Tag: bullying

  • Kalian itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?

    Kalian itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?

    Definisi ‘membawakan acara’ sepertinya perlu mendapatkan tinjauan ulang terlebih setelah apa yang kurasakan ternyata juga menjadi concern bagi sebagian orang lain yang kutanya tentang “Ada yang merasa terganggu nggak dengan model guyonan dan cara membawakan acara beberapa artis di acara musik harian di sebuah stasiun televisi?”
    Kebanyakan mengungkapkan keberatannya dan merasakan gangguan yang tak menyenangkan melihat hal-hal tersebut. Secara singkat, apa yang kusaring dari pendapat mereka, aku bisa menemukan satu simpul pertanyaan, ‘Mereka itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?’
    Aku ingat betul ketika pertama kali nonton acara itu, sebut saja judulnya Menggelegar, sekitar tahun 2010 saat parabola yang dapat menangkap siaran televisi Indonesia terinstalasi di rumah, pada awalnya aku mencintai acara tersebut. Gaya guyon para pembawa acaranya beda dari yang lainnya dan terkesan segar. Agak kasar namun lucu dan lugas. Tapi tak lama kemudian, uniknya justru faktor itu sendiri yang lantas menjadikanku bosan menonton Menggelegar karena terkesan monoton dan tak menampilkan hal-hal baru.

    “…lebih mengarah ke tindakan bersifat intimidatif terhadap orang yang dijadikan obyek guyonan yang terkadang adalah para artis ketimbang menjalankan tugasnya sebagai seorang pembawa acara.”

    Dan kini, bukan lagi urusan ‘suka’ ataupun ‘bosan’ yang meningkahi penilaianku terhadap acara itu, tapi tergantikan dengan ‘sebal’!
    Ya, bagiku cara guyon dan membawakan acara Orgi Siputri dan Harvey Rachmad, sebut saja demikian, serta konco-konco wanitanya itu lebih mengarah ke tindakan bersifat intimidatif terhadap orang yang dijadikan obyek guyonan yang terkadang adalah para artis ketimbang menjalankan tugasnya sebagai seorang pembawa acara. Parahnya lagi, sasaran intimidasi itu terkadang diarahkan ke bintang tamu cilik yang terkadang dihadirkan. Mereka tak jarang dibentak-bentak dan dikerjain dengan dalih yang barangkali untuk ‘lucu-lucuan’.
    Meski setelah acara, sang pembawa acara mohon maaf atas tingkah laku dan kata yang kurang mengenakkan, bagiku itu semuanya hanya basa-basi, sekadar membuat semuanya ditutup dengan hal yang tampak baik. Kenapa, karena kalau keesokan harinya masih di acara yang sama mereka mengulang-ulang lagi kesalahan, lalu dimana esensi maafnya yang bagiku harus diikuti dengan perubahan sikap?
    Mereka barangkali tak pernah berpikir bahwa sikap kasar mereka dalam guyon bisa menghasilkan sesuatu yang kontraproduktif bagi banyak pihak.
    Bagi diri mereka sendiri mungkin mereka bisa bilang “Tak masalah, mereka suka kok!” Ok, taruhlah memang demikian,? kenyataannya, tapi apakah kata ‘mereka’ itu menjamin setiap orang yang diguyoni dan penonton akan suka semuanya? Taruhlah ada sejuta orang yang berpikiran sepertiku maka peluang mereka untuk mendapatkan setidaknya tepuk tangan akan hilang dan ketika orang semakin menyadari betapa ‘menjijikkannya’ cara mereka membawakan acara terutama setelah membaca tulisan ini, kuyakin angka sejuta itu akan terus berkembang, bukannya menurun.
    Bagi diri orang lain yang dijadikan sasaran guyonan, belum tentu mereka berkenan dengan guyonan kasar seperti itu. Tingkat sensitivitas manusia kan beda, dan buktinya memang pernah ada kan artis yang keberatan dengan cara guyonnya si Orgi?? Kalau aku jadi artis yang dicela di muka umum seperti itu barangkali akan sampai ujungnya juga batas sabarku. Alih-alih terpromosikan dengan baik yang ada malah public bullying yang tak mengenakkan. Sialnya lagi kalau anak-anak yang kena! Anak-anak itu mungkin tak berani bilang apapun karena siapa sih yang tak senang disapa plus dikerjain artis? Tapi pernah kalian berpikir bahwa otak dan kepribadian mereka sedang tumbuh dan mungkin ini terlalu berlebihan namun siapa yang bisa menebak akan seperti apa efek buruknya guyonan kasar itu pada dirinya kelak? Apakah guyonan itu akan membuat mereka menjadi sosok yang penakut dan minder karena punya pengalaman tak mengenakkan seperti itu?
    Bagi masyarakat. Banyak orang tua berujar bahwa anak muda jaman sekarang ‘nggak punya adat dan adab’ dan kupikir harus kuakui bahwa itu benar juga. Jangan salahkan kalau aku mencomot faktor tontonan tak menyehatkan gara-gara pembawa acara yang ngawur sebagai salah satu penyebabnya. Aku toh bukan asal comot dan kupikir kalian akan setuju denganku. Contohnya saja ketika sebagian anak muda mulai menganggap guyonan ngawur sebagai hal yang wajar dan ia mengungkapkannya di depan orang tua, apa reaksi si orang tua itu selain terkaget-kaget dan akhirnya tak suka dengan si anak muda?
    “Ah, orang tua mah udik! Kuno! Nggak gaul! Cara gw kan menyenangkan.. buktinya artis-artis pembawa acara di tivi juga demikian!” Hal-hal yang begini ini yang terkadang menaikkan pitam…
    Kenapa kita tak mengembalikan semua pada porsinya, bahwa pembawa acara itu bukan tukang cela dan penghancur acara? Aku memang tak membayangkan kalau ada pembawa acara masa kini yang dikhususkan untuk segmen anak muda tapi pembawa acaranya hadir dengan cita rasa nan tuwir tapi setidaknya berpikirlah untuk bersikap lebih wise karena kalian dilihat oleh begitu banyak pemirsa.

    “…berpikirlah untuk bersikap lebih wise karena kalian dilihat oleh begitu banyak pemirsa.”

    Atau kalau mau belajar menjadi pembawa acara yang santun, ini serius, belajarlah dari program-program siaran untuk anak muda dari TVRI yang kebetulan juga kutangkap siarannya dan sering kutonton juga. Mereka membawakan acara dengan sangat santun, menghargai bintang tamu, menghormati rekan kerja sesama pembawa acara dan itu semua sekaligus akan membawa pengaruh yang baik pula untuk penontonnya.
    Tunjukkanlah pada dunia bahwa orang muda tak selalu identik dengan budaya ngawur yang liar, kalian memang mungkin bukan model remaja yang suka tawur dan berkelahi, tapi cara kalian bercanda itu seperti menampar lawan bicara kalian.
    Dan yang terakhir, cobalah menerima tantangan ini, beranikah kalian untuk sekali waktu membawakan acara dengan tetap guyon tapi menjauhkan dari hal-hal yang konyol di atas, lalu perhatikan apakah minat masyarakat terhadap acara itu turun atau tidak? Apakah produser dan business officer akan kelimpungan atau tidak?
    Jika jawabannya adalah “Iya” itu tandanya gawat! Lebih baik kalian cepat-cepat putus kontrak ketimbang tetap di acara itu karena kalau demikian, acara itu telah sebegitu beracun sehingga ketika hal-hal yang buruk dilepas daripadanya, orang justru merindukannya kembali, sebuah anomali yang yakinlah kian hari ke depan jika tak ada perubahan signifikan akan menjadi gejala sosial yang membawa dunia ke arah yang lebih menyeramkan lagi.
    Credit photo.