Tag: buku

  • Membuang buku yang tak perlu itu perlu

    Membuang buku yang tak perlu itu perlu

    Semalam aku bersih-bersih rak buku. 
    Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, hal yang selalu kulakukan setiap menjelang hari pertama masuk kerja di tahun yang baru adalah bersih-bersih ruang kerja. Menata ulang perabotan yang sebenarnya nggak perlu ditata ulang dan membuang barang-barang yang sepertinya sudah tak diperlukan lagi. Tahun ini, sasaranku untuk membuang buku.

    Kenapa harus membuang buku?

    Adapun membuang buku itu sebenarnya sesuatu yang ‘pamali’ untuk dilaksanakan. Buku adalah sumber ilmu, bahkan buku dengan ‘kasta rendah’ termasuk stensilan Enny Arrow pun juga berilmu! 

    Tapi aku gak punya Enny Arrow lagi! Rak bukuku dipenuhi buku-buku spiritual-agama, sastra dan budaya, novel fiksi, novel horor milik istri dan buku-buku design serta IT!

    Kenapa harus kubuang? Karena aku pengen beli buku-buku baru sementara untuk nambah rak sudah tak ada tempat. Selain itu, aku melihat dari sisi relevansi, masih perlukah buku itu kusimpan?

    Buku IT terapan/praktek

    Setelah berpikir berulang-ulang, pilihan untuk membuang buku jatuh pada ragam buku IT terapan/praktek.

    Apa saja yang termasuk dalam ragam buku tersebut? Buku-buku yang membahas cara menggunakan software serta development framework. Buku-buku yang kalau di Indonesia biasanya mudah dikenali sebagai buku yang  memakai judul, “Cara mudah untuk….” atau “Menguasai… dalam 24 jam!”

    Beberapa buku yang kubuang, berumur setidaknya 8-12 tahun

    Apakah buku-buku itu buruk sehingga harus kubuang?

    Tidak juga. Dulu aku beli buku seperti itu untuk menenangkan pikiran ketika nervous harus mempelajari hal baru. Siapa sih yang jadi nggak tenang dan kalem setelah diyakinkan model-model penjudulan yang ‘cheesy’ seperti itu? Hahaha!

    Alasanku membuang buku-buku tersebut adalah karena topik pembahasan kebanyakan sudah out-of-date. Misalnya buku tentang Adobe Photoshop yang kubeli 10 tahun lalu (tidak ada dalam gambar) ya sudah barang tentu tak terpakai lagi karena versi dari software grafis yang kini beredar sudah berbeda sama sekali dengan yang dibahas di buku itu, bukan?

    Hal ini berbeda dengan buku-buku IT yang berisi prinsip dan konsep. Misalnya buku tentang prinsip design, algoritma pemrograman, struktur data, Object oriented programming… buku-buku seperti itu tidak perlu dibuang kecuali kalau konsep dasarnya sudah berganti sama sekali!

    Sempat berpikir untuk menyumbangkan buku-buku yang hendak kubuang ke yayasan sosial yang menjamur di Australia sini tapi siapa yang mau menerima? Katakanlah diterima, siapa yang akan beli ketika mereka menjual ulang bahkan dengan harga paling murah sekalipun?

    Maka keputusanku membulat! Setelah dipotret untuk jadi kenang-kenangan sekaligus materi pendukung di postingan ini, aku memasukkannya ke tempat sampah daur-ulang. Jadi, meskipun sudah kubuang, bahan dasarnya, kertas, tetap bisa dipakai untuk hal-hal lain.

    Mending rilis digital, deh!

    Nah, bicara soal kertas, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis buku IT terapan/praktek, rasanya untuk ke depan proses penerbitan buku-buku dalam ragam ini ke bentuk cetak harusnya diseleksi lebih lagi. Alasannya karena pengadaan kertas berarti penebangan pohon yang jadi bahan baku kertas (kecuali kertas daur ulang). Selain itu ya sama dengan yang kutulis di atas, bahwa perkembangan dunia IT terapan termasuk software dan IT framework begitu cepat! Bahkan terkadang kita lagi baca buku 60 halaman, eh sudah muncul versi yang baru dirilis yang berbeda dari yang sedang beredar dan sedang kita pelajari dari buku tersebut.

    Lagipula, untuk belajar software baru, generasi-generasi masa kini lebih senang membaca dokumentasi yang disediakan perilis, mencari solusi di Youtube atau dalam forum-forum diskusi dimana kita bahkan tak hanya mendapatkan solusi tapi juga bisa berperan sebagai kontributor untuk membantu orang lain yang membutuhkan solusi!

    Jadi sepertinya, selain surat kabar harian, buku-buku IT praktek/terapan adalah buku-buku yang sebaiknya tidak perlu dicetak. Kalaupun diterbitkan, sebaiknya secara digital.

    Demikian juga dengan stensilan Enny Arrow. Nggak perlu dicetak! Selain ngirit kertas, kertas stensilan kan biasanya paling sering mudah basah dan kalau sudah basah tinta cetakan ikut rusak, tulisan pun tak terbaca. Kalau sudah begitu, darimana kita dapat ‘ilmunya’, eh?

  • Belajar dari tutupnya BORDERS

    Belajar dari tutupnya BORDERS

    Kalian tahu BORDERS? Raksasa global retailer buku Amerika Serikat yang dinyatakan bankrupt beberapa waktu silam?
    Aku bersyukur sekaligus ngelus dada karena menjadi saksi bagaimana tutupnya salah satu outletnya di mall tak jauh dari kantor sini. Boleh dibilang proses tutupnya sangat tragis, mulai dari pengumuman kecil di atas kertas putih memuat pengumuman bahwa member BORDERS tak bisa memperpanjang kartu diskonnya di meja kasir, hingga beberapa bulan kemudian meningkat menjadi diskon produk yang semakin lama semakin besar. Dan kira-kira tiga bulan silam, beberapa hari menjelang tutup total, di tengah kondisi toko yang kian melompong karena sudah habis terjual dan tak ada stock barang yang diimbuhkan lagi, mereka merabat habis produknya hingga 90% off termasuk rak-rak bukunya sendiri!

    Suasana BORDERS beberapa hari sebelum tutup.. kosong melompong

    Sebagai manusia yang sangat suka membaca termasuk ‘numpang baca’ di toko buku, tutupnya BORDERS itu berarti sebuah kehilangan. Utamanya karena aku kehilangan salah satu spot asyik untuk ‘tenggelam’ dalam lautan buku; sesuatu yang sedikit banyak menjadi alasan kenapa aku tak pernah suka belanja buku online karena tak bisa merasakan sensasi ketenggelaman itu.
    Beberapa catatan yang kubuat terkait dengan tutupnya BORDERS adalah sebagai berikut:
     

    Era Digital

    Dunia bergerak dan setiap gerakannya membutuhkan perimbangan di setiap sisi yang terkait.
    Mari kita amati kenyataan ini: lima puluh tahun silam, buku adalah sesuatu yang mahal karena ongkos produksi cetak yang masih sulit baik dari sisi teknis maupun operatornya. Dua puluh tahun sesudahnya, semua orang latah membeli buku karena harga yang semakin murah dan kini, tiba-tiba, buku kembali menjadi mahal bukan karena teknologi produksi yang sulit dikembangkan, tapi sumber daya kertas yang berasal dari alam/pohon lah yang semakin dipersulit pengadaannya mengingat faktor konservasi alam yang sudah mencapai taraf “tak bisa ditunda-tunda lagi” pengusahaannya.

    Buku beneran dan buku "digital"

     
    Orang lantas menjadi sangat selektif dalam membeli buku, karena masih banyak keperluan yang perlu dipenuhi ketimbang ‘sekadar’ membelinya. Beberapa orang yang ‘mampu’, atas nama konservasi alam, memilih untuk membeli buku dalam bentuk lain, e-book meski sebenarnya aku banyak bertanya-tanya ke diri apakah mereka membeli karena konservasi alam atau atas nama gengsi supaya tampak selalu terdepan dalam teknologi? Entahlah.
    Aku sendiri, lepas dari paradigma ‘mampu’ atau ‘tak mampu’, berharap banyak semoga digitalisasi buku hanyalah ‘produk-sela’ yang ditawarkan produsen sambil menanti mereka menciptakan inovasi yang lebih bagus ketimbang e-Book. Alasannya?
    Susah, Sob! Susah bener baca buku lewat screen gadget dimana huruf dibungkus plastik kaca dan menyisakan tangan kita menggerak-gerakkan panel pengatur ‘halaman’ dan mata yang lebih mudah letih membaca meski sudah di-approach berbagai macam teknologi baru untuk me-neduhkannya. Barangkali aku ini termasuk tipe orang lama yang masih susah menggeser perspektif bahwa membaca adalah memegang kertasnya, menghirup aroma kertasnya lalu membolak-balikkan halaman untuk dibaca, dan ketika menyudahi bacaan, bookmarking adalah melipat sudut kertas sebagai tanda bukannya memencet tombol ‘Bookmark’ lalu memencet tombol “OFF” pada tepi kanan atas iPad kita. Bukan.. bukan seperti itu.
     

    Perpustakaan Pribadi*

    Toko buku dengan sistem display per-rak-rak buku seperti BORDERS, Kinokuniya, Gramedia dan banyak retailer lainnya bagiku adalah ‘perpustakaan pribadi’ yang bisa kuakses cuma-cuma. Yang membedakannya dengan perpustakaan pribadi betulan barangkali cuma soal kepemilikan.
    Nah, ketika toko-toko penyaji sensasi ‘perpustakaan pribadi’ itu tutup, kenapa kita tak memulai memoles kembali mimpi kita yang lama terbengkalai, membangun sebuah perpustakaan pribadi dalam arti yang sebenar-benarnya? Kumpulkan buku-buku lawas, bangun rak-rak buku sederhana lalu atur sedemikian rupa di sudut terindah rumah kita seolah-olah ketika kita berada di dalamnya, kita berada dalam toko-toko itu?
    *maaf, untuk soal buku aku memang masih sulit untuk melepaskan untuk jadi bahan bantuan ke orang-orang tak mampu. Aku terlalu sayang pada buku dan kalau harus memilih, aku lebih suka memberi uang untuk dibelikan buku untuk disumbangkan ketimbang menyumbang buku koleksiku.
     
    Cetak Buku Sendiri, Nikmati Sendiri
    Bahan baku kertas menjadi sangat sulit didapatkan dan mahal dibeli barangkali karena produksi massal dari setiap produsen buku yang dilakukan selama ini. Setidaknya hingga saat ini, aku lebih merasa tak berdosa menggunakan kertas untuk mencetak tulisan-tulisanku pribadi untuk dijadikan ‘buku’ sebanyak satu atau dua edisi saja ketimbang misalnya membuang sampah sembarangan yang tidak pada tempatnya.
    Untuk orang yang hobi menulis sepertiku, tutupnya BORDERS secara tak langsung memantik ide untuk mencetak buku dan memasarkannya sendiri. Tak perlu lewat penerbit bahkan tak perlu pula lewat penerbit yang menyediakan jasa print-on-demand kalau memang belum siap. Cukup cetak menggunakan printer rumahan, desain cover menggunakan software pengolah gambar, cetak dengan pilihan warna ataupun hitam putih di atas kertas yang bisa kalian pilih sendiri, bundle dan tawarkan ke khalayak sebagai buku pribadi yang dibuat dengan sangat-sangat pribadi.
    Masih tak laku? Simpan saja di perpustakaan pribadi!
    Menarik bukan idenya? Orisinil tepatnya!
     

    Buka toko buku sendiri

    Iparku pernah bercerita bahwa di salah satu sudut kota Paris ada sebuah toko buku nan mungil, tak terlalu kentara, namun sangat terkenal karena otentik, elegan dan mahalnya buku-buku yang dijualnya. Aku tak tahu alasan pasti kenapa BORDERS tutup, tapi aku yakin faktor ‘worldwide’ ikut mempengaruhi cepat-lambatnya para petinggi untuk menyatakan kebangkrutannya kepada publik. Tak lain karena bisnis yang menggurita mau tak mau membawa konsekuensi bahwa pada setiap ‘kaki’ nya, setidaknya kita harus menyediakan ‘gizi’ yang sama untuk semuanya. Bayangkan jika BORDERS menjaga konsep seperti toko buku mungil yang diceritakan iparku itu, kenyataannya pasti akan lain meski jangan dibayangkan sebaliknya, toko kecil mungil itu lantas jadi sebesar BORDERS…
    Tutupnya BORDERS menggelitik ideku untuk kenapa tak membuat toko buku sendiri dengan modal buku-buku yang kita produksi sendiri? Harga? Tak harus murah, malah kalau perlu mahal. Percayalah, banyak orang memilih membeli sesuatu yang murah, tapi untuk sebuah karya yang bagus, kadang kalau ditawarkan dengan harga murah, hal itu justru membuat mereka berpikir ‘Kenapa bisa murah? Apa yang dikurangkan dari proses kreatif pembuatannya?’ dan segala kecurigaan itu terkadang benar karena harga murah berarti modal pembuatannya berlipat-lipat lebih murah daripadanya.
    Menjual harga mahal untuk sebuah produk yang brilian selama masih dalam takaran wajar adalah bukti bahwa karya kita memiliki harga dan kita tak mau jual murah untuk kehilangannya.
    “Lha kalau tak laku, bagaimana?”
    Tak laku? Ya tutup! Apa susahnya? Pasti tak lebih susah daripada menutup gurita raksasa semacam BORDERS!

    ?*???? *???? *

    Gimana? Apa pendapatmu kalau tiba-tiba raksasa toko buku semisal Gramedia menyatakan kebangkrutannya? Bukankah kalian akan kehilangan pula satu spot asyik untuk tenggelam dalam lautan buku yang tersusun rapi di rak-rak itu?

  • DearPapa Project

    DearPapa Project

    Bermula dari Lala, Lala Purwono.
    Si gelatik kota Surabaya nan piawai menulis itu beberapa minggu silam menawariku untuk ikut menulis dalam proyek sosial bertajuk DearPapa Project.
    DearPapa Project adalah sebuah proyek keroyokan para penulis (orang yang gemar menulis) yang terwakili dalam tulisan bertema “surat untuk Papa”. Tulisan-tulisan itu lantas dibukukan dan dijual lewat NulisBuku.com, sebuah layanan e-commerce Indonesia yang konsen di bidang penjualan buku berbasis print-on-demand. Lalu dimana nilai sosialnya bertengger? Lala bilang, seluruh keuntungan dari proyek ini nanti (kalau untung) akan diserahkan ke sebuah panti sosial di Surabaya sana. Manis kan?
    Awalnya aku ragu menanggapi ajakan ini. Bukannya tak berminat untuk bekerja sosial, dan bukan pula tiba-tiba aku tak punya effort untuk menulis, tapi lebih pada “Mampukah” aku menulis baik dengan tema yang menurutku susah itu?
    Bagaimanapun juga, seperti pernah tertuang di tulisan ini, hubunganku dengan Papa yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah sana tidaklah renggang dan bisa dibilang tak bermasalah.
    Yang jadi soal adalah, kami ini saling mengasihi tapi dalam bahasa lelaki yang bahkan untuk saling bersentuhan hingga memeluknya pun baru kulakukan 31 tahun setelah ku dilahirkan yaitu saat aku pamit untuk pergi ke Australia, 2.5 tahun silam.
    Nah, jadi ketika ujug-ujug si Lala datang minta aku untuk menulis sebuah surat kepada Papa.. ya Papaku untuk kemudian ditayangkannya tulisan itu dibukunya, komentarku cuma satu, “Wah, susah La… ngga ada topik lainnya?” Aku, saat itu, nggak bisa membayangkan kata-kata apa yang patut kurangkai untuk membahasakan ‘bahasa lelaki’ itu.
    Tapi toh akhirnya aku menerima ajakan itu karena repot dan susahnya itu bagiku justru menarik! Ini perkara ngetest sejauh mana aku bisa menjaga tulisanku itu jujur sesuai dengan kata hati atau tidak. Kalau aku jujur, seharusnya tulisanku itu akan tampak tak romantis dan sebaliknya cenderung lugas dalam menyampaikan pesan… tapi kalau aku bisa berkelit, barangkali rangkaian kata sepanjang 4 kali halaman berukuran A4 itu akan tampak lemah gemulai, layaknya aku menulis surat cinta untuk kekasih saja!
    Untuk menghormati Lala dan tim yang telah bekerja keras menyusun buku itu, aku takkan menerbitkan tulisanku yang bertajuk “Sebuah Awalan” itu di blog ini. Tapi berikut adalah penggalan-penggalannya.

    Aku berpikir, hanya kepadamulah aku bisa mencari jawab kenapa si anak kecil itu bisa merengek ke Papanya karena meski sekarang aku juga adalah seorang Papa, tapi engkau lebih ‘Papa’ ketimbangku, Pa. Kamu pasti menyimpan jawaban yang lebih bagus ketimbang kesimpulanku yang bisa saja semu, maklum baru beberapa minggu lalu predikatku sebagai “Papa” berumur setahun.

    Aku membayangkan, kalau aku menuliskan ini untuk Mamaku, barangkali aku bisa menulis lebih manis ketimbang itu :)

    Tapi proteskah aku dan Mama kala itu? Tidak! Kenapa, karena meski ngeyel, toh kami mengakui bahwa kalian, kamu dan Citra, adalah yang benar.. dan kami, aku dan Mama mensyukurinya.

    Lihatlah, betapa kasarnya pengakuanku atas kebenaran yang mengunggulkannya?

    Salam kangen dan sungkemku untukmu dan Mama juga cintaku untuk Citra, adikku.

    Dan kalian tahu? Butuh perjuangan beberapa waktu lamanya untuk sepakat dengan benakku menuliskan kata “kangen” di situ?
    Kalian harus penasaran dengan tulisanku selengkapnya *maksa mode is ON!*
    Jadi, belilah buku ini karena selain beraksi sosial dan selain tulisanku, kamu juga bisa membaca tulisan teman-teman penulis kawakan macam sahabat saya dari Bandung, Daniel Mahendra, lalu ada Okke “Sepatu Merah”, Yessy Muchtar, Uda Vizon dan tentu saja Lala Purwono, si penjaga gawang.
    Aku sendiri sudah berencana untuk membeli buku itu di nulisbuku.com meski belum terpecahkan bagaimana cara mengirimkannya ke Australia sini.
    Jadi, tunggu apa lagi, klik di sini untuk detail buku dan cara membelinya!
    Jangan salah pilih, Dear Papa buku yang ke-enam dan temukan saya di sana.. *mbetulin krah baju*