Tag: cetusan

  • Icun Lin: Wu Han, Yi Qi Jia You

    Icun Lin: Wu Han, Yi Qi Jia You

    Saat tulisan ini kurilis, semua orang sepertinya tahu dunia sedang dikhawatirkan dengan penyebaran Novel Coronavirus (COVID-19) yang begitu masif. Virus yang biasa hidup dalam binatang ini konon bersumber dari Wu Han, Republik Rakyat Cina.

    Tapi barangkali tak semua orang tahu bahwa seorang musisi warga negara Indonesia, Icun Lin, baru-baru ini merilis sebuah single di internet berjudul Wu Han, Yi Qi Jia You. Dari judulnya kita bisa meraba bahwa lagu ini memang dipersembahkan pemuda kelahiran Jambi ini untuk orang-orang yang terisolasi di Wu Han sejak beberapa bulan lalu terkait penyebaran COVID-19. Meski lirik lagu ditulis dalam bahasa Mandarin, tapi coba simak terjemahannya berikut untuk mengerti artinya.

    Di jalan ini, hilangnya semua senyum
    Menatap langit, tak bisa melihat pelangi lagi
    Masa lalu yang terburu-buru sekarang menjadi hampa
    Saya merasa hari hari sebegitu berat

    Di depan mata, terungkap semua kepanikan
    Di pikiran, takut akan wabah penyakit yang menular
    Ingin memberikan pelukan dan sandaran
    isolasi menjadi terpisah jarak

    Janganlah takut lagi, teman!
    Ku akan slalu ada di sampingmu
    setelah melewati badai dan angin akan ada pelangi lagi

    Janganlah menyerah lagi, teman!
    Biarkan kau dan aku melintasi jarak, teman!
    Bangunlah, bertahanlah dengan berani, dan tak berhenti berkata :
    Ayo semangat bersama

    Semangat Wu Han
    Semangat China
    Semangat polisi garis depan
    Semangat Perawat/Dokter

    Icun tentang “Wu Han, Yi Qi Jia You”

    Beberapa hari lalu aku menghubungi Icun Lin sehubungan dengan rilis single ini. Berikut petikannya.

    DV: Bagaimana muncul ide untuk bikin lagu ini, Cun?
    Icun Lin: Aku mengikuti berita tentang Wu Han dan membayangkan keadaan di sana yang begitu mengerikan. Dari situ muncul ingin bikin lagu untuk mereka.

    Berapa lama proses bikin lagunya?
    Proses pembuatan melodinya cukup cepat hanya sekitar 30 menit saja. Setelah itu, There zhang menyelesaikan liriknya selama kurang lebih dua hari.

    Proses produksi hingga rilis berapa lama?
    Produksi shooting dan mastering tiga hari sembari mencari footage (potongan video) yang bagus dan baik (untuk keperluan clip).

    Tanggapan orang-orang terhadap lagumu bagaimana?
    Sangat positif! Saya tidak menyangka! Mungkin karena setelah mendengar lagu tersebut mereka juga ingin bersama-sama menyemangati Wu han. Dalam sepuluh hari sudah ada 27 ribu viewer di Facebook dan banyak yang sudah mulai ikut menyanyikan.

    Lagu ini dibikin dalam Bahasa Mandarin, ada rencana untuk disulihbahasakan ke bahasa lain?
    Baru plan di terjemahkan bbrp bahasa?lagi mencari parah ahli yg pas hahaha

    Harapanmu apa sih terhadap lagu ini?
    Sebenarnya lebih tentang bagaimana aku yang seorang musisi mandarin bisa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat. Karya ini lebih sebagai wujud spontanitas emosionalku saja. Maka harapannya lagu ini bisa menjadi penyemangat bagi orang-orang di Wu Han dari kita yang ada di Indonesia.

    Ada rencana untk mengkomersialkan lagu ini?
    Tidak sama sekali?Tapi kalaupun meledak dan ada keuntungan yang kudapatkan, maka keuntungan itu akan kusumbangkan untuk Wu Han dengan cara apapun.

    Yuk bantu Icun menyebarkan Kabar Baik ini. Simak dan share video di bawah ini. Jika video tak bisa dibuka secara otomatis, silakan klik di sini.

  • Mana yang lebih Indonesia: Agnezmo atau Maria Ozawa?

    Mana yang lebih Indonesia: Agnezmo atau Maria Ozawa?

    Jika pertanyaan di atas, Mana yang lebih Indonesia: Agnezmo atau Maria Ozawa kutanyakan saat ini ke netijen yang budiman, barangkali jawabnya akan ke Maria Ozawa!

    Kenapa Maria Ozawa?
    Karena foto Maria Ozawa mengenakan kostum kebanggaan sambil membentangkan bendera Indonesia saat tim sepakbola U-23 memenangi pertandingan melawan Thailand di Manila, Philipina beredar di media. Padahal kita tahu ia berdarah Jepang!

    Agnesmo
    Maria Ozawa (Foto by Antaranews)

    Lalu Agnezmo?
    Karena dalam penggalan wawancaranya dengan Build by Yahoo yang dibawakan Kevan Kenney, Agnezmo bilang tidak memiliki darah Indonesia. Rekaman itu memviral dan seperti biasa? jadi bulan-bulanan netijen yang budiman.

    Agnezmo tak berdarah Indonesia?

    Aku sebenarnya tergelitik untuk membahas istilah ?darah indonesia? tentu dari versiku sendiri.

    Pernyataan Agnezmo bahwa ?I actually don?t have Indonesian blood whatsoever. I?m actually German, Japanese, Chinese ? I was just born in Indonesia? sebenarnya tak bisa dipersalahkan.

    Agnezmo
    Agnezmo

    Apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. ?Blood? di sini menyangkut pada keturunan etnis bukan kewarganegaraan. Maka benar bahwa ia tidak punya keturunan etnis indonesia. Ia keturunan etnis jerman, jepang dan cina.?

    Lagipula, apa ada definisi etnis Indonesia?

    Aku tinggal di Australia.
    Ketika orang bertanya, aku berasal darimana, jawabku sederhana: Indonesia. Tapi kalau ditanya apakah aku berdarah Indonesia, aku akan menjawab bahwa aku orang Jawa.

    Apakah Jawa adalah Indonesia? Sejak peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 berlanjut pada Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 hingga? kini ya masih tetap Indonesia. Tapi apakah Indonesia adalah Jawa? Ya tidak juga, buktinya Maria Ozawa bawa bendera Indonesia, kan?

    ?Kesalahan? Agnezmo menurutku satu. Ia sebenarnya tak perlu melibatkan frase pertama bahwa ia tidak punya darah Indonesia. Kalau aku jadi dia, cukup dengan berkata, ?I?m actually German, Japanese, Chinese born in Indonesia?

    Indonesia adalah…

    Wahai netijen yang budiman, mari sudahi semua ini.

    Indonesia tak melulu soal darah dan tak melulu soal keturunan etnis kok. Indonesia juga bisa berarti sebuah experience, sebuah pengalaman, sebuah?kesan dan kesempatan.

    Ketika aku bertemu sesama orang Indonesia lalu menyapa, ?Apakabar?? Aku merasa dibuai Indonesia!

    Ketika aku mencecap rasa terasi dalam hidangan nasi goreng di sebuah restaurant di saat rumah makan lain tak melibatkan terasi dalam nasi goreng mereka, aku merasakan citarasa Indonesia! Ketika aku tiba-tiba berkaca-kaca saat mendengar lagu Indonesia Raya diputar di social media, aku Indonesia!

    Jadi, lebih Indonesia mana, Maria Ozawa atau Agnezmo?

  • Gojek Kere

    Gojek Kere

    Nggak tahu sekarang, tapi dulu, 1993 – 1996, perayaan ulang tahun siswa di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, biasanya berlangsung amat meriah, saking meriahnya jadi terlalu ?meriah?.

    20 Desember 1993, aku merayakan ulang tahun ke-16.?Waktu itu aku duduk di bangku kelas 1 SMA dan sejak pagi aku sudah ketakutan karena aku tahu bagaimana kawan-kawan sekelasku akan merayakan ulang tahunku.

    Begitu bel tanda usai pelajaran berbunyi, teman-teman mencengkeram lenganku lalu membawaku keluar.

    Di tepi lapangan sepakbola, tiba-tiba cengkeraman dilepas, sesaat kemudian air sember besar tumpah ke wajahku.

    Belum sempat ambil nafas, genggaman demi genggaman pasir ditumpahkan ke rambutku tak lama kemudian seember air tumpah lagi kali ini bau pesing? aku tak tertarik membahas darimana air dan bau itu berasal mula di sini.

    Lalu gandum, lalu kecap dan banyak yang lain. Di akhir acara, kawan-kawan berbaris menyalamiku, ?Selamat ulang tahun, Dab!?

    Sejak saat itu, setiap perayaan ulang tahunku berikutnya selalu diisi dengan ritual seperti itu, dan aku juga jadi tertarik untuk melakukan yang sama terhadap kawan-kawanku yang berulang tahun.

    Ketika aku membangun usaha bersama kawan-kawan, karena kami se-almamater di De Britto juga, tradisi itu sempat berulang.

    Ada kolega berulang tahun, at least disiram air dan tepung sudah biasa.

    Lalu kalau tak salah ingat adalah 2003, saat salah seorang kolega lain berulang tahun dan dirayakan seperti ?biasa? tiba-tiba tak dinyana, kolega lain berucap satu hal yang kemudian mengubah tradisi perayaan ulang tahun selanjutnya. Begini katanya, ?Sudahlah, nggak usah begini lagi selanjutnya. Kayak anak kecil saja. Gojek kere!?

    Ya, gojek kere adalah istilah yang tepat. Tentu tidak diasosiasikan dengan status ekonomi, tapi ?kere? di sini lebih diletakkan pada ?kere? mentalitas dan ?kere? pada kreativitas dalam meluapkan kebahagiaan karena seseorang berulang tahun.

    Sejak saat itu, ketika ada yang berulang tahun, kami cukup menyalaminya lalu paling minta traktir sambil dibawa cengegesan, kalau ditraktir kita berterima kasih, kalau tidak ya tetep diucapi selamat ulang tahun.

    Beberapa hari yang lalu aku menemukan video ini.

    https://youtu.be/l_DUw8CZNkk

    Cukup terkejut dengan judulnya, VIDEO BRIMOB & TNI SERANG POLRES BLITAR 11 Mei 2016 – LENGKAP KRONOLOGIS. Pada bagian awal, isinya sangat mengerikan.

    Ada pot-pot tanaman yang dipecah, orang-orang yang ditarik paksa bahkan ada suara tembakan beberapa kali meski diarahkan ke udara.

    Tpi ketika kutonton hingga akhir, ternyata itu semua adalah settingan untuk merayakan ulang tahun Pak Kapolres.

    Entah kenapa, setelah menonton, aku ingat apa yang kualami dan lakukan dulu?.

    Tentu yang mereka lakukan bukan gojek kere karena mereka adalah penegak hukum dan bukannya kere.

    Mungkin sekadar melampiaskan kreativitas yang belum ternamai?

    Mungkin.

  • IDOKUDOKU, titik balikku kembali ke dunia wirausaha?

    IDOKUDOKU, titik balikku kembali ke dunia wirausaha?

    Kemarin seisi kantor gempar karena berita di media-media Australia kencang menyebut bahwa perusahaan tempatku bekerja berencana akan memangkas jabatan hingga 1000 banyaknya.

    Tak sampai dua jam kemudian, Sang CEO mengirim kabar pada seluruh karyawan. Ia tak mengiyakan tapi juga tak menolak isi berita itu. Statementnya tegas tapi berada di area abu-abu, ?Jangan percaya pada kata media, perusahaan pasti berkembang dan berubah, tapi ketika hal itu terjadi, para pegawai yang akan diberi tahu lebih dulu!?

    Di titik itu, aku tersadar bahwa untuk kepentingan bisnis, sehebat-hebatnya pegawai, sepintar-pintarnya aku dan kawan-kawan yang bekerja di sini, perhitungan atas kami semua di mata investor perusahaan tak lebih dari gugusan angka.

    Aku dan kawan-kawanku (dan kalian semua yang bekerja untuk orang lain) direpresentasikan sebagai angka jumlah uang yang harus keluar dari pocket mereka untuk gaji bulanan.

    Nistakah?
    Tidak! Justru aku berpikir itu perhitungan yang fair karena aku juga menghitung kewajibanku terhadap perusahan dalam wujud angka. Delapan jam kerja, sekian ribu dollar per bulan yang kuterima. Angka semuanya…

    Takutkah aku jika jabatanku ada pada salah satu dari yang akan ditebang?

    Kawan lamaku seorang British dulu pernah berpesan, ?Kalau pemangkasan itu terjadi, It?s not good, it?s not fun… but it?s ok!?

    Pertama, kehidupan tak boleh berhenti berubah. Aku toh suatu saat akan keluar jadi keluar atau dikeluarkan itu hanya soal waktu. Lagipula jika aku menempatkan diri sebagai pemilik bisnis, kalau semua berlangsung statis, dunia juga pasti akan berpaling ke perusahaan yang terus bergerak dinamis. Tidak ada pilihan.

    Kedua, di negara ini pemutusan hubungan kerja adalah hal yang lumrah terjadi dan perusahaan atas perintah negara harus menjamin prosesnya tidak terlalu mengagetkan. Pemutusan hubungan kerja identik dengan pesangon dan benefit-benefit lainnya yang akan diberikan sebagai kewajiban perusahaan.

    Ketiga dan justru yang terutama, adanya campur tangan Tuhan. Aku percaya ketika aku misalnya harus di-PHK, Tuhan sudah memberikan yang lebih baik di suatu waktu, di suatu tempat yang baru.

    Aku pernah di-PHK, makanya aku bicara seperti ini.?Enam tahun silam, setelah setahun setengah bekerja di perusahaan pertama yang menerimaku di Australia, aku diberhentikan dengan alasan proyek sudah selesai dan mereka kesulitan untuk menemukan proyek yang nilai uangnya mencukupi gajiku.

    Kaget dan panikku bukan kepalang waktu itu.?Merasa terhina! Apalagi delapan tahun berkarir di Indonesia, posisiku adalah pemilik usaha dan beberapa kali justru pernah mem-PHK dan kali itu aku yang harus menanggungnya?!

    Tapi ternyata Tuhan tak tinggal diam.?Dua minggu kemudian, aku mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik, di sebuah perusahaan besar multinasional, berani menggajiku lebih tinggi dan lebih dekat ke rumah.

    Mungkin kalian berpikir, Don kenapa loe nggak wirausaha saja?
    Aku pernah ber-wirausaha di Indonesia dari tahun 2000 – 2008 makanya sekarang aku ingin merasakan sebaliknya!

    Tapi pengalaman delapan tahun bekerja di perusahaan, aku merasakan satu hal yang unik. Kerap ketika aku mendapati kasus yang bisa kuselesaikan, aku berpikir, ?Kenapa dulu nggak gini ya? Kenapa dulu aku memilih jalan begitu untuk menyelesaikan persoalan itu??

    Ya, bekerja di perusahaan membuatku belajar banyak hal tentang problem solving jika suatu saat nanti aku dipercaya untuk membangun sebuah usaha.

    Oleh karenanya, ketika seorang kawan lama yang pernah sama-sama duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Teddy Wintoko mengajakku membuka usaha di Indonesia, aku tak keberatan!

    Tentu bukan berarti aku pindah kembali ke Tanah Air, karena tipe bisnis yang ditawarkan Teddy bisa dikelola dari sini.

    Ia mengajakku membangun sebuah situs portal informasi finansial.

    Teddy memiliki latar belakang bekerja di bank sebagai pimpinan divisi usaha beberapa tahun lamanya. Hal itu yang membuatku tertarik selain tentu aku percaya pada hasil didikan SMA Kolese De Britto dan kalian tahu kan, usaha yang kubangun dari 2000 lalu kutinggalkan pada 2008 lalu adalah usaha yang dibangun bersama anak-anak De Britto lainnya?!

    Membangun situs portal informasi seperti membuka kembali lembaran indah lama. Aku memang bukan orang kemarin sore dalam soal beginian karena pada 2000 aku membangun GudegNet, Gudang Info Kota Yogya yang dulu pernah berkibar sebagai portal seni dan budaya dan kini malah lebih luas lagi cakupan informasinya.

    Konsistensiku dalam merawat konten di blog ini selama 14 tahun juga kuyakin jadi alasan Teddy untuk mengajakku dan kami sepakat menyikapi peluang ini dengan serius dan profesional maka harus mendatangkan keuntungan.

    Jadi kapan?
    Catat, 1 April 2016, aku dan Teddy akan merilis dokudoku.id, situs portal informasi finansial yang akan jadi barometer tepercaya di Tanah Air!