Tag: bukik

  • Presiden, pilih menteri yang memahami anak!

    Presiden, pilih menteri yang memahami anak!

    Belum sampai sebulan dilantik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, membuat heboh semesta Indonesia dengan idenya untuk pendidikan dasar Full Day School.

    bukik setiawan
    Bukik dan putrinya

    Berbagai komentar yang bisa kupantau di social media, kebanyakan menolak ide tersebut meski aku sendiri sebenarnya tertarik karena dengan menyekolahkan anak hingga sore hari, orang tua bisa bekerja dengan tenang, tidak kepikiran anaknya main dengan siapa, diajak nonton bokep atau dipukuli oleh pembantu atau tidak, dan lain sebagainya.

    Aku lantas menghubungi Bukik Setiawan, kalian ingat dia??Ia blogger lawas yang mumpuni dalam dunia pendidikan dan industri kreatif, ?pernah kuwawancarai di sini?dan pernah pula menginterview-ku di situ. Aku tertarik membaca statusnya terkait polemik itu dan kupikir karena ia kenal dekat dengan Anies Baswedan, mantan Mendikbud yang lantas digantikan Muhadjir, aku mewawancarainya melalui Facebook Messenger semalam.

    Berikut petikannya,

    Bung, seberapa kenal kamu dengan Anies Baswedan dan bagaimana kira-kira respon beliau tentang ide menteri yang baru ini?

    Saya kenal dengan ABW (Anies Baswedan -red), pernah kerja bareng di kantor transisi JKW & JK. Tapi tidak cukup dekat. Lha wong ngobrol berdua saja tidak pernah, ngirim sms/WA juga tidak. Saya tidak tahu bagaimana respon ABW.

    Bagaimana pendapatmu tentang ide sekolah sampai sore yang dilontarkan Mendikbud yang baru tadi?

    Sekolah sepanjang hari (full day school) adalah pilihan yang bagus buat sebagian keluarga, tapi tidak bagi keluarga yang lain. Pilihan yang sesuai untuk wilayah urban, tapi tidak tepat untuk masyarakat pedesaan atau pelosok. Pilihan yang bisa dijalankan sebagian sekolah, tapi tidak realistis bila dijalankan semua sekolah.

    Di Facebook kamu menulis sekilas tentang kaitan negatif antara full day school dengan kekerasan di sekolah. Kok bisa begitu gimana?

    Status Facebook saya “Permisif terhadap kekerasan dan full day school adalah kombinasi yang bagus untuk merusak budi pekerti anak”. sebenarnya respon terhadap dua pernyataan Menteri ME (Muhadjir Effendy –red).

    Pertama: “Saya risih dilapori ada murid yang sampai melaporkan gurunya karena hanya dicubit. Apalagi gurunya sampai dipenjara,” katanya saat menutup Jambore Pelajar di Surabaya, Sabtu (6/8/2016).

    Menurut dia, hal itu adalah bukti bahwa pendidikan di Indonesia masih rapuh, yang tidak akan menghasilkan generasi yang tahan banting.

    “Dikit-dikit lapor, dikit-dikit madul (mengadu). Padahal untuk mencetak generasi yang kuat, pendidikannya harus keras,” ujarnya. (Sumber: Kompas)

    Kedua, “Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8/2016). (Sumber: Kompas)

    Status saya mungkin terlalu pendek menjelaskan karena sebenarnya saya sedang membuat artikel yang menanggapi pendapat pertama. Di tengah proses menulis, muncul pernyataan kedua yang ditanggapi banyak orang.

    Pernyataan pertama menunjukkan Menteri ME bersikap permisif terhadap kekerasan pada anak.

    Padahal kondisi saat ini berdasarkan hasil riset Plan Internasional dan ICRW menunjukkan 84% anak mengalami kekerasan di sekolah. Apa jadinya di tengah kondisi seperti itu kemudian durasi sekolah diperpanjang jadi sepanjang hari.

    Sekolah sepanjang hari adalah pilihan metode yang bisa bermanfaat bila sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memperhatikan psikologi anak dan sistem pendukungnya disiapkan dengan baik. Jadi bukan sekedar memperpanjang waktu sekolah saja. Sekolah sepanjang hari berarti sekolah harus siap bertanggung jawab terhadap makan siang, waktu istirahat dan aktivitas bermain anak. Beberapa sekolah mungkin melakukannya, tapi arogan bila diterapkan secara nasional.?Penerapan full day school secara nasional harus ditolak. Karena itu, saya mendukung petisi yang dibuat oleh salah seorang orang tua.

    Ide si menteri kenapa bersekolah sampai sore konon karena anak-anak liar di rumah pada saat orang tuanya bekerja. Menurutmu?

    Pernyataan seorang menteri yang tidak mempunyai respek terhadap anak. Anak dianggap kertas kosong yang tidak mampu berpikir dan bertindak mandiri.

    Pernyataan itu sebenarnya pengakuan bahwa pendidikan kita telah gagal.

    Kalau pendidikan kita (yang dipimpin oleh menteri yang bersangkutan) sudah efektif, maka kita bisa percaya anak-anak bersikap dan bertindak mandiri. Pendidikan telah berhasil menumbuhkan budi pekerti anak sehingga bisa menahan diri dari godaan dan menyelesaikan urusannya secara mandiri. Ketika Menteri ME mengatakan anak liar, sebenarnya sedang mengakui bahwa pendidikan kita telah gagal.

    PR terbesar kemdikbud itu apa sih?

    Agenda terbesar kemdikbud secara normatif: Memahami anak. Banyak persoalan dan agenda yang tidak tuntas karena tidak dirancang berdasarkan pemahaman mengenai anak. Anak dianggap kertas kosong yang bisa ditanami “kebenaran” oleh orang dewasa. Ukuran anak baik adalah anak patuh, anak yang selalu menuruti kemauan orang dewasa, guru maupun orangtua.

    Agenda terbesar kemdikbud bagi presiden: memilih menteri yang memahami anak.

  • Bukik dan pencarian ide yang lebih baik untuk sesama

    Bukik dan pencarian ide yang lebih baik untuk sesama

    Suatu waktu pernah aku kehabisan akal untuk membuat materi presentasi ketika diundang bicara ke sebuah acara kepemudaan katholik di Sydney sini.

    Masalahnya satu. Konsep yang diberikan panitia terlalu mengarah ke sisi psikologis dan takutnya ketika aku salah ?menerjemahkannya? alih-alih membawa penyegaran, yang ada justru aku menyesatkan orang.

    Aku lantas ?menyambangi? Bukik yang meski bukan seorang penganut Katholik, tapi karena berpandangan modern, tentu ia tak segan membantuku karena hal itu terkait dengan disiplin ilmu yang ia bidangi, psikologi.

    Dan benar saja!
    Baru sekitar beberapa jam email kukirimkan, ia telah kembali dengan jawaban yang lengkap nan terstruktur. Dan meski tak mendetail, tapi point-point yang dibuatnya justru sangat mudah untuk dikembangkan.

    Sejak saat itu aku menaruh respek yang begitu besar kepadanya. Kepalanya punya isi, tak seperti kebanyakan sekarang yang lebih mengutamakan isi pada rongga mulut maupun pada ujung-ujung jari yang siap dimuntahkan ke mesin ketik QWERTY.

    Ketika orang ramai mencari duit dan tiket liburan gratis dengan cara menjadi buzzer, Bukik yang juga adalah buzzer memaknainya secara berbeda.

    Bagiku, di antara sekian banyak netizen Indonesia, Bukik itu punya karakter yang berbeda! Langkahnya langkah kuda! Tak mudah ditebak lagi dicerna, tapi kita tahu mutu dan kualitasnya dari setiap tapak-tapaknya.

    Ketika orang ramai mencari duit dan tiket liburan gratis dengan cara menjadi buzzer, Bukik yang juga adalah buzzer memaknainya secara berbeda. Ia tak melulu mengikuti apa kemauan brand yang membayarnya. Ia punya tinjauan yang tidak unyu, berwawasan dan hei… tahu nggak kalian bahwa buzzer yang satu ini punya brand sendiri, Indonesia Bercerita namanya.

    Dan tulisan ini bukan pula sebagai balasan atas apa yang pernah ia tulis tentang diriku di blognya, tapi lebih karena.. ya karena itu tadi, isi kepala orang yang juga eks aktivis 98 ini berbobot dan sayang kalau tak diburu dan dibuka selebar-lebarnya di sini!

    Bukik dan putrinya
    Bukik dan putrinya

    Halo, Bung! Nama kamu sebenarnya siapa, kok bisa dipanggil Bukik?
    Nama asli? Mungkin sudah terkubur sejarah haha…
    Dulu pernah diceritain kalau aku lahir diberi nama sesuatu. Tapi karena sakit-sakitan, seperti kebiasaan orang Jawa lainnya, orang tua mengganti nama menjadi Budi Setiawan. Waktu kecil, keluarga memanggilku Wawan, mungkin dari Setiawan.

    Nah, kalau Bukik itu sebenarnya nama panggilan dari tim majalah sekolah SMA yang kupimpin dulu. Asal katanya “mbukik”, singkong tua yg sudah mengeras. Entah apa hubungannya mengeras sama aku, mungkin sikapku, ide-ideku atau sesuatu yang lain, hahaha…

    Tapi sesudahnya sebenarnya tak pernah berpikir untuk menggunakan nama Bukik lagi. Sampai ketika ospek di ITS (Institut Teknologi Surabaya -red), aku harus menulis keplek (tag nama -red) sesuai beragam syarat yg ditetapkan panitia. Ketika memakai nama Budi, ada saja kesalahan yg ditemukan panitia. Iseng-iseng pakai nama Bukik, eh langsung lolos.

    Begitulah dan seterusnya aku menggunakan nama Bukik. Keren juga ternyata…

    Dimana titiknya? Tidak ada titip yang tepat. Titiknya adalah ketika energi dan keimanan kita pada sebuah ide telah habis. Pada titik itu, ide mengalami kegagalan

    Latar belakangmu psikologi kan ya? Kamu sendiri sebenarnya ingin dikenal orang sebagai apa?
    Aku lulusan psikologi.
    Mungkin karena itu, pandangan yang khas psikologi muncul dalam ulasan atau komentarku. Secara keahlian, aku adalah psikolog organisasi, bagaimana organisasi lahir, tumbuh, berkembang dan mati. Secara profesi, aku adalah fasilitator, orang yang memfasilitasi / mempermudah sekelompok orang mencapai tujuan seperti pengambilan keputusan atau menghasilkan ide inovatif. Secara hobi, aku adalah blogger, orang yang menulis sesuka hatinya.

    Aku ingin dikenal sebagai orang yang terus mencari, menjelajah ke sudut-sudut ruang gagasan, dipandu keingintahuan dan intuisi. Hidup adalah tentang pencarian ide yg lebih baik untuk kebaikan bersama. Seorang petualang ide.

    Anda kan pernah jadi dosen yang statusnya pegawai negeri tapi lalu mengundurkan diri dan ‘bekerja sendiri’. Bener?
    Bener

    Butuh waktu berapa lama untuk mempertimbangkan hal itu dan apa yang akhirnya jadi trigger mu untuk memutuskan?
    Setelah lulus S1, sebenarnya aku terjun jadi aktivis NGO lebih dulu.
    Berikutnya baru melirik profesi dosen. Menurutku, dosen punya kesempatan buat berjumpa dengan orang-orang muda yang rindu pada perubahan yang lebih baik. Aku betah bekerja sama dalam tim yang waktu itu guyup, komunikasi terbuka, satu misi.

    Interaksi dengan orang muda tidak hanya di kelas, tapi aktivitas luar kelas seperti di riset maupun pengabdian masyarakat. Masa-masa yang menyenangkan. Saat ini pun berjumpa dengan mereka yg telah lulus tetap menjadi momen yg menyenangkan.

    Tahun-tahun selama menjadi dosen adalah totalitasku pada kampus. Bukan hanya kontribusi ide, tapi juga meningkatkan omzet lembaga hampir 2 kali lipat hanya dalam waktu setahun. Aku juga menginisiasi pendirian S2 magister perubahan dan pengembangan organisasi.

    Menurutku sebuah perubahan hanya akan terjadi bila kita mengimani sebuah ide, tanpa ada keraguan.

    Sayangnya, organisasi terus berkembang, begitu pula orang-orangnya. Keguyuban yang dulu kental pun lama-lama mencair. Terjadi perbedaan-perbedaan yang kian terbentang. Aku pikir perubahan ini wajar. Hanya saja, aku merasa jadi asing, dan merasa berada pada tempat yang bukan untukku.

    Aku pun mulai terpikir untuk mencari tempat pengabdian baru. Aku lontarkan ide pada keluarga. Ada kesepakatan mengenai keadaan minimal yang harus kupenuhi agar ide itu terealisasi. Lebih dari setahun, keadaan minimal itu tidak tercapai. Hampir putus asa.

    Tapi kemudian, kegigihan selama bertahun-tahun mempromosikan appreciative inquiry berbuah hasil. Aku diminta oleh seorang rekan yg pernah menjadi salah satu peserta workshop-ku untuk membantunya.

    Tawaran tersebut pun tidak langsung jadi sebuah kerja sama. Butuh waktu. Diantara waktu itu, aku mendengar pidato dari Onte, seorang social entreprenuer dari Kendari, yg bercerita kondisi ketika mendapat sms dari isterinya “susu buat anak habis. Tidak ada uang”.

    Cerita yang melecutku. Aku belum mendapat tantangan seberat itu, aku masih kurang nyali untuk melompat meninggalkan zona nyaman.

    Sebulan setelah mendengar pidato Onte itu, aku ditawari kontrak setahun sebagai fasilitator freelance. Dan kupikir inilah saatnya untuk melakukan lompatan.

    Kontrak ini yang kuajukan ke keluarga. Meski sebenarnya tidak memenuhi keadaan minimal yang dituntut, keluarga akhirnya mengijinkanku untuk mundur sebagai PNS.

    Aku ajukan surat pengunduran diri sbg PNS langsung ke rektor. Suratku pun diproses sesuai prosedur. Dan per 31 Maret 2012, aku bukan lagi dosen PNS di Unair (Universitas Airlangga Surabaya -red).

    Pengunduran diriku secara administratif mulus. Tapi meninggalkan banyak kekecewaan dari beberapa rekan seperjuangan. Kekecewaan yang sejujurnya kadang juga melahirkan sesal buatku

    Sekarang, aku tetap menjadi fasilitator freelance, blogger, sesekali jadi social media strategist dan mengembangkan social entrepenuer Indonesia Bercerita. Proyek terbarunya adalah Boneka Takita, sebuah media interaksi antara anak dengan orang tua. Wajib ikut kamu Don :D

    Indonesia Bercerita sendiri pada titik seret tapi belum gagal. Sebagai platform bagi para pendongeng, Indonesia Bercerita berada pada ujung tanduk.

    Awesome! Bung, kamu gak takut gagal? Maksudku, misalnya kamu nyoba di Indonesia Bercerita, trus gagal, lalu bagaimana? Adakah satu titik dimana akhirnya kamu memutuskan bahwa “Yak, ini gagal!” atau “Yak, ini sepertinya agak seret tapi belum gagal!”

    Gagal? Bolak-balik dari dulu. Ada yang gagal di ide, ada yg gagal di promosi, ada yg gagal di eksekusi. Dulu waktu masih di kampus, ngemis utang ke klien biar bisa membayar gaji anak buah sudah pernah kulakuin kok. Meski begitu, ya tetaplah takut gagal. Itu bisa bikin gak tidur semalaman.

    Indonesia Bercerita sendiri pada titik seret tapi belum gagal. Sebagai platform bagi para pendongeng, Indonesia Bercerita berada pada ujung tanduk. Ekosistem penikmat audio di Indonesia tidak cukup berkembang. Tapi sebagai misi mendidik melalui cerita, Indonesia Bercerita masih punya banyak kemungkinan menarik.

    Dimana titiknya? Tidak ada titip yang tepat. Titiknya adalah ketika energi dan keimanan kita pada sebuah ide telah habis. Pada titik itu, ide mengalami kegagalan

    Kalau gagal dalam Indonesia Bercerita mungkin anda bukan yang pertama karena ada begitu banyak suatu bentuk usaha online yang mati di Indonesia. Menurutmu, hal yang paling ideal untuk sebuah bentuk usaha online itu hidup di Indonesia yang seperti apa?

    Haha pertanyaan hiburan!
    Aku juga tidak tahu bagaimana idealnya. Meski pernah membantu bisnis online kecil, tapi aku belum pernah berhasil bikin usaha online sendiri. Apapun usahanya, online atau offline, harus menemukan jalan mendapatkan pemasukan untuk menghidupi usaha tersebut. Atau istilah yang lagi ngetrend sekarang, punya model bisnis yang jelas. Aku sendiri sekarang mencoba membuat usaha yang mengombinasikan usaha online dan offline. Semoga kali ini aku berhasil hehe

    Kembali ke soal ‘langkah besar’ mu keluar dari PNS dan mencoba sesuatu yang baru, kamu pernah nggak berpikir bahwa kamu itu terlalu idealis?

    Idealis sebagai kengototan mewujudkan sebuah ide? Iya.

    Kalau sudah beriman pada sebuah ide, maka semua energi harus dikerahkan untuk mewujudkan ide tersebut. Menurutku sebuah perubahan hanya akan terjadi bila kita mengimani sebuah ide, tanpa ada keraguan.

    Idealis sebagai egoisme terhadap pendapat pribadi? Tidak. Aku membutuhkan waktu yang cukup untuk mendengar masukan, meragukan ide, memikirkan berulang kali, sebelum meyakini sebuah ide. Aku bukan orang yang mudah mengiyakan suatu ide, baik dari aku sendiri maupun dari orang lain.