Tag: buzzer

  • Buzzer politik dan usaha kita untuk berlaku adil terhadap logika

    Buzzer politik dan usaha kita untuk berlaku adil terhadap logika

    Berita politik tak pernah kehilangan pamor dan penggemar terlepas apakah situasi politik sebenarnya menghangat ataupun dingin pisan! Mungkin juga karena tingkat kekepoan kita yang maksimal tapi aku lebih memandang ketertarikan kita terhadap berita politik itu karena kepekaan dan kecintaan kita terhadap nusa dan bangsa.

    Maraknya berita politik tak lepas dari jasa para buzzer politik yang menjejali kita dengan berbagai macam informasi dan opini sesuai keinginan mereka.

    Buruk? Tak semuanya! Tapi juga tak semuanya tidak busuk!

    Ada yang benar-benar bagus analisa dan cara penyajiannya tapi yang paling buruk, terlepas dari mutu tulisannya adalah jika seorang buzzer tutup mata dan membutakan cintanya terhadap tokoh junjungannya, majikannya.

    Kebutaan dan ketidakterbukaan mata membuat tulisan-tulisan mereka, sebagus apapun, jadi tak berimbang dan monoton! Sialnya mereka tak peduli pada ketidakberimbangan itu. Ancaman UU ITE tak membuatnya takut karena makin seru dan makin banyak ancaman, makin kuat dan tinggilah pamor mereka!

    Semakin dipergunjingkan, semakin banyak orang yang akan mengundangnya bicara dalam seminar-seminar ‘kalangan sendiri’ atau semakin banyak alasan untuk mencetak buku meski aku tak tertarik untuk mengetahui apakah isi bukunya akan sama dengan blognya atau tidak? Karena kalau sama saja dan mengusung penokohan majikan yang itu-itu pula, alangkah sayang lembar demi lembar kertas yang bersumber dari kayu yang dihabiskan hanya demi masturbasi popularitas semata?

    Ujung-ujungnya? Ya duitlah!

    Melalui tulisan ini aku tak menyarankan kalian untuk anti terhadap buzzer politik tapi setidaknya kita harus pandai memilah mana buzzer politik yang mencerahkan dan mana yang menyesatkan! Aku tak hendak memberi daftar nama siapa saja mereka karena selain aku tetap ingin menghormati pribadi-pribadi mereka, aku lebih memilih untuk memberikan ciri terhadap tulisan-tulisan mereka yang layak untuk dijadikan waspada.

    Bagiku, seorang buzzer politik yang buruk memiliki pola tulisan ajeg nan statis dengan garis besar alur ‘cerita tulisan’ seperti di bawah ini:

    1. Topik bombastis

    Biasanya mereka membuka dengan topik menarik dan judul yang tak kalah bombastisnya. Paragraf-paragraf awal digunakan sebagai pendombrak berbekal penggalan-penggalan berita-berita headline koran dan televisi atau selentingan yang mereka dengar dari kanan-kiri.

    Misalnya begini,

    “Pelarangan komoditi bawang merah oleh pemerintah itu adalah cara yang amat efektif untuk melawan bau mulut! Saya bingung dengan mereka yang tidak setuju? Maunya apa? Bergerak salah, tak bergerak dipersalahkan!”

    Orang-orang jadi tercenung dan kagum menggumam, “Bener juga orang ini!” lalu mereka penasaran dan scroll ke kalimat-kalimat selanjutnya…

    2. Ulasan yang dangkal nan kering

    Setelah sukses membombardir di paragraf-paragraf awal, mereka membubuhi analisa-analisa dangkal nan kering dalam beberapa kalimat tak panjang.

    Cirinya ada dua.
    Pertama mereka menghajar pihak lawan tanpa pandang bulu melalui kata-kata sekaligus menjunjung tokoh junjungannya.
    Kedua, mereka menggunakan jargon-jargon yang familiar dan kesannya keren seperti misalnya, “kelompok sebelah”, “sumbu pendek”, “bumi datar”, “kafir”, “antek PKI/komunis” untuk menarik simpati dan mengambil hati orang tanpa mempedulikan analisa apa yang mereka bawa sebenarnya.

    Misalnya begini,
    “Tahulah kita alasan H^&^& R^&*^& (di artikel aslinya pasti menulis nama terang tanpa masking character seperti itu -red) lari ke luar negeri! Soalnya dia bau bawang merah! Makanya sah kan bahwa pemerintah melarang komoditi tersebut karena merusak relasi! Kalau mau tak dicegah ya ikuti aturan negara! Itulah kedaulatan! Dasar sumbu pendek! Kafir! Antek PKI!”

    Orang tak kan memperhatikan logika antara bau mulut dan bawang merah, orang tak memperhatikan apa itu kedaulatan dan aturan negara karena mereka terhibur dengan keberanian si buzzer menyebut nama tokoh yang jadi lawannya dan penggunaan istilah-istilah seperti ‘antek PKI’, ‘kafir’ yang menurut beberapa orang barangkali ilmiah nan keren.

    3. Menutup dengan kalimat-kalimat yang lagi-lagi bombastis sembari meninggalkan pesan yang diulang-ulang dari tulisan sebelumnya; trademark.

    Tak memanjang di analisa, mereka langsung menutup tulisan dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya nggak nyambung tapi terkesan disambung-sambungin karena pilihan-pilihan diksi yang populis yang menyamarkan korelasi antara pembukaan dan analisanya yang dangkal tadi.

    Misalnya begini, “Atau jangan-jangan mereka melawan pemblokiran bawang merah itu karena mereka tak berakal sehat? Jancuk koen! Kebanyakan makan micin!” Lalu ditutup dengan tradermarknya semacam, “Pipis dulu” atau “Pipis yuk!”

    Lalu orang pun tertawa manggut-manggut membaca sambil bergumam, “Bener banget… keren! Dahsyat orang ini!” lalu memencet tombol share di handphone-nya untuk menyebarkan tulisan itu menjadi polutan, menjadi jelaga yang memenuhi langit-langit WAG, Facebook, Twitter dan kanal-kanal social media lainnya!

    Jadi, jauhilah tulisan-tulisan yang ditampilkan buzzer politik yang seperti itu. Perasaanmu mungkin terpuaskan dengan begitu banyak bombardir kata-kata bombastis tapi kasihanilah dan adilah terhadap logika dan kepandaianmu. Jangan sampai gelak tawa dan isak air matamu mengalahkan pikiran waras sebagai seorang anak bangsa karena di pundakmu lah masa depan bangsa dipertaruhkan!

    Mending baca tulisan-tulisan online yang menurutku berbobot dalam hal politik seperti tulisan-tulisan bernas milik Tirto atau sentilan lucu dan menggoda tapi tak bombastis ala Mojok.Co misalnya.

    Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Albert Einstein. Suatu kali, genius dari awal abad 20 itu berkata, Politik itu lebih sulit ketimbang Fisika!

    Apa yang dikatakan Albert itu benar! Politik lebih sulit karena tak bisa ditebak seperti Fisika yang terhitung jelas dan tepat!

    Jadi kalau kalian mengira politik itu pasti bombastis seperti yang ditulis, jangan-jangan sang penulis sedang mempolitisasi dan memonetisasi politik itu sendiri karena sejatinya politik adalah dinamika hidup yang berbasis pada perkara nalar denganm sedikit kejutan di sana-sini.

  • Tim Hore

    Tim Hore

    Sebenarnya aku pengen menggunakan istilah buzzer dalam tulisan ini, tapi kayaknya istilah tim hore lebih baik.

    Tiga tahun lalu aku adalah tim hore-nya Jokowi, setidaknya aku menganggap demikian karena setiap ada percakapan tentang Jokowi dimanapun, aku ikut hore-hore.

    Terlebih waktu itu, dalam Pilpres 2014, lawannya adalah Prabowo Subianto, tentu aku lebih meng-hore-hore-kan mantan walikota Solo itu ketimbang dirinya meski Prabowo sendiri dua tahun sebelumnya juga ikut mendukung Jokowi, ikut hore-hore dalam Pilgub DKI Jakarta 2012.

    Level ‘hore-hore’ ku pun cukup tinggi, setidaknya menurut diriku sendiri. Kalian yang membaca blog ini sejak dulu tentu ingat bagaimana aku dan kawan-kawan di Sydney mengkoordinir kampanye Jokowi – JK di muka landmark kota Sydney yaitu Opera House. Aku (dan kawan-kawan) berhasil mendatangkan sekitar tiga ratus anak bangsa dari sekitar Sydney untuk ikut berhore-hore mendukung Jokowi – JK dan secara ultra heroik kutuangkan dalam tulisan bertajuk Tiga Ratus Anak Bangsa Menggedor Lantai Surga. Itu adalah tulisan kedua yang menyebar kemana-mana setelah sebelumnya tulisan yang kujadikan pernyataan sikapku untuk mendukung Jokowi kudaraskan di sini, Dulu Aku Memilih Prabowo .

    Lalu sejarah akhirnya memang memihak pada Jokowi – JK, mereka menang dalam Pilpres menggantikan rejim SBY – Boediono yang berkuasa sejak lima tahun sebelumnya.

    Sayangnya tak sampai setahun berselang, kecewaku muncul pada Jokowi lalu hilang pula ‘hore-hore’ ku terhadapnya. Semua bermula karena Jokowi menolak grasi hukuman mati dan aku adalah penolak konsep hukuman mati.

    Bagiku, penolakannya waktu itu lebih didasari pada sikap untuk ‘menunjukkan sikap’ terhadap dunia internasional bahwa dia adalah presiden, meski baru tapi adalah sosok yang tak bisa ‘diajak main-main’ dalam hal hukum dan ketegasan lantas dorrrr! eksekusi hukuman mati tahap pertama pun dilaksanakan.

    Masih belum hilang bau mesiu, beberapa bulan kemudian…. dorrrr! putaran kedua eksekusi mati lagi-lagi diadakan setelah Jokowi menolak memberikan grasi. Akupun bersikap. Aku tak mau dan tak sudi lagi jadi tim hore-nya dan menuang sikapku itu dalam tulisan yang kuberi judul berlawanan dengan apa yang dulu pernah kutulis, Dulu Aku Memilih Jokowi.

    Tapi kalau tak salah setahun lalu, aku belajar dan mengevaluasi sikapku tadi dan betapa aku sadar bahwa aku telah salah! Meski menolak grasi hukuman mati, Jokowi toh banyak melakukan hal-hal baik yang sebenarnya kudukung! Mulai dari percepatan pembangunan di luar Jawa yang makin lama makin kentara hasilnya, sikap tegasnya terhadap korupsi, pribadinya dan keluarganya yang tetap low profile meski telah menjabat sebagai RI 1… semua adalah hal-hal baik yang harusnya kudukung juga tapi lantas kucuekin gara-gara aku sudah memutuskan untuk tak jadi tim horenya lagi.

    Lalu dalam sebuah permenungan, aku menyadari akar persoalannya sebenarnya bukan pada keputusanku untuk mundur waktu itu tapi lebih jauh lagi ke belakang justru pada saat aku maju untuk menjadi tim horenya Jokowi which was… sekitar tiga tahun silam!

    Apakah sumber kesalahan itu?
    Simple, harusnya aku tak jadi tim hore Jokowi! Harusnya aku jadi tim hore nilai-nilai baik yang diusung dan diperjuangkan Jokowi! Aku menjadi tim hore ‘siapa’ dan memilih untuk tak jadi tim hore ‘apa’, tim hore yang peduli pada ‘person’, bukan ‘reason’. Akibatnya, ketika aku kecewa padanya, aku memilih untuk tak melihatnya sama sekali! Tepat sekali dengan apa yang kualami terhadap Jokowi terkait kebijakannya tentang penolakan grasi hukuman mati itu tadi.

    Lalu hari-hari ini sekalangan orang meributkan Denny, tim horenya Jokowi yang suka seruput kopi itu. Tanpa pengetahuan lengkap tentang latar belakang pembangunan pabrik semen di Rembang, ia yang konon jumlah pembacanya puluhan ribu biji itu menyerang dan menerjang pokoknya membela yang di-hore-hore-innya, Jokowi. Padahal aku tak tahu apakah ia sendiri paham seberapa dalam masalahnya, seberapa jauh persoalan itu bisa ditindaklanjuti Jokowi atau seberapa mungkin Jokowi untuk bisa menganulir keputusan Gubernur yang terkesan nekat memberikan ijin pembangunan pabrik semen tadi.

    Hingga akhirnya nama Denny yang selama ini begitu berkejora sebagai tim hore jadi agak tercoreng di muka tim hore Jokowi lainnya yang lebih berperan sebagai tim hore apa dan bukannya siapa… tim hore nilai-nilai ketahanan lingkungan ekologis ketimbang tim hore Joko Widodo.

    Menggelikan? Tidak! Aku menyadari dan maklum karena diri ini dulu juga pernah berada pada ‘sepatu’ yang sama dengan Denny. Hanya saja, kasus ini biarlah jadi pembelajaran yang lebih baik ke depannya karena masih banyak hal yang bisa kita hore-hore-in bersama. Tak hanya soal Pilkada Jakarta karena awal tahun depan pun ada ‘hore-hore’ lainnya yaitu Pilkada Jawa Barat dan Jawa Timur kemudian setahun berikutnya ada hore-hore besar yaitu Pemilu.

    Jadilah tim hore yang beradab, tim hore yang cerdas yang mengangkat nilai dan tidak waton sulaya pokoknya pejah gesang ndherek si A atau si B atau si C.

    Seruput? Semaput!

  • DV.FYI blog berbayar? Errr…

    DV.FYI blog berbayar? Errr…

    Lebih dari lima tahun terakhir, kehidupan ngeblogku terkekang, terikat jadwal!

    Ide awal membuat jadwal menulis itu sebenarnya untuk menertibkan diri supaya tetap menulis, ga seperti yang lain. Tapi ketika diri sudah tertib tapi kekangan ada di sana, aku merasa seperti orang dungu. Kedunguan yang kubuat sendiri; seperti membuat lingkaran di sekitarku lalu mensugesti diri bahwa kalau aku keluar dari lingkaran itu, aku akan bersalah besar dan berdosa besar!

    Persoalan yang muncul karena ikatan jadwal itu sering terjadi ketika ada issue dibahas di social media atau tiba-tiba saja muncul di benak lalu aku ingin menulis, tapi itu bukan hari dimana aku seharusnya menerbitkan tulisan. Lalu ada argumentasi antar bagian dalam diriku sendiri seperti di bawah ini.

    ?Unggah sekarang!?
    ?Jangan, nunggu Kamis.?
    ?Sekarang!?
    ?Jangan, kamis.. eh sebentar, kamis pun kamu sudah janji buat nulis hal lain, jadi senin depan saja!?

    Lalu issue sudah terlanjur menguap dan mood sudah pula bergeser untuk menulis hal lain atau bahkan tidak ada mood sama sekali.

    Contoh paling nyata adalah saat aku menemukan situs lamaku di Multiply dibajak oleh kapital tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Kalau tidak ada rekan-rekan yang memanasi di Twitter untuk menuliskannya saat itu juga mungkin kasus itu tak kan benar-benar menyeruak ke ranah social media, 2011 silam!

    Oleh karena itu, hal yang paling paling dan paling signifikan dari DV.FYI dibandingkan DonnyVerdian.Net adalah tulisan yang muncul tak terjadwal!

    Kemarin siang aku menulis soal plugin yang kupakai di blog ini, dua jam kemudian aku membaca artikel tentang kesalahan desain cue card-nya Steve Harvey saat pengumuman Miss Universe 2015, aku tercetus membuat desain sendiri versiku lalu kupublikasikanlah tulisan itu tanpa harus menunggu hari tertentu!

    Sore harinya saat Mama Lusy Laksita memuat kesannya tentang kesalahan Steve Harvey di Facebook, aku berpikir, ?Kenapa nggak menghubungi Mama Lusy lalu kuinterview dan kutayangkan di sini untuk melengkapi tulisan sebelumnya??

    Lalu sret-sret-sret, ga sampai setengah jam kemudian muncullah tulisan ini!

    Aku mengalami euforia kebebasan yang luar biasa!

    Toh tak semuanya kubebaskan di DV.FYI. Aku tetap memandang penting Risalah Akhir Pekan ya tetap akan kurilis tiap akhir pekan bukan di tengah-tengah minggu sesuai namanya.

    Nanti, awal tahun 2016, juga akan ada jenis post baru yang akan kurilis hanya setiap hari pasaran lahirku, wage, ya tentu tak kan kumuat di hari Kliwon ataupun Pahing misalnya.

    Kategori dan Sub Kategori

    Perubahan signifikan lainnya ada di sisi taksonomi; DV.FYI adalah blog yang lebih mengedepankan pengaturan kategori ketimbang tagar. Dulu di DonnyVerdian.Net aku menggunakan tagar dan melupakan kategori.

    Tujuanku? Tiada lain adalah kembali ke cita-cita awalku, mempunyai arsip posting yang bisa didasarkan pada kategori tapi tetap dilabeli tagar sehingga mudah dicari.

    Adapun kategori-kategori yang ada di sini adalah Cetusan, Khusus (https://superblogger.id/khusus/), Digital (https://superblogger.id/digital/) dan Tinjauan (https://superblogger.id/tinjauan/). Mari kita bahas satu per satu di sini.

    Cetusan

    Dalam KBBI, cetusan berarti bunga api; demikian juga, tulisan-tulisan yang berada di topik ini kebanyakan adalah bunga api yang muncul dari dalam benak. Ia berupa opini yang kusampaikan dalam sub kategori: Indonesia https://superblogger.id/cetusan/indonesia/, Australia https://superblogger.id/cetusan/australia/, Agama (https://superblogger.id/cetusan/agama/), Culture?dan Tustel. Caraku menentukan sub kategori bukan berdasarkan rencana ke depan melainkan bersumber dari apa yang telah kutulis selama ini dan lima sub kategori itulah yang cocok muncul menjadi sub kategori atau kanal-kanal tulisan di bawah Cetusan.

    Dengan pola seperti ini, bukannya tidak mungkin ke depannya akan muncul sub kategori-sub kategori baru.

    Khusus

    Ada kalanya tiba-tiba aku merasa perlu membuat rangkaian post dalam satu kesatuan ide khusus. Hal ini biasanya terkait momen penting maupun tipe karakter tulisan yang berbeda dari lainnya, untuk itu aku mewadahinya dalam kategori ini.

    Contoh paling mudah ditemukan saat Papaku meninggal, April 2011 silam. Saat itu aku menulis serial ?Diek? yang kemudian sangat digemari pembacaku. Ada pula tipe tulisan DKK (Dan Kawan-kawan, berisi interview-ku dengan kawan-kawan yang kukenal), 150 Kata (tulisan dengan panjang konten kurang atau sama dengan 150 kata), dan masih banyak lagi.

    Digital

    Ketika ?bersih-bersih? DonnyVerdian.Net sebulan lalu, aku menemukan beberapa tulisan berada di tagar berbau ?digital?. Awalnya aku ingin meleburnya ke dalam Cetusan karena kebanyakan ciri dan karakter tulisanku, meski membahas IT, adalah tetap berupa cetusan.

    Tapi sebagai orang IT yang cukup senior, aku sampai tahap untuk merasa malu kalau aku malah tak punya kategori terkait dunia kerjaku di sini. Masa orang IT bicara sastra tanpa membahas social media? Masa orang IT bicara politik tanpa mengulik isu-isu development terbaru?

    Hingga saat ini, karena satu dan lain hal aku belum menentukan sub kategori di bawah Digital tapi aku memastikan bahwa tak lama lagi aku akan membagi-bagi tulisan di sini ke dalam sub-sub kanal. Nantikan!

    Tinjauan

    Ini barangkali yang paling mengejutkan karena seorang DV yang dulu dikenal sebagai anti buzzer dan blog berbayar memiliki kategori yang berbau-bau promo produk dan jasa layanan dari para kapital.

    Apakah ini berarti aku akan mengiblatkan diri pada ?meng-uang-kan blog? padahal dulu aku memusuhinya?

    Bisa jadi iya, bisa pula tidak.?Kok bisa begitu? Jawabannya tergantung ada yang mengajak kerja sama atau tidak hahahaha…

    Oleh karena itu, ketika M Ikhwan, pembaca setiaku yang berdomisili di Malaysia dan Gie Wahyudi, seorang blogger senior selama orang Klaten bertanya kok ada kolom Kerjasama? Aku hanya mesam-mesem saja dan tak melontarkan satupun jawaban.

    Kenapa? Simply karena menjawab sekarang toh percuma saja. Jawabanku akan kentara ketika kalian melihat benar-benar ada banner iklan ataupun tulisan advertorial nampang di blog ini, di kategori ini.

    Jadi? Sstttt? ga usah banyak komentar! Kalian tertarik bekerja sama? Kolomnya formulirnya ada di bawah halaman ini! hahaha…

    Cangkeman Wagen

    Hampir empat belas tahun sejak pertama kali ngeblog, Februari 2002, aku hanya menulis dan menulis padahal kita tahu konten memiliki banyak wajah dan rupa karena bisa berupa video, audio dan gambar.

    Sejak sekitar tiga bulan lalu aku mengadakan riset kecil-kecilan yang memang tak kusebarluaskan tapi kusimpulkan dalam posting bertajuk Content (r)evolution.

    Riset ini sebenarnya bukan bohong-bohongan karena pada kenyataannya di sini aku memang benar-benar mengajak kawan kerjaku untuk berdiskusi tentang hal ini; mengulik referensi online dan bertanya pada kedalaman diri, apakah sejatinya berkonten itu hanya menulis?

    Di awal tahun 2016 nanti, akan ada satu tipe posting baru di sini berupa video, sifatnya akan serial dan periodik dan saat ini aku sedang meminta tolong kawan kerjaku, seorang video artist untuk membuatkan beberapa pernak-pernik menarik.

    Aku tak bisa membuka semua rencanaku saat ini tapi sebagai bocoran, tajuknya nanti adalah Cangkeman Wagen dan berikut ini posternya yang dibuat secara ekslusif oleh? siapa lagi kalau bukan Damar Benni!

    blog_cangkeman

    Newsletter

    Ini adalah hal yang masih sangat baru bahkan keputusan untuk membuatnya baru terpikir pada malam tanggal 21 Desember 2015, sehari setelah aku merilis DV.FYI.

    Ide dasarnya tentu merangkul pembaca. Di atas ide tersebut adalah pengadaan diferensiasi konten antara apa yang kumunculkan di sini dan apa yang kubagikan di list para pembaca yang mendaftarkan diri.

    ?Gebrakan? (katakanlah demikian) pertama dalam hal diferensiasi konten tampak pada tulisan kemarin, dimana aku menawarkan untuk membagikan list plugin yang kupakai di sini khusus hanya bagi mereka yang sudah mendaftar list.

    Aku masih berpikir keras untuk memunculkan hal-hal seperti ini ke depannya, tapi sambil menunggu gebrakan-gebrakan seperti apa, hal yang kujanjikan adalah newsletter yang akan muncul setiap periode tertentu berisi summary dari posting-posting yang kumuat dalam periode waktu tersebut.

    Oh ya, aku menangani pendaftaran list pembaca menggunakan premium plugin dari Elegant Themes Premium WordPress Themes, Bloom namanya yang terintegrasi dengan Mailchimp.

    Bloom Email Optin Plugin

    Kalian tertarik mendaftar? Masukkan alamat email kalian di kolom bawah ini dan lanjutkan dengan proses konfirmasi.

    Dengan berakhirnya tulisan ini, berakhir pula rangkaian tulisan terkait pemunculan DV.FYI mula-mula.

    Apa yang kutulis sejak awal, lalu kemarin dan sekarang tidak akan berlaku mutlak dan statis karena aku membenci sesuatu yang sifatnya statis dan memuja konsistensi. Pertemuan di antaranya adalah; aku memuja konsistensi dalam mengadakan perubahan. Sesuatu yang semoga selalu tampak dalam diriku, DV, melalui superblog DV.FYI ini.

    Selamat mempersiapkan Natal dan menyambut Tahun Baru.

    Berkah Dalem!

    *credit photo by Pexels.com