien

    Saat aku dikabari bahwa mereka akan menggunakan in-house developer, hal pertama yang aku sampaikan kepada mereka adalah, ?Wow, it?s gonna be great!?

    Dan tak berhenti di situ, aku mengimbuhinya, ?Karena situs sebesar ini seharusnya memang dikelola lebih baik lagi oleh in-house!?

    Kesan baik adalah hal yang harus ditinggalkan kepada mereka yang memutuskan pergi dari kita. Kenapa?

    Kenapa? Kenapa juga harus meninggalkan kesan buruk? Nah loh, kubalik kan pertanyaannya?

    Lagipula, kamu tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam masa depan hidupmu. Siapa tahu kalian akan berhubungan lagi sebagai developer dan klien, kan?

    At least, ketika mereka ada proyek baru atau merasa desperate dengan in-house developer-nya, mereka bisa kembali menghubungi kita karena kita orang baik.

    Persiapkan migrasi semudah dan semulus mungkin

    blog_rejeki_02

    Hampir semua teknologi masa kini tak kenal kata sulit untuk dipindah-tangankan. Jadi ya jangan mempersulit karena kalau ketahuan itu hanya trick, monyet-monyet akan menertawaimu!

    Berikan semua akun termasuk login username dan password baik dari server maupun admin panelnya. Serahkan kembali semua digital assets kalau memang masih kamu simpan, pokoknya ibarat kata, makanan di atas piring, ketika diminta untuk dipindah ke piring sebelah ya jangan sampai ada yang tersisa!

    Oh ya jangan lupa untuk meminta dan memastikan mereka untuk menghapus akun kita atau setidaknya mengganti password supaya nama baik kita makin terjamin bahwa kita bukan maling yang berniat mencuri informasi atau mengganggu sistem baru yang akan dibangun.

    Dokumentasikan semua proses migrasi tersebut dalam bentuk tertulis. Karena meski sudah berusaha manis ke klien, kadang-kadang kalau kepepet, mantan klien bisa menggigit, dan kita bisa menangkisnya dengan bukti tertulis itu!

    Cari klien lagi!

    Klien

    Setelah semuanya beres, tutup buku, arsipkan hal yang bisa kamu arsipkan dan? cari klien lagi!

    Beres, kan?

  • Hari pertama kerja? Semua ok kecuali…

    Hari pertama kerja? Semua ok kecuali…

    Hari pertama kerja tadi?
    Sebagai orang yang ?hobi? mencari pekerjaan baru (dan Puji Tuhan dapat kerjaannya), apa yang kualami tadi sebenarnya memang sudah diprediksi.

    Datang, disambut manager HR, diajak ke ruangan untuk dikenalkan pada profil perusahaan. Ia membawakan sejarah, visi-misi, service, daftar klien, apa yang akan kukerjakan, aturan ini dan itu? semuanya disampaikan hampir seharian.

    Jam istirahat tiba.
    Seperti yang sudah direncanakan, bos besar memanggilku untuk makan siang. Maka jadilah kami makan siang kurang lebih satu jam, ngobrol ngalor-ngidul banyak hal diluar pekerjaan.

    Kembali ke kantor, melanjutkan sesi perkenalan dengan hal-hal yang belum tuntas paginya demikian hingga sore.

    Semua berjalan sesuai rencana dan mulus-mulus saja.

    Yang seru dan ternyata ?jadi masalah? yang tak terduga sebelumnya justru persiapan pagi dan pulang sore harinya.

    Selain bangun telat (meski weker sudah kustel, tapi percuma karena kumatikan dan aku kembali tidur), bobot tas kerja yang kubawa diluar perkiraan sangat berat!

    Ini memang salahku.?Jadi ceritanya beberapa pekan lalu aku dan Joyce berdiskusi tentang tas macam apa yang harus kubeli.

    Karena kantor tempatku kerja sekarang menganut pola BYOD (Bring Your Own Device), aku harus membawa laptop, ipad dan semua alat kerja dari rumah.

    Karena aku juga nge-gym, aku juga harus berpikir untuk membawa peralatan gym-ku.

    Dan karena nantinya aku akan bekerja pindah-pindah dari kantor klien yang satu ke klien lainnya, adalah tak mungkin untukku meninggalkan barang-barang tersebut di kantor klien karena bagaimanapun juga aku akan jadi sosok eksternal dan bukan pegawai mereka.

    Untuk itu Joyce menyarankan untuk membeli mobile office bag, sebuah tas mirip koper kecil yang memiliki roda di bagian bawah tas jadi kita tak perlu menjinjing sama sekali.

    Modelnya kira-kira seperti di bawah ini:

    mobile office

    Tapi aku berpikir model tas seperti itu too much! Terlalu besar dan ribet karena harus tarik tas beroda. Lagipula aku terlanjur suka pada satu tas (messenger bag) dan karena ukurannya cukup besar, Joyce pun setuju.

    Tas kubeli, barang-barang juga tak masalah, bisa kumasukkan.

    Tapi yang tak kuduga adalah bobotnya.

    Sepagian dan sesorean tadi aku cukup tersiksa untuk menjinjing tas dari rumah ke stasiun kereta sepanjang 2km yang kutempuh dengan berjalan kaki!

    Alhasil, pundak sakit, pinggang ngilu dan sekarang aku berpikir untuk akhirnya menuruti saja apa yang dikatakan istriku tadi bahwa mobile office bag adalah pilihan terbaik terutama dengan pola kerja dan barang-barang yang harus kumasukkan ke dalamnya.

    Tas yang sudah terlanjur dibeli? Ya jual lagi!

    Oh ya, gambar di atas adalah view dari tempat dudukku, Sydney CBD dari lantai 18.

    Selamat malam!

     

  • Masuk kerja hari pertama, wish me luck!

    Masuk kerja hari pertama, wish me luck!

    Setelah sebulan tepat berada dalam masa gardening leave yang menyenangkan, pada akhirnya secara formal mulai malam tadi pukul 00:00 waktu Sydney aku telah resmi bukan lagi menjadi pegawai perusahaan lama tempatku bekerja dan beralih menjadi pegawai di perusahaan baru yang saat tulisan ini kumuat aku sedang dalam perjalanan menuju kantornya untuk masuk kerja hari pertama.

    Hal terbesar yang paling penting untuk kusampaikan terkait dengan perpindahan ini adalah aku melakukan sebuah loncatan cukup besar dari sisi bidang kerjanya.

    Tak benar-benar ganti halauan karena aku masih tetap ada di dunia web, tapi karena makin luasnya cakupan web development saat ini dibandingkan enam belas tahun silam saat aku pertama kali terjun ke industri ini, aku bisa bilang bahwa ini adalah sebuah lompatan besar.

    UI/UX. Apaan tuh!?

    Jika sebelumnya aku berprofesi sebagai seorang senior developer merangkap sebagai team leader dari sebuah tim produksi, mulai besok pagi, pekerjaanku akan berubah menjadi seorang UI/UX Consultant.

    Hah? UI/UX apa pula itu?

    UI/UX adalah singkatan dari User Interface/User Experience. Jadi pekerjaanku adalah menyangkut tentang bagaimana aku bisa memberikan jasa konsultasi kepada klien terkait desain web dan pengaturan informasi di dalam web yang seperti apa yang membuat pengunjung/user nyaman untuk berada di dalamnya.

    UI UX

    Apakah sejenis designer?

    Jika hal itu mampu memudahkan untuk mengerti hal ini, bolehlah demikian. Meski sebenarnya cakupan kerja seorang UI/UX Consultant tidaklah sesempit hanya dari sisi design saja. Seperti yang kubilang di atas, pengaturan informasi termasuk hal terpenting.

    Background

    Mungkin banyak yang bertanya, apakah aku bisa mengingat backgroundku adalah seorang developer?

    Jawaban singkatnya adalah, ?Bisa!? Kalau tak bisa, aku tak?kan diterima :)

    Jawaban sedikit lebih panjangnya begini.

    Dulu, waktu pertama kali terjun di dunia web development, enam belas tahun silam, aku ?mendekati? industri ini justru dari sisi design. Kenapa? Waktu itu, bahkan hal terkait web programing belum masuk dalam kurikulum kuliah! Maka jadilah aku seorang web designer.

    Ketika pada akhirnya aku semakin dalam masuk ke industri ini, klien-klienku tak dinyana ?sangat mengapresiasi design yang kubuat.

    Hingga pada perkembangannya, aku sebenarnya juga tak pernah jauh dari dunia design.

    Sejak pindah ke Australia, kalau kuhitung-hitung hanya sekali aku bekerja sebagai developer di dalam sebuah divisi IT. Kebanyakan, aku bekerja sebagai developer dalam sebuah tim kreatif yang terdiri dari para designer.

    Nah, dari pengalaman sehari-hari bekerja dengan mereka, mau-tak-mau, kemampuanku untuk memandang web dari sisi design dan UI/UX semakin terasah disertai dengan bukti-bukti pekerjaan yang menempatkanku sebagai seorang UI/UX implementator.

    Bahasa

    Yang membuat lompatan kali ini benar-benar terasa besar juga adalah karena tuntutan pekerjaan yang baru membuatku harus mampu berkomunikasi dengan klien secara baik.

    Sebagai seorang konsultan, aku akan menggunakan bahasa dan kemampuanku berinteraksi dengan klien sebagai modal utama.

    Apakah aku bisa??Sejatinya, inilah hal yang paling membuatku nervous!

    Delapan tahun tinggal di Australia, tak membuatku serta-merta merasa PD dalam berbahasa Inggris.

    Sebagai seorang yang bukan native speaker Bahasa Inggris, aku harus berpikir sebelum mengucapkan kata dan ini cukup menyiksa.

    Namun anehnya, dari beberapa interview dan kesan yang kudapat dari orang-orang yang kukenal dekat dalam pekerjaan, kebanyakan memberikan impresi bahwa aku adalah seorang komunikator yang baik.

    Pada awalnya aku tak percaya, ?Masa? Jangankan seorang komunikator yang baik. Tiap aku omong saja perasaan selalu ada satu atau dua kata yang tak dimengerti lawan bicara karena aksenku!?

    Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa sejatinya komunikasi itu bukan soal bahasa, tapi soal bagaimana entah caranya pokoknya apa yang kumaui dimengerti lawan bicara dan sebaliknya, apa yang mereka katakan bisa kuterima dengan baik. Di titik ini, aku harus setuju dengan mereka karena nyatanya aku memang merasa bisa!

    Budaya dan Teknologi

    Hal lain yang patut dimasukkan sebagai pemberi faktor ?lompatan besar? kali ini adalah budaya kerja dan teknologi yang amat jauh berbeda dari yang kulakukan sebelumnya.

    Budaya kerja yang selama ini kualami adalah budaya casual dari sisi berpakaian dan fleksibel dari jam kerja.

    Kemarin-kemarin, isi lemariku hanya kaos hitam dan celana jeans. Aku tak memusingkan kemeja apalagi jas yang kupakai hanya untuk kondangan saja!

    Tapi di perusahaan baru ini aku dituntut untuk mengenakan pakaian formal lengkap dengan jas setiap hari.

    Lalu soal teknologi. Kalau sebelumnya aku berada dalam lingkungan teknologi open source, mulai sekarang aku bekerja di perusahaan yang memberikan solusi bagi kliennya teknologi yang bukan open source dan baru sama sekali!

    Grogikah aku?

    Sejatinya tidak untuk hal ini. Kenapa? Aku selalu percaya sebeda apapun teknologi yang ada dalam industri ini, selama prinsip-prinsip dasarnya masih sama, menguasai hal-hal baru hanyalah soal kemauan dan waktu!

    So? doakan saya semoga sukses di pekerjaan baru ini! Wish me luck!

  • [Q&A] Kenapa demen pindah-pindah kantor?

    [Q&A] Kenapa demen pindah-pindah kantor?

    Ada beberapa yang heran dengan ?hobi? ku pindah-pindah kerja.

    ?Nggak takut kan berisiko?? Ini pertanyaan yang paling sering kutemui.

    Nan tak kalah akrabnya adalah yang begini, ?Kan udah enak di situ, Bro.. Loe cari yang kayak apa lagi sih??

    Sejak berkarir di Australia, awal 2009 silam, hingga saat ini aku sudah bekerja di enam perusahaan yang berbeda dengan waktu kerja terpanjang bekerja adalah 2 tahun sepuluh bulan dan terpendek hanya dua minggu.

    Untuk menjaga privasi, aku tak hendak menyebutkan perusahaan mana saja meski kalian yang terhubung di Linkedin denganku tentu bisa melihatnya.

    Nah, di tulisan ini aku akan berbagi beberapa hal terkait ?hobi? itu tadi. Sebagian boleh kalian anggap sebagai tips, sebagian lagi boleh kalian anggap sebagai angin lalu. Semuanya semoga berguna, tapi kalau menurut kalian ini semua hanya seonggok sampah, buanglah di tempat yang semestinya hahaha?

    Kenapa demen pindah kerja?
    Karena aku ini seorang pembosan, gila tantangan, kompetitif dan ambisius!

    Waduh!
    Yup.

    Udah ada beberapa hal yang tak boleh di-bosan-i, kan? Nah, sebagai manusia normal pelestari sifat bosan, aku memilih mudah bosan dengan pekerjaan, at least lebih aman ketimbang bosan pada hobi ngeblog ataupun bosan pada istri. Bisa berabe lho!

    Lalu lainnya?
    Ya, ketika masuk ke perusahaan aku pasti punya ambisi untuk bisa mengerjakan hal yang harus kukerjakan di situ. Aku menyukai saat-saat penaklukan pekerjaan itu.

    Tapi ketika akhirnya aku bisa menguasainya dan mendapat recognizition, aku jatuh bosan. Nah, di saat aku merasa bosan, pikiran tentang mencari pekerjaan baru pasti muncul apalagi ditambah kenyataan betapa banyak orang-orang yang saat itu pasti juga sedang mencari pekerjaan baru, gaji baru, kantor baru lalu akhirnya aku tersudut pada pertanyaan yang kubuat sendiri, ?Kenapa kamu masih ada di sini, Donny?!?

    Begitu terus-menerus?.

    Keuntungannya apa sih pindah kerja terus?
    Gaji.
    Jangan berharap bisa naik gaji lebih dari sepuluh persen kecuali dapat promosi di Australia.

    Jadi kalau mau naik gaji lebih cepat ya cari kerja baru!

    Cuma gaji? Mata duitan loe, Don!
    Selain itu, pindah kerja selalu berhasil mendatangkan perasaan yang susah dilukiskan. Ada berdebar-debarnya, ada khawatirnya, termasuk perasaan ?Duh, kenapa aku pindah sih dulu?!? Menarik!

    Kerugiannya?
    Nggak dapet long service leave.

    Apa itu?
    Di Australia, setiap pegawai tetap yang bekerja sepuluh tahun di perusahaan berhak untuk mendapatkan cuti dua bulan dan dibayar.

    Kamu merasa rugi?
    Enggak, tapi orang lain menganggap demikian.

    Kenapa kamu nggak merasa rugi?
    Karena memang meski aku demen libur, tapi libur yang kelamaan itu membosankan!

    Oh ya? Kenapa?
    Kaitannya dengan rasa malas, Bro! Terlalu lama libur akan menerbitkan rasa malas dan aku pada dasarnya adalah pemalas kelas kakap.

    Oh ya?
    Tapi kamu ?dikenal? sebagai orang yang giat banget lho!
    Agama aja diurusin kan?

    Hahahahaha?
    ?Orang-orang? lama di lingkunganku tahu bahwa aku ini sejatinya pemalas kakap!.

    Tapi sekitar sepuluh tahun silam aku pernah berada dalam satu periode dimana aku berpikir kalau selamanya aku begini, malas, aku tak kan bisa jadi orang sukses.

    Lalu apa yang kamu tempuh?
    Memaksa diri sendiri untuk tidak malas dan giat. Aku keras terhadap diriku sendiri.

    Tapi kan banyak terapi
    atau cara-cara yang bisa kamu ambil
    supaya tak terlalu keras pada diri?

    Non sense!
    Kalau aku mengambil terapi ?10 cara jitu mengusir malas? atau apalah lainnya, hal itu justru akan semakin menabalkan diriku sebagai pemalas yang malas untuk mencari obat malas dan dengan malas-malasan mencoba mencari jalan pintas supaya tak lagi dicap sebagai pemalas!

    Ngomong-omong di depan tadi kamu bilang
    kamu orang yang ambisius.
    Ambisimu apa?

    Ambisiku gampang sekaligus sulit, menjadi yang terbaik dari yang kemarin dari siapapun!

    Bisa mencapai?
    Nggak selalu.

    Lalu kenapa tetap berambisi?
    Begini lho? bagiku hidup itu seperti anak panah yang dilepaskan dari sebilah busur. Ia akan menapak tinggi lalu turun jatuh ke bumi dan menancap, mati.

    Aku hanya ingin supaya anak panahku dapat semakin tinggi dan tinggi dan tinggi, selama mungkin sebisa mungkin.

    Eh bagi tips dong,
    gimana cara pindah-pindah kerja kayak kamu begitu.

    Nggak mau!

    Lho kok nggak mau?
    Hmmm aku mau tapi ada syaratnya?

    Apa?
    Aku ingin kamu bertanya kepadaku kenapa kebanyakan orang lain malas pindah kerja?

    Lho kamu ini aneh,
    penjawab kok mendikte yang bertanya.
    Tapi baiklah, kenapa menurutmu banyak orang malas pindah bekerja?
    Hahahaha, jawabanku sudah ada dalam pertanyaanmu, malas!

    Oh?!
    Mereka merasa nyaman dan aman di zona yang sekarang padahal siapa sih yang bisa menjamin?

    Ah kamu suudzon!
    Siapa tahu mereka sedang membangun karir?
    Ya bisa jadi juga, tapi soal ini aku punya pemikiran lain.

    Membangun karir itu tidak ada hubungannya dengan setia atau tidak setia pada satu perusahaan. Bagiku kesetiaan pada perusahaan itu adalah sebuah halusinasi, kalaupun ada hanya orang bodoh yang melakukannya!

    Kenapa?
    Ngapain setia pada sesuatu yang bukan kita miliki?

    Aku selalu beranggapan, membangun karir itu tak melulu harus di perusahaan yang melulu sama! Membangun karir itu bisa terhadap pilihan karir kita sendiri.

    Contohnya?
    Aku sebagai seorang yang bergelut di dunia web development sejak 1999 memilih membangun karir terhadap bidang yang kudalami bukan perusahaan yang mempekerjakanku.

    Jadi meski pindah terus dari satu perusahaan ke perusahaan lain, aku masih tetap merasa membangun karir karena makin hari, karir profesionalku makin terbangun dan makin tinggi. Skill setku harus semakin komplit diiringi pengalaman yang makin banyak jam terbangnya.

    Ok. Sekarang boleh tanya tipsnya?
    Boleh..

    Tips dariku, terutama kalau kamu kerja di Australia.?Yang pertama jangan keluar dari perusahaan yang sekarang sampai kamu tanda tangan kontrak pekerjaan yang baru.

    Meski mungkin kamu sudah eneg dan pengen buruan pindah, tetaplah bersabar. Tarzan pun akan meninggalkan sulur yang satu setelah ia melihat dan menganalisa ada sulur lain yang kuat untuk digelantungi dan sanggup mengantarkannya ke sulur yang lainnya lagi.

    Kedua?
    Kedua, melamarlah pada perusahaan yang sudah kamu pelajari dulu latar belakangnya. Pengalamanku dulu, aku pernah dirumahkan tanpa diberi uang pesangon. Tahu kenapa? Karena bekerja di perusahaan yang berukuran kecil dan saking kecilnya, secara hukum ia bisa punya keleluasaan untuk memberhentikan orang tanpa harus membayar kewajiban yang harus dibayarkan selayaknya perusahaan besar.

    Baru dua, ada berapa lagi?
    Banyak!
    Yang ketiga! Melamarlah pada pekerjaan yang kira-kira 60% nya sama dengan yang kamu kerjakan sekarang.

    Kenapa 60%? Kenapa tidak 100%?
    Tidak. Bagiku tidak ada sesuatu yang 100% identik dan tidak ada pula job yang 100% sama dengan job description yang dituliskan di iklan lowongan pekerjaan. Selalu ada plus minusnya yang kalau kita tanya, ?Lho, pekerjaan ini tidak ada dalam job desc yang waktu itu kubaca deh!? jawabannya mungkin, ?Sorry.Lalu kamu mau keluar?? Kamu yang skak mat kan?

    Selain itu, kalau apa yang kamu kerjakan 100% sama, untuk apa kamu pindah?

    Yang keempat? Kalau masih ada?
    Ada.

    Jalin relasi dengan semua orang yang pernah bekerja denganmu, di sinilah perlunya untuk menjaga hubungan meski kita berkompetisi dengan orang-orang itu.

    Aku punya pengalaman ketika sebuah perusahaan tiba-tiba menghubungiku dan bilang langsung bahwa mereka pengen aku pindah. Ternyata mereka mendengar dari mantan bosku yang memberikan rekomendasi amat kuat terhadapku padahal aku tak minta bahkan kenal pun tidak dengan perusahaan yang menghubungiku itu.

    Lalu yang kelima?

    Oh masih ada?
    Ada!
    Yang kelima, ketika kamu sudah dapat kerja, jangan berhenti untuk terus mencari kerja setidaknya ketika kamu sudah merasa bahwa kamu mantap dengan posisimu yang baru.

    Jadi biarkan para agen dan perusahaan yang menyukaimu tetap menghubungi dan terima mereka baik-baik. Kalau pekerjaan barumu ternyata nggak kamu sukai atau team membernya ada yang ngehek atau manajermu nggak asik, kamu setidaknya tetap ada dalam posisi memilih untuk pindah.

    Maksudmu?
    Jangan sampai dalam hidup ini terutama dalam hal-hal yang praktikal seperti pekerjaan misalnya, kamu memposisikan dirimu sebagai orang yang tak punya pilihan. Bagiku kalau sudah seperti itu kamu adalah pecundang.

  • [Q&A]  Kalau kalian semua pengen jadi bos, lalu yang jadi buruh siapa?

    [Q&A] Kalau kalian semua pengen jadi bos, lalu yang jadi buruh siapa?

    blog_qa

    Muhammad Ikhwan (? buka laman facebooknya) adalah seorang pembaca setia blog ini!

    Ia tak hanya datang dan membaca, tapi kerap dalam percakapanku dengannya di Facebook, ia banyak mengutip tulisan-tulisanku yang membuatku justru kadang berpikir, ?Hah? Masa sih itu tulisanku? Apa aku sehebat itu bisa menuliskan pandangan-pandangan yang kuat seperti yang dikutipnya??

    Ikhwan, setahuku, adalah orang Jawa tapi?tinggal di Malaysia dan berprofesi di bidang IT.?Seminggu yang lalu, aku minta ia untuk menuliskan komentar di tulisan ini. Tapi alih-alih berkomentar seperti halnya orang lain berkomentar, ia malah mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku yang kupikir bagus juga kalau kutampilkan sebagai tulisan baru; tentu yang bau-bau IT juga.

    Jadi, nikmatilah tulisanku kali ini. Kuyakin, meski bercorak IT, tapi gambar besar dari jawaban-jawabanku atas pertanyaannya adalah hal yang berbau umum dan awam.

    Thanks Ikhwan untuk kiriman pertanyaannya dan kesetiaanmu untuk terus membaca blog ini. Suatu saat nanti, seijin Tuhan, kita pasti bertemu secara langsung entah dimana dan kapan.

     


    QAku ingat tulisanmu yang ini kalimatnya; kalau kerja di bidang programming itu yang kita harus bisa bahasa programming karena akan berhadapan dengan bahasa pemrograman. Dan kita tahu banyak developer atau programmer di Indonesia yang bagus-bagus tapi ada kendala di bahasa Inggrisnya. Nah itu bagaimana?


    ABegini Bro.
    Secara umum, orang lebih mudah belajar Bahasa Inggris ketimbang bahasa pemrograman.

    Belajar bahasa pemrograman, kamu perlu logika di kepalamu. Perlu konsep yang melatari cara kerja bahasa pemrograman itu, mau object oriented atau yang lainnya. Belajar Bahasa Inggris, yang kamu perlukan sebenarnya cuma banyak-banyak nonton film berbahasa Inggris dan berani omong dengan orang-orang yang datang dengan latar belakang Bahasa Inggris.

    Lagipula, karena hampir semua referensi bahasa pemrograman adalah dalam english, yang aku takutkan sebenarnya bukan soal Bahasa Inggris yang dijadikan kendala, justru adalah rasa tidak percaya diri dari developer-developer itu untuk ber-cas-cis-cus dalam english. (Simak tulisan lawasku tentang pengalaman ber-Bahasa Inggris saat datang pertama kali ke Australia)

    Nah, kalau soal bahasa saja tak percaya diri, bagaimana kita bisa percaya pada hasil kerjaannya secanggih apapun orang itu dalam skill set-nya, kan?

     


    QApa opini kamu tentang web accessibility untuk disabled dan elderly people?


    AWeb accessibility selalu jadi hal yang sangat penting dan bagian yang tak bisa dipisahkan dari pengembangan web sejak awal mula. Tapi jujur aku secara pribadi tak pernah terjun dan terlalu memperhatikan web accessibilty untuk diasbled dan eldery people dengan berbagai macam alasan. Aku tahu apa yang kulakukan ini tak benar, semoga ke depannya aku lebih peduli atau setidaknya kalian yang membaca tulisan ini jadi sadar bahwa web accessibility adalah penting…

     


    QKamu kan jadi team leader. Apa pendekatan kamu ketika bekerja dengan mereka dan apa yang kamu sarankan supaya mereka tidak keluar dari kontrol?


    APendekatanku adalah mendekati mereka, hehehe?
    Aku harus merasa haus terhadap semua project yang statusnya WIP (work in progress) , aku harus tahu apa yang akan dikerjakan team member setiap harinya dan satu-satunya cara adalah dekat dengan mereka.

    Metode yang bisa kugunakan untuk itu, menurutku adalah agile/scrum yang kuintegrasikan dengan metode WIP meeting seminggu sekali. Dari stand-up meeting harian aku tahu apa kesibukan mereka hari itu, dari WIP meeting aku tahu seberapa efisien kesibukan mereka per hari memberikan kontribusi maksimal pada penyelesaian proyek.

    Aku juga selalu memulai proyek dengan dokumentasi yang jelas dan harus dijelaskan ke seluruh anggota tim. Dari situ semua sebenarnya bisa mudah dianalisa apakah seseorang masih berada dalam kontrol atau sudah menyerong tak tentu arah.

     


    QGimana working culture disana?


    AWorking culture yang gimana nih? Aku pernah menuliskannya sedikit di sini.

    Secara umum sih orang bekerja di sini sangat menghargai perimbangan antara hidup dan kerja. Artinya, seorang pekerja diharapkan juga memiliki ?kehidupan? di luar pekerjaan.

    Implementasi dari prinsip itu nampak pada hak-hak pegawai untuk misalnya, nge-gym pada saat jam istirahat, pulang tepat waktu, cuti ini dan cuti itu, berhak untuk tak bisa dihubungi saat sedang tidak di kantor terlebih saat weekend dan lain sebagainya.

    Di sini, perusahaan juga sangat memperhatikan perngembangan skill individu pegawainya, setiap pegawai berhak untuk berkembang secara skill dan perusahaan wajib memperhatikan pemenuhan kebutuhan untuk itu.

    Beberapa kali aku dapat training dan itu sangat berguna. Kadang aku mendapatkannya secara cuma-cuma, tapi kalaupun bayar sendiri, biasanya perusahaan akan back up. Maksudku, meski kita ikut training, kita tetap dianggap masuk kerja dan tidak dipotong jatah cutinya.

    Team work juga diperhatikan di sini. Sejago-jagonya kamu coding, kalau team work kamu jelek, kamu akan terenyahkan begitu saja?.

     


    QMungkin sedikit saran untuk mereka yang mau dan memulai bekerja sendiri? Manajemen waktu, rolling capital, etc


    AAku nggak capable dalam pemberian saran untuk mereka yang akan memulai bekerja sendiri karena memang aku berkeyakinan bahwa hidup ini tak harus diselesaikan sebagai pengusaha. Simple cara pikirku, kalau kalian semua pengen jadi bos, lalu yang jadi buruh siapa? :)

    Aku sendiri punya jalur hidup yang unik. Memulai karir justru sebagai bos, lima belas tahun lalu, kemudian 2008 silam aku memutuskan keluar untuk bekerja ?ikut orang?.

    Bukan! Bukan karena perusahaan yang kupimpin gagal karena bahkan hingga kini, perusahaan yang dulu kubidani itu malah bertambah besar dan kian besar. Oh ya, terkait hal ini kamu mesti baca tulisanku yang lainnya di sini tentang bakar kapal dan menjadi wiraswastawan.

     


    QAda tips on how to assemble and develop good/awesome engineering team?


    ASaat ini orientasiku bukan untuk membuat sebuah tim kerja yang bagus dalam artian yang bisa dipertahankan dari proyek ke proyek.

    Tuntutan bisnis akhir-akhir ini seolah memintaku untuk menjadi orang yang mampu mencari talent untuk membentuk dan membongkar tim kapanpun proyek mulai/selesai.

    Jadi, kalau kamu bertanya kepadaku, tim yang baik bagiku adalah tim yang bisa dengan cepat kubentuk dan bisa dengan cepat menyelesaikan proyek dan aku tak mengalami kesulitan ketika aku harus membubarkan tim tentu dengan hasil pekerjaan yang optimal.

     


    QSampai kapan mau bekerja untuk orang?


    ATergantung tempat.
    Kalau di Indonesia, bekerja untuk orang terlalu lama itu seperti membiarkan tungkai kakimu dihisap lintah! Kamu tak sadar tapi lama-lama mati lemas kehabisan darah.

    Secepat mungkin, kalau memungkinkan beralihlah dari pekerja menjadi pengusaha.?Kalau tak memungkinkan atau tak suka, carilah kemungkinan lain untuk mencari pekerjaan di perusahaan besar dan kalau bisa multi-nasional karena setidaknya di sana peluang untuk mengembangkan karir dan melebarkan koneksi jauh lebih mudah.

    Kalau ingin ikutan pindah ke luar negeri, ah itu ide bagus juga!

    Kalau di Australia, banyak orang bilang (dan aku sendiri membuktikan) bekerja dengan orang sebagai buruh adalah sebuah kenyamanan yang kadang justru tak didapatkan oleh pemilik usaha. Hak-hak buruh dilindungi dan pengusaha harus mencukupi hak-hak tersebut.

    Kalian mungkin mencap pemikiranku ini adalah pemikiran bodoh, tapi sebagai buruh kita berhak atas berbagai macam jenis cuti mulai dari cuti melahirkan/punya anak, cuti sakit, cuti untuk kepentingan keluarga, cuti tahunan. Kita juga berhak atas kompensasi kalau kita mengalami injury di tempat kerja dan ada banyak hak lain lagi yang bisa kita dapat sedangkan kewajiban kita hanya satu: bekerja.

    Dan kalau kalian mau tahu,perbedaan mencolok dari seorang pengusaha dengan range low to medium dibandingkan dengan buruh yang berkarir bagus justru bukan pada gaji.

    Tapi kenyataan bahwa bagi pemilik usaha, mereka berhak datang ke kantor kapan saja sedangkan pegawai sudah ada jam datang dan pulangnya. Nah, kalau hanya itu lantas dimana keistimewaannya?

  • [Q&A] Musuh terbesarmu adalah pesimismu

    [Q&A] Musuh terbesarmu adalah pesimismu

    blog_qa

    Layaknya pengawal rubrik tanya jawab di majalah, akupun mendapatkan banyak pertanyaan baik itu yang dikirim lewat email, messenger, maupun laman facebook blog ini (Hey, kalian yang belum nge-like, ditunggu oleh lebih dari delapan ratus orang lainnya di sini).

    Macam-macam benar pertanyaannya. Ada yang bertanya soal ngeblog, soal hidup di Australia, membagi puisi dan IT. Karena Senin kemarin aku membahas soal IT (? tulisan Senin?lalu), maka kali ini supaya berkesinambungan mari kita bahas yang ber-aras IT juga.


    QMas, apa benar kita bisa hidup/punya penghasilan yang menjanjikan dari dunia IT? Kadang kita merasa dunia IT sangat menjanjikan tapi di satu sisi dunia IT berkembang sangat cepat, kita kalah jauh dari developer-developer dari luar, bagaimana biar kita tetap bisa eksis di dunia IT? (Nn – Kediri)


    AHidup itu di tangan Tuhan, bukan di tangan dunia IT, dunia ekonomi, politik maupun dunia lain, Mas! Jadi kalau Mas nyoba sekuat apapun di dunia apapun, kalau Tuhan tak berkehendak kamu ?ada? di sana, Ia pasti tak kan mengijinkannya.

    Tapi apakah hal ini berlaku sebaliknya?
    Kalau Tuhan berkehendak kamu ?ada? di sana sementara kamu belum apa-apa sudah ketakutan untuk nyemplung di bidang yang sudah direstui Tuhan, apa kamu pikir Tuhan akan memaksamu ke sana?

    Menurutku tidak. Untuk itulah kita perlu mencoba sampai kita tahu seberapa jauh ijinNya.

    Dunia IT adalah dunia yang berkembang pesat, itu benar.
    Tapi seperti yang kutulis pada hari Senin silam, tak semua perkembangan itu harus kita ikuti kok. Kalaupun kita berniat untuk mengikuti semuanya, kita juga tak kan pernah bisa karena keterbatasan kita sebagai manusia.

    Dunia IT itu seperti halnya dunia kerja lainnya adalah kolam berisi air yang banyak memiliki relung-relung labirin. Sebagai ikan, kamu tak harus menguasai dan bahkan tahu setiap labirin yang ada, cukup mengerti satu-dua di antaranya.

    Sama. Kerja di IT kamu nggak perlu ngerti semuanya karena ia terlalu luas akan semakin luas. Misalnya, meski ada beberapa, berapa banyak programmer IT yang bisa sama bagusnya ketika bekerja sebagai network administrator? Atau kalau mau dipersempit lagi, berapa banyak programmer .NET yang juga menguasai Java sama bagusnya?

    Yang penting kamu tahu diri, kapan waktunya mulai belajar, kapan waktunya bekerja, kapan waktunya berpikir untuk ganti halauan atau promosi karena tak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan, termasuk perubahan kemampuan kita, Mas.

    Oh ya, soal ketakutanmu pada developer-developer luar, jawabku begini?

    Apa definisi developer luar? Developer yang ada di luar Indonesia? Kalau iya, berarti aku adalah salah satunya.
    Aku bukanlah developer yang pantas ditakuti karena kamu tak kalah jauh dariku. Malah kalau mau jujur, ada puluhan, ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu developer di Tanah Air yang jauh lebih bagus daripadaku.

    Ini bukan caraku untuk merendah, Mas. Tapi justru caraku untuk mengangkat motivasimu yaitu bahwa hidupmu tak kan berubah banyak hanya karena kamu kalah dari developer luar.

    Bagiku, lebih penting adalah merasakan hangatnya sapaan istri dan riangnya anak-anak berlomba-lomba menyambut kita ketika pulang dari kantor, ketimbang mengukur sejauh mana kekalahan kita daripada developer-developer lainnya, Mas.

    Lapangkan pikirmu!

     


    QHalo Bro Donny.
    Saya seorang web developer lulusan Binus (jakarta) yang sudah bekerja selama satu tahun di dalam suatu perusahaan yang bergerak di bidang business-to-business, saya meng-handle website mereka dari 0 hingga sekarang.

    Anyway, saya sedang ingin mencoba suasana baru ke luar negeri, yaitu negeri Australia. Rencananya saya ingin bekerja sambil kuliah disana, saya ingin tetap bekerja sebagai web developer disana, namun, saya merasa pesimis, karena saya bukan lulusan dari universitas manapun di negeri itu. Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah itu memungkinkan bagi saya, untuk bekerja sebagai web developer disana ?
    Terima kasih banyak sudah membaca pesan ini. (Nn – Jakarta)


    AHalo juga Bro?Kamu lulusan Binus Jakarta, aku lulusan Akakom yang kampusnya di selatan pertigaan Janti Yogyakarta. Mark Zukerberg nggak lulus kuliah, alm. Steve Job juga tidak, dan Bill Gates harus dropped out dari Harvard University. Lalu kenapa?

    Bekerja jadi web developer di sini dan juga dimanapun seharusnya tak bergantung pada universitas mana yang meluluskanmu.

    Pengalaman mencari kerja dan bekerja sejak 2008 tak sekalipun aku pernah ditanya ?Kamu lulusan mana?? Ada memang yang pernah bertanya nilai-nilai yang kuraih saat kuliah tapi itu tak banyak, sangat jarang.

    Beberapa kali belakangan, Puji Tuhan, aku juga mulai terlibat proses interview pegawai baru dan aku juga ikut-ikutan tak tertarik bertanya soal latar belakang kuliah mereka.

    Tahu kenapa? Aku tak peduli mau seperti apa bagus dan buruknya mereka selama kuliah asalkan portfolio pekerjaan mereka bagus dan ke depannya bisa tampak bagus ketika bekerja untukku, itu sudah lebih dari cukup.

    Bro,
    Ketimbang mikirin layak-tidaknya kamu bekerja karena lulusan universitas di Indonesia, mending pikirkan syarat utama kerja di Australia, visa kerja dan keberanian.

    Dan kulihat, dari pertanyaanmu di atas, musuh terbesarmu bukanlah kemampuan dan bukan pula asal-muasal kampusmu.

    Musuh terbesarmu adalah hal yang ada di dalam benakmu sendiri,, pesimistis!

    Singkirkan itu jauh-jauh! Pesimistis itu hanya milik orang kalah yang terbuang sedangkan kita ini orang-orang pilihan…

  • Sampai kapan kita layak menjadi web developer?

    Sampai kapan kita layak menjadi web developer?

    blog_clurit_007

    Minggu lalu, dari kawan dekatku aku belajar tentang satu hal, berprofesi dalam jangka panjang sebagai seorang developer, khususnya web developer, itu harus mempertimbangkan faktor usia dan penurunan fungsi otak.

    Tuntutan terbesar dari profesi web developer menurutku adalah bagaimana kita mampu melakukan update terhadap bidang yang kita kuasai karena teknologi web sangat dinamis pergerakannya dan mencakup banyak sub bidang yang masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain.

    Misalnya teknologi device.
    Lima belas tahun lalu, seorang web developer tak peduli bagaimana websitenya dibuka lewat handphone karena memang belum lazim untuk sebuah handphone mengakses website. Hal terjauh yang perlu diberikan perhatian khusus paling hanya bagaimana menjelaskan kepada klien tentang perbedaan screen resolution dan web browser yang digunakan untuk mengaksesnya.

    Tapi kini, selain web browser yang digunakan dan screen resolution masih ada device model apa, ukuran dan tipe screen yang bagaimana, orientasi layar yang portrait atau landscape dan masih banyak lagi.Ke depannya?

    Itu baru soal device.
    Belum lagi soal framework yang pernah kuulas di tulisan ini. Pertumbuhan framework sangat tinggi saat ini. Delapan tahun lalu orang masih takjub melihat javascript library, jQuery mampu menyederhanakan pemahaman kita terhadap Javascript tapi kini ia tak ubahnya menjadi standard yang harus dimiliki setiap front-end developer karena kini bertaburan framework-framework yang memiliki scope kerja tak terbayangkan sebelumnya, sebut saja EmberJs, AngularJs, BackboneJs, React, Vue dan masih banyak lagi dan akan semakin bertambah banyak.

    Bagi seorang back end developer, persoalan tak berhenti di situ.
    Mereka dihadapkan pada back-end framework yang sekarang juga beraneka rupa; sementara kalau masih tetap keukeuh menggunakan plain programming language, PHP misalnya, ketika mencari pekerjaan baru, perusahaan akan mencari tahu, ?Familiar dengan framework apa? Zend? Laravel? CodeIgniter??

    Dan masih banyak? banyak lagi?

    Sementara wajah adalah hal yang bisa digunakan untuk menutupi usia, kemampuan otak yang melambat adalah sesuatu yang tak bisa diapa-apakan lagi. Jangankan untuk menampung hal-hal baru yang mesti di-update, menjaga hal yang sudah ada di otak pun kadang kita makin kewalahan kecuali dengan pengalaman yang makin matang yang kita punya?

    Itu bukan pula yang terutama karena persaingan (jika mau disebut demikian) datang juga dari mereka yang berusia jauh lebih muda, dengan kerja otak yang jauh lebih fresh, mereka ibarat singa lapar melahap hal-hal baru dan tak hanya itu, membuat inovasi-inovasi terbaru yang membuat kita yang menua ini kadang merasa kecil hati.

    Solusi?
    Tak melakukan update terhadap ilmu pengetahuan tentu bukan pilihan kecuali kamu mau jadi mesin rongsok yang makin lama makin tak laku.

    Berpindah karir atau berusaha untuk naik jabatan barangkali adalah pilihan yang lebih jitu.??Sayangnya aku nggak pede untuk loncat karir kayak kamu!? tutur kawanku pada suatu saat.

    Aku memang layak bersyukur karena diberi kesempatan untuk berganti karir atau lebih tepatnya mendapatkan promosi jabatan beberapa bulan silam.

    Semuanya berasal dari hal yang tak kuduga. Manajer sebelum yang sekarang keluar mendadak dan terjadi kekosongan kepemimpinan.

    Kejadian itu memicu orang-orang di bawahnya tak ubahnya seperti kuda yang dilepas tali ikat dan pagar kandangnya. Kami dulu-duluan melesat mencari posisi yang lebih baik di mata klien supaya nanti ketika manajer baru datang ia melihat bagaimana performa kami selama ini.

    Dihitung secara matematis, posisiku kalah saat itu dibanding rekan lainnya. Manajer yang keluar sudah terlanjur mempromosikan rekan-rekan lain ke departemen bisnis yang lain bukan karena kekurangahlianku tapi karena aku baru saja bergabung dan approach mereka, rekan-rekanku tadi, ke manajer lawas lebih mengena.

    Aku saat itu sempat putus asa dan berpikir ada baiknya keluar ketimbang mengikuti ?race? yang mustahil untuk kumenangkan dan membuat suasana kerja kian hari kian menegangkan.

    Tapi hidup ini untungnya tak sesederhana matematika!?Ada banyak faktor lain dan salah satunya serta yang terutama adalah faktor Tuhan.

    Ketika aku sudah mulai mencari pekerjaan baru, mendadak rekan-rekan lain mendapati kesalahan demi kesalahan yang memang sudah kuprediksi akan terjadi karena pilihan mereka untuk menempuh jalur yang lebih licin; mudah untuk maju tapi juga tak sulit untuk kita tergelincir.

    Di titik itupun aku sebenarnya tetap tak bernafsu untuk menelikung mereka atau lebih tepatnya sudah tak bernafsu karena bagiku, aku tak ingin menang karena sainganku melakukan kesalahan. Aku ingin menang karena aku lebih baik dari mereka.

    Dan pada saat itu, manajer baruku datang?
    Otomatis ia melihat kesalahan yang dibuat rekan-rekan sebagai sesuatu yang major. Di sisi lain, ia melihatku dari sisi yang positif; tenang dan fokus pada apa yang kuhadapi dan kerjakan. Tak lama setelah hari pertamanya, ia memanggilku dan mengajak berdiskusi.

    Kesempatan itu tak kusia-siakan. Kusampaikan visiku tentang apa yang seharusnya bisa dikerjakan lebih baik dan bisa diberikan untuk klien.

    Beberapa minggu sesudahnya, ia menerima visi itu…

    Hal itu tentu disambut dengan sesuatu yang tak menyenangkan dari rekan-rekan lain. Tapi semakin mereka melawan, semakin tampak kepongahan mereka dan aku tak tertarik untuk terpancing mengikuti ?game? mereka, karena aku memang tak digaji untuk mengikuti kemauan mereka :)

    Tak lama kemudian aku dikuatkan posisinya menjadi team leader dan sejak saat itu, rekan-rekan lain yang semula adalah sainganku, harus mengirimkan laporan tanggung jawab pekerjaannya kepadaku.

    Di titik itu, aku tahu aku sudah tak bisa lagi memposisikan diri sebagai orang yang sama-sama berlomba dengan mereka. Aku mengendalikan perlombaan antar mereka!

    Selebihnya tak perlu kuceritakan lagi kalian sudah bisa menebak bagaimana hasil akhirnya atau beberapa potong ceritanya sempat kuulas secara tersamar pada beberapa risalah akhir pekanku.

    Dan jadilah aku kini? mantan developer yang tugas sehari-harinya menjaga supaya para developer tetap punya pekerjaan yang harus dituntaskan setiap harinya.

    Apa yang kukerjakan saat ini berada di level pembicaraan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku concern terhadap ide solusi teknis secara global yang kushare dengan developer-developerku, berpikir tentang solusi terkini apa yang bisa kubawa ke direktur dengan pertimbangan robustness namun tetap terdepan.

    Aku harus aware terhadap pergerakan tiap project, menjaga hubungan yang manis dan menjaga dinamika tetap bagus dengan klien bahkan ketika hasil pekerjaan developer-developer sedang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, hingga berpikir keras kalau ada developer yang tiba-tiba tak masuk kerja karena sakit atau entah apa?

    Kadang aku rindu untuk get my hands dirty seperti dulu; mengerjakan coding dan merasakan jatuh-bangunnya membangun sebuah produk secara langsung. Ketika saat-saat itu datang, yang kulakukan biasanya minta bagian-bagian tak terlalu penting dari para developerku untuk kukerjakan dengan perasaan sukacita, bukannya penuh tekanan seperti dulu.

    Pada posisi ini, aku tak bisa tidak bersyukur pada Tuhan.?Menengok ke belakang, bagaimana dulu aku berkutat dengan layar biru (Turbo Pascal dan Power Basic serta C++). Aku juga masih ingat begitu terkejut dan kagumnya aku pada Windows yang bisa meng-encapsule Basic menjadi Visual Basic dengan pendekatan berbeda, event driven dan tentu dengan environment yang lebih indah berbasis pixel ketimbang DOS.

    Ketika web development mulai merambat naik, aku juga telah bertengger di sana. Menjuarai lomba web di kampus dan bekerja untuk perusahaan asing yang berkantor di Jogja saat yang lain masih sibuk fotokopi materi kuliah dan membuat laporan praktikum mingguan mereka.

    Menorehkan prestasi tak kecil bersama perusahaan yang kubidani kelahirannya dan kubanggakan hingga kini dan nanti, Citraweb Nusa Infomedia. Membangun situs portal kota Jogja, GudegNet dan ratusan situs klien berskala lokal, nasional hingga internasional sejak 2000 – 2008.

    Lalu ketika web semakin mengudara dan berkonvergensi ke varian-varian device yang lebih kecil ketimbang PC laptop, aku juga telah membuktikan ada di lini yang lumayan di depan di negara yang bukan tempatku berasal mula, Australia.

    Kini saatnya menapak ke jenjang yang lebih tinggi lagi dengan karakteristik persoalan dan solusi yang berbeda dari sebelumnya.

    Akan seperti apa karirku ke depannya? Aku tak tahu. Tikungan hidup ini kadang mengejutkan jadi ikuti dan jalani saja. Yang pasti aku tak akan serahkan perhitungannya pada matematika karena sekompleks apapun perhitungan yang ditawarkannya untuk menyelesaikan solusi, keruwetan hidup ini tak bisa dibandingkan karakteristiknya.

    Hanya kepada Tuhan aku bersandar sekaligus menatap ke depan.

    Hidup penuh tikungan mengejutkan.
    Kejutan itu kadang datang tanpa permisi dan tak disangka-sangka. – Ndorokakung

  • Bekerja untuk bule. Menakutkan?

    Bekerja untuk bule. Menakutkan?

    Beberapa bulan lalu aku sempat ditawari pekerjaan lepas (freelancing), sebuah proyek pengembangan situs web milik seorang pengusaha di Australia.

    Karena waktu yang sangat terbatas sementara kesibukan yang seolah tanpa batas, aku menolaknya tapi mencoba memberi arahan untuk menggunakan jasa seorang teman, sesama developer yang tinggal di Jogja (nggak usah nebak siapa orangnya, pasti salah!)

    Awalnya, terlebih setelah tahu jumlah uang yang bakal didapat, kawanku ini amat bergembira. Tapi setelah ia tahu bahwa perusahaan yang menginginkan situs web itu milik seorang ?bule?, ia menolak tawaranku dengan alasan bahwa bekerja dengan bule itu merepotkan, banyak maunya dan maunya sempurna!

    Aku tak menyalahkan alasannya karena aku pernah berada pada posisinya dan merasakannya. Sejak 1998 hingga 2008, di Jogja aku berkecimpung dalam dunia pengembangan situs web dan kebanyakan klien-ku adalah bule.

    ?Mas Donny bisa datang ke kantor saya sekarang?? tanya seorang klien dengan Bahasa Indonesia terpatah-patah, bule tentu saja.

    ?Bi? bisa, Pak!? aku langsung loncat ke atas motor dan menuju ke rumahnya yang terletak di selatan Jogja padahal waktu sudah menunjuk jam delapan malam lebih!

    Atau pernah lagi seorang klien, bule juga, mengabariku bahwa situs webnya tiba-tiba tak mau bekerja padahal sembilan bulan pertama bekerja dengan baik dan login info untuk file transfer protocol sudah pula kuserahterimakan.

    ?Mas Donny tolong betulkan situs web saja, rusak nih! Kamu apain??

    ?Lah, Pak saya nggak tahu, kan username dan passwordnya sudah diganti Bapak berbulan-bulan yang lalu??

    ?Iya tapi tolong lah, ini saya sedang pameran di Swiss jadi banyak yang mau visit website saya! Kan sayang kalau mereka visit tapi error?!?

    Ia lalu mengirimkan login info FTP-nya untukku dan ketika kucoba benahi, ternyata code milikku telah diganti secara banal!

    Atau yang lebih parah lagi, masih bule nih, aku mengerjakan sebuah website miliknya, dari sejak awal pembuatan design, aku selalu mendapat persetujuan/approval tapi lalu tiba-tiba ketika sudah selesai, dengan santainya ia bilang, ?Kok kurang gimana gitu ya hasilnya??

    Kalau sudah begitu, aku bisa jawab apa selain, ?Oh, jadi mau dibikin gimana lagi??

    ?Cobalah, Mas Donny dipikirkan lagi untuk bikin yang lebih bagus!?

    ?Iya, Pak tapi kan dari awal kita sudah setuju setiap tahap pengerjaannya??

    ?Iya? waduh gimana ya??? Garuk-garuk kepala, ?Manajermu namanya siapa? Aku mau telpon sekarang deh!?

    Kalau sudah begitu kalian tahu kan seperti apa akhiran ceritanya?

    Dari cerita-cerita di ataslah aku maklum dengan kekhawatiran kawanku tadi tapi persoalannya sekarang adalah, benarkah hanya bule yang seperti itu?

    Bagaimana dengan klien yang bukan bule?
    Atau? jangan-jangan manajer kita malah lebih kejam dari bule paling kejam sekalipun?!?

    Marilah kita jujur pada titik ini bahwa yang banyak maunya, yang maunya sempurna dan merepotkan itu bukan hanya klien bule kita, tapi bisa jadi semua yang merasa punya hak untuk melakukannya karena perlindungan negara terhadap kita tak pernah bisa maksimal!

    Lho kok tiba-tiba nembaknya ke negara?
    Ya iya! Karena negara itu adalah regulator! Ia harusnya menjaga supaya hubungan antara perusahaan dan pegawai, hubungan antara klien dengan pegawai sebuah perusahaan, berjalan dengan baik, tak ada yang dikecewakan dan tak ada yang merasa lebih dimenangkan.

    Tapi coba tengok soal peraturan jam kerja saja, misalnya.
    Adakah sanksi yang otomatis akan dijatuhkan negara terhadap sebuah perusahaan kalau ada karyawan yang dipaksa kerja hingga larut malam tanpa kesepakatan tambahan gaji misalnya?

    Atau, perlukah kita untuk punya kenalan Pak A dan Bu B terlebih dahulu di departemen tenaga kerja untuk kita bisa dimenangkan dalam kasus melawan perusahaan ataupun klien? Lalu bagaimana jika kita tak punya kenalan sama sekali? Akankah kita ditanggapi atau sekedar didiamkan lalu berujung pada komentar kita bahwa ternyata hukum memang tajam ke bawah dan majal ke atas?

    Jadi jangan salahkan bulenya! Bisa jadi bule-bule yang ada di Indonesia memang bersikap seperti itu karena sama dengan perusahaan tempat kita bekerja, mereka tahu bahwa hukum bisa dimainkan dan ditawar-tawar!

    Lalu bagaimana dengan pengalamanku berhadapan dengan klien bule di ?negara bule? seperti Australia ini?

    Ketika pindah dulu, 2008, rasa takut itu pasti ada, malah lebih besar penampakannya ketimbang saat di Jogja yang hampir tiap hari juga berhadapan dengan klien bule.

    Jangan-jangan mereka represif? Jangan-jangan mereka lebih semau-maunya sendiri?

    Tapi anggapan demi anggapan itu sirna begitu saja. Kian kemari aku berpikir bahwa ketakutan dan kekhawatiran yang dulu pernah hingga itu adalah sesuatu yang sia-sia!

    Ini lagi-lagi bukan karena bulenya tapi karena sistem peraturan yang terimplementasi cukup baik di sini.

    Perlindungan terhadap tenaga kerja dilakukan pemerintah tanpa pandang bulu; semua dilaksanakan sebaik-baiknya dan seotentik apa yang tertuang dalam peraturan resminya.

    Hal yang mungkin jarang ditemui di Indonesia tapi terjadi di sini; jika kita sedang berada dalam sebuah meeting, lalu tiba-tiba meeting terus bergulir melewati batas waktu kerja yang tertulis dalam kontrak kerja. Tiba-tiba kita bilang, ?Sorry guys, i need to go now!? dan tak ada seorang pun berhak melarang karena peraturannya memang demikian. Meski pada prakteknya, semua akan berakhir pada kompromi bagaimana kita mau mengorbankan waktu kita meski sedikit.

    Atau mau yang lebih ekstrim lagi dan ini pernah terjadi dulu. Aku sedang bertemu dengan klien, lalu tiba-tiba Joyce telpon dengan paniknya bilang bahwa Odilia sakit dan ia merasa harus ke rumah sakit saat itu juga. Aku semula canggung untuk mengutarakan ini kepada klien, tapi karena tahu dilindungi hukum, dengan datar aku bilang, ?Sorry, but i need to go to hospital for my daughter now!? Alih-alih marah, mereka malah menawariku untuk memanggilkan taksi jika kuperlukan malah ada yang sampai rela menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang saat itu juga.

    Tau kenapa? Di sini ada hukum tersirat meski tak tertulis, business is business but family (come) first!

    Dan yang terakhir yang tak boleh ketinggalan dan menurutku sangat penting adalah dokumentasi kerja. Dokumentasi berisi kesepakatan kerja dari kedua belah pihak, kita dan klien (atau pada dokumentasi kontrak kerja antara kita dan perusahaan) adalah sebuah landasan yang bisa kita tarik panjang hingga ke pengadilan jika diperlukan.

    Taruhlah kita terlibat dalam proyek.
    Dokumen SoW, Scope Work, sangat penting karena hal itu adalah pedoman kerja kita pada proyek. Kapan proyek dimulai, apa saja prinsip-prinsip pengerjaannya, output proyek yang ditunggu klien, tenggat waktu pekerjaan dalam hitungan detail serta cost proyek. Semua tertera di situ.

    Sehingga, jika dalam proses pengerjaan ada pihak yang merasa dirugikan, semua dikembalikan pada pembicaraan SoW document. Jika masih tetap tak merasa terselesaikan, bermodal dokumen itu, kita bisa menempuh jalur hukum untuk bisa diputuskan melalui pengadilan.

    Jadi, masih takut kerja untuk bule?
    Saranku, sebelum mengalamatkan rasa takutmu pada mereka, periksakanlah takutmu terhadap hal-hal yang lebih fundamental level ketakutannya, ?Apakah negara, pemerintah, melindungiku jika terjadi apa-apa dalam interaksiku dengan perusahaan dan klien??

    Sekali-kali ubah mainsetmu, dari yang semula ?Jangan pikir apa yang telah negara berikan kepadamu tapi berpikirlah sebaliknya apa yang kau berikan pada negaramu!?,

    menjadi sesuatu yang lebih revolusioner,

    ?Jangan ambil pusing pada apa yang kau berikan pada negaramu, tapi tuntutlah apa yang bisa diberikan negara kepadamu yang telah kau ongkosi dengan pajak yang kau bayar, darah dan keringatmu??

  • Kamu superman?

    Kamu superman?

    blog_superman

    Waktu awal-awal terjun dalam dunia web development dulu, 1999, pengembangan teknologi yang diimplementasikan belumlah sekompleks sekarang. Waktu itu kita hanya perlu design yang bisa di-convert ke HTML (bahkan belum ada css) lalu diunggah ke sebuah shared web hosting dengan domain name. Kalau perlu automatisasi atau tambahan fitur penyimpan data, tinggal pakai satu web programming language dan menghubungkannya ke satu database. Gampang!

    Akibatnya, muncul fenomena superman dalam dunia web development.?Superman yang kumaksud di sini tentu bukan si Clark Kent, manusia super yang menyaru jadi jurnalis dan takut pada kryptonite itu. Superman di sini adalah orang yang berani memposisikan dirinya sebagai web designer (bahkan istilah web developer pun belum terlalu tenar) dengan kemampuan mencakup semua hal yang kusebut di atas, dari hulu ke hilir proses produksi website. Orang-orang ‘super’ ini bisa jadi adalah orang teknis yang punya passion (ataupun merasa bisa tapi kadang hasilnya nggak bagus) men-design, ataupun sebaliknya, orang design yang berani mengotori tangannya dengan coding! (dan ketika di-trace oleh anak-anak teknis, biasanya strukturnya amburadul!)

    Nah, sebagai orang yang ‘lahir’ di era ‘pra-sejarah’ itu, akupun berlaku sama layaknya superman! Waktu itu aku berani mendeklarasikan diri sebagai webdesigner dengan latar belakang teknis yang punya passion di design! Lumayan menyenangkan karena secara ongkos produksi akan jadi sangat irit (dan untung kita banyak) karena tak perlu menggaji orang lain selain diri kita sendiri untuk mengerjakan proyek; mulai dari membeli domain, setup hosting, membuat design lalu implementasi ke web dan upload semua file ke server.

    Tapi di sisi lain, kita tahu bahwa hal itu sebenarnya nggak bagus-bagus amat! Perkembangan teknologi yang maju kian pesat mempengaruhi permintaan klien terhadap website yang kita buat. Mereka, para client, meminta supaya websitenya memiliki kemampuan untuk bisa diadaptasikan pada batasan-batasan teknologi terkini. Belum lagi soal semakin sempitnya waktu karena tanggung jawab keluarga dan komunitas, hal-hal inilah yang akhirnya membuat kita menyerah ketimbang terus mempertahankan ke-superman-an kita padahal aslinya kita pongah!

    Aku pun pernah merasakan ‘kerugian’ terkait dengan ke-superman-anku di sini.?Jadi waktu itu, setelah pindah ke Australia, November 2008, aku bersicepat untuk mencari pekerjaan. Untuk itu aku lantas membuat curriculum vitae (cv) dan kukirimkan ke agen-agen pekerjaan serta kantor yang membutuhkan pekerja. Aku menorehkan semua pengalaman kerjaku ke dalamnya mulai dari menjadi web designer di perusahaan A, menjadi web developer di perusahaan B, menjadi web manager di perusahaan B, pokoknya semua.

    Bayanganku, dengan menorehkan semua itu akan menimbulkan efek ‘WOW’ pada si pembaca, tertarik, mewawancaraiku lalu menerimaku dan menggajiku dengan imbalan yang maksimal!

    Tapi itu hanya bayangan, sayangnya! Kenyataannya tidaklah demikian.?Beruntung aku bertemu dengan seorang yang bekerja di agen pekerjaan. Ia memberitahu bahwa setelah membaca cv yang kukirimkan kepadanya, akan sangat sulit untuk sebuah perusahaan menerimaku bekerja bahkan untuk sekadar mengundang interview kecuali untuk high level position (management) karena kompleksitas cv-ku sendiri.

    “Perusahaan tak tahu mana sisi yang paling bagus dari kamu, apakah design atau technical development. Sedangkan untuk memberimu posisi management, mereka juga pasti ragu karena kamu belum punya pengalaman bekerja di Australia (nyatanya banyak sekali aturan pekerjaan yang berbeda antara Australia dan Indonesia dan ini harus dikuasai kalau hendak naik level jadi manager –red)” tuturnya.

    Tapi saat itu aku masih berusaha mengelak, “Tapi apa yang kutulis itu, semuanya membuahkan hasil yang bagus. Bukalah portfolioku. Artinya aku memang bagus di semua lini yang kutulis!”

    “Yup, tapi tetap sulit karena standardnya berbeda. Lagipula bagaimana perusahaan bisa menjamin bahwa kamu tetap happy kalau kamu hanya diminta untuk mengerjakan bagian kecil dari semua bagian yang kamu rasa bisa kerjakan itu?”

    Pada jawaban terakhir itu aku menyerah.
    Kultur bekerja di sini memang berbeda. Ada interaksi ‘happy-not happy’ yang dihormati tinggi-tinggi antara perusahaan dan pekerja (baca tulisanku tentang pentingnya kebahagiaan di sini). Artinya, dengan latar belakangku yang bisa mengerjakan semuanya, lantas perusahaan hanya memintaku mengerjakan bagian tertentu, concern mereka adalah apakah aku akan tetap bahagia kalau hanya diminta mengerjakan sekelumit itu?

    Strategi lalu kuubah. Atas saran orang tadi, aku membuat tiga cv berbeda berdasarkan bidang yang paling kukuasai saat itu yaitu web designer, web developer dan web project manager.

    Dengan cv yang tajam, hasil yang kudapatkan pun berbeda. Sebulan setengah setelah pindah, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai back-end developer (baca tulisanku tentang pengalaman mendapat pekerjaan pertama kalinya di sini).?Dua tahun kemudian, selepas bekerja di perusahaan pertama dan pindah ke Fuji Xerox, aku menambah beberapa cv lagi mulai dari online campain specialist, front-end developer, back-end developer dan web designer. Cv bertajuk web developer kuhapus karena hal tersebut telah kupecah menjadi dua, front end developer dan back end developer.

    Dua tahun yang lalu aku akhirnya dengan berat hati menghilangkan cv web designer karena sudah sekian lama tak mendesain lagi sehingga tak relevan untuk menganggap diriku adalah seorang web designer. Namun menambah sebuah cv untuk merangkum kemampuan dan pengalamanku di bidang technical management.

    Lantas pertanyaan dari kalian mungkin jadi, “Lho, katanya cuma mengerjakan bagian tertentu tapi kok bisa bikin cv baru lagi dengan bidang yang lainnya?”

    Jadi begini. Kalau kalian beruntung bekerja di perusahaan yang juga memperhatikan personal development pegawainya, kalian bisa juga belajar hal-hal lain yang menunjang pekerjaan utama kalian. Misalnya, kalian dipekerjakan sebagai web designer, lalu karena kamu tertarik pada dunia front-end development lalu kamu mengajukan usul untuk pergi ke short course belajar tentang front-end development. Proposal disetujui lalu setelah kamu menyelesaikan course itu, managermu menerjunkanmu dalam proyek dengan memposisikanmu bukan sebagai designer melainkan sebagai front-end developer. Dari situ kalian mulai dapat ‘tabungan’ untuk membuat sebuah cv baru sebagai front-end developer.

    Mentalitas CAN-DO (semua bisa) juga bisa menjadi cara untuk kita mendapatkan promosi atau setidaknya mengerjakan hal yang bukan itu-itu saja. Selama kalian tak keberatan untuk mengerjakan hal-hal lain yang kita kuasai serta tak malas untuk belajar hal-hal baru, karier kalian akan berkembang dan kita berhak untuk memasukkan hal-hal seperti ini ke dalam cv kita yang baru.

    Pengalamanku, ada banyak kesempatan dimana aku memperoleh peluang promosi jabatan bermula dari kebiasaanku untuk mengerjakan apa yang bisa kukerjakan dan bukan dari apa atau mana yang jadi kewajibanku dan mana yang bukan.

    Pelajaran yang bisa didapat adalah, mengaku diri sebagai superman pada saat mencari kerja kadang tak selamanya menguntungkan. Lebih baik menjadi Clark Kent dulu, pas diterima kerja, pelan-pelan buka jas, dasi dan kemeja lalu tunjukkan bahwa kita sebenarnya superman yang menyaru jadi manusia biasa.

    Semua tinggal masalah waktu, tinggal mengatur momen…

  • Framework or not framework

    Framework or not framework

    blog_dev

    Salah satu yang menjadikanku berani untuk berkeputusan pindah ke Australia dulu adalah karena aku merasa sudah cukup kenyang pengalaman dalam bidang web development di Indonesia. Hingga saat itu, November 2008, aku telah berada sekitar sembilan tahun dalam dunia web development sejak pertama kali aku membangun website untuk klien.

    Hal lainnya yang membuatku lebih berani lagi adalah keyakinan bahwa salah satu keunggulan anak IT khususnya developer adalah kami, darimana pun kami berasal, berbicara menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa pemrograman. Jadi meski Bahasa Inggris kami tertatih-tatih dalam kesehariannya kami tak perlu terlalu khawatir karena akan lebih banyak berbicara dengan komputer menggunakan code-code yang kami kuasai.

    Namun ternyata, dua modal itu tak cukup. Keduanya memang tetap jadi syarat utama, tapi sebagai kelengkapan, ada hal-hal lain yang perlu disesuaikan jika kalian berpikir untuk bermigrasi kemari.

    Solution over technology

    Pendekatan yang kebanyakan dilakukan oleh web development company di sini adalah pendekatan yang lebih berorientasi pada solusi terbaik untuk klien ketimbang keindahan teknologi yang dihasilkan/digunakan. Ada dari kalian yang mungkin berpikir bahwa ini tak ubahnya dengan kata pepatah, “Berusaha sekecil mungkin untuk mendapatkan sebanyak mungkin” Kalau kalian berpikir demikian, kalian tidak terlalu benar sebenarnya…

    Begini…
    Aku ingat betul pada hari pertama kerja sebagai seorang web developer di Australia, CIO (Chief Information Officer) perusahaan bertanya bagaimana aku akan membangun situs web yang mereka inginkan. Aku lantas menjawab dengan lugas,
    “I’ll built from the scratch using PHP and Javascript!”

    Ia lantas kembali bertanya, “OK! PHP-nya pake framework apa? Javascript-nya pake jQuery?”
    “Nggak! Nggak pake framework-framework-an. Semua kubangun dari awal baik dari sisi PHP maupun Javascriptnya!”

    Biasanya, di Indonesia dulu ketika aku bilang seperti itu, calon klien akan berujar, “Wah, sangar Mas! Pasti kamu berpengalaman banget ya?!”

    Tapi di sini, jawabanku itu malah memicu pada persoalan besar.?CIO itu lantas bertanya “Katakanlah kamu brilian dalam membangun dari awal tanpa framework, bagaimana aku bisa yakin bahwa yang kamu buat itu akan lebih baik dan lebih murah daripada yang sudah ada di pasaran dan tinggal pake serta sedikit tune-up untuk membuatnya sempurna?”

    Ketika aku masih sibuk mengumpulkan kata untuk menjawab pertanyaannya, ia menohokku lagi begini, “Bagaimana juga kalau suatu waktu kamu keluar atau dikeluarkan dari perusahaan ini… Atau katakanlah kamu mendadak sakit dan aku harus cari penggantimu? Apakah hasil kerjaanmu akan mudah dimengerti dan diteruskan oleh mereka?”

    Siang itu akhirnya Sang CIO memanggilku dan managerku untuk hadir dalam pertemuan membahas bagaimana aku akan membangun situs web yang dikehendaki. Dalam meeting itu akhirnya aku meluruhkan segala kesombonganku dan menyaguhi untuk membangun situs web menggunakan jQuery dan sebuah framework yang sebelumnya ketika masih di Indonesia selalu kupandang sebelah mata baik kegunaan dan keberadaannya. Tiga bulan kemudian aku baru tahu dari manager-ku bahwa sebenarnya seandainya pada meeting siang itu aku tetap bersikukuh membangun website mengikuti kemauanku, aku akan dipulangkan dan tak perlu masuk lagi pada hari kedua dan selanjutnya!

    Standarisasi

    Lalu kenapa mereka dan kebanyakan perusahaan di sini memilih menggunakan framework meski kamu sejago Matt Mullenberg (pembuat WordPress) sekalipun?

    Ada beberapa alasan dan yang terutama adalah standarisasi industri.?Perusahaan di sini memerlukan standard dalam setiap proses delivery sebuah produk. Produkmu akan dibilang bagus jika memang sesuai standard dan ketentuan mereka. Standarisasi ini sangat penting karena jika suatu waktu pekerjaanmu diambil alih oleh perusahaan untuk kepentingan bisnis dan kemudian mereka memutuskan untuk melanjutkan pemeliharaan bersama developer lain, mereka tak ingin ada gangguan sama sekali yang muncul karena apa yang telah kamu lakukan.

    Atau dalam istilah lain, standarisasi lebih mengemukakan bagaimana mereka bisa dengan aman bisa melangkah ke depan menggunakan produkmu tanpa harus tergantung kepadamu! Hal ini sangat penting dalam pandangan bisnis.

    Alasan lain adalah hemat ongkos. Kata ongkos di sini tentu tak hanya mengacu pada uang tapi juga waktu, tenaga dan resources lainnya. Misal untuk kita membangun sebuah fungsi dalam website, search engine contohnya. Membangun sebuah search engine dengan segala featurenya adalah sebuah hal yang tak mudah dalam pemrograman. Ada banyak faktor yang menentukan baik-buruknya. Tapi dengan kita menggunakan framework, memasang fasilitas search engine adalah semudah kita mengetikkan namanya saja dalam barisan code kita. Pada level tertentu, malah kita tak perlu lagi untuk mengetik karena kita tinggal klik sana dan klik sini lalu terpasang sudah!

    Kalaupun akhirnya kita menemui persoalan dalam penggunaan framework, Google siap membantu kita untuk mencarikan solusi baik itu melalui situs-situs penyedia tutorial maupun situs-situs komunitas yang menyokong keberadaan framework tersebut.

    Salah satu dalih yang kuat untuk kita, para developer, menolak penggunaan framework barangkali demikian, “Kenapa harus pakai framework kalau di sana ada banyak kelemahan dan keterbatasan?”

    Betul! Tapi ketika kita pada akhirnya harus bersinggungan dengan kelemahan dan batasan-batasan itu, hal yang lantas bisa kita lakukan sebenarnya adalah menginformasikan dan mendokumentasikan batasan-batasan itu sebagai batasan produk yang hendak kita berikan kepada klien. Atau jika kita ingin melakukan lebih daripada itu, sebuah framework yang baik biasanya menawarkan dirinya untuk dikembangkan secara terstruktur. Dokumen yang memuat pengembangan ini biasanya disebut sebagai developer tool kit.

    Penggunaan developer tool kit dari framework yang kita pakai akan menjamin kita dan framework yang kita pakai ‘bertemu’ dalam cara-cara pengembangan yang terstruktur.

    Nah, lalu apa tantangan yang harus dihadapi para developer Indonesia ketika pada akhirnya memutuskan untuk pindah kemari?

    Aku ada beberapa point yang mungkin masih bisa dipertimbangkan dan dijadikan bahan kajian meski aku tak yakin juga sepenuhnya karena aku tak lagi mengikuti perkembangan IT di Indonesia.

    Bersahabatlah dengan framework

    Harus diakui banyak sekali developer Indonesia yang hasil kerjanya sebetulnya jauh lebih hebat dari apa yang dihasilkan di sini.
    Hal ini terjadi karena kecintaan kita terhadap dunia development. Kecintaan itu lahir karena kita menuangkan perasaan dan ego kita dalam berkarya.

    Sehingga, ketika suatu waktu kita harus menerima kenyataan tentang keharusan menggunakan framework tertentu sesuai permintaan dari atasan, rasa ‘nggak terima’ atau pertanyaan-pertanyaan semacam, “Kenapa mesti gue yang pake framework mereka? Kenapa tidak mereka yang mencoba framewok buatanku sendiri?” itu wajar jika menyeruak begitu saja!

    Tapi kalau sudah begini, bagiku kedewasaan sikap seorang developer akan tampak ketika ia mampu mengkompromikan kapan harus bekerja untuk karya dan kapan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Kesannya mungkin memang jadi nggak idealis sama sekali, tapi berpikirlah positif bahwa idealisme itu kadang bukan bagaimana kita mampu menjaga ego kita di atas semua ego lainnya, tapi juga pada bagaimana kita mampu mengaturnya untuk capaian yang lebih besar dari yang sebelumnya!

    Jadi, bersahabatlah dengan framework. Siapa tahu, justru kamu bisa jadi seorang master pada penggunaan sebuah framework dan itu malah akan membuat framework ‘menurut’ kepadamu ketimbang sebaliknya? Mungkin saja kan?

    Jangan asal nge-hack!

    Jadi kalian sudah memutuskan menggunakan framework? Good! Tapi prosesnya tak selesai di sini!

    Meski di atas kubilang bahwa batasan framework bisa dijadikan batasan produk yang kita buat, tapi banyak klien beranggapan kalau kamu cuma bisa membatasi framework dan produk, apa gunanya kami menggajimu?

    Nah kalau sudah begini biasanya ego muncul lagi lalu dengan sekali jurus, kita berhasil menjawab pertanyaan sinis itu dengan solusi! Tapi kadang karena saking emosinya, jurus yang kita lakukan kadang dilakukan secara ngawur!

    Pengembangan (ekstensifikasi) terhadap sebuah framework yang baik harusnya mengacu pada developer tool kit yang disediakan. Tapi acapkali kita memilih untuk hantam kromo, meng-hack codebase framework tanpa mau membaca cara yang lebih benar dari tool kit tersebut.

    Hal ini, jika terjadi, sangat riskan sekali dan sangat tidak disukai oleh perusahaan-perusahaan di sini!
    Ketika tiba-tiba ada request dari vendor framework untuk mengupdate codebase-nya, situs web akan berada pada situasi tak stabil karena hasil hacking kita di level codebase akan terhapus dan tergantikan oleh yang baru! Bayangkan betapa akan kelimpungannya managermu dibuatnya!

    Bahkan pada platform-platform berbayar, ada perjanjian khusus antara kita, customer, dengan pihak vendor bahwa mereka akan menghentikan kontrak seandainya mengetahui bahwa codebase-nya dihack oleh kita.

    Dokumentasi, backup serta revisi

    Proses yang paling menyebalkan karena makan waktu dalam sebuah siklus pemrograman adalah pendokumentasian. Padahal dokumentasi teknis terhadap hal yang kita bangun adalah penting. Bayangkan jika kamu produsen mobile phone menjualnya tanpa memberikan buku petunjuk (user guide), apakah kamu mengharapkan pengguna untuk mencoba-coba untuk tahu bagaimana menggunakan produkmu atau kamu secara profesional memberikan petunjuk yang akan membuat produkmu terkesan mudah untuk dipakai?

    Demikian juga dengan produk yang kita buat. Perusahaan akan menuntut kita menyediakan dokumentasi untuk kemudahan penggunaan dan kesinambungan pengembangan.

    Soal backup dan revisi juga setali tiga uang. Kadang saking asyiknya coding, kita lupa untuk membackup hingga ketika kita kehilangan file-file yang sangat diperlukan, baru kita sadar betapa pentingnya proses backup.

    Demikian juga ketika kita harus setia pada revisioning dan implementation, sistem mengharuskan kita melalui level UAT dan release ke production server secara sistematis. Namun yang terjadi kebanyakan adalah kita menggunakan cara lawas, buka FTP langsung drag and drop semua files dari development ke production server. Kalau mulus ya patut disyukuri, kalau jadi error ada yang nyukurin? Banyak!!!

    Aku punya banyak pengalaman buruk dalam hal-hal ini. Menyebalkan memang tapi sebagai sebuah kelengkapan karya yang bagus, kita memang harus menelan pahit-pahit hal seperti ini.

    Pelajari?hal-hal fundamental

    Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam dunia web development adalah ada begitu banyak hal-hal baru yang muncul setiap hari di komunitas-komunitas pengembang di seluruh dunia. Setiap hari kita tertantang untuk mencoba hal baru tersebut, lalu memutuskan apakah hal itu cocok untuk kita implementasikan atau tidak.

    Di sini tantangannya.
    Kita jadi cenderung permisif terhadap hal-hal baru karena efek ‘wow’ yang muncul dari diri kita bukan dari sisi klien. Kita lalu menyarankan klien untuk menggunakan teknologi-teknologi baru tersebut tanpa pernah mempelajari apa implikasi buruk yang bisa terjadi.

    Menampilkan sesuatu yang wow di sini bisa sangat dihargai selama kita tahu dan sadar apa efek yang ditimbulkannya. Nah, menyadari efek yang ditimbulkan adalah dengan jalan menganalisa betul-betul hal baru tadi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar Ilmu Informatika yang akan tetap dipakai hingga nanti.

    Kita harus tetap bersandar pada dasar-dasar bagaimana sebuah data dikomunikasikan, bagaimana dukungan penuh dari environment, adakah ketergantungan pada hal-hal lain diluar kendali kita sebagai developer? Bagaimana juga dengan management resources-nya, struktur data dan banyak hal yang lainnya.

    Nah, developer-developer kita di sini kadang jatuh ketika harus mempertanggungjawabkan segala ke-wow-an itu. Jadi istilah kata, daripada berpikir tentang efek photo slide yang indah dan menakjubkan, berpikirlah tentang alokasi memori yang dipakai untuk membuatnya indah, berpikir tentang cost yang diperlukan setiap client ketika mengaksesnya dan biasanya kita akan tertampar dengan pertanyaan dari atasan kita di sini, “Do we actually need that thing? Or not?”

    Tentu hal-hal yang kubagikan di sini tak bisa digeneralisasi untuk semua kalangan. Dunia IT adalah dunia yang terus berkembang dan kedigdayaan dan kebesaran namaku barangkali hanya separuh dari butir pasir di pantai maha luas bernama Industri Teknologi Informasi.

  • Masuk kerja hari pertama. Telanjang atau berpakaian apa?

    Masuk kerja hari pertama. Telanjang atau berpakaian apa?

    blog_kerja

    Segala sesuatu yang terjadi pertama kali memang berbeda, demikian pula dengan pengalaman masuk kerja pertama kali!

    9 Februari 2009 adalah hari pertamaku masuk kerja pada kantor pertama yang menerimaku sebagai pegawai setelah pindah ke Australia.?Aku ingat betul, beberapa hari sebelum hari itu tiba, aku demam panggung! Sedikit-sedikit tanya ke istriku, Joyce, bagaimana baiknya menyikapi hari pertama masuk kerja itu, maklum negara baru, budaya baru!

    Aku ingin berbagi tips tentang bagaimana sebaiknya masuk kerja hari pertama.?Simak berikut ini!

     

    Kamu masih ada di dalam percobaan

    Sebelum menyiapkan banyak hal lainnya menjelang masuk pertama kerja, hal yang harus kamu sadari adalah mempersiapkan hati bahwa bahkan hingga tiga bulan ke depan setelah hari itu, kamu sebenarnya masih berstatus karyawan percobaan. Rata-rata di Australia, tiga bulan pertama adalah masa percobaan.

    Artinya? Kamu belum terlalu ?dianggap? meski sebenarnya sejak pertama kali datamu masuk ke bagian personalia, beberapa hari sebelumnya, kamu sudah berada dalam sorot lampu paling terang dalam tim.

    Keberadaanmu adalah penambahan biaya (dalam bahasa positifnya, investment) bagi perusahaan yang membayarmu maka buktikanlah bahwa apa yang kamu ?janjikan? dalam proses interview itu benar demikian adanya!

    Kalau kamu sampai tak bisa membuktikan janjimu dalam rentang masa percobaan, perusahaan tak segan-segan untuk memberi kartu merah dan kamu harus cari kerjaan baru lagi.

    Nggak enak, kan?

     

    Jam masuk kerja

    Yang pasti jangan sampai telat meski jangan pula datang terlalu pagi pada hari pertama kerja!

    Biasanya pada surat perjanjian kerja yang kamu tanda tangani beberapa hari sebelum masuk hari pertama, di situ disertakan pula siapa contact person yang harus kamu telepon saat kamu berada di ruang recepsionist/pintu kantor.

    Kalau kamu datang kepagian, misal datang jam 8 padahal baru masuk jam 9, contact person belum datang, kamu akan banyak nganggur di depan recepsionist.

    Bagiku ini malah bikin tambah nervous karena harus melihat banyak orang lalu lalang dengan tampang sibuk dan bete karena harus kembali kerja!

    Datang telat bukan sesuatu yang memang tak termaafkan, tapi telat pada hari pertama itu ?nggak banget? lah!

     

    Toilet, pantry, mailroom dan setup mail juga kartu pass.

    Hal yang tak kalah pentingnya adalah kamu harus tahu dimana toilet, pantry dan dimana mailroom (untuk perusahaan-perusahaan besar). Ketiga hal itu penting sekali terutama mailroom karena biasanya kamu diminta untuk mengambil kebutuhan office kamu seperti ballpoint, buku tulis, lem, dll di mailroom itu.

    Oh ya, kamu juga perlu kartu pass perusahaan.
    Ada perusahaan yang tidak mengijinkan pegawai percobaan untuk mendapatkan kartu pass/akses ke kantor tapi ada juga yang memperbolehkannya.?Kalau diperbolehkan, segeralah mengusahakan kartu pass supaya hari berikutnya kamu tak perlu merepotkan kawan kerjamu untuk menjemput di depan pintu/recepsionist.

    Tak lupa mintalah username dan password email accountmu. Biasanya ketika kamu sudah men-setting email di komputermu dan membukanya untuk pertama kali, kamu dikagetkan dengan bejibun email yang sudah masuk bahkan sejak kamu belum masuk kerja. Ini lumrah, karena jauh sebelum kamu masuk hari pertama, personalia bekerja sama dengan IT biasanya telah selesai?men-setting email untukmu dan manajermu sudah mendistribusikannya ke team member ataupun stakeholders yang nanti akan bekerja denganmu!

     

    Pakaian. Telanjang?

    Bekerja dalam bidang IT di Australia biasanya cenderung lebih rileks ketimbang pekerjaan di bidang lainnya. Bahkan, pada perusahaan-perusahaan yang memang mengkhususkan diri pada industri kreatif, mereka memperbolehkan pegawainya mengenakan celana pendek dan kaos kutang. Pokoknya apapun selama kerjaan kamu bagus dan tidak sedang bertemu dengan klien.

    Kecuali memang kamu diharuskan mengenakan pakaian dengan ketentuan tertentu, ada baiknya hari pertama kamu berlagak seperti ?anak baik? dulu lah.

    Pakaian berpola ?smart casual? bisa jadi pilihan. Kenakan kemeja rapi berlengan panjang dipadu dengan celana kargo atau jeans yang tidak belel serta sepatu formal.

    Kalau ternyata semua sudah OK, kamu bisa pakai pakaian yang lebih casual entah itu poloi shirt, atau sepertiku tshirt polos, skinny jeans dan sneakers!

     

    Bawa apa saja?

    Ini biasanya jadi pertanyaan menarik, bawa apa saja di hari pertama?

    Perusahaan-perusahaan tertentu biasanya sudah menetapkan kita perlu membawa beberapa dokumen pribadi untuk kelengkapan administrasi dan perpajakan (biasanya driving license, bank account, passport dan yang pasti adalah nomer wajib pajak – TFN/ABN).

    Selain itu, biasanya pada hari pertama aku akan membawa laptop kerjaku sendiri. Meski perusahaan sudah menyiapkan mesin kerjamu tapi belum tentu ia telah dikondisikan untuk bekerja sesuai kenyamananmu. Pada tingkat yang ekstrim dan kamu dituntut untuk langsung kerja dan butuh selesai cepat, tinggal buka laptopmu dan kerja! Ini akan jadi credit point tersendiri tentu saja!

    Kamu sebenarnya juga nggak perlu bawa bekal makanan selama kamu tahu bahwa di sekitar kantor ada coffeeshop/kantin (biasanya ada!) Meski demikian aku pernah bekerja di kantor yang sebelah kiri kanannya adalah bush (hutan) dan coffeeshop mobile hanya datang tepat jam 10 lalu setengah jam berikutnya sudah pergi dan pada saat-saat itu semua pegawai yang tidak membawa bekal keluar mengantri untuk membeli makanan untuk lunch mereka.

     

    Pulang kerja jam berapa? Kamu tak perlu nginep di kantor!

    Pada hari pertama pulanglah pada jam dimana kalian harus pulang kecuali ada permintaan untuk stay late, sesuatu yang biasanya tak pernah terjadi.

    Jangan pernah mencoba pulang terlalu larut pada hari pertama dan hari-hari dimana kamu kerja pada masa percobaan!

    Loh kenapa? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa kita sangat mencintai pekerjaan dan perusahaan?

    Ya, aku dulu berpikir sama sepertimu! Tapi sebagian besar perusahaan meminta kalian pulang tepat waktu dengan alasan pengiritan sumber daya (listrik, air, dll), OHS (workplace health and safetly) dan ini yang paling penting: penyesuaian budaya.

    Budaya orang bekerja di sini adalah sangat menghargai keseimbangan kerja dan kehidupan di luar pekerjaan. Kalau kita datang ke satu perusahaan lalu menunjukkan bahwa kita hidup hanya untuk bekerja, di satu sisi hal itu akan menimbulkan was-was dari pekerja lain bahwa managermu akan lebih suka dengan cara kerjamu yang luar biasa ngototnya dan lebih menghasilkan sehingga mereka tampak lebih malas dan tak maksimal.

    Manajer yang baik justru akan berpikir untuk tak merusak ritme kerja yang sudah nyaman ketimbang mendapatkan penghasilan lebih dari caramu bekerja tapi menghancurkan team yang sudah dibangun susah payah jauh sebelum kamu bergabung.

    Jangan sampai niat baikmu itu justru berakhir dengan pemberhentian karena kamu dianggap tak sesuai dengan kultur yang ada.

     

    Nah ini yang paling penting, ngapain aja di hari pertama?

    Jawaban pertanyaan ini bisa sangat bervariasi. Tapi baiklah kujawab berdasarkan pengalamanku saja.

    Bekerja di hari pertama pada perusahaan pertama, 9 Februari 2009, pihak kantor telah menyiapkan segala yang kuperlukan: sebuah komputer, meja, drawer dan perlengkapan kantor.

    Aku lalu diminta untuk bergabung dalam meeting perencanaan minggu itu termasuk untuk mengenalkanku dan rencana-rencana kerja di hadapan tim besar.

    Setelah meeting, aku diberi materi untuk pengenalan perusahaan hingga diminta pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul jam 5 sore.

    Bekerja di hari pertama pada perusahaan kedua, sekitar tengah tahun 2010 beda lagi.?Karena itu perusahaan besar (salah satu document management company terbesar di dunia – hint: perusahaan ini adalah penemu teknologi fotokopi dan mouse komputer) pada hari pertama aku dihadapkan pada beberapa training perkenalan. Diajak tour keliling bangunan kantor, diajak makan di restaurant (Thanks, Lou!) sorenya baru diminta menset email dan mengurus kartu pass.

    Itupun pakai embel-embel, ?Take it easy, Darling. Kamu bisa kerjain besok kok?(kalau nggak selesai sekarang)?

    Bekerja di hari pertama pada perusahaan ketiga, Maret 2013 beda juga.?Perusahaannya lebih kecil dari perusahaan sebelumnya. Begitu aku datang dan dikenalkan dengan team lalu dibiarkan begitu saja dengan komputer yang masih teronggok dan nggak ngerti harus setup seperti apa karena technical environment-nya baru.

    Dari jam 9 sampai jam 3 aku didiamkan begitu saja dan setiap bertanya ke manajerku selalu dijawab, ?Sorry kamu bisa nggak ngapain dulu kek, aku lagi ada deadline jam 4 sore ini!?

    Sekitar jam setengah lima dia datang dan bilang sorry trus aku disuruh pulang dan ia janji besoknya akan bawa orang IT support untuk bantu.

    Apa yang kulakukan selama itu? Facebook-ing! Pamer kantor baru lewat status, tiada lain!

    Bekerja di hari pertama pada perusahaan keempat, 9 September 2013, perusahaan tempatku kerjaku sekarang ini beda lagi.

    Begitu masuk kerja, dikenalkan dengan satu team, lalu duduk di bangku, baru saja meletakkan tas lalu tiba-tiba teman kerjaku yang duduk disebelahku bilang, ?Kamu bisa bantu aku? Aku lagi ada deadline jam 11 dan ini aku gak bisa kerjain, error melulu!?

    Aku melongo sebentar, lalu bilang, ?OK!? langsung kukerjakan dan kuselesaikan.?Begitu selesai, dia bertanya lagi, ?Kamu bisa kerjain ini juga? Ini juga mesti selesai cepeetan sore ini!?

    Aku meng-ok-kan lagi dan langsung mengerjakan pekerjaan itu hingga lumayan larut sekitar jam 6. Waktu itu aku cuma berpikir bahwa kalau aku nggak bisa ngatasi hari itu, mana bisa aku mengatasi hari-hari berikutnya?

  • Menolak tawaran kerja travelling

    Menolak tawaran kerja travelling

    blog_travelling

    Melamar pekerjaan lalu mendapatkannya, di Australia dan dimanapun di seluruh penjuru dunia adalah sesuatu yang biasa.

    Tapi ditawari posisi pekerjaan tanpa kita melamarnya lalu terlibat dalam diskusi berkepanjangan karena iming-iming gaji dan fasilitas yang tak berkesesuaian adalah sesuatu yang luar biasa!

    Aku bersyukur kepada Tuhan karena pernah dan sedang berada di posisi tersebut selama enam tahun belakangan tinggal dan bekerja di Australia.

    Pertama kali hal ini terjadi sekitar satu tahun sesudah aku pindah ke sini. Sebuah start-up company menawariku posisi pekerjaan yang cukup ?menggemaskan?, menjadi front-end technical leader sekaligus pemegang saham.

    Sayang, setelah tiga kali meeting kami tak juga mencapai kata sepakat untuk gaji bulanan yang kuterima.

    Lalu yang kedua terjadi sejak beberapa bulan lalu hingga kini.?Ada sebuah perusahaan web agency di utara Sydney menawariku pekerjaan sebagai project technical leader dengan konsentrasi pada implementasi e-commerce menggunakan teknologi Java (Hybris framework). Pemilik perusahaan tersebut mengenalku dari rekomendasi mantan manajer di sebuah perusahaan tempatku bekerja dulu.

    Pertemuan pertama berjalan lancar. Ia belum berani ?buka harga?, hanya menjelaskan seluk beluk perusahaan dan keingintahuannya mengenalku lebih dalam dari sisi yang ia tahu dari mantan manajerku tadi.

    Pertemuan kedua diadakan lewat web-conference. Kali ini bukan dengan sang pemilik tapi dengan salah satu senior developer yang kalau akhirnya aku masuk ke perusahaan itu akan menjadi anak buahku nantinya.

    Tak lama sesudahnya, tiba-tiba menjelang Natal, sang pemilik perusahaan mengirim email kepadaku menjelaskan progress ?pendekatan? itu.

    Selain diiming-imingi gaji yang lebih besar dari gaji yang kuterima sekarang, ia juga menawarkan sesuatu yang mungkin ditunggu-tunggu banyak orang: kerja travelling!

    Ya! Kerjaan yang ia tawarkan adalah mengelola beberapa proyek perusahaannya yang tersebar di Amerika Serikat, Canada, New Zealand, Singapore dan banyak lainnya!

    Pada bagian akhir emailnya, ia menuliskan bahwa kalau aku mau, tinggal telpon dan mulai kerja pada hari pertama kapanpun aku memutuskannya!

    Aku lantas mengambil waktu sejenak untuk merenung dan berpikir, melepaskan segala ego tentang kesombongan, harga diri dan kekayaan duniawi. Permenungan itu kuawali dengan pertanyaan pada diriku sendiri, ?Apa yang kudapat dan apa yang akan hilang ketika aku mengiyakan tawaran kerja yang menggiurkan itu??

    Hingga akhirnya, tentu juga setelah berkonsultasi dengan istriku, aku berkeputusan untuk menolak tawaran itu!

    Mungkin kalian akan berkomentar, ?Goblossss kenapa nggak kamu ambil? Kan bisa jalan-jalan kayak travelling blogger yang dikit-dikit pamer paspor, pamer tiket pesawat dan pamer foto mereka di tempat wisata terkemuka??

    Inilah point-point yang kujadikan sarana untuk mengambil keputusan.

     

    Family

    Kebersamaan dengan keluarga secara fisik menurutku adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai apapun termasuk dengan teknologi conference jarak jauh tercanggih sekalipun dan tambahan lembaran-lembaran dollar berapapun jumlah banyaknya!

    Setiap hidup dibatasi waktu dan kita tak pernah tahu kapan waktu akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Kalau aku mengambil kesempatan kerja travelling itu, bagiku sama saja membatasi waktu yang secara alami telah terbatasi.

    Alasan lain, mengikuti dan membantu perkembangan anak dan berbagi kasih dengan istri selain mengasyikkan, menurutku juga adalah salah satu dari tugas dan janji yang pernah kuucapkan di Gereja ketika menikah dulu!

     

    Pelayanan Gereja

    Mungkin kedengarannya religius sekali? Benar! Aku memang sedang berusaha membangun komitmen untuk hidup lebih baik sesuai tatanan ajaran yang kuanut, Katholik.

    Selain mewajibkan diri dan keluarga untuk pergi ke perayaan ekaristi mingguan, aku juga menyediakan diri untuk membantu pelayanan dalam bidang musik dan organisasi.

    Jadi, kalau aku mengambil kesempatan untuk pekerjaan tadi, mungkin aku tetap akan bisa ke gereja karena hampir di seluruh tempat di muka bumi ini mudah menemukan Gereja Katholik tapi kesempatan untuk melakukan pelayanan agak mustahil untuk dilakukan karena pola hidup yang berpindah-pindah.

     

    Home

    Seekor burung yang jago terbang pun ingin punya sesuatu yang dianggap sebagai rumah. Bukan rumah dalam bentuk gedung (house) tapi rumah dalam multi-segi.

    Aku ingin bertumbuh, menua dan menghabiskan usia di satu tempat bersama orang-orang yang kukasihi dan mengasihiku. Enam tahun silam, aku yang sebelumnya mengira Jogja akan menjadi ?home?-ku, memutuskan pindah ke Sydney dan sejak saat itu, aku berjanji sekaligus meminta kepada Tuhan untuk dibuat kerasan dan feel hommy di kota ini. Masak sekarang harus pergi lagi tanpa anak-istri?

     

    Zona nyaman

    Aku sangat mengenal diriku sendiri.

    Aku adalah tipe pekerja yang akan selalu berusaha mencintai pekerjaanku?sebaik-baiknya. Aku membayangkan jika aku menerima pekerjaan tadi, kecintaanku pada pekerjaan akan berlipat ganda karena selain digaji besar, keliling dunia, aku juga akan mengerjakan hal yang kusukai sesuai bidangku.

    Yang kukhawatirkan kecintaanku itu lalu menyusutkan perasaan cintaku kepada keluarga dan berakhir pada perasaan ?nyaman kalau sendirian? dengan terus berlindung pada tameng ?ah yang penting gue kirim duit ke anak-istri!?

    Kalau hal itu terjadi, aku berpikir bahwa aku akan menjadi sosok yang paling sulit dikendalikan termasuk oleh diriku sendiri. Aku akan sangat sulit untuk menyudahi kenyamanan itu dan ketakutanku yang paling sangat adalah jangan sampai Tuhan sendiri yang turun tangan untuk menyudahinya dengan caraNya yang meski kutahu lemah lembut, tapi karena kekerasan hatiku sendiri semua malah jadi tampak menyakitkan?

    No? No? Big no!

     

    * * *

     

    Tentu alasan-alasan itu tak berlaku umum bagi semua orang. Aku hanya menuliskan apa yang menjadi bahan permenungan sebelum akhirnya aku membuat keputusan.

    Sekarang aku sedang menanti dan berharap-harap cemas terhadap bujuk rayu apalagi yang akan mereka kirimkan kepadaku.

    Nikmati saja sambil melanjutkan hidup…

  • Congratulations! You’ve got the job!

    Congratulations! You’ve got the job!

    Setelah interview (baca tulisan sebelum ini, di sini), proses pengumuman diterima/tidaknya kamu di tempat kerja biasanya memakan waktu kurang lebih satu minggu tapi tergantung kebutuhan perusahaan apakah perlu tenaga secepatnya atau tidak. Tapi terlepas mau diumumkan secepat atau selambat apapun itu, jangan pernah berhenti berharap tapi juga jangan terlampau berharap… mending ‘kelampauan’ harapanmu itu kamu salurkan untuk mencari pekerjaan yang lain lagi pada saat yang bersamaan.

    Lalu anggaplah kamu diterima, biasanya mereka akan mengabarkan hal itu lewat telepon, “Congratulations! You’ve got the job!”?Aku ingat pertama kali mendapatkan pekerjaan di Australia adalah saat aku sedang mengikuti tes pada pekerjaan yang lainnya. Aku ingat saat itu aku langsung memutuskan mundur dari test saat itu juga di depan pewawancaranya karena terlalu bahagia. Hal pertama yang harus kamu lakukan ketika diterima adalah bersyukur :) Itu wajib hukumnya, bersyukur kepada siapa saja atas penerimaan itu. Kalau kamu percaya Tuhan ya bersyukurlah pada Tuhan, barangkali itu lebih bagus.

    Hal pertama yang harus kamu lakukan ketika diterima adalah bersyukur…

    Setelah mengumumkan keberhasilanmu, mereka biasanya akan menanyakan daftar orang yang bisa dijadikan referensi terhadap pekerjaanmu di masa lalu.?Di sinilah kamu dituntut untuk tetap berhubungan baik dengan semua mantan bos, bawahan dan rekan kerja di masa lalumu karena setiap saat kita sejatinya masih butuh bantuan mereka untuk sekadar memberikan referensi bahwa kita bekerja dengan baik dan tidak meninggalkan kesan buruk sedikitpun.

    Kalau tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari feedback para rekan yang kamu jadikan referensi, seharusnya semua akan baik-baik saja. Sesudahnya, mintalah mereka secepatnya untuk mengirimkan draft surat kontrak kerja. Hal ini sangat penting karena tanpa surat kontrak kerja, kamu berarti tak diikat oleh sebuah perusahaan untuk bekerja dan berpenghasilan.

    Pernah dulu aku mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan terkait dengan draft surat kontrak kerja.?Jadi ceritanya, aku sedang melamar pekerjaan saat aku sedang bekerja di sebuah perusahaan. Setelah melalui proses interview, aku dinyatakan diterima dan mungkin karena saking senangnya, aku terlalu terburu-buru bilang ke manager bahwa aku mendapat pekerjaan baru. Tapi setelah dua hari, alih-alih draft surat kontrak kerja dikirimkan, sang pemberi kerja malah memberi kabar lewat SMS bahwa posisi yang kudapatkan itu dibekukan untuk sementara waktu dan hal itu berarti aku batal mendapatkan pekerjaan yang baru.

    Sakitnya double, Man!
    Nyeri karena udah terlanjur bahagia lalu ‘dijatuhkan’ begitu saja, yang kedua sakitnya adalah mesti tebal muka minta maaf ke manager bahwa aku batal mendapatkan pekerjaan.
    Untung waktu itu aku belum sempat mengirimkan surat pengunduran diri secara formal karena kalau sudah terkirim dan diterima managerku, berarti perusahaan berhak untuk mencari penggantiku dan berhak pula untuk menolak pembatalan pengunduran diriku. Lalu aku, anak dan istriku mau makan apa? :)

    Meski kesannya setiap surat kontrak kerja itu hanyalah ‘copy-paste’ dari yang lainnya, percayalah, kalau hal itu tak penting ia pasti tak dikirimkan dan tak diadakan, kan?

    Begitu draft surat kontrak diterima, hal yang harus kamu lakukan adalah membaca secara detail.?Meski kesannya setiap surat kontrak kerja itu hanyalah ‘copy-paste’ dari yang lainnya, percayalah, kalau hal itu tak penting ia pasti tak dikirimkan dan tak diadakan, kan? Jadi bacalah! Setelah membaca, diskusikan dengan orang terdekatmu terutama istri/suami/orang tua siapa tahu pengertianmu terhadap surat kontrak itu berbeda dengan apa yang mereka pikirkan. Nah kalau mereka, orang terdekatmu, saja bisa memiliki persepsi yang berbeda bagaimana dengan orang lain termasuk pihak perusahaan yang akan menggunakan tenagamu?

    Ingat, kesalahan dalam membaca dan mengerti draft surat kontrak bisa menimbulkan petaka di kemudian hari terlebih karena konteks yang kubicarakan adalah dunia kerja di sini dimana yang pasti semua dokumen ditulis dalam Bahasa Inggris sehingga lebih sulit dimengerti serta aturan kontrak yang tertulis mengatur secara ketat pada kesiapan kita dalam bekerja dan surat itu bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya bahkan di tingkat hukum sekalipun.

    Aku pernah pula pengalaman akibat tak jeli membaca (ditambah karena kemampuan readingku yang masih sangat pas-pasan) draft surat kontrak. Kalau tak ada istriku, bisa jadi aku meneken surat kontrak itu begitu saja padahal disitu tertulis bahwa kalau perusahaan tak sanggup membayarmu penuh pada suatu waktu, mereka berhak menggajimu seadanya dan kekurangannya akan dibayarkan ketika perusahaan sudah sanggup membayarkan.

    Ya.. konyol kan? Konyol! Mau makan apa kalau perusahaan cuma bisa membayar $200 per bulan dan kalau ditanya “Kapan kamu bayar sisanya?” Mereka bisa melenggang dengan jawaban, “Ya, nanti kalau kami sudah mampu membayar!” Sampai kiamat belum mampu dan kamu tak bertindak apa-apa, kamu harus terima nasib karena semua sudah tertulis dan kau setujui!

    Perusahaan yang memberiku pekerjaan biasanya meminta kamu untuk menandatangani draft surat kontrak lalu mengirimkannya balik sebelum tenggat waktu yang tak terlampau lama, mungkin tiga hingga lima hari. Saranku, jika kamu sudah baca dengan seksama dan sudah menandatangani, jangan pernah kirimkan lewat pos tapi hantar langsung ke kantornya, berikan pada receptionistnya semata supaya semuanya aman dan bisa kamu kendalikan sejauh mungkin tanpa takut terkena resiko surat hilang dalam pengiriman.

    Hal lain yang perlu kamu perhatikan adalah adanya notice periode atau jangka waktu paling lama dimana kamu harus memberitahukan pengunduran dirimu kepada perusahaan tempatmu bekerja.?Biasanya sih empat minggu, jadi kalau kamu hendak keluar bulan Maret, kamu harus memberitahukannya 4 minggu sebelum tanggal keluar itu. Repotnya, pada draft surat kontrak biasanya dicantumkan juga kapan kamu akan mulai bekerja di tempat baru. Saranku, jangan terlalu ngepas dibuat satu bulan, tapi juga jangan terlampau lama karena hal itu berarti akan terdapat beberapa hari dimana kamu tak berpenghasilan sama sekali! Idealnya, menurutku berilah sela waktu maksimum satu minggu jadi kamu bisa mendapatkan jeda antara pekerjaan yang lama dengan yang baru dan bisa memanfaatkan waktu itu untuk meriung bersama keluarga.

    Setelah kamu mengirimkan surat kontrak dan mendapat jawaban dari calon perusahaanmu bahwa surat kontrakmu sudah diterima dan semua beres.. sekali lagi semua beres, segeralah bicara pada managermu bahwa kamu mendapatkan pekerjaan baru dan kamu hendak mengundurkan diri.

    Kalau kamu adalah seonggok sampah yang sedang ditunggu ‘Kapan ya keluar anak ini!’, ketika kamu mengumumkan pengunduran diri, bosmu akan bahagia lahir batin!

    Jangan bayangkan managermu akan marah-marah karena biasanya mereka malah bahagia karena kamu mendapatkan karir baru. Nah, di sini kamu sebenarnya bisa memainkan sedikit permainan untuk menguji apakah sebenarnya kamu itu dibutuhkan atau tidak di perusahaan itu. Kalau kamu adalah seonggok sampah yang sedang ditunggu ‘Kapan ya keluar anak ini!’, ketika kamu mengumumkan pengunduran diri, bosmu akan bahagia lahir batin! Tapi kalau kamu adalah salah satu kunci sukses dan tak tergantikan bagi tim yang dipimpin bosmu, kebahagiaan bosmu bisa jadi adalah kebahagiaan sebagai teman, tapi dalam kerangka pekerjaan ia pusing tujuh keliling terkait pengunduran dirimu tadi.

    Untuk menengarai hal itu, biasanya bosmu akan menawarkan tambahan gaji supaya kamu tetap bekerja di situ. Pernah pula aku mengalami hal itu tapi aku tak menerimanya bukan karena aku tak mau dibayar lebih, tapi lebih karena pertimbanganku untuk pindah biasanya tak disebabkan oleh satu dan dua hal saja tapi dipicu oleh kemauan yang kuat untuk pindah dan aku selalu mengusahakan untuk tak menarik ucapan dan keputusanku sekalinya ia keluar dari mulutku.

    Ketika surat pengunduran diri sudah dilayangkan hal yang perlu kamu lakukan adalah menikmati sisa kebersamaan dengan kawan-kawan sekerjamu dengan cara memberikan yang terbaik, meninggalkan jejak yang manis dan membantu bosmu sebisa mungkin untuk mencari penggantimu ataupun untuk mempermudah proses handover pekerjaan darimu kepadanya. Ingat, seperti kubilang di atas, kelak ketika kamu butuh mencari pekerjaan yang lebih baik lagi, kamu tetap perlu mereka untuk memberikan referensi positif selama kamu bekerja bersama mereka.

    Pada hari terakhir, biasanya kamu akan dilepas melalui sebuah pesta perpisahaan yang biasanya menyenangkan sekaligus mengharukan.

    Di sini dunia pertemanan lebih penting daripada kerja. Meski kamu tak lagi bekerja sama dengan mereka, hal yang selalu diharapkan setelah pesta itu adalah setulus yang mereka ucapkan ketika kamu melangkah keluar dari pintu kantor untuk terakhir kalinya adalah, “All the best! Keep in touch!”

  • Interview pekerjaan? Cerdiklah, jangan hanya jujur!

    Interview pekerjaan? Cerdiklah, jangan hanya jujur!

    Kalau aplikasi lamaran kita menarik perhatian, perusahaan/agen akan menghubungi untuk melangkah ke tahap berikutnya, interview. Beda perusahaan biasa beda tata cara interview-nya tapi rata-rata mereka akan memulainya dengan phone interview.

    Pada suatu waktu kamu akan ditelepon, diajak bicara soal siapa kamu, keadaanmu sekarang (sedang bekerja dimana), kenapa kamu berencana pindah dari pekerjaan sekarang dan skill kamu secara umum serta gaji yang kamu kehendaki. Jika mereka tertarik dengan jawabanmu, mereka akan mengundangmu untuk bertemu di suatu tempat, biasanya sih di kantor yang pekerjaannya kamu lamar. Oh ya, berhati-hatilah pada pertanyaan gaji yang kau inginkan karena setelah phone interview, kamu tak akan ditanya lagi soal gaji hingga kalau sukses, ketika interview terakhir, jawaban pada phone interview soal gaji yang akan dijadikan sebagai patokan.

    Persiapan

    Katakanlah mereka tertarik padamu lalu memanggilmu untuk interview, apa yang perlu dipersiapkan?
    Jawabanku, semuanya! Ya, semuanya harus kau persiapkan.

    Persiapan secara psikologis barangkali kamu lebih cocok untuk membuka situs web Bung Bukik, di sana ada materi-materi bagus soal persiapan psikologis menghadapi interview yang applicable juga untuk diterapkan di Australia sini.

    Selain psikologis, persiapan yang harus dilakukan untuk interview adalah penampilan. Di sini, sesantai apapun perusahaan yang akan meng-hire kamu, tetaplah menggunakan stelan jas rapi, kemeja, dasi dan sepatu hitam yang tak buruk. Rambut ditata rapi, jangan menggunakan aksesoris berlebihan, pokoknya yang tidak menonjolkan penampilan tapi tetap mengesankan kamu itu profesional. Jangan lupa siapkan mint untuk menghindari bau nafas tak sedap, meski biasanya kamu ditawari segelas air putih. Kalau aku memilih untuk tidak menerima karena kalau gugup ada dua bawaanku, ingin minum banyak-banyak tapi di satu sisi sering kali ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil! Jadi, ditawari seperti itu tentu bukan kombinasi yang baik, bukan?

    Portfolio juga harus dipersiapkan jika pekerjaan yang kamu lamar memang mengharapkanmu untuk memilikinya.?Yang paling kerap kita lakukan terkait dengan pengadaan portfolio, anggap kamu adalah seorang web developer/designer, adalah dengan menampilkan karyamu di website. Tapi, terkadang klien-klienmu tak mengijinkan untuk menampilkan website mereka ke situs web orang lain bahkan pengkreasinya, kamu, dengan alasan copyright.

    Nah, untuk mengatasi hal ini, ada baiknya kita agak sedikit berlaku ‘tricky’! Tetaplah membuat situs pribadi, seperti dv.id.au misalnya, tapi jangan tampilkan karya-karyamu di sana.

    Ketika perusahaan yang meng-interview-mu menanyakan kenapa di website tak ada portfoliomu, katakanlah alasan sebenarnya bahwa kamu tak ingin melanggar copyright terhadap karya-karyamu dulu. Biasanya, klienmu akan memakluminya karena kalau ia memaksakan diri untuk melihat karya-karyamu itu, sama saja ia mengharap kita bertindak yang sama seandainya kita telah bekerja untuk mereka lalu menerima job interview dan menunjukkan karya kita ke perusahaan yang lainnya lagi!

    Cara alternatif lainnya untuk mengatasi kerumitan ini adalah dengan membuat karya-karya independen dimana kamu tetap bisa menunjukkan ke siapapun tanpa peduli urusan copyright karena itu adalah karya dan milikmu sendiri!

    Kembali ke persiapan proses interview, jangan lupa membawa serta laptop dan gadget-gadget lainnya jika memang kamu melamar ke pekerjaan yang menuntutmu untuk menunjukkan bahwa kamu bisa mendevelop aplikasi/website yang memiliki kemampuan responsive design/look and feel.

    Jangan lupa untuk membaca-baca ulang CV mu yang telah kau kirimkan ke perusahaan tersebut setidaknya dalam perjalanan atau menunggu sang peng-interview datang menghampirimu. Ini penting karena ketika kamu ditanya nanti, jawabanmu setidaknya tak kan jauh-jauh dari inti maupun bahasa yang kamu pakai dalam CV.

    Hal yang paling fatal yang akan menentukan impresi perusahaan kepadamu adalah jangan datang terlambat dan jangan pula ngepas! Datanglah sekitar 15-5 menit sebelum jadwal…

    Hal yang paling fatal yang akan menentukan impresi perusahaan kepadamu adalah jangan datang terlambat dan jangan pula ngepas! Datanglah sekitar 15-5 menit sebelum jadwal interview datang. Percayalah, sang penginterview tak segan membatalkan proses interview jika kamu terlambat dan sebaliknya, ia akan sangat terkesan kalau kamu sudah datang beberapa saat sebelum proses interview yang dijadwalkan dimulai.

    Nah, lalu apa yang terjadi dalam proses interview itu?

    Pertama, biasanya mereka mengenalkan diri dan perusahaan terlebih dahulu baru kemudian mereka memberimu waktu sekitar 5-10 menit untuk mengenalkan dirimu dan bisa jadi sebaliknya, kamu diminta mengenalkan diri dulu dan baru mereka mengenalkan diri mereka dan perusahaan. Oh ya, yang menginterview-mu pertama kali adalah calon atasanmu bersama seorang yang akan jadi partner kerjamu.

    Setelah itu? Tergantung!
    Tergantung dari apa yang kau sampaikan dalam waktu 5-10 menit itu. Apakah mereka terkesan atau tidak? Cocok atau tidak?! Pernah pengalamanku pribadi, dan ini sangat menohok, waktu pertama kali datang ke Australia, aku diminta datang untuk interview sebuah pekerjaan. Tak sampai 5 menit, aku langsung diminta keluar karena menurutnya aku tak cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan. Jadi, berhati-hatilah dan pandai-pandailah meraih kesan!

    …tapi bagiku sikap terbaik yang perlu kita tunjukkan adalah cerdik di atas kejujuran.

    Jika semuanya baik, selanjutnya masuk ke sesi tanya jawab. Kamu akan ditanya hal-hal yang lebih detail terkait dengan pekerjaan harian yang akan kamu hadapi. Di sini kita dituntut untuk jujur, tapi bagiku sikap terbaik yang perlu kita tunjukkan adalah cerdik di atas kejujuran.

    Tunggu! Jangan buru-buru men-judge bahwa cerdik adalah tak jujur.
    Cerdik adalah jujur tapi tak perlu buka-bukaan jika tak diminta untuk menjawab termasuk di dalamnya tak memancing penginterview untuk bertanya hal-hal yang kamu tak suka untuk menjawabnya.

    Lalu bagaimana kalau kita berbohong? Perlukah?
    Bagiku berbohong itu tergantung dimana kita meletakkan definisinya. Berbohong bagiku adalah banyak bicara dan kita tak mampu membuktikan kata-katanya. Jadi kalau misal ada orang bertanya, “Kamu bisa Flash dan Action Script 3?” Lalu kita kita jawab, “Bisa!” padahal kamu tak bisa dan ketika mereka memintamu mempraktekkan (ketika diterima) dan kamu tetap tak bisa, kamu sudah berbohong!

    Tapi sebaliknya, kalau kamu menjawab, “Bisa!” padahal saat itu kamu tak bisa tapi ketika mereka memintamu praktek beberapa bulan sesudahnya dan kamu telah belajar (dan bisa), bagiku kamu tak berbohong!

    Itulah cerdik! :)

    Setelah proses tanya jawab dari mereka kepadamu selesai, biasanya mereka memberi kesempatan kepadamu untuk bertanya balik tentang perusahaan mereka. Orang menyarankan untuk tak terlalu bertanya secara detail, tapi bagiku, sesekali perlu kita pancing pertanyaan yang detail seperti misalnya, “Perusahaan ini sudah IPO?” atau “Kapan terakhir ada pemecatan di perusahaan ini?” Kenapa? Karena kita bisa menilai dari cara mereka memberi jawaban. Kalau mereka menjawab secara mendetail dan bersemangat, itu bisa kamu jadikan sebagai salah satu parameter bahwa sejauh ini mereka cukup tertarik kepadamu sehingga mereka sudi menjawabnya dengan harapan suatu waktu kamu bergabung dengan mereka.

    Tapi jika mereka menjawab ogah-ogahan dengan gesture ataupun raut wajah yang datar, OK, sebaiknya kamu nggak usah tanya lebih banyak lagi dan sudahi saja, kans kamu kecil, Nak! :)

    Proses interview berakhir, kamu pulang.
    Kalau kamu melamar melalui agen, segeralah lapor kepada sang agent bahwa kamu telah melakukan interview. Agent akan bertanya “How was it?” lalu setelah ba-bi-bu, ia akan segera mengontak penginterviewmu. Dari situ agen akan balik menelponmu dan bilang kalau kamu akan dipanggil lagi untuk interview selanjutnya atau tidak.

    Interview kedua? Apalagi?

    Nah, interview kedua biasanya kamu dihadapkan lagi dengan calon bosmu bersama bosnya serta orang-orang dari HR (Human Resources). Materi interview kedua biasanya lebih ke soal bagaimana kamu berbudaya dalam bekerja. Jangan anggap remeh hal ini karena bagi kaum pendatang sepertiku, hal ini justru bisa jadi faktor yang menggagalkan karena perbedaan budaya antara kita dengan mereka biasanya memiliki poin lebih berpengaruh ketimbang kemampuan skill kamu.

    Apa yang menurut kita baik belum tentu bagi mereka baik, dan sebaliknya.
    Misal, kalau kamu ditanya “Kamu dihadapkan deadline besok sore harus jadi, apa yang harus kamu lakukan?” Kita yang datang dari negara yang lebih ‘penuh perjuangan’ biasanya akan menjawab berapi-api “Saya akan tidur dan lembur di kantor! Nggak akan pulang!” Kamu pikir itu adalah jawaban yang tepat?

    Biasanya apa yang mereka harapkan adalah sesuatu yang sesuai kultur mereka. Begini kira-kira, “Saya akan bicara dengan project manager menanyakan eskalasi proyek dengan deadline besok itu akan seperti apa? Hal-hal mana yang perlu kuprioritaskan? Adakah tenaga bantuan yang bisa saya pakai? Bagaimana dengan disaster plan-nya? Apakah mengharuskan saya untuk kerja lembur atau tidak? Baru setelah itu saya bekerja!”

    Kebayang nggak?

    Banyak perusahaan hanya menggunakan dua kali interview, tapi ada juga perusahaan yang menghendaki lebih dari dua kali interview meski aku belum pernah merasakannya. Kalaupun ada, biasanya interview akan lebih ke urusan yang lebih detail dan menuntutmu untuk praktek.

    Setelah itu semua dijalankan, yang perlu kita follow up hanyalah pasang telinga dan mata pada handphone dan email. Kalau kamu punya agama dan percaya Tuhan, berdoalah. Kalau nasib baik, toh pekerjaan itu tak kan kemana :)

  • Semudah dan sesulit apa mencari pekerjaan IT di Australia?

    Semudah dan sesulit apa mencari pekerjaan IT di Australia?

    Mencari pekerjaan IT di Australia itu bisa melalui berbagai macam cara. Cara-cara yang awam ditempuh atau setidaknya pernah kupilih selama karirku di sini adalah:

    Website
    Bagiku, situs terbesar tentang lowongan kerja di Australia adalah SEEK. Semua pekerjaan yang kudapat, bermula dari browsing di website itu. SEEK hadir tak hanya dengan ribuan lowongan pekerjaan dari berbagai macam bidang tapi juga menghadirkan tips dan trik seputar pencarian pekerjaan seperti bagaimana membuat curicullum vitae yang baik, standar gaji per profesi dan masih banyak lagi. Kita juga bisa mencari info lowongan pekerjaan se-spesifik mungkin mulai dari lokasi, gaji yang ditawarkan dan jenis pekerjaan termasuk penggunaan keyword untuk proses pencariannya. Ada beberapa situs lowongan kerja lainnya, tapi khusus untuk pekerjaan bidang IT, kurasa semua orang di Australia sepakat SEEK adalah yang terbesar, “Seng ada lawan!”

    Selain SEEK, Linkedin juga semakin menjadi saingan serius dalam posisinya sebagai situs penyedia lowongan pekerjaan khususnya bidang IT.?Yang menarik dari Linkedin adalah, pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan/agen akan difilter secara otomatis sesuai bidang yang tertuliskan pada halaman profil kita. Nah, di sini jelas ketepatan dan kelengkapan kita dalam mengisi biodata sangat dibutuhkan.

    Selain itu, di Linkedin kita tak selalu jadi pihak yang menghubungi perusahaan yang menawarkan pekerjaan. Perusahaan pun bisa menghubungi kita untuk mengetahui ketertarikan kita. Beberapa kali aku dihubungi agen dan perusahaan untuk ditawari pekerjaan di perusahaan/klien mereka! Meski belum ada yang benar-benar berbuah, tapi ini pertanda baik bahwa LinkedIn semakin diterima keberadaannya sebagai social media yang ‘serius’ yang tak hanya untuk pamer foto-foto unyu saja.

    Lalu yang terakhir adalah mengakses langsung situs perusahaan mencari link ‘Jobs’ ataupun ‘Vacancy’ dan berburu di sana.?Ini menurutku yang paling tidak menarik karena selain beberapa link diarahkan langsung ke agen pekerjaan, aku curiga informasi yang ditawarkan juga tak terlalu update. Sering kutemui, lowongan pekerjaan untuk perusahaan A kutemukan di SEEK sementara di website perusahaan sendiri malah tidak/belum ditampilkan.

    Komunitas
    Banyak komunitas IT bertebaran mulai dari yang umum (per bidang misalnya Web Development Group) sampai ke hal khusus semisal JavaScript Community, WordPress community di sini. Nah, info lowongan pekerjaan bisa juga didapat dari para anggota komunitas-komunitas ini. Keunggulan dari mencari pekerjaan di komunitas adalah ketika kita benar-benar cocok, tak jarang rekomendasi didapatkan dari kawan kita yang menawarkan, atau kalau yang menawarkan malah bos perusahaan itu, tak jarang kita bisa men-skip proses interview dan langsung diterima dan masuk kerja!

    Nggak enaknya, tipikal orang di sini sangat menjunjung tinggi privacy. Jadi tak mungkin kita gabung dan tiba-tiba tanya, “Eh di perusahaanmu ada lowongan?” Dooh! Siapa loe? :)

    Agen Lowongan
    Sebagian besar lowongan pekerjaan di Australia khususnya IT dihandle oleh agen-agen pengelola lowongan pekerjaan.?Sistematika kerjanya begini, sebuah perusahaan mencari pegawai untuk mengisi lowongan pekerjaan di kantornya. Ketimbang mereka repot menyeleksi dari ratusan bahkan ribuan calon pekerja, mereka meminta agen untuk mengelola mulai dari pemasangan iklan lowongan dan proses filtering awal.

    Lalu bagaimana kita sebagai calon pegawai berinteraksi dengan agen? Biasanya kita berhubungan ketika melamar untuk sebuah pekerjaan di website, SEEK misalnya. Dari situ, data kita mereka simpan untuk keperluan di masa yang akan datang; ketika mereka menerima lowongan yang kemungkinan cocok dengan kita, mereka segera menghubungi kita.

    Kita bisa juga menghubungi agency tanpa harus menunggu ada lowongan yang mereka pasang. Tinggal datang ke kantor atau lewat website mereka dan mengirimkan data. Biasanya akan ada seorang consultant/specialist yang menghubungi untuk follow up lebih lanjut.

    Keunggulan lain kalau kita menggunakan agen adalah ketika kita lolos ke proses interview dengan perusahaan, mereka akan memberitahu hasilnya lebih cepat. Sesaat setelah interview kita lakukan, biasanya mereka akan memberi tahu apakah kita lolos atau tidak.

    Kelemahannya? Entahlah, tapi aku merasa belum terlalu berjodoh untuk mendapatkan pekerjaan melalui agen. Semua pekerjaan yang kudapat di sini selalu bermula dari aku berhubungan langsung dengan perusahaan yang mencari pegawai melalui website. Barangkali keutuhan interaksi antara kita langsung dengan perusahaan tetap tak tergantikan, agen hanyalah representasi kita ke perusahaan dan mana ada sih yang sanggup menggantikan representasi kita selain diri kita sendiri?

    Sepertinya itu sudah mencakup semua. Kalau ada yang lain tolong ditambah.?Next time akan kubahas soal proses interview-nya!

  • Clurit

    Clurit

    Clurit itu seksi.
    Lihatlah bentuknya, mblenuk kata orang Jawa. Tapi sekali leher kena cerukannya, srettt, clurit akan memisahkan kepala dari badannya.

    ‘Kiri’ itu juga seksi, PKI contohnya.
    Dihajar habis-habisan di tahun 48 karena ulahnya di Madiun, tapi tujuh tahun kemudian, ia merajai di Pemilu pertama, 1955. Entah karena apa, tapi barangkali karena simbol partainya mengadaptasi simbol komunis internasional, palu dan arit (clurit).

    IT pun tak kalah seksi.
    Information Technology, mana ada orang tak mengenalnya saat ini dan semakin sedikit sudut kehidupan yang belum tersentuh olehnya, kan??Padahal, kembali ke masa sekitar tujuh belas tahun silam ketika aku mendaftar kuliah jurusan itu aku memilihnya secara random karena memang nggak niat kuliah sama sekali, “Ketimbang nganggur!” gumamku.

    Dan dimana letak seksinya, barangkali salah satunya karena IT bersama CLUR membentuk Clurit itu tadi!

    Nah, sebagai wujud dedikasi karena masih boleh dipanggil anak IT, aku membuat satu tagar baru di blog ini, clurit namanya. Apa yang akan masuk di dalamnya adalah tulisan yang merujuk ke persinggungan topiknya dengan dunia IT secara umum.

    Jangan membayangkan tulisan-tulisannya akan penuh bahasa-bahasa aneh nan asing meski bahasannya teknis karena justru disinilah tantanganku untuk menghadirkan sesuatu yang seksi seperti IT itu tadi dengan keluaran persepsi yang semoga sama setelah membacanya terlepas kalian itu orang teknis atau bukan.

    Supaya tak menganggu siklus yang telah tercipta di sini, Senin-Kamis, tulisan-tulisan clurit akan tampil di hari selain hari tersebut.

    Apakah ini berarti DonnyVerdian.Net akan terbit setiap hari? Bisa iya, bisa juga tidak karena tulisan clurit akan tampil secara berkala… kala senggang dan kala niat datang saja hehehe…

    Tapi setidaknya, kalian tetap bisa berharap bahwa aku masih punya cukup energi untuk mempublikasikan tulisan pada hari Senin dan Kamis. Itu saja dulu!

    Sebagai tulisan awal-awal clurit, aku akan menampilkan tulisan-tulisan seputar perkembangan IT di Australia berdasarkan pengalamanku bekerja di sini dan semua akan kuawali esok hari. Oh ya, kalian yang merasa punya ‘uneg-uneg’ soal IT, boleh mengirimkan tulisan untuk kutampilkan di sini.

    Siapkan diri dan perhatikan leher masing-masing, karena tulisan-tulisanku akan tajam.. setajam clurit! *infotaintment mode is ON*